
Malam semakin pekat, dirumah besar bernuansa klasik itu Zara yang sejak tadi tidak bisa tidur, terus saja mondar mandir dikamarnya. Dan tampa dia sadari bahwa semua gerakannya dipantau melalui cctv yang ada disetiap sudut kamar.
Pria dibalik layar hanya menghembuskan nafas berat, karena tahanannya tidak juga tertidur. Sudut bibirnya terangkat saat melihat bagaimana Zara yang terlihat frustasi tetapi masih sempat untuk memakan buah-buahan yang ada dikamarnya.
Dia melihat telapak tangannya yang sudah berbuat kasar siang tadi, dan dengan kasar membuat wanita manis itu kesakitan karena ulahnya.
"Ah, maafkan aku pria bodoh ini seharusnya tidak melukaimu". Dia masih memantau Cctv. Dia menyukai Zara jauh sebelum wanita itu bersama Aariz.
Rasa sukanya membuatnya menjadi tergantung, berulang kali dia mencoba melupakan, namun tetap tidak ada hasil. Dia semakin menyukainya. dia menahan diri untuk ridak muncul setiap kali melihat Zara sendiri.
Kajadian beberapa tahun lalu membuatnya serba salah saat dia dengan terpaksa menerima cinta seorang wanita, yang tidak dia cintai. Stella.
Gadis itu bahkan mau melakukan segala cara agar tetap bersamanya, sampai tidak memperdulikan masa depannya. Apakah dia menyukai Stella setelah mereka menjalin kasih lama? Jawabannya tidak.
Dia hanya memanfaatkan Stella, untuk membuang rasa sakit hatinya karena tahu bahwa Zara dekat dengan Aariz. Namun nyatanya itu tidak berarti apa-apa.
Dia semakin bersalah karena hanya Stella yang berjuang. Sehingga meminta untuk berpisah darinya, tetapi karena terlalu cinta membuat Stella enggan mengakhiri hubungan mereka.
Sampai akhirnya wanita bernama Nania datang, entah apa hubungannya dengan Stella atau siapalah, dia yang tengah dilanda frustasi karena Zara mendengar dia yang tengah mengancam Stella. Dia takut wanita yang di inginkan menjadi takut padanya, padahal itu hanya gertakan saja.
Nania meminta agar dia membantunya dalam rencananya. Dia tidak ingin kekasihnya menikahi kakak Stella. Dia berfikir mungkin ini juga jalan agar dia dan Stella berpisah, Stella akan membencinya saat tahu bahwa dia tidur bersama kakaknya. Ya hanya itu yang dia fikirkan.
Namun sayang, karena Nania ternyata sangat serius dengan ucapannya. Dia memberikannya minuman yang telah dicampur sesuatu padanya dan Alena. Hingga malam terjadi karena mereka berdua dijebak.
Sialnya lagi karena Nania memiliki rekaman itu. untung saja, dia bisa berhasil mendapatkan remakan vidio mereka sebelum Nania menggandakannya sebagai ancaman.
"Maafkan aku, karena sudah berbuat kasar padamu, itu karena aku tidak bisa menahan diri bahwa aku hanya ingin mengklaim dirimu". Menghela nafas. "Aku hanya ingin kau sadar sudah sejauh ini dan aku menginginkanmu. Aku mohon jangan menolakku". Gumamnya masih memandang Cctv, dia melihat disana Zara sudah tertidur dengan pulasnya.
Waktu berputar semakin cepat. Malam gelap sudah berganti menjadi hari yang cerah. Zara bangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat dia bingung karena bangun di tempat yang berbeda.
Namun kemudian ingatannya kembali, dia mengingat semuanya. Lalu mendesah dan berjalan ke arah kamar mandi.
******
Dirumah sakit Nania sudah bangun sejak semalam, dan hari ini sudah di bolehkan untuk pulang, tetapi harus menunggu beberapa jam lagi.
Wajahnya berbinar, senyumnya terus mengembang. Disana sudah ada Zachry dan keluarganya.
Nampaknya mereka tidak merasakan ketidak hadiran Zara ditengah-tengah mereka. Tatapan Zachry tajam menatap bagaimana bahagianya wajah Nania.
"Keputusan Daddy sudah bulat. Kalian akan menikah".
Ruangan yang tadinya panas menjadi dingin karena tatapan membunuh Zachry. Apa katanya menikah? Mereka lupa bahwa Zachry sudah memilik istri dan sudah bahagia?
Mom Luna hanya diam, dia sebenarnya tidak suka ide dari suaminya, bagaimanapun rasa sayangnya pada Nania dia tidak akan membuat menantunya sakit hati.
"Daddy sadar apa yang baru saja Daddy katakan?". Ucap Zachry yang tatapannya tajam ke arah Nania. Dia enggan melihat wajah Ayahnya yang berfikir tidak masuk akal.
__ADS_1
"Tidak ada jalan lain, atau kau ingin Nania kembali melukai dirinya?"
"Aku tidak perduli". Desis Zachry yang sudah sangat marah.
"Yah, kau hanya memperdulikan istrimu yang sekarang entah dimana? Mungkin saja saat ini dia bersama kekasihnya". Cibirnya.
Tuan Edgar sudah tahu bahwa Zara tidak ditemukan dimanapun. Sebenarnya dia tidak ingin merusak kebahagiaan anaknya. Dia terpaksa.
"Tahu apa Daddy, kalau mereka bersama? Dan satu hal yang harus kalian ingat". Menatap semua orang satu persatu "Aku tidak akan menikahi Nania sampai kapanpun".
Setelah mengatakan itu Zachry keluar dan membanting pintu dengan keras.
Nania yang mendengar itu hanya bisa mengepalkan tangan. Sebentar lagi mereka akan bersama dia tidak akan melepaskan Zachry kali ini.
Melihat semua orang terkejut, Nania berusaha untuk terlihat sedih. "Mom..maafkan Nania". Katanya memeluk ibunya yang sedari tadi berada disampingnya.
Mom Luna yang sudah jengah dengan keadaan meraih tasnya dan meninggalkan ruangan tampa mengucapkan satu katapun.
Nania merasa tidak enak karena melihat ketidak sukaan Mom Luna atas rencana ini, bagaimana pun Nania tulus menyanyangi Mom Luna. Hanya saja dia tidak bisa melepaskan rasa cintanya untuk Zachry.
"Kalian tenang saja, aku akan membujuk mereka berdua". Dad Edgar berdiri dan mengelus sayang Nania.
Zachy yang dipenuhi amarah, melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia yang baru tahu semalam mertuanya berada di luar negeri merasa sangat bingung, apakah Zara pergi bersama mereka?
Sepertinya tidak, melihat bagaimana ibu mertuanya yang tidak mungkin akan merahasiakan jika memang Zara ikut bersama mereka.
Kemana Zara? Apakah dia marah karena kemarin mengabaikannya? Kenapa dia tidak meminta penjelasan? Apakah memang dia belum sepenuhnya mencintai Zachry?
'Hah'
"Zara, kau membuatku sangat marah sekarang". Dia kembali meninju stir. Setibanya di depan toko 'Zacake' dengan terburu-buru Zachry keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mencari Aariz. Dia tidak akan selamat jika benar dia ada dibalik kehilangan Zara.
"Tuan, anda mencari ro-".
"Dimana Aariz?". Agatha tidak sempat melanjutkan pertanyaannya, karena melihat bagaimana aura Zachry saat ini.
"Bos, tidak masuk untuk beberapa hari, Ibunya memintanya pulang".
Agatha menjelaskan, melihat kemarahan Zachry sepertinya ada masalah serius. Apalagi yang dilakukan oleh mantan kekasihnya itu.
Setelah mendengar penjelasan Agatha, Zachry membawa mobilnya ketempat dimana kediaman orang tua Aariz. Dia membawa anak buahnya yang dia kirim untuk mencari tahu tentang keluarga Aariz dan sekarang mereka akan kesana.
"Aku akan menyelesaikan satu-satu benang kusut yang mereka buat". Gumamnya dengan mata tertutup.
Setelah memakan waktu selama 4 jam akhirnya Zachry tiba disebuah rumah yang tidak bisa dikakan besar, tetapi sangat besar, bernuansa serba putih dan garis hitam.
Seorang penjaga mendekati mobil Zach, mengetuk agar bisabmelihat siapa yang sejak tadi memperhatiakn rumah majikannya.
__ADS_1
"Maaf Tuan anda-"
"Apa benar ini kediaman orang tua Aariz?". Mendengar nama Tuannya disebutkan penjaga itu mengangguk ramah. Mungkin di dalam hatinya Zach adalah teman atau saudaranya, mereka memang mengetahui bahwa tuan Aariz memiliki saudara tetapi tidak diketahui lelaki atau perempuan.
"Benar Tuan, ayo silahkan masuk, Tuan dan Nyonya ada didalam".
Pintu gerbang dibuka, Zachry bisa melihat bahwa rumah ini tidak kalah besar dari rumah istrinya. Semua tatanan halamannya dibuat samam persis hanya yang membedakan adalah cat dari rumah saja.
Jika rumah disini berwarna putih hitam di rumah mertuanya berwarna coklat pastel. Zachry menghembuskan nafas pelan, dia hanya ingin menemukan istrinya, tetapi mereka semua seperti tidak memiliki pekerjaan lain, selain menggaggu.
"Ternyata mertuaku, memiliki kekayanan yang sangat fantastis". Gumamnya dengan senyuman miringnya.
Dia keluar dari mobil dan melihat bagaimana mewahnya rumah Aariz yang tidak dia sangka akan sebesar ini. Lalu kenapa anak itu harus menjual roti, Zachry berdecak andai dia tidak tahu kebenaran bahwa mereka ternyata saudara sudah lama dia menjadikannya samsak.
Seorang pelayan membawa Zachry masuk dan memintanya menunggu di ruamg tamu, selama dia memanggil Tuannya.
Tidak menunggu lama akhirnya dia mendengar derap langkah seseorang, Zachry berbalik melihat siapa yang datang walau dia sebenarnya sudah yakin itu kakak iparnya. Aariz.
"Hei kakak ipar". Zachry berjalan mendekati Aariz yang mematung melihat siapa tamunya. Dari mana dia tahu?
"****!, apa yang kau lakukan?" Aariz mendorong Zachry manjauh darinya, tidak dia sangka bahwa pria itu benar-benar memeluknya.
"Hei, tenanglah". Zachry mengangkat kedua tangan karena Aariz maju ingin menghajarnya, "Jangan berani mandekat atau aku lupa bahwa kau kakak iparku".
"Teruslah berbicara omong kosong, sekarang katakan apa yang membuatmu jauh-jauh datang kerumahku?". Aariz bersidekap, dia tidak tahu kenapa Zachry suka sekali membuatnya dalam masalah.
"Aku mencari istriku, dimana kau sembunyikan adikmu?". Ucap Zachry tampa basa basi lagi.
"Apa maksudmu? Mana aku tahu dimana Zara, dan apa katamu, adik?". Aariz tertawa keras mendengar Zachry yang semakin tidak masuk akal.
"Hm yah, Zara Florenzia adalah adikmu, adik kandungmu".
Mendengar itu Aariz mematung, aliran darahnya melambat, dia tidak ingin percaya omong kosong ini. Tapi kenapa rasanya berbeda saat Zach mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
Aariz tertawa keras mengalihkan keterkejutannya, sampai air disudut matanya keluar, Zachry yang melihat itu hanya melihatnya dengan wajah datar. Lalau berdecak.
"Hentikan ketawamu, sekarang dimana kau sembunyikan Zara?".
Mendengar nama yang sangat dia rindukan itu, Aariz menghentikan tawanya. Wajahnya berubah datar menatap Zachry "Apa katamu? Zara menghilang hah?" satu tinjuan melayang
"Kau tidak bisa menjaganya? kau tidak bisa menjaga wanita yang sangat kusayangi itu?". Tijuan itu kenbali melayang, tetapi gagal mengenai wajah tampan Zachry.
"Aku tidak akan marah karena kau mengatakan bahwa kau menyanyangi Zara lagi, karena aku ingat dia adikmu". Komentar Zach membuat emosi Aariz semakin membuncah.
Dia marah dan ingin melampiaskan semuanya sampai suara seorang wanita membuat dua pria tampan itu menoleh dan menghentikan kegiatan olahraga mereka.
"Ibu..." Suara Aariz mendekati ibunya yang datang menggunakan kursi roda.
__ADS_1
"Beginikah caramu menyambut tamu Aariz?