Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 13| Kau punya masalah?


__ADS_3

"Apa masalahmu dengannya?". Tanyaya dengan aura yang berbeda "Bukankah kau sudah melewati batasmu?"


"Aku hanya kasian padamu, kau mencintai tunangan orang, apa kau sadar?"


"Sebelum menjadi tunangan orang lain dia adalah kekasihku, dia yang merebutnya dariku, bukan aku, tapi dia". Aariz menekan setiap kata-katanya.


"Benar, tapi apakah kekasihmu itu menolaknya? Apakah dia tidak bisa mengatakan kepada orang tuanya bahwa kalian saling mencintai? Tidak kan?"


Entah karena apa Agatha tiba-tiba bersikap seperti ini. Aariz juga tidak mengerti.


"Apa tujuanmu mengatakan semuanya?" tanya Aariz akhirnya


"Aku hanya kasian padamu?"


"Tidak, bukan itu aku hanya tidak percaya kau mengatakan ini, ada apa?" Selidik Aariz.


Agatha hanya diam, wanita berambut Hitam sebahu itu menghela nafas panjang lalu berdiri.


"Maafkan saya, saya harus kembali". Agatha berdiri mengambil tasnya dan membungkuk, ia melangkah melewati Atasannya tetapi. Sebelum langkahnya menjauh lengannya sudah dicekal lebih dulu membuatnya terdiam tampa berbalik.


"Maaf bos, sudah waktunya saya pulang".


"Kau punya masalah? Tanyanya lagi, karena merasa ada yang salah dengan sahabat lamanya ini.


"Tidak ada". Jawabnya singkat.


"Biar aku antar ini sudah larut malam, tidak baik kalau harus pulang sendiri". Aariz mengambil Jasnya yang disampir di belakang kursi kemudian membawa Agatha keluar sebelum menutup toko.


Mereka berdua menuju mobil, dan melaju ke arah apartemen Agatha. Sudah sangat larut memang. Didalam mobil Agatha hanya diam memandang keluar jendela, sesekali Aariz hanya melirik. Dulu saat mereka masih bersama kecanggungan seperti ini tidak pernah terjadi. Bagi Aariz ini wajar. Karena mereka sudah tidak ada ikatan lagi.


Sesampainya di depan Apartemen, Agatha tidak langsung turun, seperti ada yang ingin dia sampaikan tetapi masih ragu.


"Kau tidak ingin mampir dulu? kita makan malam". Akhirnya Agatha memulai percakapan.


"Lain kali saja, aku ada sedikit urusan". Aariz masih dengan senyumannya.


"Baiklah, dan terima kasih atas tumpangannya, aku akan mentraktirmu lain kali sebagai bayarannya". Agatha turun, rasanya masih ada yang menjanggal sebenarnya tetapi dia juga tidak tahu. Setelah berpamitan Agatha masuk dan Aariz melajukan mobilnya ke arah berlawanan.


***

__ADS_1


'Tok..


'Tok..


"Nona, apa sudah bangun?" Suara dari balik pintu sama-samar terdengar, Gadis manis berlesung pipi satu itu membuka mata, mengumpulkan nyawa dan turun dari tempat tidur melangkah ke pintu.


"Hm, ya Merry aku sudah bangun". Membuka pintu dan menghadiahkan senyum manisnya pagi-pagi ke maidnya.


Masih jam enam masih banyak waktu satu jam jika dihitung untuk bersiap-siap. Saat Zara masih kerja di toko, tapi karena sekarang dia sudah tidak bisa bekerja, waktunya makin banyak di habiskan dirumah bersama Mommynya..


"Biar saya siapkan air mandinya Non". Zara mengangguk dan membiarkan Merry dengan tugasnya.


Setelah air mandinya selesai, Merry mengundurkan diri kembali dengan tugas lainnya, Zara masih betah berendam sambil sesekali tersenyum karena mengingat wajah tampan kekasihnya


"Aku merindukannya lagi". Terkekeh geli karena mengingat hal romantis kemarin.


Selesai mandi dan berpakaian Zara turun kebawah untuk sarapan bersama mommy dan Dadnya. Hari ini dia berpakaian santai, Blus lengan panjang dengan motif bunga-bunga dipadukan dengan jeans, rambut coklatnya dia biarkan tergerai begitu saja. Zara ingat pagi ini Zach akan menjemputnya entah kemana lagi manusia kaku itu membawanya.


"Pagi Mom, Dad...K-kau-?" Zara terkejut saat diruang makan bukan hanya Mommy dan Daddy saja, tetapi orang yang sudah mencuri ciuman pertamanya juga disana, duduk diam dengan wajah datar. Ah merusak suasana hati.


"Daddy yang memintanya datang lebih awal agar bisa sarapan bersama kita". Jawab Tuan Horrison


Mereka sarapan dengan suasana hangat, Zachry ternyata tidak sekaku yang dibayangkannya selama ini, dia bahkan bisa tertawa lepas saat Dadnya bercerita hal-hal konyol.


"Bukankah kau bilang akan menjemputku jam delapan?" tanya Zara saat mereka berdua menuju mobil Zach, Sekarang memang sudah jam delapan, tetapi maksud Zara mereka akan berangkat sekitar jam sembilan atau sepuluh kurang. Bukan jam delapan tepat.


"Hm, Bukankah ini jam delapan Nona?" Zara hanya memutar mata jengah


"Baiklah sekarang kita akan kemana sepagi ini?" Zara bertanya karena memang ini sangat pagi.


"Ikut saja, kau akan tahu nanti". Membuka pintu mobil untuk Zara dan menutupnya pelan, Zach berlari kecil kesamping dan siap mengemudi.


"Kau tidak bekerja?"


"Tidak, Ada Leon yang mengurus semuanya" jawab Zach sekenanya


Zach melajukan mobil mewahnya dengan sesekali melirik Zara yang masih asyik memandang kepintu keluar.


"Kemarin kau ke tokomu?" tanyanya lagi, memancing Zara berbicara.

__ADS_1


"Hm, aku harus kesana".


Zach melirik sekilas, walaupun Zara memakai riasan tipis tetapi tetap terlihat cantik.


"Bagaimana kalau kita kesana bersama?" Sontak saja membuat Zara, mengalihkan pandangannya ke arah zach, dia terkejut


"Untuk apa? Aku sudah mengundurkan diri kemarin". Masih menatap wajah tampan itu dengan selidik


"Kau tidak ingin kesana lagi?"..Tanyanya selidik


"Sebenarnya kau akan membawaku kemana sepagi ini?" mengalihkan pertanyaan Zach. Kalau begini Zara jadi kesal pagi-pagi dijemput tapi tujuannya tidak tentu.


"Tentu saja fitting baju pernikahan kita, jangan bilang kau lupa seminggu lagi kau istriku Nona".


Zara yang mendengar tentu sangat terkejut, seminggu lagi dan waktu itu tidaklah lama, lalu setelah pernikahan ini bagaimana? Bagaimana dengan cintanya dengan Aariz?


Sontak saja, kebenaran dari Zachry membuat Zara sepanjang jalan hanya membisu, dia sibuk dengan semua isi dikepalanya.


****


"Bagaimana?" Tanya Zara malas ini sudah gaun kesekian yang dia coba tetapi belum juga membuat manusia kaku didepannya takjub.


Zachry hanya diam, menatap kedepan, lurus dan datar, sedang Zara yang diperhatikan seperti itu mulai merasa tidak nyaman. Dia berbalik dan berniat akan mencoba gaun yang lain tetapi..


"Itu lebih bagus untukmu". Zara yang mendengar Zach yang akhirnya bicara, langsung berbalik dan menatap kesal tunangannya.


Bukan salah zach juga baru berkomentar sekarang karena gaun-gaun sebelumnya terlalu terbuka dibagian dada, dan Zach tidak suka.


Pilihan Zach yaitu Gaun dengan gaya pita besar disatu bagian dada, bersambung dengan lengan, bahu mulus Zara terlihat. Dan menurut Zach ini lebih baik dibanding gaun sebelumnya dengan dada terbuka yang sangat mencolok.


"Akhirnya, kau bicara juga". Zara melangkah masuk keruang ganti, meninggalkan Zachry yang terkekeh kecil melihat tunangannya yang menggemaskan itu kesal.


Sementara didalam ruang ganti, Zara semakin gelisah, hari pernikahannya sisa menunggu hari saja.


"Aku harus bertemu Aariz besok". Gumamnya dalam hati, dan melangkah keluar menemui tunangannya yang kaku.


"Kenapa wajahmu harus ditekuk seperti itu?" tanya Zach melihat ke arah Zara yang terlihat murung.


"Bukan hal yang penting?" jawab Zara sekenanya dan berjalan meninggalkan Zach sendiri ditempatnya.

__ADS_1


Didalam mobil Zara masih saja diam, dia bahkan tidak sadar arah mobil mereka ke arah mana sekarang, dia tenggelam dalam fikirannya sendiri.


__ADS_2