Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 23 | Kecewa


__ADS_3

Aariz hanya menatapnya dalam, mereka saling menatap lama setelah itu tercetak jelas di bibir Aariz sebuah senyuman manis, senyuman yang selalu Zara rindukan.


"Kau yakin?" Tanya Aariz kemudian.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Zara menatap lurus kedepan lalu melanjutkan "Aku menyadari bahwa cinta yang kita miliki tidaklah terlalu kuat". Aariz ingin menyela namun Zara mengisyaratkan dengan menepuk punggung tangang Aariz sebentar untuk membiarkan dia meneruskan ucapannya. Aariz sangat terluka menyadari saat Zara menarik kembali tangannya. "Kau yang mengizinkan aku bersamanya waktu itu, kau bahkan tidak terlihat memperjuangkan cinta kita". Zara tersenyum miris mengingat hanya dia yang berharap.


"Zara....."


"Aku sangat mencintaimu, saat itu aku berharap kau setidaknya berusaha memperjuangkanku, tetapi sekarang aku tahu jawabnnya kenapa kau menerima pernikahanku dengan laki-laki lain".


"Aku memang mencintaimu, itu tidaklah dusta".


"Tapi kau lebih mencintai Agatha, bahkan kau lebih takut kehilangan dia dibandingkan diriku". Zara menatap Aariz kembali. "Kenapa kau tidak pernah mengatakan bahwa kalian ada hubungan?"


"Karena itu memang tidak penting, dan kami-".


"Woah...kau mengatakan tidak penting agar aku tidak mengetahui perbuatan kalian dibelakangku selama ini begitu?" Suara Zara datar dan dingin.


"Aku mengajakmu bertemu karena ingin mengatakan, Ayo kita pergi. Kau pergi dengan kehidupanmu sendiri dan aku dengan kehidupanku sendiri". Setelah mengatakan itu Zara berdiri dan meninggalkan Aariz sendiri. Menatap punggung kekasihnya yang semakin menjauh. Ah masihkan Zara kekasihnya setelah wanitanya menikah dengan orang lain?


Aariz salah faham dengan kalimat pergi yang Zara maksud, dia mengira bahwa Zara memutuskan untuk pergi bersamanya, Namun ternyata yang Zara maksud adalah pergi dari kisah mereka dan berjalan ke arah kisah mereka yang lain.


"Aku kira kau akan mengajakku pergi, padahal aku sangat berharap akan pergi jauh denganmu". Gumam Aariz dengan nada kecewa. Dan penyesalan.


*******


Setelah dari taman Zara langsung pulang, dia akan menyiapkan makan malam untuk Zachry, suaminya. Dia sudah memutuskan untuk memulai semuanya dari awal. Walaupun mungkin sangat mustahil baginya membuka hati lagi, saat baru saja dia mendapatkan penghiatan. Tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain memberi Zachry kesempatan.


Dia sudah mengirim pesan tadi untuk Zachry agar dia tidak pulang terlambat, mereka akan makan malam berdua. Mengganti makan malam sebelumnya yang selalu gagal.


Seharian Zachry menatap ponselnya dengan senyuman mengembang. Ini pertama kalinya istri manisnya mengirim pesan dan memintanya makan malam berdua.


Sebelum wajahnya kembali datar saat melihat foto yang dikirim anak buahnya. Ah lagi-lagi istrinya membuatnya sakit kepala.


"Dasar gadis nakal". Memijat pangkal hidungnya dan menyugar kasar rambutnya.

__ADS_1


Bertepatan saat itu Nania datang memeluknya dari belakang. Zach sudah mengintruksinya agar menjauh. Tetapi gadis itu selalu saja keras kepala.


"Kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"


"Zach, aku hanya memeluk sahabatku!"Nania semakin erat memeluknya.


"Boleh ku tahu kenapa kau belakangan ini suka sekali merenung? Apakah kau bahagia?"


Pertanyaan terakhir Nania membuat Zach melepas pelukan Nania dan berbalik menatap sahabatnya dengan tatapan tajam.


Nania balik menatap Zach dia tahu tatapan itu dan Nania tidak perduli.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan Nania?"


"Tentu saja cintamu". Jawabnya enteng.


"Kau akan merusak sekali lagi rasa percayaku Nania?" Sudah cukup waktu itu kau rusak persahabatan kita, jangan merusak rasa sayangku pada adikku lagi". Zach menjauh dan duduk di sofa yang di ikuti oleh Nania.


"Kau harus ingat, tidak ada ikatan darah diantara kita". Nania kembali memeluk lengan Zach, walaupun Zach menarik tangannya Nania kembali memeluknya dan menatap Zach tajam agar membiarkannya sebentar


"Coba kau pertimbangkan perasaan sepupuku, jangan menutup mata, kau jelas tahu dia mencintaimu". Ucap Zach akhirnya


"Dan aku hanya mencintaimu".


"Ck, sudah cukup Jika kau ingin terus berada dikantor ini. Maka jaga batasanmu dan aku ingatkan sekali lagi dan ini terakhir kalinya". Zach berdiri "Kembalilah keruanganmu, jangan melakukan hal-hal yang akan membuat orang lain salah faham lagi". Setelah mengatakan itu Zachry kembali duduk di kursi kebesarannya, memutar dan membelakangi Nania.


Hening.....


"Aku akan keluar dari sinuli hari ini juga, dan aku harap kau tidak mencariku setelah ini".


Karena tidak ada jawaban, akhirnya Nania keluar dengan kesal.


*******


Di Toko 'ZaCake' Aariz sudah kembali sejak lima menit yang lalu, dia langsung masuk ke dalam ruangannya dan berbaring di kasur yang biasa Zara tempati. Bahkan wangi Zara masih ada disana. Sekarang dia merasa sangat menyesal karena tidak memperjuangkan cintanya.

__ADS_1


Dia kembali mengingat ke datangan Tuan Horrison waktu lalu di Apartemennya, Entah bagaimana Tuan besar mengetahui tempat tinggalnya.


Mengingat ucapan Tuan Horrison waktu itu membuat Aariz kembali menghela nafas panjang. Dia tidak mungkin egois. Tuan Horrison sudah banyak membantunya, Membangun toko yang diatas namakan dirinya dan Zara, kemudian pengobatan ibunya. Tuan besar yang menanggung semuanya. Namun ada satu yang membuat Aariz merasa aneh. Dari mana Tuan Horrison mengetahui tentang ibunya.


Mengingat itu Aariz kembali kecewa saat ibunya tidak akan merestui hubungannya dengan Zara.


"Apakah aku memang tidak pantas bersama dengannya?" Tanya Aariz mengugat kasar rambutnya frustasi.


Beberapa menit suara ketukan pintu terdengar. Dan Stella masuk setelah mendapat arahan. Wanita cantik yang sudah lancang menampar kekasihnya dulu. Mengingat itu Aariz kembali kesal melihatnya. Dan tidak bisa memecatnya saat ini karena mencari pengganti untuk di dapur sangat sulit.


"Maaf tuan, saya membawa makan siang untuk anda". Stella menata makan siang di meja sofa diruangan itu.


Tidak ada jawaban dari Aariz, dia bangun dan hanya menatap Stella dengan tatapan kesal. Stella yang melihat tatapan itu menundukkan kepala. Takut.


"Saya permisi Tuan". Stella mundur dan akan keluar tetapi suara Aariz menghentikannya.


"Apakah sebelumnya kau ada masalah dengannya?"


"Maaf Tuan?"


"Zara..tidak mungkin kau langsung menampar seseorang, hanya karena aku melarang seseorang masuk keruanganku. Dan aku tahu kau orang yang tidak seperti itu". Tanya Aariz panjang lebar, tatapannya tajam membuat Stella semakin menunduk.


"Stella... Bisa kau jawab dengan jujur?" dia mengulangi pertanyaannya karena Stella masih saja diam.


Aariz mendekat membuat Stella semakin takut.


"Apakah sebelumnya dia pernah menyakitimu? Apakah kalian saling kenal?". Aariz diam kemudian melanjutkan "Ah baiklah karena pemilik toko satunya tidak akan lagi bekerja disini, aku yang akan mengambil semua keputusan".


"Pemilik satunya?" Stella bertanya juga.


"Yang kau tampar, dia pemilik resmi juga disini". Sontak membuat Stella menganga tidak percaya.


"Jadi apa alasanmu menampar bosmu sendiri?" Kini Aariz membuat Stella semakin mati kutu.


"A-aku..itu...".Stella terbata-bata.

__ADS_1


"Jawab, atau besok kau tidak perlu lagi ke toko". Aariz masih menatap Stella terdiam, dia yakin ada sesuatu di antara mereka.


__ADS_2