Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 34 | Jangan biarkan putriku menunggu


__ADS_3

Zara semakin pusing, pagi tadi bertemu Stella yang tidak jelas dengan omongannya, tiba-tiba datang mengatakan dirinya sombong. Kemudian sekarang Nania, bukankah gadis itu cukup pintar tetapi kenapa dia berbicara ngelantur?


"Ada apa? Kau masih marah? Lihatlah aku memakai baju yang kau beri". Kata Zach duduk disamping Zara setelah mengantar Leon kembali.


"Bukan karena baju, Zach". Zara merenggut.


"Nania mengatakan sesuatu yang mengganggumu?". Zara mengangguk tatapan lurus ke arah pancuran didepannya


"Dia sepertinya sangat frustasi karena kau tolak". Zara melirik ke arah suaminya yang masih diam kemudian dia terkekeh


"Ada apa?". Jelas Zach bingung sekarang tadi istrinya terlihat melamun dan sekarang tertawa.


"Kau sangat tamlan saat diam seperti itu".


"Kau harus sering menyadari bahwa suami memang tamoan lebih tamoan dari-"


"Hum kau memang tampan, dan jangan selalu membandingkan dirimu dengan siapapun".


"Agar kau sadar bahwa hanya aku gang terbaik". Ucapnya percaya diri.


Mendengar itu Zara hanya mencebikkan bibir lalu berdiri. Dan melangkah meninggalkan Zachry


Karena sudah siang, dan Zara juga sudah lelah Zara naik ke atas dengan Zach yang mengekor pada istrinya. Tetapi belum juga dia memasuki pintu kamar, Merry memanggil Zach untuk mengikutinya ke ruang kerja Tuan Horrison.


"Tunggu aku". Katanya pada Istrinya.


Zach mengikuti kemana Maid tersebut dan sampailan dia disebuah ruang tidak terlalu besar tetapi terlihat sangat nyaman. Dari membuka pintu saja sudah terlihat bingkai besar disana dimana Zara yang manis berada ditengah-tengah kedua orang tuanya. Zach sangat menyukai lesung pipi istrinya saat tersenyum.


"Duduklah".


Suara berat dari Tuan Dixon menyadarkan Zach yang terpaku karena melihat gambar istrinya


"Kau tidak ingin meminta maaf?" Zach yang baru saja duduk menatap mertuanya dwngan bingung.


"Aariz". Seolah mengerti dengan tatapan bingung menantunya.


"Apakah kurang jelas saat aku mengatakan bahwa kau tidak boleh melukainya?" Zach terkejut pasalnya pria tua ini tahu


Tuan Dixon menyunggingkan senyum remehnya, dan itu tertangkap oleh Zach.


"Apakah aku harus mengatakan lebih jelas kenapa kau tidak boleh melukainya bahkan seujung kulitnya pun?". Kini suara Tuan Dixon terdengar sangat tidak bersahabat.


"Dengarkan aku, semenjak kau remaja aku sudah melihat bahwa kau anak yang baik untuk putriku, untuk itu aku menerima saat Ayahmu meminta perjodohan kalian.". Tuan Dixon diam kemudian menatap Zachry yang masih menatapnya "Untuk masalah Aariz tolong maafkan dia".


"Memaafkannya?". Jelas saja disini Zachry bingung kenapa harus memaafkan lelaki yang sudah memeluk istrinya. Sangat mencurigakan.


"Baiklah, kembalilah kekamarmu, jangan biarkan putriku menunggu".


Zachry keluar sepeperti orang bodoh. Dia merasa ada yang salah disini. Ayah mertuanya terlalu melindungi Aariz bahkan hanya pukulan kecil saja pria tua itu tahu. Itu artinya selama ini Aariz juga mendapat perlindungan seperti Zara. Tapi kenapa?

__ADS_1


"Daddy mengatakan apa?" Tanya Zara duduk dipangkuan suaminya. Dia sudah memerima sedikit demi sedikit pernikahannya, bagaimanapun dia tetaplah wanita yang sudah bersuami.


"Hanya peperjaan kantor saja". Zach tersenyum lalu mengelus pipi lembut istrinya


"Maafkan aku karena belum bisa menjadi istri yang kau inginkan". Kata Zara kini memeluk suaminya. Sangat damai.


"Kalau kau bersikap seperti ini aku malah curiga". Zachry terkekeh dia akan mendengar permintaan apa lagi yang instrinya mau.


"Aku tidak meminta apa-apa tenanglah". Dia berdecak kesal. Saat dia tulus malah tidak dipercaya.


"Zach..". Guman Zara masih diceruk leher suaminya.


"Zachry..aku suka kau memanggilku dengan lengkap, atau panggil aku sayang".


"Sama saja". Jawab Zara karena menurutnya Zachry dan Zach panggilan yang sama saja karena memang orangnya sama.


"Tidak, hanya kau dan Mommy yang memanggilku dengan lengkap. Dan kalian adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini". Zachry melerai pelukan istrinya dan menangkup wajah bulat itu.


"Kau sangat menggemaskan, jangan mengerucutkan bibir seperti itu aku tidak akan tahan melihatnya".


Zara mencebik dengan wajah yang masih di tangkup.


"Aku boleh bertanya?" kata Zara.


"Tanyalah".


"Jawab saja, tidak usah membuat kerutan seperti itu". Zachry tergelak. Tawanya sangat lepas, ini pertama kali bagi Zara melihat tawa itu da hatinya menghangat.


"Kenapa kalian harus bertunangan kalau akhirnya dibatalkan?".


"Apa ini sangat penting bagimu?


"Tentu saja, selain Nania aku harus mewaspadainya kan?"


"Hum..baiklah sepertinya aku harus memberi hadiah pada semua karyawanku di kantor karena istriku sudah mulai cemburu". Ucap Zachry mengetuk-ngetuk dagunya


Zara yang melihat itu tentu sangat kesal. Bukannya menjawab suaminya malah bercanda. Melihat istrinya sudah kesal akhirnya Zach tertawa kemudian menghembuskan nafas pelan.


"Sudahku katakan karena aku hanya menyukaimu jadi kenapa aku harus melanjutkan pertunangan dengan wanita lain. Lagi, jangan terlalu cemburu pada Nania, dia tidak akan melakukan apapun, aku tahu dia".


"Kau tidak akan tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan cintanya terbalas". Cibir Zara.


"Sepertinya kau memang sudah mulai mencintaiku". Zach langsung meringis saat perut liatnya berhasil dicubit.


"Selain marah-marah dan membuatku cemburu ternyata kau juga suka sekali mencubitku". Zach menyipitkan mata, dan sedetik kemudian tawa zara lepas. Karena pinggangnya digelitik.


Hari itu mereka habiskan dengan banyak mengobrol, niat mereka yang akan menginap terpaksa tertunda karena tiba-tiba saja Leon menelpon mereka dipanggil ke Mansion Utama oleh Mom Luna dan Dad Edgar.


Sebenarnya mereka bisa menunda untuk kesana namun yang membuat Zachry tidak menunda lama adalah siapa yang berada disana sekarang.

__ADS_1


"Mom Luna sehat kan?" Tanyanya pada suaminya yang terlihat hawatir.


"Mommy baik sayang". Berbalik dan mengecup pucuk kepala istrinya kemudian membawanya turun kebawah, mereka harus berpamitan sebelum pergi.


Dilantai bawah Mom Lucy dan Tuan Dixon sudah berada diruang tamu, mereka sudah tahu anak dan menantunya tidak jadi menginap, mereka sedikit kecewa tetapi tidak juga egois karena tahu besan mereka juga pasti merindukan anak mereka.


"Bawakan ini untuk Mom Luna ya". Kata Mom Lucy menyodorkan rantang berukuran sedang, entah apa isinya.


"Lain kali Zara akan menginap". Ucapnya dia tahu Mommy nya pasti sangat sedih.


"Datanglah kapan pun kalian mau, ini juga rumah kalian". Katanya memeluk kedua anaknya.


Tuan Dixon hanya diam sejak tadi. Dia tidak harus seperti istrinya kan yang harus meneteskan air mata, sedang dia tau putrinya hanya kerumah mertuanya.


Diperjalanan ke Mansion utama Zach hanya diam, dia merasa tidak suka dengan apa yang baru saja Leon katakan.


Sesekali dia mengheka nafas berat.


Dan Zara melihat itu.


"Ada apa? Kau terlihat sangat hawatir?"


"Kau akan mengetahuinya nanti saat kita sampai". Jawabnya dengan senyuman tulus.


"Baiklah, aku juga penasaran masalah apa yang membuatmu begitu hawatir".


Sepanjang jalan Zach yang fokus dengan kemudinya tidak menyadari disampingnya Zara yang tertidur, andai saja dia tidak sempat melirik dia tidak akan mengetahui kepala istrinya yang hampir merosot kesamping.


Melihat itu dia menepikan mobilnya dan berhenti sebentar, memperbaiki letak Zara dan kemudian memberikan ciuman di dahi.


"Terima masih karena kau sudah mulai menerimaku". Ucapnya pelan lalu mengecup kembali pucuk kepala istrinya.


Zara yang merasa sangat lelah tidak terusik sama sekali, sampai dihalaman mansion Zara belum juga terbangun, karena tidak ingin membangunkan istrinya, Zachry akhirnya mengangkat tubuh mungil itu ke gendongannya dan membawanya naik ke kamarnya.


Dia mengabaikan tatapan seseorang yang melihatnya membawa Zara sedang mom Luna hanya tersenyum bahagia karena melihat anak dan menantunya sangat romantis.


Setelah meletakkan istrinya dengan nyaman dikamar. Zachry keluar dan menemui tamu yang membuatnya harus datang segera.


"Nania, kau disini?" tanya Zachry saat melihat Nania yang baru saja datang.


"Mommy yang memanggilnya". Jawab Mom Luna


Sementara Nania sangat terkejut saat melihat siapa juga yang berada disana.


"Kau...Bagaimana-"


"Nania, bagaimana kabarmu?" Alena berdiri berjalan ke arah wanita yang dulu sangat dikenalnya itu. Memeluknya dan membisikkan sesuatu di telinganya.


Membuat Nania menegang dan pucat.

__ADS_1


__ADS_2