
Zachry dan Marry tengah sibuk didapur membuat makanan untuk Zara, Pria tampan itu dengan seksama memperhatikan apa saja yang Marry ucapakan, dia akan menghapal nama setiap bahan yang masuk di dalam wajah untuk memasak itu.
Sekitar setengah jam makanan selesai. Zachry sangat puas, walau sebenarnya dia hanya memotomg dan menghapal nama bahan tetapi baginya itu adalah kerja keras.
"Sudah selesai Tuan". Marry selesai menata makanan untuk Nonanya, Zachry mengangguk, dan yang membuatnya sedikit merasa kesal adalah dia tahu bahwa Aariz yang membawa Zara pulang, dari pengakuan Marry yang melihat foro Aariz.
Itu artinya Aariz tahu sesuatu, Baiklah dia akan bertanya pada kakak Ipar menyebalkan nya setelah ini.
Zachry menoleh ke arah sumber suara, Zara sudah berganti pakaian dan sudah terlihat jauh lebih segar, artinya wanita manis ini sudah mandi.
"Kenapa tidak membangunkanku?" katanya menggerutu dan duduk. Marry hanya tersenyum dia merindukan Nona mudanya. Selama menikah dia bisa melihat Zara lebih memperlihatkan manja nya, beda di saat masih gadis.
Zara sangat jarang tinggal dirumah. Mereka hanya akan bertemu Zara saat sore atau malam hari setelah pulang dari Toko.
"Marry, terima kasih buatanmu selalu enak". Zara mengacungkan jempol.
"Terima kasih Nona, Tuan juga sudah bersusah payah membuatnya".
Zara beralih melihat suaminya yang sejak tadi melihatnya dengan lembut "Kau membuat ini bersama Marry?" Zachry mengangguk dan mengelus sayang kepala Zara.
"Makanlah, nanti di Mansion kita kalau mau aku bisa membuatnya lagi". Katanya bangga karena sudah menghapal semua yang Marry katakan.
Zara dan Marry saling melirik kemudian mereka berdua tersenyum membuat Zachry memicingkan mata ke arah keduanya.
"Maafkan aku, aku akan menagih ini nanti". Zara mulai menyendok makannya, dia sangat lapar, seharian tidur saja membuat tubuhnya lelah.
"Zachry, bagaimana keadaan Nania?"
Pertanyaan Zara membuat Zachry menghentikan suapannya, dia melirik Zara dan kemudian tersenyum.
"Dia baik-baik saja, dan maafkan aku karena saat itu aku mengabaikanmu".
Zara mengerti, jika dia juga diposisi Zachry mungkin dia juga akan bersikap sama melihat dia dan Nania adalah sahabat lama.
"Syukurlah, tidak apa-apa aku mengerti dia sahabatku sudah pasti kau akan panik". Zara terdiam kemudian melanjutkan "Bolehkan aku meminta kau tidak terlalu dekat dengannya?"
__ADS_1
Zachry memperhatikan wajah istrinya dalam, tatapan memohon Zara membuatnya langsung mengangguk, dia juga tidak akan dekat lagi dengan Nania melihat bagaimana kondisi aneh saat ini.
Bahkan Dadnya memintanya untuk menikahi Nania diam-diam, bukankah itu hal gila? Bagaimana mungkin bisa? Tuhan tidak akan suka jika ada yang menyakiti wanita demi wanita lain. Dan Zachry tidak akan melakukannya.
"Tentu saja". Jawabnya mantap
Mereka tersenyum bersama, lalu melanjutkan makan siang mereka yang sedikit lewat dari jam yang seharushya.
"Boleh kita menginap semalam saja disini?" pinta Zara, mereka sudah ada di taman samping.
"Boleh, kita juga bisa menginap selama yang kamu mau".
Zara memeluk suaminya, membuat Zachry mematung, tindakan tiba-tiba Zara membuatnya bahagia tetapi juga masih terkejut karena selama beberapa bulan mereka menikah, istrinya tidak semanja ini.
"Mau cerita?". Zach maaih berusaha mendapatkan informasi tentang kemana Zara menghilang.
Menghela nafas panjang lalu melerai pelukannya, Zara menatap lurus ke dalam kolam ikan lalu dia mulai menceritakan semuanya, kecuali siapa yang menculiknya.
"Kau yakin dia tidak berbahaya?".
Zara mengangguk "Yah, kau lihat aku berada disini sekarang, dia mengantarku ke toko dan Aariz menjemputku, Aariz juga mengatakan bahwa kamu tidak pernah menghawatirkanku".
"Jangan melukainya, kamu harus ingat Aariz dilindungi Daddy" Ancam Zara.
Zach memicingkan mata, mendengar bahwa Aariz dilindungi, dia baru sadar sekarang kenapa mertuanya sangat menjaga ternyata dia anak laki-laki yang dirahasiakan.
"Kau tahu kenapa dia dilindungi?"
Zara menggeleng, yang dia tahu karena memang Daddy nya menyukai Aariz. Dia hanya tidak tahu alasan kenapa mereka tidak direstui bersama.
"Karena Aariz hanya cocok menjadi kakak bagimu dan akulah yang pantas menjadi suami untukmu". Jawaban Zachry membuat Zara hanya geleng-geleng kepala dia baru menyadari satu hal lagi dari suaminya.
Terlalu percaya diri.
"Baiklah kalau begitu, naiklah dulu aku akan keluar sebentar". Zachry sudah berdiri di susul Zara yang sudah mengangguk. Lebih baik dia dikamar, jika mengantuk dia bisa tidur. Dia ingin mengatakan pada Zach kalau diavhamil tetapi belum menemukan moment yang pas.
__ADS_1
Zachry melajukan mobilnya ke suatu tempat. Dia berdecak sepanjang jalan karena tiba-tiba saja dia menginginkan makanan di toko Aariz.
Mobil mewah itu sudah terparkir di deoan toko, para pengunjung disana melihat siapa yang turun dari mobil mewah. Agatha yang sudah menghapal itu mobil Zachry sudah bersiap-siap, terakhir kali Zach ke toko dengan aura yang aneh jangan sampai pria tampan itu kembali membuat gaduh.
Zachry memasuki toko dan langsung ke meja Agatha di bagian kasir. "Tuan anda-"
"Tolong bungkus semua makanan yang kalian punya masing-masing satu buah". Yang di angguki Agatha, kemudian Zach melanjutkan " Dimana Aariz?".
"Aku disini". Aariz berjalan menghampiri Zach, dia memang melihat Zach dari Cctv diruangannya
Agatha sejak tadi sudah sangat takut, jangan sampai dua orang ini akan bertarung didalam. Namun yang membuatnya mengeryitkan kening adalah mereka berdua terlihat akrab dan menuju ke ruangan Aariz, saling merangkul, walau Aariz dengan tampa segan menyingkirkan tangan Zachry di pundaknya.
"Zachry hentikan". Aariz memperingati karena sudah jengah dengan perlakuan Zach yang tiba-riba aneh.
Mereka sudah didalam ruangan Aariz. Zachry mengelilingi ruangan mencari apa saja yang membuat Zara dulunya suka diruangan ini.
Dan mata Zachry seketika membulat dia menatap Aariz dengan tatapan tidak suka, bagaimana tidak foto mereka dipasang sebesar itu di atas kamar tidur? Dan pose apa yang mereka lakukan?
Aariz yang sadar kemana arah mata Zachry mendekat dan menepuk pundak pria menyebalkan itu "Seharusnya kalau benar kami saudara kau tidak akan marah karena aku mencium adikku". Aariz tertawa melihat bagaimana reaksi tidak suka Zachry.
Zachry memicing, dan ingin meraih foto itu tapi Aariz segera sadar dan memperingati.
"Jangan coba-coba atau aku akan membuatnya membencimu". Zachry menoleh dan Aariz melanjutkan " Dia yang memasangnya, kau tidak membaca tulisan dibawah foto itu".
Zachry mendekatkan diri dan membaca tulisan yang ada dibawahnya. "****".
"Itu foto pertama kami, dia bersikeras untuk tetap memasangnya agar saat dia lelah dengan pekerjaannya didapur dia akan tidur disana dan melihat foto itu sampai dia terlelap".
"Kau mungkin tidak akan percaya sebesar apa cintaku untuknya". Aariz duduk di tepi kasur dan melihat bagaimana cantiknya Zara di foto itu.
"Aku sangat mencintainya, bahkan cinta ku untuknya tidak bisa aku defenisikan seperti apa, aku hanya ingin melihatnya bahagia dengan siapapun dia".
"Dia bahkan sangat marah saat aku mendorongnya menerima lamaranmu". Aariz tertawa mengingat itu. Membuat Zachry heran.
"Aku mencintainya tampa syarat, dan tampa balasan, di fikiranku hanya ingin melihatnya bahagia"
__ADS_1
"Itu artinya memang kau tidak mencintainya dengan tulus". Kata Zach
"Kau salah, cintaku untuknya hanya aku yang bisa menjabarkannya, untuk itu aku menjaganya dengan baik, pernah memang aku berniat memisahkan kalian karena aku ingin egois memilikinya, tetapi hatiku menolak, bukan itu yang aku inginkan".