
Suasana hati Zara membaik, dia tersenyum lebar dengan terus memakan buah-buahan ditangan David. "Aku perhatikan kau sangat senang?".
"Kau gila, mana mungkin ada tahanan yang tidak senang akan bebas". Zara berdecak. "Lagi, kau menyakitiku saat ditoko, Hiks..." Zara tiba-tiba menangis membuat David kalang kabut.
"Hei, maafkan aku, kau boleh menghilangkan tanganku". David mengulurkan tangannya. Zara sesegukan melihat tangan itu dan menatap David kembali.
Dengan sekali tarik David membawa Zara dalam pelukannya, mengelus surai panjang miliknya. "Maafkan aku, kau boleh memotong tanganku". candanya dia harus membuat mood wanita hamil ini kembali. Ya David tahu Zara tengah hamil karena dia selalu memantau kemanapun wanita ini pergi.
"Sudah?" Tanyanya saat Zara melerai pelukannya dan menjauhkan diri dari David.
"Dengarkan aku, jika kau mengalami kesulitan besok hari, kau boleh datang kemari".
"Tidak akan. Mana mungkin aku menyerahkan diriku kembali pada penculik". David hanya tertawa.
Karena malam semakin larut dan Zara ingin segera kembali, dia segera tidur, membayangkan bertemu dengan suaminya besok membuatnya terus tersenyum sampai terlelap.
David yang memperhatikan dari Cctv di laptopnya hanya memasang wajah datar. Dia tidak suka Zara kembali pada suaminya, tetapi membuatnya tertekan juga akan sangat berbahaya.
Dia akan mendekati dengan cara lain, dengan membuatnya nyaman dulu. Lagi, dia yakin Zara akan kembali menemuinya. Seringaian licik tercetak jelas dibibirnya.
Dilain tempat Aariz mencoba menghubungi beberapa orang yang kemungkinan bersama Zara, namun sama sekali tidak ada hasil.
Zachry pun sama halnya tidak ada yang tahu, tetapi salah satu anak buahnya mendapatkan kabar bahwa ada seseorang yang membawa seorang wanita dengan mobil berwarna hitam keluar dari toko.
Kabar itu membuat Zachry tampa sadar melempar ponselnya hingga hancur. Aariz yang melihat itu menghampiri "Ada apa, kau menemukannya?"
Tidak ada jawaban. Beberapa saat mereka diam, mereka tidak bisa memberitahu keadaan Zara pada mertuanya karena pria beristri dua itu, tengah menjalani pengobatan.
Dalam keheningan, tiba-tiba ponsel milik Aariz berdering, dia menatap nomer yang menghubunginya dan menatap Zachry.
Dengan pelan dia menggeser icon hijau dan mendengarkan suara siapa yang berada disana. perasaan Aariz seketika tidak enak.
"Nona bersama kami, besok kami akan mengantarnya". Setelah mengatakan itu panggilan terputus. Zachry merebut ponsel itu dan mencoba menghubungi kembali tetapi tidak ada jawaban.
"Hilangkan semua bukti yang akan membuat kita celaka".
Panggilan terputus dari ponsel lainnya.
__ADS_1
Yah yang menelpon adalah anak buah David, dia yang menelon Aariz dari jarak mereka memang tidak bisa dikatakan jauh.
Setelah panggilan itu terputus. Ponsel dimatikan kemudian dibakar untuk menghilangkan barang bukti.
Dibalik layar David tersenyum puas. Belum waktunya dia keluar untuk membuat kejutan. Dia melangkah masuk kembali, melihat jam di dinding rumahnya yang berukuran besar berwarna hitam pekat, dan berubah warna jika siang hari.
Sudah dini hari, tetapi dia belum juga ingin memejamkan mata, mengingat bahwa pagi nanti dia akan membiarkan wanitanya kembali. Walau dia tahu kepergian itu hanya sesaat.
David berjalan ke sofa ruang keluarga, wajah tampan itu terlihat sangat datar, tubuh tegapnya disandarkan disandaran sofa. Dia kembali melihat telapak tangannya, tangan yang dengan lancang menyakiti wanita tersayangnya.
"Aaggghhh". Teriaknya meninju meja kaca didepannya hingga pecah tak beraturan. Darah segar mengalir akibat pecahan kaca.
Beberapa pengawal yang mendengar keributan itu menuju ke sumber suara. Melihat bos mereka terluka membuat mereka panik. Salah satu mengambil kotak obat dan membersihkan luka bosnya.
Dan yang lain, membersihkan sisa pecahan yang berserakan dilantai.
"Tangan ini, yang sudah membuatnya menagis". lirihnya menatap tangannya yang di perban.
Anak buahnya hanya diam. mereka tidak ada wewenang menjawab sebelum di minta. Hingga semuanya selesai mereka berdua keluar dan meninggalkan David sendiri.
"David...". Zara membangun kan David dengan menggoyang tubuh pria tinggi itu. David yang baru saja memejamkan mata terkejut, memandang sekitar dan melihat senyum Zara didepannya.
"Aku sudah siap, Ayo".
Beberapa detik David bingung, kemudian tersadar bahwa dia sudah berjanji akan membawa Zara kembali. Dia menarik pelan tangan Zara yang sudah siap berdiri.
"Waaaw". Zara terkejut karena perlakuan tiba-tiba, David menahan tubuh itu lalu mendudukkannya dengan pelan.
"Maafkan aku, aku hampir melukai jagoanku". Tangannya mengulur ingin menyentuh perut Zara namun wanita itu mundur dan menatap David datar.
"Aku tahu kau hamil"
"Dari mana kau tahu? Bahkan aku belum mengatakan pada siapapun?".
David berdecak, gampang baginya tahu, lagibselama ini dia selalu mengikuti kemanaoun Zara.
"Jangan menyebut bayiku jagoanmu". Gerutunya.
__ADS_1
David hanya tertawa. Baiklah dia sangat terhibur selama ada Zara. Wanita yang dia tahu tidak
pernah sekalipun tersenyum pada orang lain selain Aariz. Wanita yang tidak ingin memiliki teman bahkan tidak suka melakukan kegiatan berkumpul bersama anak-anak lain. Ternyata begitu menggemaskan.
Seperti yang dijanjikan, David mengantar Zara ketoko, pagi-pagi sekali sebelum ada yang menyadari. Disana sudah tersedia sarapan, susu hangat dan juga buah-buahan segar.
David memang meminta anak buahnya menyediakan semuanya sebelum mereka tiba.
"Kau menyediakan ini semua?" mata Zara berbinar.
"Kau belum sarapan. Ingat aku perduli pada anakmu jadi jangan sungkan".
Zara hanya mengangguk. Dia juga tidak menyangka. Pria kejam ini akan berubah manis padanya.
Bahkan ditahan dirumahnya membuatnya nyaman. Karena tidak seorangpun membuatnya takut.
Kemudian dia teringat pada suaminya, apakah pria itu mencarinya? Atau dia masih bersama Nania dirumah sakit?.
Mungkin sebaiknya setelah ini dia kembali kerumah orang tuanya. Dia tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Zachry walauoun dia merindukannya.
"Baikalah sayang, boleh aku memelukmu sebentar?" pinta David. Namun Zara menolak dan mundur beberapa langkah. David tidak ingin terlalu lama. Dia menarik tubuh Cubby itu dan membawanya dalam pelukan hangatnya. Zara melotot dan tidak terima.
"Maafkan aku, tapi dengan memelukmu aku akan tidur nyenyak nanti". Kekehnya kemudian melerai pelukannya.
Dia menatap perut rata Zara. Dan kembali menatap ibu si bayi " Jaga diri, dan jangan biarkan dia kelaparan". Setelah mengatakan itu David pergi melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Zara menghembuskan nafas pelan lalu menatap makanan diatas meja. Sangat banyak.
Dia duduk dan mulai memakan satu persatu makanan yang disana. Beberapa saat sebuah mobil terlihat terparkir didepan tokonya. Membuat Zara was was. Apakah dia akan kembaki di culik?
Mata bulat itu memicing, memperhatikan dengan jeli dibalik kaca. ternyata Aariz datang dengan langkah lebar. Membuka pintu dan langsung memeluk erat Zara.
Tampa sadar mengecup sayang pucuk kepala wanita itu. Zara tidak menolak. Dia merasa ada yang aneh. Rasa sayang Aariz tidak sama dengan rasa sayangnya selama ini.
"Kau darimama, hm? Kau membuatku jantungan". Kembali memeluk erat zara.
"Jangan pergi lagi, aku mohon".
__ADS_1