Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 51 | Sangat kekanakan.


__ADS_3

Zachry berdiri dan membenarkan pakaiannya, dia malu kerena tertangkap oleh Ibu Aariz. "Selamat sore, Nyonya". Sapanya ramah dengan sedikit membungkukkan diri.


Aariz melihatnya hanya berdecih. Pria datar dan kaku ini ternyata bisa tersenyum.


"Silahkan duduk, dan kau Aariz, masuk dan bawakan kami minuman". Maria menunjuk anakmya dengan dagu membuat Zachry tidak bisa menahan senyumnya melihat bagaimana kesalnya Aariz. Kakak iparnya yang menyebalkan.


"Saya, Zach-"


"Aku tahu, kau suami dari anak suamiku". Maria tersenyum masam saat mengatakannya, terlihat ada luka yang dia simpan sendiri.


"Nyonya tahu? Siapa yang-".


"Kalian membicarakan apa? Kalian saling kenal?" Aariz datang dengan dua cangkir teh, dan beberapa potong roti. Zachry melihat roti itu membuat liurnya akan keluar.


Tatapan Maria dan Aariz tertuju pada Zachry yang berbinar saat melihat roti "Aku tidak percaya orang kaya sepertimu suka melihat roti". Cibir Aariz yang diabaikan oleh Zachry.


"Nyonya, apakah saya boleh-".


"Makanlah, itu buatan Aariz". Zachry tampa sungkan mengambil roti itu senyumnya mengembang membuat Aariz bergidik ngeri. Dia tidak menyangka pria datar itu tersenyum selebar itu hanya karena roti.


"Sepertinya istrimu, hamil".


"Uhuk..Uhuk..". Zachry tersendak, dia tidak menyangka akan mendengar berita itu, dan Aariz yang sejak tadi hanya sibuk memperhatikan ke anehan Zachry menoleh ke Ibunya.


"Tidak". Aariz berdiri dan berteriak membuat Zachry menautkan dahi. Dia nedecak kesal, lagi-lagi dia mengingat bahwa pria didepannya adalah kakak iparnya.


Dan yang membuatnya bingung adalah kenapa pria bodoh ini tidak tahu apa-apa. Zachry melihat ke arah ibu Aariz wanita tua itu hanya mengelus dada.


"Nyonya apakah kalian merahasiakan ini?" tampa mengenal kondisi dan tempat, Zachry bertanya membuat Aariz semakin marah.


"Apalagi ini bu, ada rahasia apalagi yang ibu sembunyikan selain rumah ini?" Aariz memijat keningnya. Dia geram tetapi tidak akan melakukan tonjokan didepan ibunya.


"Duduklah, ibu jelaskan". Aariz enggan tetapi melihat tatapan memohon ibunya membuatnya luruh dia duduk agak Jauh dari Zachry.


Dan Zachry hanya tersenyum miring melihat kakak iparnya yang kekanakan.


Ya. Sangat ke kanakan.


Maria menceritakan semuanya. Tampa ada yang dia tutup tutupi. Aariz hanya tertawa menggeleng tidak percaya.


"Apakah kau yang membuat ibuku membual hah?" Bentaknya pada Zachry, dia sudah tidak tahan dengan kebohongan ini. Tidak mungkin Zara adalah adiknya, wanita itu adalah kekasihnya. Wanita yang sangat dia cintai selain ibunya.

__ADS_1


Lalu apa katanya. Bersaudara? Saudara kandung. Ah tidak masuk akal.


Aariz mengingat semuanya, bagaimana Tuan Dixon yang melarangnya menjalin hubungan lebih lanjut pada Zara, bahkan suka rela mendanai tokonya. Lagi biaya perawatan ibunya dan rumah ini?


Aariz baru menyadari dia baru saja pindah sebulan yang lalu kerumah ini.


"Bu jangan katakan bahwa, rumah ini juga pemberian dari laki-laki itu, bukan rumah yang kakek tinggalkan". Aariz melihat ibunya yang hanya diam.


Aariz kembali tertawa. Dia merasa sangat bodoh sekarang.


"Dia, Ayah-".


"Tidak, Ibu lupa, Ibu sendiri yang mangatakan bahwa Ayahku sudah tidak ada? Lalu kenapa sekarang ayah dari wanitaku menjadi ayahku, kenapa?"


Aariz sangat kesal sampai tidak sadar meninggikan suaranya. Dia berlalu dari ruangan itu meninggalkan rumah dan entah kemana, padahal hari sudah gelap.


Nyonya Maria hanya menghembuskan nafas panjang "Maafkan dia, Jika menyangkut Zara dia akan seperti itu, dia terlalu menyintai nya, dan mendapatkan fakta ini pasti membuatnya sangat marah".


"Aku dan Ayahnya memang sepakat merahasiakan ini dari mereka berdua, kami belum siap melihat kemarahan Aariz dan kecewa Zara".


Nyonya Maria tersenyum menyebut nama anak dari suaminya itu, awalnya dia tidak tahu bahwa kekasih anaknya adah anak Dixon sampai dia memberitahu bahwa Aariz memiliki kekasih dan memeperlihatkan foto kekasihnya.


Karena malam sudah sangat larut Zachry dipaksa untuk menginap, walau sebenarnya dia masih gelisah karena ternyata Aariz tidak tahu dimama Zara.


Dia terus menghubungi anak buahnya untuk mencari dimana istrinya dan sebagian dari mereka mengikuti Aariz bisa saja pria itu berbohong.


Malam semakin larut, Aariz terlihat memasuki rumah dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Dia mabuk. Zachry yang sedari tadi sibuk menunggu kabar istrinya melihat bagaimana kacaunya Aariz.


Dia berdecak menggelengkan kepala, bagaimana mungkin dulu Zara menyukai pria seperti itu.


"Kau membutuhkan bantuan?" Zachry mendekat dan mencoba memapahnya


"Kau... Kenapa masih disini?" Desisnya


"Kau mengusirku? Kau lupa aku siapa?"


"Aku tidak perduli kau siapa, sekarang leluar dari rumahku dan pergilah menjauh". Zachry tidak merasa tersinggung, dia memapah Aariz ke sofa ruang tamu, mendudukkannya dan duduk disampingnya.


Hening, tidak ada satupun dari mereka memulai percakapan. Hingga beberapa menit kemudian terdengar Aariz yang menghela nafas pelan.


"Apakah kau senang dengan fakta ini?".

__ADS_1


Tidak ada jawaban, Zachry masih menegadahkan wajahnya ke atas, dan memejamkan mata. Memikirkan dimana sebenarnya Zara.


"Aku rasa kau memang sengaja mengarang cerita, kau kira aku akan melepaskannya begitu saja, aku akan menunggu kalian berpi-".


Satu pukulan mendarat. Aariz terjatuh dari sofa dan memegang sudut bibirnya yang berdarah. Zachry berdiri dan berjongkok didepan Aariz, kepalan tangannya sudah terlihat siap mendarat.


"Aku tidak perduli, kalau kau memang menyayanginya bantu aku menemukannya".


Aariz tertawa, lalu mencoba untuk bangkit. dia merapikan kemejanya dan mulai duduk. Mengembuskan nafas pelan.


"Kau tidak percaya padanya?" Melirik Zachry. "Jika kau percaya pada istrimu, aku yakin kau tidak akan membuang waktu mencariku sampai disini".


"Carilah dirumah mertuamu, mungkin saja dia disana".


"Ayahmu ke Roma sebelum Zara menghilang".


"APA? Lalu dimana dia?" Aariz berlari mengambil kunci mobil dan berlari keluar disusul oleh Zachry.


Aariz melajukan mobilnya keluar halaman. Sudah jam 11 malam tetapi dia tidak bisa menunggu terlalu lama, bagaimanapun Zara adalah wanita yang dia sayangi, entah dia memang adiknya atau bukan. Aariz akan menemukannya.


Zachry mengikuti mobil yang Aariz bawa, dia bukannya tidak mencari, anak buahnya sudah banyak disebar. Dia hanya harus menunggu kabar dan mencari Aariz.


Nyatanya pria menyebalkan itu tidak tahu dimana adiknya. Sial.


Dilain tempat Zara masih mondar mandir di kamarnya, dia masih ditahan. Entahlah ini dinamakan di tahan atau bagaimana. Tidak ada jalan keluar.


Diluar anak buah David berada disetiap sudut. Dia ingin pulang dia merindukan suaminya. Zara duduk di pinggir kasur, dan saat itu pintu kamarnya terbuka.


"Kau masih gelisah?" Tanya nya. David membawa buah-buahan yang sudah dipotong-potong dan segelas susu hamil.


Zara hanya menghela nafas. Melihat David membawa makanan itu. Dia lapar kembali. Tetapi juga ingin pulang.


"Kapan aku pulang?" Tanya nya meraih susu ditangan David dan meminumnya. David hanya tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Zara pelan.


"Aku ingin menahanmu lebih lama". Mendengar itu Zara mengerucutkan bibirnya. "Kau tidak suka disini, aku bahkan sangat memanjakanmu". Dia berdecak pura-pura marah.


"Kau bahkan menyakitiku sebelum menculikku". Mendengar itu David tergelak. Dia tidak percaya gadis jutek ini bisa sangat menggemaskan setelah menikah.


"Tolong antarkan aku pulang". Rengeknya. David hanya menghela nafas panjang,


"Besok pagi, aku akan mengantarmu ke toko, bagaimana?" yang langsung di angguki Zara.

__ADS_1


__ADS_2