
Melihat istrinya terlihat marah Zach hanya menghela nafas. Seharusnya dia yang kesal. Dia kembali menatap makanan manis di depannya. Mengambil salah satunya dan memasukkan kemulut. Sangat manis. memang benar makanan manis sangat ampuh meredakan emosi. Buktinya setelah memakan beberapa potong perasaannya langsung membaik.
Sedang mengunyah ponselnya bergetar dikantong jas, dia mengambilnya dan langsung mengangkat, dia sudah tahu siapa yang menghubunginya.
"Bagaimana?
"(....)
"Baiklah kerja yang bagus". Setelah menutup panggilan sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman puas.
Dia bangkit dan menyusul istrinya yang selain keras kepala juga suka sekali marah. Tetapi sebelum itu dia berbelok ke ruang kerjanya memeriksa pekerjaan Leon dari sana.
"Aariz..." Pekik Agatha dari dalam toko membuat beberapa pengunjung terkejut karena tiba-tiba wanita cantik bersurai hitam itu teriak.
Dengan berlari dia keluar toko dan menghampiri Aariz yang sudah tergeletak disana wajah babak belur. Terlihat hidungnya mengluarkan darah.
Dia bangkit memegang perutnya yang sakit karena tendangan bertubi-tubi. "Ah sialan, aku pastikan akan membalasmu Zachry". Gumamnya dalam hati dia tahu tidak ada orahg lain yang akan melakukan hal gila ini selain pria sombong itu.
"Kau tidak apa?" Agatha membantu Aariz masuk dengan menggandengnya pelan. Stella yang mendengar teriakan tiba-tiba Agatha tadi keluar dan melihat bagaiman Aariz yang sudah terkapar dengan Agatha yang sudah berada didekatnya membantu.
Didalam toko Agatha melewati Stella. Namun dengan sigap Stella menghentikan langkah mereka "Nona Agatha biarkan saya yang membawa Bos kedalam, Anda silahkan melanjutkan pekerjaan anda". Suara Stella sangat sopan dan lembut, tentu saja itu hanya akalannya saja. Dia tidak akan membuat Agatha bersama Aariz.
Melihat ke arah kasir dan memang sudah berdiri beberapa orang menunggu dilayani dibelakang, lalu menoleh ke arah Stella yang mulai memuakkan baginya "Kalau begitu tolonglah ke mejaku sebentar, tolong aku melayani mereka". Setelah mengatakan itu Agatha membawa Aariz. Memang keadaan Aariz tidak bisa dikatakan baik-baik saja sepertinya memang orang-orang itu memang berniat mekukainya.
"Keluarlah aku bisa melakukannya sendiri". Tolak Aariz saat Agatha akan membersihkan luka-kukanya. Sebenarnya yang lebih sakit adalah hatinya. Dia sangat marah karena Zara menolak pelukannya. Dia tidak menyangka wanita yang pernah sangat mencintainya itu seolah-olah tidak ingin didekati.
"Diamlah, aku tidak tahu kenapa sekarang kau sering sekali babak belur".
"Bukan hal yang perlu kau fikirkan". Jawab Aariz singkat masih memperhatikan wajah Agatha dengan seksama.
"Apa ini ulah suami mantanmu itu?" perkataan Agatha membuat Aariz menangkap tangan Agatha yang akan menyentuh wajahnya dan menghempaskannya.
__ADS_1
"Mantanku yang kau sebut itu adalah Bosmu juga disini, asal kau lupa dia siapa". Sinis Aariz
"Aku tahu, dia salah satu pemilik toko ini. Dan tahu juga dia yang kadang menggaji kami. Tahu. Aku sangat tahu". Dia mengeluarkan emosinya "Yang tidak aku tahu kenapa kau selalu terluka saat bertemu dengannya dan kau terus saja menemuinya walau kau tahu akan seperti ini kejadiannya".
Setelah hening beberapa saat.
"Sudah selesai? Sekarang keluarlah aku ingin sendiri". Dengan kesal Agatha meletakkan begitu saja kotak p3k itu dekat Aariz tampa repot mengembalikannya. Aariz melihat itu dan dia melempar kotak itu hingga isinya berserakan.
Stella yang baru akan masuk terkejut saat mendegar benda dilempar sangat keras. Dia berdiri beberapa saat didepan pintu dengan nampan berisi makan siang yang baru saja dipesannya direstauran yang biasa mereka tempati.
Stella tidak tahu apa yang terjadi, tadi dia melihat Agatha keluar dengan wajah muram. Sebanrnya dia suka artinya bosnya tidak menyukai Agatha fikirnya.
Setelah hening dia menghembuskan napas dan akan masuk karena memang pintu tidak tertutup dengan benar.
"Bo-..". Baru saja dia akan masuk dan memberi makan siang, Terlihat Aariz sudah keluar dengan tergesa-gesa. Bahkan dia tidak menoleh ke arah Stella.
Stella yang kesal karena di abaikan hanya mengepalkan tinjunya kuat.
Ditempat berbeda di sebuah Club malam milik Leon. Sudah ada Nania dan juga David disana. Nania seperti biasa dengan baju pas dibadan. Dengan model kemben sebatas paha. Memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.
Ya Nania sadar malam itu saat menghubungi Zach karena merindukannya. Ternyata minumannya dimasukkan obat oleh David. Dulu mereka bertiga sering datang ke Club bersama-sama. Nania merindukan perhatian Zachry saat di Club. Tetapi saat mendengar pria pujaannya di jodohkan Zach sudah tidak pernah lagi ke Club.
"Terpaksa, kau tahu apa yang aku inginkan". Jawabnya santai tampa dosa dan beban.
Nania hanya memutar mata malas, bisa-bisa nya sahbatnya ini melakukan hal kotor itu. Dan malah dia berakhir bersama Aariz.
Baru saja dia mengingat lelaki itu kini bola mata indah Nania sudah menangkap target.
Dia memperhatikan Aariz dari atas sampai bawah. Sangat tampan memang, pantas saja Zara menyukainya. Ah gadis itu memang sangat beruntung.
"Kau mencariku?" Tanya Nania setelah Aariz berada didedannya.
__ADS_1
David yang melihat itu hanya berdecak kesal, apakah kali ini dia akan kehilangan kesempatan bersama Nania lagi.
Aariz melihat ke arah David. Tatapan mereka bertemu. Tatapan yang Aariz berikan tentu saja tatapan bingung. Karena mereka terlihat biasa saja saat insiden itu, bukankah seharusnya Nania marah? Sedang tatapan David pada Aariz adalah tatapan kesal karena mengetahui pria ini yang membawa Nania pergi malam itu.
"Dia David sahabatku". Jawab Nania mengetahui tatapan bingun Aariz.
"Boleh temani aku minum?" Tanya Aariz menoleh ke arah Nania lagi, dia mebawa Nania ke sudut sofa ditempat itu, disana pencahayaan sedikit temaram. Lebih cocok untuknya yang sangat kesal.
"Ada apa dengan wajah tampanmu? Tanyanya setelah mereka berdua duduk, sudah terdapat beberapa minuman diatas meja, pelayanan disini memang terbaik. Sangat cepat.
"Apakah penawaranmu waktu itu masih berlaku?" Aariz mengalihkan pembicaraan
Nania mengerutkan kening. Bingung. Lalu kemudian dia faham.
"Kenapa? Apakah sekarang kau yang ingin memisahkan mereka?" Setelah itu Nania tertawa hambar.
"Jawab saja, kau mau bekerja sama denganku atau aku melakukannya sendiri. Tapi kalau kau mau bekerja sama aku pastikan pria brengsek yang kau sukai itu akan selamat". Tawar Aariz dengan tubuh tegap masih menatap Nania.
Nania tertawa sedikit lebih kencang "Cih, sebenarnya yang brengsek itu wanitamu, karena dia Zachry ku menjauh bahkan berani melakukan hal kasar padaku".
"Kalau begitu ayo lakukan sesuatu" Setelah mengatakan itu mereka berdua tersenyum, memang terdengar ambigu pernyataan tadi tapi ketahuilah mereka berdua langsung memahami.
Dengan gerakan pasti Nania berdiri dan duduk dipangkuan Aariz. Mengalungkan tangannya pada leher pria tampan itu.
"Kau sangat tampan, mengapa kita tidak bersama saja, dan biarkan mereka bersama?" tanya Nania mengusap wajah tampan Aariz.
"Sayangnya, aku tidak tertarik Nona". Senyum Aariz masih sama masih lembut dan menghanyutkan. Sangat menangkan seperti mendapat air di tengah gurun.
Kemudian entah siapa yang memulai lebih dulu kini dia benda kenyal itu saling menempel. Dan lagi Nania hanyut oleh ciuman Aariz.
"Nania.....
__ADS_1
Nania yang namanya dipanggil melepas tautan itu dan berbalik, matanya membola, dia berdiri dari pangkuan Aariz dan memperbaiki gaun pendeknya.
"Apa yang kau lakukan hah?" bentaknya membuat Nania sedikit terkejut..