
Diperjalanan pulang Zara hanya diam tidak berbicara sedikitpun. Dia hanya menyandarkan kepala di sandaran belakang mobil. Menutup mata dan sesekali menghela nafas berat.
"Ada apa? Apakah dia mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Zach menyelidik, dia sebenarnya penasaran, tadi setelah dari toilet dia melihat betul bagaimana istrinya sedang berbicara pada Alena dan dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sampai saat tadi Zara yang berbalik karena ponselnya tertinggal hal yang tidak masuk akal sama sekali.
"Iya, dia mengatakan sesuatu". Zara masih memejamkan mata menjawab. "Dia memperkenalkan dirinya sebagai mantan tunanganmu, dan aku tidak pantas bersamamu".
Zachry memelankan laju mobilnya, dan Zara merasakannya. "Kita sudah sampai?". Zara membuka mata dan melihat dimana mereka sekarang. Masih dijalan. Dan masih jauh dari mansion.
"Kenapa? Bukankah ini terlalu pelan? Aku lelah, aku ingin kembali lebih cepat". Zara memperlihatkan wajah lelahnya.
"Aku menghawatirkanmu, kau baik-baik saja?"
"Aku hanya lelah, ayo pulang". Ajak Zara.
Zach melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedikit lebih cepat. Sebenarnya dia semakin penasaran dengan yang mereka bicarakan. Tetapi melihat istrinya yang terlihat tidak ingin membahasnya dia hanya diam mungkin besok mereka akan membicarakannya.
"Apa yang kau fikirkan?" kau terlihat memikirkan sesuatu yang sangat berat". Tanyanya pada suaminya dari semalam Zara memperhatikan Zach yang terus saja diam. "Apakah ada hubungannya dengan mantan tunangannya?" Batinnya.
"Apa Alena menyakitimu?"
Pertanyaan Zach membuat dia terkejut karena bernar saja suaminya memikirkan wanita itu.
"Kau mendiamiku dari semalam karena ingin menanyakan ini? Zara mengerucutkan bibirya, lalau berdecak pelan.
"Semalam aku diam karena tidak ingin mengganggumu sayang, sekarang katakan apa yang kalian bicarakan?" Zach meraih tangan istrinya.
"Seperti yang ku bilang, dia mengatakan bahwa dia mantan tunanganmu dan aku tidak pantas bersamamu". Jawabnya jujur.
"Hanya itu?
"Hm memang apa yang kau harapkan?
Menghela nafas panjang, "Tidak ada. Aku hanya tidak ingin dia menyakitimu"
"Dia tidak akan berani". Zara menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Setelah Zach berangkat ke kantor, Zara melajukan mobilnya ke mini market yang tidak jauh dari Mansion. Zara memang lebih suka melakukan apapun sendiri. Dia akan membeli bahan makanan karena stok bahan makanan dikukas sudah mulai menipis. Lagi, dia akan membeli beberapa kilo tepung dan bahan-bahan lain, dia akan membuatkan makanan manis buat Mommy besok. Setelah menikah Zara memang tidak pernah berkunjung ke Mansionnya.
Dia berniat besok akan kesana bersama Zaxhry karena suaminya libur.
Sampai di mini market Zara langsung masuk dan mengambil troli, mengisi bahan-bahan terdekat dulu, seperti, susu, tepung dan lainnya sementara untuk daging dia akan mengambilnya paling akhir.
"Kau disini?" Suara seseorang yang dia hafal membuatnya menoleh, kearah sumber suara. Wanita itu masih tersenyum melihat Zara.
"Hm kau lihat sendiri". Zara acuh. Entah dia kesal kenapa.
"Maafkan aku karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian". Agatha masih menatap lekat Zara.
"Bukan masalah besar, aku tahu kalian sangat sibuk". Memang Zara selalu mendapatkan semua laporan hasil. Jadi dia jelas tahu bagaimana kondisi toko. Ramai dan tidaknya karena semua masuk ke emailnya. Aariz melaporkan semuanya. Bahkan dia juga menyambungkan cctv toko ke ponsel Zara. Tetapi Zara tidak pernah bwrniat melihatnya pun sampai sekarang. Hanya ruang kerja Aariz saja yang tidak terpasang cctv karena termaksud ranah pribadi.
Lama mereka mengobrol. Maksudnya hanya Agatha yang lebih banyak bertanya, sedang Zara hanya menjawab seadanya.
"Aga-.."
Zara dan Agatha melihat kearah sumber suara. Zara terkejut ternyata disini juga ada Aariz, pria yang tidak ingin dia lihat. "Jadi mereka sekarang bersama". Batin Zara dalam hati.
"Ya, aku merindukan Mommy, aku hanya ingin membuatman sesuatu untuknya dengan bahan-bahan ini". Zara berbicara ceoat karena tidak imgin ada yang mendengar detakan jantungnya.
Dia mengira akan mudah melupakan Aariz setelah menyerahkan diri pada suaminya Zachry, tetapi kenapa hatinya masih bergetar saat melihatnya. Bolehkah seperti ini?
"Baiklah, aku akan mencari sesuatu lagi, senang bertemu dengan kalian". Zara mendorong trolinya dengan langkah cepat Aariz yang melihat itu langsung mengejarnya, mengabaikan Agatha yang terus memanggilnya.
Agatha sangat kesal. Kenapa harus bertemu dengan Zara. Dia tidak akan terlalu kesal jika Aariz tidak berada disini tadi. Tetapi nyatanya mereka bertemu dan sekarang sudah bersama.
Haruskah dia tidak hawatir karena Zara sudah menikah? Tetapi tetap saja dia sangat tidak menyukai situasi ini. Sangat sulit mendapatkan kembali hati Aariz saat Zara sudah masuk didalam. Dan sampai detik ini Agatha bekum juga berhasil walaupun mereka sering berciuman.
Menghela nafas panjang Agatha membayaf semua belanjaanya dan kembali ke toko sendiri dengan taksi. Dia tidak ingin mengekor pada kedua sejoli itu. Tidak akan.
Sampai di toko dia masuk dengan perasaan kesal. Menaruh semua barang belanjaan di gudang dengan sedikit membanting. Stella yang kebetulan disana mengambil keperluannya. Merasa heran dengan Agatha. Mereka memang tidak pernah saling berbicara. Karena bagi Agatha Stella tidak penting, sementara bagi Stella Agatha adalan ancaman.
"Kau akan merusak bahan-bahan itu, setidaknya kalau kau marah jangan lampiaskan pada benda mati". Ucap Stella melihat ke arah Agatha yang masih saja sibuk menata barang-barang itu rapi.
__ADS_1
"Diamlah, lebih naik kau keluar, kau merusak pandanganku" celetuk Agatha membuat Stella sangat geram.
"Woah gadis ini. Aku tidak tahu kenapa kau tidak menyukaiku. Tapi yang perlu kau tahu adalah aku lebih tidak menyukaimu". Tekan Stella.
Agatha hanya tertawa sinis. "Kenapa? Karena ?aku lebih istimewa dimata Aariz?
"Hah, kau tidak istimewa, kau hanya gatal ingin menempelinya terus. Kau tidak malu?
"Malu...? Kenapa harus malu? Kami memang dekat, dan kau tidak akan percaya sedekat apa kami" Zara keluar dan kembali ke meja kasirnya.
Stella yang mendengar itu hanya tertawa. "Jelas sekali terlihat Agatha kalau Aariz tidak tertarik padamu". Gumamnya ikut melangkah keluar.
"Dan aku yang akan berada di sisinya, bukan kau bahkan mantan kekasihnya tidak akan bisa masuk kembali saat aku yang memegang kendali.
Kembali ke mini market, Zara sudah akan membayar belanjaannya namun dengan cepat Aariz sudah menyodorkan kartu miliknya "Pakai ini". Zara tentu menolak. Tapi Aariz memaksa.
"Tidak apa-apa aku ikhlas"
"Kau tidak menyusul kekasihmu? Tanya Zara terlihat jelas nada kecewanya
"Dia bukan kekasihku".
"Tidak mungkin, bahkan kalian pernah hamp-"
Zara tidak jadi mengatakannya, dadanya sangat sesak mengingat kejadian malam itu.
tampa terasa buliran bening itu menetes begitu saja di ujung matanya.
"Sayang..maafkan aku tidak memperjuangkanmu saat itu, aku menyesal" Aariz meraih tubuh Zara dan memeluknya erat, mereka sudah diluar minimarket. Dan beberapanorang melihat mereka aneh.
"Lepaskan aku..."
"Tidak..."
"Lepaskan aku Aariz" Teriak Zara melepas paksa pelukan itu.
__ADS_1
"Zara...."