Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 12 | Manusia Kaku


__ADS_3

"Sudah cukup". Lelaki yang dari tadi duduk disampingnya, agak berteriak, karena suara dentuman music yang begitu keras. David menatap teman wanitanya dengan intens. matanya tertutup tetapi bibirnya terus saja mengoceh


"Hah..? Apa..?" Nania membuka mata saat skoli ditangannya direbut paksa.


"Sudah cukup, ayo kembali !" David sudah memegang pergelangan tangan Nania untuk membawanya pulang. Tetapi dengan kasar Nania menghempaskannya.


"Kita menari sebentar". Belum sempat David menjawab Nania sudah berlalu dengan tubuh sedikit oleng. Nania yang malam ini hanya memakai dres pres body warna hitam tampa lengan berbentuk kemben, mengundang banyak mata lapar menatapnya. Belum sempat gadis bertubuh ramping itu bergoyang, tubuhnya sudah melayang dan berada di atas punggung seseorang.


"Siapa kau?" tanya David melihat teman wanita di panggul dan memberontak.


"Diamlah, dan jangan ikut campur". David yang tak terima dengan itu hendak berniat menghentikan langkah pria yang membawa kabur Nania, tetapi tubuhnya sudah terhuyung lebih dulu kebelakang. Sebuah bogem mentah mendarat dengan tepat diwajah tampannya.


'Bug..


'Bug..


'Agghhh...Sialan". David mengusap ujung bibirnya yang robek.


Setelah memberi hadiah pada David dua pengawal itu lantas kembali mengikuti Tuannya, mengabaikan teriakan pengunjung lain yang melihat ada perkelahian didepan mereka


"Hah, apa yang kau lakukan Nania?" Ucap Leon melirik sahabatnya dari kaca spion depan.


"Leon, kenapa kau menggangguku?" Nania sangat kesal sekarang. Niat hati ingin bersenang-senang tetapi gagal karena harus diculik oleh sahabatnya.


Ya Sepulang dari kantor memang Leon mencari keberadaan Nania yang pulang tampa berpamitan seperti biasanya. Leon sudah berulang kali menghuhungi tetapi tetap tidak ada jawaban. Karena terlalu hawatir akhirnya Leon melacak keberadaan sahabatnya, sesampajnya disana di clup malam yang biasa mereka datangu. dia terpaku melihat bagaimana hancurnya sahabatnya dan yang membuatnya semakin geram adalah dia melihat pria yang sejak tadi bersama Nania menaruh sesuatu didalam minuman Nania, Saat Nania berdiri akan berdansa. Tampa menunggu lama, Leon muncul dan disinilah mereka didalam mobil Leon.


"Kenapa lagi?" Tanyanya pada Nania, yang terlihat memejamkan mata.


"Dan lihatlah pakaianmu, kenapa harus memakai pakaian aneh seperti itu?" Leon tidak habis fikir kenapa harus ada pakaian yang kekuarangan bahan seperti itu dijual.


"Kau itu cerewet sekali, semuanya kau komentari!" Kesal juga lama-lama.


Leon hanya terkekeh geli melihat Sahabatnya mengomel dengan mata tertutup.

__ADS_1


***


Drt..


Drt..


Wanita bertubuh ramping, dan bermata bulat itu baru saja keluar dari kamar mandi mencuci muka lalu berjalan ke arah nakas mengambil benda pipih yang terlihat menyala dari tadi, kamar yang berukuran besar dengan interior modren itu sangat terlihat manis, dengan pemilihan warna dindingnya berwana pastel.


Sudah jam sembilan malam Zara yang tengah menggunakan pajamas dari kain sutra tipis berwarna hitam sebatas paha, dengan model jumpsuit dengan jubah tipis berwarna senada dan panjang sebatas paha juga. Sangat kontras dengan kulit Zara yang seputih susu. Cantik.


"Nomer siapa ini?". Katanya sambil duduk di meja riasnya, mengikat setengah rambutnya dan bersiap melakukan ritual rutinnya tiap malam.


Nomer tadi kembali menghubunginya, dan kali ini sepertinya sangat penting karena sudah beberapa kali menelpon.


tanda hijau digeser keatas dan "Haa..-".


"Besok aku akan menjemputmu jam delapan, aku harap kau siap-siap, dan jangan ada alasan untuk menolak".


"Wah, kau siapa seenaknya mengat-"Panggilan terputus.


"Tadi siapa?". Zara berfikir keras..dan setelah mengingat "Astaga, dari mana manusia kaku itu tahu nomerku?" Zara masih menatap ponselnya yang sudah gelap. Dia berdecak pelan, sangat kesal.


Sementara di Mansion kekuarga Richard disebrang sana tepatnya di balkon kamar, Pemuda gagah tengap duduk dengan kaki menyilang diatas meja, dengan senyum yang sangat tipis di bibirnya.


Tentu mudah baginya mendapat nomer tunangannya, karena calon mertuanya sangat menyukainya.


"Zara..sudah cukup kau bersenang-senang dengan kekasihmu, dan ingat setelah ini kau tidak akan ku izinkan kesana lagi". Zach sangat kesal karena mengetahui Zara kembali dari toko Kue setelah hampir sore, entah apa saja yang mereka lakukan selama itu. Ingin sekali Zach menhabisi kekasih Tunangannya tetapi Tuan Horrison sudah mengingatkan terlebih dahulu untuk tidak menyentuhnya.


"Jangan salahkan aku jika aku melampaui batas karena kau tidak mendengarkanku Zara". Matanya menyorot tajam, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


***


"Kenapa kau belum kembali?" Tanya Pria berprawakan tinggi itu pada wanita yang masih sibuk dengan kegiatannya, Pria itu mendekat, sambil melipat kemejanya ke atas siku, kemudian duduk memperhatikan wanita yang masih sibuk dengan lap basah ditangannya.

__ADS_1


"Agatha, kau bisa membersihkannya besok lagi". Suara nya tegas seperti titah.


"Sisa ini saja bos, Kau pulanglah lebih dulu biar aku yang menutup tokonya".


Ya, yang memegang kunci toko memang tidak hanya Aariz, Agatha dan Zara juga, Zara memilikinya karena Kekasihnya memberinya dengan alasan toko itu milik mereka berdua, dan Agatha mendapatkannya karena Aariz percaya Agatha bisa di percaya, karena mereka pernah dekat dulunya.


"Buatkan kopi, dan temani aku minum kalau begitu". Tawar Aariz karena Agatha masih keras kepala seperti dulu, sama seperti Zara, tetapi Aariz mencintai Zara.


Agatha akhirnya menghentikan kerjaan sebelumnya dan berjalan menuju dapur membuat kopi dan membawa sepiring pie, Pie buatan Stella, karena buatan Zara semua sudah habis.


"Ada masalah apa?" tanya Aariz setelah mereka berdua berhadapan.


"Maafkan aku".


"Untuk?" Tanya Aariz bingung, tiba-tiba saja minta maaf.


"Zara..aku, Ini semua salahku karena tidak segera menghentikan tindakan Stella siang tadi, dan membuat Zara sampai-"


"Hum kau memang bersalah, seharusnya setelah melihatnya datang kau menghentikannya dan beritahu dia aku keluar sebentar, dan harusnya kau juga beritahu Stella siapa Zara" potongnya dan mengekuarkan kekesalannya pada semua orang melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu.


"Kau sungguh mencintainya". gumam Agatha pelan tapi masih didengar Aariz


"Tentu saja, bahkan aku bertahan mengelola toko ini demi dirinya". Jawabnya lugas.


"Aku sangat iri, dulu kau-"


"Agatha, jangan lewati batasan, kau harus ingat kesepakatan kita sebelum kau diterima disini.


"Aku ingat, aku hanya iri padanya, dia akan menikah dengan orang lain tetapi dia bahkan masih bisa bertemu kekasihnya sesuka hatinya, bahkan sampe bermesraan".


'Braak..


Agatha terlonjak kaget, gelas berisikan kopi tadi bergetar dan terbalik, sedang piring berisikan kue sudah diujung meja, karena getaran yang di perbuat Aariz.

__ADS_1


"Apa yang kau fikir tentangnya sampai kau bisa berkata begitu?" sorot mata Aariz sangat tajam.


"Aku hanya mengingatkanmu, dia akan menikah dan kau masih seperti biasa saja? Masih menerimanya dalam pelukanmu, luar biasa" ejeknya.


__ADS_2