Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 41 | Kau menerimanya?


__ADS_3

Apa?" Jawab Zara dan Zach bersamaan


Tawa Alena terdengar sangat menyenangkan melihat mereka berdua mati kutu, dia memang mencintai Zachry tapi dia tidak boleh egois dia tidak akan merusak kebahagian wanita lain demi kebahagiaannya.


"Aku bercanda...". Katanya menghapus air disudut matanya. Dia tidak tahu bagaimana dua manusia datar ini bisa saling berjodoh.


"Kau tahu, cara bercandamu sangat tidak lucu". Kini Zara yang berbicara.


"Oh maafkan saya Nyonya muda, tapi kalau kau memang tidak keberatan aku bisa menjadi istri kedua suamimu". katanya membuat Zara hanya tersenyum kecut.


"Ale...". Suara dari arah belakang membuat mereka semua menoleh, dibelakang sana sudah ada Stella, entah dia mendengar semua atau memang baru saja tiba.


Seketika tawa Alena memudar, dia melihat adiknya mendekat dan melihat ke arah mana tatapan adiknya.


"Ale..jangan mendekati wanita itu". Tunjuknya pada Zara. Jelas saja Alena merasa hawatir.


"Dia..kau mengenalnya?" Tanya Alena mencoba menggali informasi yang sudah dia tahu, dia hanya ingin mengurangi beban fikiran adiknya.


"Hm, dia bosku ditoko, tapi dia sangat tidak baik". Jawabannya tentu saja membuat Zara mengerutkan kening.


"Dia sudah menikah, tetapi masih mencari mantan kekasihnya, lagi sekarang dia mendekati calon suamimu, entah bagaimana nasib suaminya sekarang". Katanya panjang lebar masih menatap Zara tidak suka. Dan yang tidak dia ketahui adalah saat ini Zara bersama suaminya.


"Stella..kau salah faham". Kata Alena pelan.


"Tidak, sejak dulu wanita ini memang begitu, dia merebut Aariz dariku, karena dia Aariz menolakku, Ale kau tahu Aarizkan?" Dia menatap Alena sekarang.


"Hm, aku tahu, dia yang kau bilang mirip Da-"


"Ya aku kira awalnya mereka mirip tetapi mereka berbeda, dan lagi dia merebutnya". Tatapannya tajam kembali pada Zara.


"Dia sangat sombong, aku tidak menyukainya". katanya lagi membuat Zara sangat jengah. Namun dia masih mendengarkan tampa ekspresi apa-apa.


"Sombong? Kenapa? Kau sepertinya sangat mengenalnya?" Alena masih membujuk, biasanya saat seperti ini Stella akan merasa lebih baik, entah itu yang dia katakan kebenaran atau hanya halusinasi. Setidaknya dia mengeluarkan unek-uneknya.


"Dia selama dikampus tidak ingin berteman dengan siapapun kau tahu Ale, dia sangat sombong aku pernah ingin berteman dengannya, tapi dia menolakku dan mengabaikanku begitu saja, ternyata dia menginginkan Aariz saja". Keluh Stella panjang lebar. Kemudian terlihat gadis itu menghembuskan nafas pelan.


"Ale aku lelah..". Katanya setelah mengeluarkan semua unek-uneknya. Setelah mengatakan itu dia pergi dan meninggalkan mereka bertiga dalam kecanggungan.


"Maafkan di-". Kata Alena merasa tidak enak walau sebenarnya dia merasa senang karena membuat Zara diam. Oh Alena lupa Zara memang seperti itu.


"Tidak masalah, dia memang harus mengeluarkannya, aku bahkan tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba marah padaku saat kami tidak sengaja bertemu". Katanya akhirnya.

__ADS_1


Zara akhirnya tahu kenapa perlakuan Stella padanya selama ini begitu aneh. Dia menyukai Aariz karena mirip dengan David entah kemiripan mereka dimana, karena merasa terancam dia melampiaskan emosinya yang tertahan sejak lama pada Zara. Oh sungguh tidak masuk akal. Tapi itulah yang terjadi. Stella terlalu terjebak dengan cintanya sehingga siapapun yang menurutnya sebagai ancaman dia akan menyerangnya. Dan sialnya Zara sebagai objek hanya karena dia tidak ingin berteman dan karena Aariz bersamanya waktu itu.


Setelah lama berbincang akhirnya pasangan itu kembali dengan wajah yang tertekuk. Zachry yang suasana hatinya memburuk hanya karena Stella mengatakan bahwa Aariz menyukai Zara. Dan Zara yang sangat kesal karena hampir saja suaminya menjadi suami Alena walau sudah dipastikan itu tidak akan terjadi.


Pernikahan mereka sudah memasuki bulan ke tiga, dan mereka masih sering main diam-diaman saat marah.


"Kau masih marah?" Tanya Zachry saat istrinya membelakanginya untuk tidur.


Tidak ada jawaban. Zara hanya menarik naik selimutnya sampai batas leher. Namun Zachry dengan usil memgambil selimut itu untuk dirinya sendiri.


Zara berbalik dan melemparkan tatapan sinis pada Zach.


"Kau ingin aku kedinginan?" Tanyanya dengan bibir mengerucut.


Melihat itu Zach tergelak bukankah baru saja dia melihat tatapan membunuh istrinya sekarang wanita ini sudah melakukan aksi menggemaskan.


"Jawab saja, kau masih marah?"


"Tidak, untuk apa aku marah? Setidaknya kau mengajakku kesana jadi kau punya alasan menolak permintaan ayahnya, coba jika tidak-?"


"Jika tidak? maka?" kata Zachry masih menggoda


"Kau akan mengatakan , Baiklah Tuan aku akan men-". Belum selesai Zara menyelesaikan ucapannya sebuah kecupan mendarat di bibirnya


'Cup


"Zachry...." Rengeknya karena Zach terus memberinya ciuman bertubi-tubi.


Malam itu Zachry terus tertawa melihat wajah kesal Zara. Dia menatap wajah yang sekarang berada disampingnya dengan lembut


"Kenapa kau tidak ingin berteman dengan Stella waktu itu?" Tanya Zach


"Aku tidak mengingat apakah aku pernah bertemu dengannya atau tidak". Jawabnya jujur karena memang saat itu dia tidak memperhatikan seorang yang terlihat seperti Stella mendekatinya.


Yang dia ingat hanya gadis dengan kaca mata saja.


"Itu artinya dia tidak berbohong kau memang sombong". Yang dijawab hanya dengan cebikan oleh Zachry.


Tidak seperti malam sebelumnya mereka akan melewatinya dengan malam panas, tapi kali ini Zara menolak karena sangat lelah. Memang belakangan dia sangat suka kelelahan bahkan sering sekali mengantuk.


Hingga pagi menjelang, biasanya gadis yang sudah menjadi wanita itu sudah bangun dan sudah sibuk didapur tapi sampai sekarang dia masih dibalik selimutnya.

__ADS_1


"Sayang, kau sakit?" Kata Zachry hawatir karena ini tidak biasanya.


"Tidak, tapi aku masih mengantuk". Jawab Zara masih dengan mata tertutup.


"Mengantuk? Tapi tidak biasanya, kau baik-baik saja?" katanya lagi.


"Yah, aku baik-baik saja sudah jam berapa?" katanya masih dengan posisi dan mata yang tertutup.


"Aku akan berangkat sebentar lagi".


Mendengar itu Zara lantas bangun dan segera menyanggul asal rambut panjangnya bergegas kekamar mandi. Fikirnya sarapan suaminya harus segera dia siapkan.


Zachry yang melihat bagaimana istrinya sangat terburu-buru merasa heran. Setelah beberapabmenit akhirnya Zara sudah keluar dengan wajah yang jauh lebih segar.


Tampa memoles wajahnya dia turun mengabaikan Zachry yang masih merasa bingung. Namun dia tetap mengikuti langkah istrinya turun dan benar saja dugaannya.


"Kau bangun hanya untuk membuat sarapan?" Dia sedikit heran dengan istrinya, siapapun tahu siapa Zara diabanak pengusaha yang kaya raya, bahkan kekayaan keluarganya jauh lebih besar dari keluarga Zachry walau memang kekayaan keluarga Richards tidak bisa juga dikatakan sedikit.


Namun melihat bagaimana Zara yang sibuk di dapur membuat siapa saja akan ragu bahwa dia anak orang ternama. Itulah yang membuat Zach sangat bersyukur memiliki istri mandiri seperti Zara ini.


"Jangan hanya menatapku, makanlah sebelum sarapanmu dingin". Katanya sudah menyantap makanannya yang jauh lebih banyak dari milik suaminya.


"Kau makan sebanyak itu?, kau tidak takut badanmu membesar?". Mendengar kata besar Zara hanya diam, dia tidak perduli dia akan gemuk nanti dia hanya ingin makan sekarang.


"Tidak masalah, kalau kau malu memiliki istri gemuk, masih ada yang mau menerimaku". Katanya masih dengan mulut penuh makanan.


"Jangan macam-macam atau aku tidak akan mengindahkan perintah Daddy untuk tidak menyentuh wajah tampannya".


"Kau mengakui dia tampan juga". Kata Zara degan wajah berbinar dan senyum lebar membuat Zachry semakin kesal.


Zara hanya tertawa melihat bagaimana kesalnya suaminya jika menyangkut Aariz.


Setelah mengantar istrinya ke toko yang kemarin mereka beli karena semua perabot dalam tokonyabakan diantrakan kurir, jadi Zara harus disana memeriksa semuanya. Zach kembali kekantor dengan pusing dikepalanya.


"Kau kenapa?" Tanya Leon


"Entahlah aku hanya pusing". Jawabnya masih memegang kepalanya


"Lagi? Urusan Alena belum kelar, mau apa lagi dia?" Leon sudah nampak hawatir karena setaunya Alena sangat licik.


"Oh Alena, Ayahnya meminta aku menikahinya". Jawab Zachry usil wajah panik sepupunya tiba-tiba membuatnya semangat.

__ADS_1


"A-apa? Aku sudah mengira dia akan menggunakan Ayahnya untuk menjeratmu". Katanya panik semakin membuat Zachry semakin semangat.


"Dan kau menerimanya?


__ADS_2