Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Fakta dari Zara


__ADS_3

Aariz yang melihat situai sudah tidak aman, berinisiatif untuk memisahkan mereka untuk sementaa waktu, namun ternayata Zachry menolak dan ingin tetap mendengar semuanya.


Zara meminta kakaknya untuk mauk kedalam menyusul anak-anaknya dan David, yang langsung di angguki Aariz dia tahu Zachry tidak akan melakukan hal bodoh dengan menyakiti Zara.


“Jadi kalian menikah?”


“Aku yakin kau tahu jawabannya, kami tinggal bersama”


“Kenapa? Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kau memisahkanku dari anak-anakku”


“Kau bahkan melupakan, tadi kau menuduhku dan mengatakan kedua anak itu adalah anak David”


“Jadi kau benar-benar menikah denganya? Kau tidak bisa menungguku kembali?”


“Sampai kapan? Sampai kau dan Nania berpisah begitu? Aku bisa saja menunggu tetapi bagaimana dengan kedua anakku, dia membutuhkan sosok ayah diusianya.”


“Kau egois Zara!”


“Demi anak-anakku”


“Mereka juga anak-anakku.”


Zara terkekeh.


“Bahkan sebelum Zein dan Zoya lahir, Dad Edgar sudah tidak menerimanya, bahkan tadi kau mengatakn bahwa mereka bisa saja anak David dari awal.”


“Maafkan aku, aku terbawa emosi karena kau mengatakan dia suamimu”


“Aku tidak akan berbohong, hanya untuk membuatmu tenang.”


Lama mereka berbincang, tidak lagi terlihat kemarahan dari mereka berdua dan itu bisa dilihat dari dua orang yang sedang mengintip dibalik jendela dalam rumah.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Aariz pada David, sebenarnya dia bisa menebak hancurnya perasaan iparnya hanya saja tidak ada salahnya berbasa basi.


David tidak menjawab dia berlalu mengambil kunci mobil dan melajukan kembali mobilnya entah kemana setelah tadi dia mengajak kedua anaknya bermain sampai tertidur.


“Aku yakin dia patah hati kembali” kekeh Aariz kemudian kembali menatap kedua orang yang sekarang terlihat tertawa.


Aariz melangkah mendekati mereka, dia juga ingin tahu apa yang terjadi. Melihat Aariz yang mendekat Zara berdiri dan berjalan kearah kakaknya. “Kau sudah makan?” tanya Zara lembut kearah Aariz membuat Zachry menghela napas Melihat itu Aariz hanya tertawa.

__ADS_1


“Aku masih belum lapar,” Lalu dia berjalan dan duduk disebelah Zachry. Membiarkan Zara masuk kedalam rumah.


“Bagaimana perasaanmu?” Zachry hanya diam.


“Jangan salahkan Zara, saat itu dia benar-benar dalam situasi yang tidak baik, kau beruntung karena langsung diterima, sementara Aku dan Ayahku dan Mom Lucy saat itu langsung diusirnya.


Aariz menghela napas panjang, dia menceritakan semuanya pada Zachry bagaimana dia dan keluarganya mencari Zara kemanapun saat mengetahui Zachry ternyata tidak bersamanya.


“Aku bahkan tidak pulang karena terus mencarinya, kami kehilangan jejaknya, yang membuat kami semakin marah adalah dia tidak bersamamu”


“Hingga suatu saat kami putus asa dan terus berdoa bahwa dia akan baik-baik saja dimanapun dia berada. Dan saat itu David datang menemui kami dan menceritakan semuanya. Itupun tampa sepengetahuan Zara.”


“Saat itu mereka belum menikah, karena memang David hanya ingin melindungi Zara sebagai saudara.”


“Tentu saja gadis keras kepala itu sangat marah karena mengira kami semua meninggalkannya disaat masa-masa tersulitnya.”


“Hingga si kembar lahir dan kami sepakat menikahkan nya dengan David, awalnya David menolak, percayalah dia menolak itu tetapi siapa sangka ternyata mantan istrimu menyetujui usul ayahku”


Terlihat Zachry menghela naps panjang, dia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang, wanita yang dia cinta sejak remaja kini akhirnya menjadi milik orang lain. Bahkan anak-anaknya lebih dahulu memanggil orang lain dengan sebutan papa.


Sesak sudah pasti, dengan mengepalkan tangan kuat Zachry bangkit tanpa melihat kearah Aariz dia mengatakan akan kembali sendiri, Aariz menyetujui karena yamin Zachry memang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.


“Ayo makanlah dulu, setelah itu kalian istrahat dikamar tamu” katanya masih menata makanan tampa melihat lawan bicaranya dia melanjutkan


“Aariz bawa Zachry bersamamu dikamar, maaf karena rumah ini tidak seluas mansion kalian” katanya tersenyum lembut memperlihatkan lesung pipinya.


Zachry memalingkan wajah karena tidk sanggup melihat senyuman itu, karena sekarang senyuman itu bukanlah miliknya.


“Tidak perlu, karena aku akan kembali setelah ini” kata Zachry akhirnya.


Zara hanya diam, dia tidak mungkin mencegah, bagaimanapun dia tahu perasaan Zachry, mungkin lebih baik begini.


“Kalau begitu makan dulu” ucap Zara


“Boleh aku melihat mereka lagi?” Zara mengangguk dan meminta Aariz untuk mengantar nya kekamar kembar, sementara itu dia duduk dan memangku kepala.


Didalam kamar Zachry bisa melihat kedua anak-anaknya tengah tertidur dengan pulas.


Zachry tertegun beberapa saat lalu mencium pucuk kepala anaknya bergantian.

__ADS_1


“Maafkan Daddy sayang,” gumamnya dalam hati, matanya berkaca-kaca.


“Kau harus kuat” Aariz menepuk pundak mantan iparnya yang di angguki Zachry, sungguh siapapun yang melihatnya sekarang akan melihat bagaimana hancurnya Zachry yang dulunya sangat suka melakukan hal sesukanya.


“Kalau begitu tunggu aku, kita akan kembali bersama”


Awalnya Zachry menolak tapi Aariz bersikeras karena dia mengatakan ada pekerjaan penting di toko, dan Zachry akhirnya menurut saja.


Disinilah mereka sekarang, di sebuah motel kecil dipinggiran kota, mereka akan melanjutkan perjalan besok hari lagi, karena tidak mungkin mereka akan mengemudi sepanjang malam yang gelap.


“Kita bisa mengunjungi Zein dan Zoya kapan-kapan” kata Aariz memecah keheningan yang dijawab hanya deheman oleh Zachry.


Kedua pria itu hanya saling diam-diaman lebih tepatnya Zachry yang tidak ingin mengeluarkan suara, dia sudah tidak memiliki tujuan lagi.


Andaikan saja Momnya tidak mengatakan kebenaran lebih awal dia tidak akan tahu bahwa dia hanya salah paham, saat itu saja sudah membuatnya sangat merasa bersalah.


Belum lagi kebenaran lain, kesalah pahaman yang ditimbulkan membuat Zara akhirnya benar-benar meninggalkannya.


Malam itu Zachry lewati dengan banyak penyesalan didalam dirinya, bayangan Zara yang dipaksa meninggalkannya membuatnya semakin murka.


“Aku akan membalas kesedihanmu, sayang” gumamnya sambil memejamkan mata, dia tidak perduli apakah Zara sudah bersuami lagi, dia akan selalu menganggap Zara kesayangannya.


Hingga pagi menyapa, keduanya kembali melanjutkan perjalanan setelah mereka berdua sarapan, masih seperti semalam Zachry tidak mengeluarkan satu katapun sampai Aariz membawanya pada sebuah mansion mewah milik Zachry, dari luar sebisa terlihat bahwa mansion ini sudah tidak hidup.


Baru saja Zachry keluar dari mobil, sebuah suara yang sangat Aariz kenal datang ke arahnya dengan berlari.


“Sayang, kau kemana saja selama dua hari?” kata Nania yang masih belum sadar bahwa mobil yang ditumpangi Zachry adalah milik Aariz.


Melihat itu Aariz melajukan mobil tampa mengatakn apapun, dia juga terkejut karena Nania keluar dari dalam, sampai dimana kedekatan mereka selama dua tahun ini?


“Kenapa berada disini?” tanya Zachry ketus pada Nania.


“Kita sudh brtunangan, apa salahnya?”


“Dan kau melupakan bahwa au sudah membatalkannya?”


“Aku tidak perduli, sejauh apapun kau berlari akhirnya kita akan bersama,”


“Kau gila Nania,” geramnya lalu meninggalkan Nania diluar dengan wajah memerah.

__ADS_1


__ADS_2