Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
END


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, di mansion besar milik David, pria yang sudah menjadi papa selama dua tahun untuk Zoya dan Zein, pria itu saat ini tengah duduk di balkon kamar di lantai atas menikmati indahnya sore dengan seseorang yang setia duduk disampingnya sejak siang tadi.


Kemarin adalah hari yang melelahkan untuknya, karena harus melepaskan wanita tersayangnya pada pria yang memang seharusnya bersamanya.


Pagi tadi pagi pertamanya sendiri karena biasanya Zoya akan datang merengek minta digendong.


Gadis kecil yang sangat mirip Zara itu memang lebih manja padanya. Zein juga tetapi karena dia lelaki anak tampan itu lebih memilih mengalah


“Kau merindukannya?” Tanya Alena yang berada disampingnya


“Siapa maksudmu? Aku lebih merindukan kedua anak itu, kau tahu biasanya pagi-pagi Zoya akan merengek padaku, dia tidak akan berhenti mengekor sebelum digendong.” David menceritakannya dengan senyum mengembang.


Alena bisa melihat itu, dia tidak akan cemburu soal itu karena dia tahu David menyanyangi kedua anak Zara.


Mereka mengobrol banyak, memang mereka sudah dekat sudah setahun ini, jadi Alena tahu semuanya, namun dia juga ikut merahasiakan kebenaran sampai Zara sendiri yang menyerah. Awalnya dia tidak yakin kalau Zara akan melepaskan David karena melihat intraksi keduanya yang sangat dekat.


Sampai beberapa minngu sebelum kebenaran lain terungkap. David meyakinkan bahwa dia akan berusaha membuka hati untuk orang lain selain Zara, sesuai permintaan Zara padanya


“Bagaimana keadaan Stella?” Ucap David akhirya, bagaimanapun Stella pernah hadir di hidupnya walau dia tidak bisa mencintai gadis itu.


“Dia baik, dia juga sudah tahu semuanya, awalnya dia marah dan kecewa karena aku--,”


“Bukan salahmu, murni kesalahanku dan Nania.”


**


“Paman Ayis, mana papa Soya?” ucap Zoya yang sudah dipangkuan Aariz, pria tampan kesayangan Zara itu sudah berada di mansion mewah Zachry, dia datang tepat waktu, saat adiknya selesai memasak dan tentu saja dia bisa makan malam gratis lagi.


Zachry hanya berdecak, dia masih cemburu dengan pria satu ini, selalu saya menunjukkan kemesraan di depannya walaupun perlakuannya ke Zara tidak terlalu mencolok, hanya pelukan antar saudara, tetap saja Zachry cemburu.


Mendengar gadis kecilnya masih saja mencari David jelas membuat hati Zachry mencelos kecewa, Zara bisa melihat itu hanya bisa mengatakan sabar dengan mengelus punggung tangan Zachry.


Aariz yang mendapat pertanyaan itu lantas melirik Zara yang tersenyum canggung, kerena dia juga tidak enak dengan Zachry.


“Kan sudah ada Daddy, sayang.”


“Tapi Soya juga mau ada papa.” Zoya cemberut, dia belum bisa menerima kalau dia akan berpisah dengan papanya.


“Bagaimana kalau besok pagi kita kerumah papa, tapi….” Aariz menggantung kalimatnya.


“Tapi….” Zoya ikut mengatakannya dia panasaran.


“Sudah izin sama Dad Zachry?” tanya nya dijawab dengan gelengan oleh keponakannya. Membuat Aariz mendesah pelan lalu memeluk sayang Zoya.


“Dngarkan Paman, kita besok kerumah papa, tapi Zoya izin dulu sama Daddy, hmm?”


Zoya terlihat diam lalu menoleh kebelakang dimana mamanya dan Dad Zachry duduk berdampingan. Zoya turun dari pangkuan Aariz dan berlari kearah Zachry.


“Daddy….” Lirihnya. Mendengar itu hati Zachry menghangat, ini pertama kalinya Zoya memanggilnya, dengan sayang dia mengangkat tubuh kecil anaknya dan membawanya dalam pelukan.


Dia tidak butuh panggilan kedua karena dia tidak yakin akan mendengarnya lagi, cukup sekali tetapi dia mendengarnya jelas.


“Katakan sayang, Zoya mau apa?”


“Mau papa, Soya lindu papa boleh ketemu papa?” ucapnya dengan pelan.


Zacry yang matanya sudah berkaca-kaca sejak tadi memalingkan wajah, dia tidak ingin ada yang melihat kesedihannya.


“Boleh, besok Daddy akan bawa Zoya kerumah papa ya?”


“Daddy janji?” Zachry menangguk, kemudian dia kembali bahagia saat Zoya memeluknya erat lalu mencium kedua pipinya.


“Paman juga di cium dong!” ucap Aariz yang tidak mau Zoya mengabaikannya.

__ADS_1


Zara hanya mendesa pelan, karena baru menyadari pria yang bersamanya dulu, semakin hari semakin random saja.


“Menikahlah! Kau bisa mencium anakmu sepuasnya.” Seloroh Zara yang langsung mendapatkan decakan oleh Aariz. Jangan menunggu Aariz akan marah dengan kata-kata Zara karena itu tidak akan mungkin.


“Yah! Istri cantikku benar kau harus menikah, sudah cukup menempeli istriku.” Ucap Zachry membuat Aariz melotot tidak percaya.


“Hei, kau lupa dia adikku,”


“Tapi dia istriku.” Balasnya dengan menunjuk menggunakan dagu. Sudah waktunya Zachry menang dari pria tampan tapi menjengkelkan di depannya.


Zoya hanya memutar mata malas dengan perdebatan mereka berdua.


“Zoya ayo sayang kita tidur dulu hum!”


***


Keesokan harinya..


Mereka sudah di mansion mewah David, masih jam 9 pagi, dan Zoya sudah tidak tahan bertemu papanya.


“Papa, Soya lindu papa,”


“Papa juga rindu,”


Kedua anak dan ayah angkat itu bermain seharian sampai Zoya lelah dan tidur dikamarnya sebelumnya.


Sore harinya setelah bangun dan mandi, Zoya ketaman belakang bermain dengan Alena yang juga kebetulan datang. Zachry dan Zoya juga datang bersama Zein ynag mencari dimana adik perempuannya.


Bocah laki-laki itu berlari dan berteriak nyaring membuat hati Zachry lagi-lagi merasa cemburu.


“Papa…..Soya..” teriaknya berlari mencari kedua orang itu.


“Kau cemburu?” goda Zara melihat suaminya terus saja diam sejak tadi, kedua anaknya sudah bermain bersama David dan Alena didepan sana.


“Zoya memang lebih manja ke David, maafkan.” Dia juga tidak bisa membatasi anaknya


“Jangan sedih, kita jalani mulai dari awal hmm.” Ucap Zara memeluk sayang suaminya. sudah lama dia merindukan ini.


“Maaf karena aku mengganggu kesenangan kalian.” Ucap David berjalan ke hadapan suami istri itu. Zara melepaskan pelukannya dan tersenyum.


“Tidak, kalian mau bicara?” tanyanya yang di angguki David.


“Baiklah, aku bersama mereka dulu kalian bicaralah, ingat jangan lakukan hal bodoh!” Peringat Zara dia khawatir Zachry tidak bisa menahan emosinya.


“Maafkan aku.” David yang memulai, mereka sekarang berada di taman belakang, sementara kedua anaknya dan Zara berada di taman samping


“Aku juga, seharusnya aku tidak membawa mereka jauh darimu saat itu, tapi melihat kondisi Zara yang sangat memperihatikan membuatku tidak bisa berpikir jernih, aku hanya ingin dia bahagia, dan aku yang membawanya jauh darimu dan lainya.” Jelas David panjang lebar.


“Karena kau mencintainya,”


Menghela napas panjang David menjawab “Hmm, awalnya aku memang ingin memilikinya sebagai wanitaku, bahkan saat Aariz berencana membuat pernikahan palsu untuk kami, akulah yang paling bahagia,” Zachry menahan sesak, sangat kesal,tetapi dia tidak boleh marah, dia ingin mendengar semuanya.


“Tapi aku tidak bisa egois, bagaimanapun dia masih istrimu,”


“Bahagialah, dan maafkan aku.” Ucapnya mengakhiri semuanya.


“Kau masih mencintainya?” berat rasanya Zachry bertanya tetapi dia harus tahu jawabannya.


“Dia akan selalu aku cintai,” David melihat lurus kedepan lalu melanjutkan “Tapi sebagai adik.”


“Kalian menggosipiku?” Aariz tiba-tiba datang dan duduk ditengah-tengah mereka berdua, membuat keduanya mendesah kesal.


“Kau kenapa tidak bisa melihat orang lain tenang?” David yang mengatakanya.

__ADS_1


“Kalian berdua harus selalu melibatkanku dalam keputusan apapun, karena--?”


“Karena kau kakak Zara.” David dan Zachry bersamaan. Membuat Aariz reflek menoleh kearah kiri dan kanan.


“Wow kalian sekarang sangat kompak,” Aariz menegadahkan kepala ke atas dan memejamkan mata. “Tidak disangka akhirnya seperti ini, ternyata manusia kaku disamping kita yang memiliki Zara.” Gumamnya jelas saja Zachry tersinggung karena dikatakan manusia kaku tetapi dia bangga karena dia memang pemenangnya.


“Tapi tetap saja aku yang jauh lebih bangga, karena dia adikku.” Aariz terbahak kemudian berdiri dan meninggalkan dua pria disana.


“Sangat aneh.” Guman David.


“Yah! Untung saja Tuhan membuatnya menjadi kakak Zara.”


***


Malam harinya di mansion Zachry, kedua suami istri itu sudah berada di atas kasur, sudah waktunya untuk tidur tetapi mereka berdua masih tidak bisa memejamkan mata. Pasalnya ini pertama kalinya Zein dan Zoya berpisah dengan mereka. Terutama Zara.


Memang kedua anaknya meminta untuk menginap di mansion David dan Zara tidak bisa membujuk kalau sudah seperti itu, lagi David yang bersikeras dan memohon pada Zachry, bagaimanapun juga David mencintai mereka berdua.


“Kau merindukan mereka?”


“Jelas saja, ini pertama kalinya mereka sangat jauh.” Kata Zara melihat ponselnya siapa tahu David menelpon.


“Mereka bersama papanya.” Kata Zachry membuat Zara menoleh tidak suka.


“Dia anakmu,”


“Tapi mereka menyukai David.”


Zara berdecak karena tidak percaya dengan ucapan Zachry. Melihat isrtrinya kesal Zachry lantas memeluknya erat dan mengecupi pucuk kepalanya sayang.


“Mereka memang anak-anakku, tetapi aku juga tidak bisa memaksa mereka menerimaku secepat itu, bagaimanapun David lebih berperan dalam hidup mereka.”


Zara diam beberapa saat, dia juga kasian dengan suaminya, dia juga bersalah seharusnya tidak mengarang cerita panjang selama dua tahun ini, bahkan dia tidak memperkenalkan keduanya dengan Daddy mereka, karena dari awal memang Zara sudah menyerah dengan hidupnya, dia tidak ingin kembali dengan Zachry, dia yakin bisa menjalani hidup dengan baik dengan kedua anaknya.


Adapun dia juga sudah mempersipkan kehilangan David jika akhirnya pria itu akan menjalani hidupnya sendiri dengan wanita pilihanya. Sampai akhirnya Aariz datang dan membuka semuanya.


“Ada satu hal yang belum kau jawab selama ini?” tanyanya pada istrinya


“Apa saat kau hilang dua hari, saat melihatku membawa Nania, kau bersama David?” Zara menganguk.


“Saat itu, aku baru ingin memberikan kabar baik untukmu karena aku hamil Zein dan Zoya, tapi ternyata aku yang terkejut karena melihat kau dengan Nania.” Jawabnya dengab wajah sendu, dia melihat dan mendengar semuanya.


"Awalnya dia menculikku di toko, tapi entah sampai di mansion lamanya dia berubah baik karena mwngetahui aku hamil."


Rasa bersalah merasuki Zachry, dia tidak menyangka saat itu Zara hamil, dan dia mengabaikan istrinya demi Nania. Dan David yabg lebih dahulu tahu.


"Dia sangat baik, jangan marah padanya."


Zachry mendesah. Kemudian dia juga menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Tentang dia dan Nania. Dia menjelaskan semuanya, tentang dia yang anak tiri dan Nania anak kandung, dia menceritakan semua, kenapa Nania cocok dengan hati Zea, karena mereka saudara se ayah. Bahkan dia menceritakan kenapa Nania nekad mengadakan pernikahan karena yakin Zachry tidak akan menolak, karena Nania tidak tahu kalau biaya pemgobatan Mom Luna sudah di bantu oleh Aariz sepenuhnya.


Zara lega mendengar semuanya. Kakaknya sangat baik.


“Jadi bagaimana kalau kita membuat adik baru buat mereka?” goda Zachry melihat keterdiaman istrinya setelah mengetahui kenyataan sebenarnya.


“Eh?”


“Ayolah!”


Zara yang memang merindukan suaminya, tidak lagi menjawab apapun tetapi kediamannya membuat Zachry mengerti. Mereka melewati malam panjnag lagi, malam yang sudah lama tidak mereka lalui.


Mereka mendapatkan kebahagiaanya kembali.


David juga bahagia, walaupun dia tidak mendapatkan Zara sebagai wanitanya, tetapi kedua jantung hati Zara, Zein dan Zoya mengakuinya sebagai papa tersayang, walaupun mereka juga sudah menggap Zachry sebagai Daddy mereka.

__ADS_1


Aariz masih seperti biasa, tidak ingin terlibat dengan wanita untuk sementara waktu karena baginya kedua keponakannya saja sudah membuatnya tidak perlu mencari wanita setidaknya untuk sekarang.


__ADS_2