
Sudah tiga hari berlalu Mom Luna lebih banyak mengurung diri dikamarnya, padahal saat itu dia yang mengatakan bahwa diakan menjadi nenek yang siaga, namum selama 3 hari wanita yang melahirkan 3 anak itu lebih banyak didalm kamar.
“Zachry,,”
“Ck, panggil aku sayang atau panggil aku Daddy, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Daddy”. Ucap Zachry tidak terima karena Zara seperti sangat sulit mengucapkan kata sayang, padahal waktu itu dia sudah pernah mengatakannya.
Kau tidak pantas manja seperti itu Zach, wajahmu tidak mendukung”. Katanya melipat tangannya didada.
“Yah, dan hanya kakakmu saja yang pantas kau panggil sayang begitu?” sewotnya, dia sangat cemburu pada Aariz dia akui pria itu memang tampan, untung saja mereka saudara kandung.
“Siapa sebenarnya kau maksud kakakku? Kenapa ucapanmu belakangan sangat ambigu? Kau mengetahui sesuatu?”
Zara melihat kearah suaminya, tdak akan melepas pandangan darinya karena jika dia berkedip sedikit Zachry akan mengubah kembali topic pembicaraan mereka. Zachry yang diperhatikan hanya menghela nafas pelan, dia sudah membicarakn ini pada ayah mertuanya, entah siapa yang selalu melapor padanya tentang kedekatannya pada Aariz, tetapi setidaknya pelapor itu menyelamatkannya dari amukan orang kaya raya itu.
Ayah mertuanya sudah memutuskan untuk memberi izin Zachry untuk mencoba memberitahu pelan-pelan pada Zara sebelum dia yang mengatakannya, tuan Dixon sebenarnya merasa takut namun tidak ada pilihan lain selain menjelaskan pada kedua anak dan istrinya, entah apa yang membuatnya pada akhirnya mengalah dan siap menerima amukan dari orang tercintanya.
“Zachry,, kau diam memikirkan jawaban baru?” selidik Zara, dia tidak akan mengalihkan pembahasan ini sekarang, dia harus tahu apa sebenarnya yang Zachry tahu.
Kembali mengehela nafas, dan mencium kening istrinya lalu membawanya dalam pelukan hangat. Membuat Zara yang mendapatkan pelukan yang dia rasa sangat berbeda menjadi diam, membiarkan Zachry mengatakan apapun yang dia ingin katakana.
“Bagaimana kalau aku katakan kalau Aariz adalah kakakmu?” mendengar itu Zara melepas pelukan mereka dan menatap dalam mata suaminya. Zachry yang ditatap seperti itu biasanya akan salah tingkah namun tidak untuk saat ini, aura Zara seketika berubah.
Belum selesai Zachry mempelajari reaksi istrinya Zara tertawa dengan menutup mulutya, membuat Zachry mengerutkan kening, dia sudah yakin sebenarnya bahwa Zara tidak akan percaya dengan apa yang dia ucapkan.
“Jangan tertawa dan aku serius bertanya, bagaimana kalau dia ternyata kakakmu?”.
Zara mengentikan tawanya lalu menatap wajah Zachry, dia bedehem untuk menormalkan diri “Bagaimana mungkin kami saudara, kau ada-ada saja”.
Zara meninggalkan Zachry sendiri di balkon, memang mereka tadi di balkon kamar menikmati sore yang indah, Zara ingin membahas ibu mertuanya, namun pertanyaan Zachry yang tidak masuk akal membuat nya kembali menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
Dia tidak langsung kekamar, tetapi langsung kedapur bersama Rafh dia akan membantu Raft untuk membuat makan malam untuk mereka, dia akan membuatkan sup ayam untuk suaminya yang sudah beberapa hari susah makan sesuatu.
“Ada yang bisa ku bantu Raft?”
“Nyonya, anda mengagetkan saya” ucap Raft karena memang lagi serius-seriusnya dengan spatula ditangannya. Zara terkekeh karena melihat wajah Raft yang benar-benar terkejut.
“Sedang memikirkan apa?”
“Itu saya, apakah Nyonya besar tidak menyukai masakan saya?”.
“Kenapa bertanya? Makananmu enak dan aku suka, apakah Mom mengatakan sesuatu?”
“Tidak Nyonya, hanya saja saya perhatikan selera makan Nyonya besar sedikit buruk”. Jawabnya dengan wajah sendu.
Zara memikirkan itu juga beberapa hari ini, dan dia ingin mengatakan itu pada suaminya , tetapi lelaki itu, Zara menghela nafas mengingat suaminya yang terlalu berlebihan setelah dia dinyatakan hamil. Zara bahagia karena Zachry sangat peka, tetapi kalau ditempeli terus juga membuatnya tidak nyaman, lagi pria itu selalu saja mengatakan hal-hal tidak masuk akal.
“Aku tahu itu hanya kal-akalanmu, mengatakan Aariz kakakku?” gumamnya dengan suara kecil namun Raft masih bisa mendengarkan, tetapi tidak ingin ikut campur.
Sampai dikamar ibu mertuanya Zara masuk dengan senyuman kaku karena dia memang tidak terlalu akrab dengan wanita yang sudah melahirkan pria posesifnya.
“Duduklah sayang”. Mom Luna melihat bagaimana canggung menantunya, dia juga ikut bertanggung jawab karena dia terlalu dekat dengan Nania sebelumnya sehingga melupakan bahwa dia memiliki menantu.
Zara tersenyum dan duduk si sofa tidak jauh dari mertuanya.
“Mom, maaf karena Zara baru berani kekamar Mom, maaf karena Zara tidak bisa menjadi menantu yang baik”. Zara masih melihat kerah mertuanya. Zara memang sedikit kaku jika bertemu dengan orang luar, maksudnya karena mereka jarang mengobrol dia sedikit susah membawa diri, untuk itu kehidupannya hanya di toko, dan rumah saja saat masih gadis.
“Mendekatlah, dudukmu terlalu jauh!” Mom Luna menepuk sofa didekatnya. Zara mendekat dan masih dengan senyumannya.
“Jangan meminta maaf, kamu tidak salah, Mom yang terlalu sibuk sampai melupakan bahwa Mom memiliki anak perempuan juga”. Katanya yang dibalas hanya kekehan kecil oleh Zara.
__ADS_1
“Hm, Mom selalu mengabaikanku karena Nania kan?”. Niat Zara hanya bercanda tetapi wajah mertuanya berubah menjadi sendu? Apakah dia salah lagi?.
“Mom itu Zara tidak berniat”
Menghela nafas lalu memegang tangan Zara dan menepuknya dengantangan satunya dengan lembut. “Mom yang salah”. Zara semakin bersalah. “Kandunanmu sudah berapa minggu?”.
Luna mengalihkan topic, dia tidak ingin mebahas Nania, entah apa yang membuat gadis itu sangat keras kepala, dia dulunya sangat lembut dan tidak banyak tingkah, tetapi setelah keluar rumah sakit kemarin dia menjadi sedikit memaksa.
Megingat Nania, dan disinilah gadis itu sekarang di mansion besar milik pria tampan yang biasa membantu semua rencana-rencananya. David
“Kudengar kau masuk rumah sakit?” katanya menyesap minumannya dan melihat kearah Nania yang selalu saja terlihat cantik, tetapi tetap baginya Zara paling cantik.
“Hm, yah sialnya aku harus cuti ke club”. Nania berdecak.
“Aku juga heran kau hampir kesana setiap malam”. David tertawa seperti mengejek namun dengan cepat dia diam setelah bantal sofa mendarat diwajahnya.
Nania menghela nafas lelah. Dia masih memikirkan cara bagaimana mendapatkan Zachry, dia sudah tidak bisa ke kantor Zachry karena pria itu seperti memerintah semua kemanan untuk tidak membiarkannya masuk. Dimension utama juga Mom Luna sudah tidak ingin menerimanya.
“Kau membutuhkan bantuan? Ku lihat kau sangat frustasi”.
David tahu jika Nania belum juga bisa mendapatkan hati Zachry padahal sudah menjebak Alena dengan memanfaatkan wanita itu menggunakan kelemahannya, adiknya Stella.
“Kau masih mengingat pria yang pernah kita jebak karena calon istrinya menghabiskan malam denganmu?”. Kata Nania menjelaskn dan jelas saja David mengingatnya, karena perbuatannya dia kembali menyakiti Stella walaupun memang dia tidak mencintai Stella tetapi tetap saja dia merasa tidak enak hati.
“Hm, aku mengingatnya, dia CEO di Rgroup kan?” Nania mengangguk.
“Aku belum bisa mendapatkannya, dan sekarang istrinya hamil”. Keluh Nania namun tidak ada raut wajah terkejut di wajah David.
“Lalu apa yang bisa kubantu?”. Katanya masih melihat kearah Nania
__ADS_1
“Singkirkan istrinya, dan kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau”. Jawaban Nania membuat David terbahak, wanita didepannya sangat manis dalam bertindak, apa katanya dia meminta David menyingkirkan Zara. Bahkan David sangat menjaganya selama ini, hanya waktu itu saja dia kelepasan dan dia menyesal.
“Apa yang aku dapatkan jika berhasil menyingkirkan istrinya?”.