
Dua tahun kemudian.
(Aku percepat ya kak, karena awalnya memang sangat lambat, maafkan)
Di Indonesia bagian timur, seorang wanita cantik dengan potongan rambut pendek sebahu tengah berlarian mengejar, dua anak usia dua tahun kurang, dengan sebuah mangkuk nasi ditangannya.
“Zein, Zoya mama bilang berhenti!” teriaknya sudah frustasi, tetapi kedua anak itu terus saja berlari.
“Mama..Jeen tidak mau makan” protesnya diangguki oleh adiknya, Zoya dengan menutup mulut.
“Hanya sekali suap, oke sekali saja”.
“No! mama” mereka terus berlari menoleh kebelakang, hingga mereka berdua menabrak seseorang dan keduanya terjatuh.
Zara meringis dengan menutu mata, untung saja mereka terjatuh direrumputan, namun tetap saja wanita itu berlari meraih kedua anaknya.
“Papa…hisk” Zoya menangis karena dia tertindih kakaknya.
Zara meraih Zoya, dan membawanya dalam gendongannya, sedangkan itu Zein yang merasa cemburu karena tidak mendapatkan perlakuan yang sama juga ikut menangis. Namun David segera meraihnya dan juga membawanya dalam gendongannya. Dia juga melakukan hal yang sama. Mendiamkan mereka berdua.
Tidak ada yang terlalu sulit karena kedua anak itu akan segera berhenti menangis jika mendengarkan kata-kata sayang, tentu itu memudahkan Zara.
Zara dan David kembali ke taman setelah membuat kedua anak itu tertidur, mereka berdua tertawa karena berhasil membuat mereka tertidur walau dengan banyak drama.
David memberikan susu coklat hangat dan Zara menerimanya dengan baik.
“Kau pulang lebih awal dari biasanya?”
David mengangguk dan mengecup lembut kepala Zara lalu duduk disebelahnya.
“Aku merindukan anak-anakku, lagi pula ada yang bisa menggantikanku kenapa tidak memanfaatkannya” David tertawa mengingat bagaimana kesalnya asistennya mengerjakan pekerjaannya dikantor.
“Jangan selalu mengerjainya, dia akan lelah dan meningglkanmu”.
“Ck, dia tidak akan berani meninggalkanku”.
Flashback 2 tahun sebelumnya.
“Yakin..? bukankah kamu tidak memiliki teman untuk berbagi kesedihan?”
Zara menimbang, dia memang membutuhkan seeorang untuk mendengarkan keluhnya, dia tidak bisa kembali sekarang, karena dia butuh ketenangan setidaknya sampai sore. Namun siapa sangka setelah mereka sampai dirumah David, mereka dikejutkan dengan ke hadiran Nania dan kedua orang tua Zachry.
“Mom…” Zara mendekat dan memeluk mertuanya, namun dia melihat mertuanya menangis, menyadari itu Zara melerai pelukannya.
__ADS_1
“Ada apa mom? Apa mommy baik-baik saja?”
“Sudah, aku minta kamu menjauhi Zachry karena dia akan menikah dengan Nania”
‘Deg
Egdar yang mengatakannya, dia berusaha kuat, tidak melihat air mata istrinya dan mengabaikan sakit hati menantunya, dia hanya ingin Nania bahagia.
“Apa, apa maksudnya mom?” Zara bertanya masih tidak percaya dengan apa yang didegarnya.
“Lupakan Zachry, biarkan dia bahagia bersama Nania” setelah mengatakan itu Luna meninggalkan menantunya dengan perasaan bersalah, dia tidak sanggup menatap wajah sedih Zara, andaikan saja suaminya tidak mengancamnya dia tidak akan melakukan ini.
Sementara itu Edgar yang melihat kesedihan istrinya juga merasa sangat sedih, namun genggaman tangan Nania membuatnya mengabaikan Luna, tujuannya adalah kebahagian putrinya yang sudah lama dia rindukan.
“A-apa maksud Daddy, Daddy akan memisahkanku dengan suamiku? Apakah Daddy tega dengan cucu Daddy?”
Zara mengatakannya dengan perasan hancur, baru saja dia mengetahui kejadian yang membuatnya sangat sedih sekarang mertuanya memintanya meningglkan suaminya.
David hanya diam, dia juga tidak tahu kenapa orang tua Zachry lebih memilih Nania dan sepertinya dia melewatkan banyak hal belakangan ini. Dia menatap kearah Nania yang tersenyum licik ke arahnya.
“Aku rasa semua sudah jelas, lagi aku juga tidak percaya bahwa anak yang kau kandung adalah anak Zachry, atau mungkin saja itu anak dari Aariz atau selingkuhan barumu”
Zara luruh mendengar tuduhan yang bertubi-tubi padanya, kenapa semuanya begini, memang semenjak hamil Zara menjadi sangat lemah.
“Dad sudahlah lebih baik kita kembali” ucap Nania membawa ayahnya ikut bersamanya, namun sebelum dia meninggalkan Zara, dia tidak mengatakan apa-apa selain bahwa dia dan Zachry seharusnya sudah menikah sejak lama kalau saja dia tidak hadir diantara mereka.
Setelah kepergian Nania dan mertuanya Zara hanya menagis, David sudah berusaha menenangkan bahkan sudah berniat untuk membawanya kembali pulang kerumahnya. Zara menyetujui kaena dia harus minta kejelasan ini pada suaminya. David mengantarnya karena dia juga tidak bisa melihad Zara terus menangis.
Sore hari dikediaman Zachry, Zara dengan perasaan sedih turun dari mobil meninggalkan David, namun langkahnya berhenti setelah melihat sesuatu yang tidak pernah dia ingin lihat.
Dengan berat hati, dia memutar badan dan meninggalkan kediaman Zachry dengan perasaan luka hati yang mendalam. Dia tidak pernah menyangka bahwa apa yang mertuanya katakan adalah benar.
David melihat Zara yang kembali dengan perasaan sedih tidak bertanya apa-apa, apapun itu pasti sesuatu yang sangat menyakitkan baginya.
“Bawa aku kembali ke rumahku” David mengangguk, dia akan mencari tahu setelah menganarkan Zara kembali, namun setelah sampai dikediaman Zara kedua orang tuanya juga tidak ada, Marry mengatakan bahwa mereka kerumah ibunya Aariz karena Mom Lucy yang ingin bertemu dengan ibu Aariz.
Zara mendesah. Dia terkekeh, nasibnya begitu buruk, dalam satu waktu semua orang tersayangnya hilang begitu saja, bahkan mereka tidak ada yang berfikiran untuk menyusulnya.
Dia tertawa namun air matanya terus saja mengalir dengan derasnya.
“Zachry, apa ini balasannya? Kenapa kamu juga meninggalkanku? Kenapa kamu memberikan cinta yang besar untukku selama ini, kalau pada akhirnya kamu akan meninggalkanku? Lirihnya dalam hati.
“Mom, Dad, apakah Aariz begitu penting bagi kalian? Apakah aku tidak? Jadi ini semua alasan kenapa Daddy lebih melindungi Aariz dari pada aku?" lanjutnya.
__ADS_1
Flaskback off
“Bagaimana kalau besok kita jaan-jalan?” tawar David gelas kosong yang ditangan Zara.
“Boleh, bagaimana kalau kepantai?”
David mengetuk-ngetuk dagunya berfikir membuat Zara cemberut namun kemudian David mengangguk membuat Zara tersenyum lebar dan memeluknya dengan erat.
“Terima kasih papa..”
David tersenyum dia sangat bahagia selama dua tahun ini kehidupannya benar-benar berubah, dia bahkan tidak menyangka bahwa Zara memilih untuk ikut bersamanya.
Dia sudah mengetahui semua apa yang terjadi dua tahun lalu. Sudah berulang kali dia mencoba mengatakn pada Zara bahwa dia hanya salah paham namun wanita ini, benar-benar keras kepala. Dia tidak akan pernah mau mengungkit masalah apapun yang menyangkut tentang suaminya Zachry.
“Kamu benar-benar tidak ingin kembali?”
Zara melerai pelukannya, dan menatap David dengan lekat.
“Tidak!, baiklah mungkin saja selama ini aku hanya salah paham pada mereka. Tapi apakah Zachry ada mencariku? Bahkan Mom dan Dad saja mengatakan bahwa Zachry tidak pernah lagi datang ke mansion”
Yah selain mom dan Dad Dixon Aariz juga tahu dimana Zara sekarang. Dan mereka semua mengatakan hal yang sama tidak pernah mencarinya.
“Pernikahanku dengannya hanya empat bulan, mudah baginya melupakanku, lagi mungkin dia lelah bersamaku” Zara terkekeh walau hatinya sangat perih.
“Bagaimana jika dia terus mencarimu?”
“Tidak! Jika dia mencariku, atau mencari anak-anaknya dia pasti dudah menemukan kita, tapi kau lihat 2 tahun, dan selama itu apakah dia pernah terlihat? Bahkan Aariz mengatakan bahwa dia sudah ke luar negeri bersama Nania”
David menghela napas, awalnya dia bahagia karena mendapatkan perhatian Zara tetapi melihatnya diperlakukan seperti ini juga membuatnya kesal. Apakah Zachry memang semudah itu melpakan anak dan istrinya?
Jika dia bisa menemukan keberadaan orang tua Aariz kenapa dia tidak bisa menemukan istrinya?.
“Baiklah, jangan di ingat lagi, aku tidak ingin kau menangis seperti terakhir kali”
“Ck, itu juga karenamu, kau menjambakku dan yang kedua memang karena nasibku yang sial”.
“Ayolah, aku menariknya tidak kuat, kau saja yang menangis tiba-tiba”
Zara cengir, memang kejadian ditoko itu tarikan tangan David memang tidak kuat, hormon kehamilan yang membuat Zara berlebihan.
“Sampai kapan kalian akan saling berpelukan?”
Suara dari arah pintu mengangetkan mereka berdua membuat David mendengus kesal karena kesenangan di ganggu. Zara hanya terkekeh dan berdiri memeluk nya rindu.
__ADS_1