Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 17| Hei, apa yang kau lakukan


__ADS_3

Semakin sore tamu undangan semakin banyak, Zara yang terlihat sudah kelelahan menyapukan pandangannya mencari dimana Mommy dan Daddy nya. Seharian Zara merindukan Daddy nya dan pria paruh baya itu tidak juga datang sekedar menanyakan kabarnya. Bahkan setelah aqad tadi Daddy nya langsung sibuk dengan tamu yang lain.


Mata bulat itu menangkap sosok yang dicarinya, terukir senyum di bibir tipisnya, tapi masih terlihat rona kelelahan disana. Wajahnya tertekuk.


"Mom, Zara kelelahan". Rengeknya bersandar dipunggung Mom Lucy.


"Akhirnya anak Mommy, mengatakan sesuatu yang sangat langka". Mom Lucy terkekeh, pasalnya selama ini Zara jarang sekali mengaku lelah. Bahkan saat dia pulang dari toko yang kadang malampun dia tidak pernah mengeluh lelah. Disini hanya beberapa jam saja, dan dia kelelahan katanya. Aneh.


"Ish, Mom, Zara juga manusia". masih bersandar dengan bibir mengerucut tajam.


Mom Luna yang mendengar itu, hanya terkekeh melihat tingkah menantunya, dia sudah mendengar menantunya ini gadis yang mandiri ternyata bisa manja juga.


"Ya sudah, sebagian tamu kita juga sudah kembali, kamu bisa beristrahat dikamar, tunggu Mommy cari Nania mengantarmu". putus Mom Luna. Belum sempat Zara menolak, mertuanya sudah beranjak menjauh.


Beberapa menit kemudian, Mertuanya datang bersama Nania, gadis cantik yang tadi menempel, yang katanya sahabat pria kaku itu.


"Sayang, kau antar Zara kekamar istrahat" Titah Mom Luna, yang di angguki langsung oleh Nania.


****


"Masuklah, aku harus kembali ketempat acara". mereka berdua sudah sampai depan kamar Zachry yang tadi mereka tempati. Belum sempat Nania berbalik Zara menahannya.


"Hm terima kasih, Kalau mau kau juga bisa istrahat didalam". Tawar Zara.


"Ah..tidak terima kasih, aku harus kembali". Nania melangkah pergi bahkan suara hellnya terdengar sangat nyaring saat melangkah.


"Yang benar saja, untuk apa aku bersama denganmu didalam?, aku hanya butuh Zachry". gumam Nania dengan senyum licik di sidut bibirnya.


Zara hanya menatap punggung Nania yang melangkah meninggalkannya. Setelah itu dia masuk kamar, dia duduk di sofa. Dia lelah. Dia mengambil sesuatu dalam tasnya. Memeriksa benda pipih ajaib miliknya. Membuka apakah ada sebuah panggilan atau bahkan pesan masuk atau tidak. Dan seperti perkiraannya. Aariz tidak mengabari apapun untuknya.


"Hiks...Kenapa kau jahat? Isaknya..


"Kau bilang kau mencintaiku, tetapi tidak bisa memperjuangkanku, bahkan, kau berbohong padaku, kau dan Agatha...hiks..hiks...". Zara menangis, ia sudah mencoba menahannya selama seminggu tetapi saat mengingat kejadian malam itu nembuatnya semakin terluka.


Zara menangis tersedu-sedu didalam kamar sendiri memegang benda pipih ditangannya. Sesekali dia menimang apakah harus dia yang menghubungi kekasihnya lebih dulu atau menunggu sedikit lama lagi?


"Kau bahkan tidak menjelaskan padaku, apa aku salah faham atau tidak, hiks..hiks.."


Zara kembali menangis dalam diamnya, tampa menyadari bahwa ada seseorang di tempat itu mendengar dan melihat kesedihannya.

__ADS_1


****


"Dimana Zach? Tanya Nania pada Leon tetapi matanya menyapu semua tamu undangan yahg semakin sedikit.


"Mungkin bersama istrinya". Jawab Leon masih menatap gemas ke arah Nania.


"Tidak mungkin, karena aku baru saja mengantar wanita itu ke kamarnya".


"Zara..namanya Zara, bukankah kau sudah sering bertemu dengannya?".


"Ah, maksudku Zara" Jawab Nania berat menyebut nama itu.


"Kenapa kau mencari Zach? ada masalah? Katakan padaku".


Leon masih menatap lekat wanita yang belum juga sadar diperhatikan sejak tadi.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengucapkan selamat untuknya". Kini Nania sudah melihat ke arah Leon, karena matanya tidak juga mendapat yang dia cari.


"Aku akan kembali, apa kau mau aku antar?" Tawar Leon, Tidak mungkin juga mereka akan terus disini, Lagi tadi Mom Luna sendiri yang menyuruhnya mengatar Nania.


Terlihat Nania menghembuskan nafas panjang, dia tidak suka keadaan ini, jika dia nekat untuk tetap tinggal bersama keluarga Zach, sudah pasti Mom Luna tidak suka, dan akan berimbas buruk kedepannya. Nania tidak ingin Zach dan keluarganya menggap dirinya ancamam. Paling tidak sekarang dia harus bersabar. Pasti ada celah mendapatkan Perhatian Zach lagi. Gumamnya dalam hati.


Saat Leon mengantar Nania pulang, Didalam kamar Zach sudah selesai mandi. Handuk masih terlilit dipinggangnya. Dengan santainya dia berjalan keluar, dengan rambut sedikit basah dan acak-acakan manusia kaku itu terlihat makin tampan. Otot dadanya yang kekar dan perut sispack seperti roti sobek siapapun yang melihatnya akan mengeluarkan liur. Sangat menggoda.


"Euhg.. Masih memejamkan mata, dan kedua tangan naik keatas, Zara merenggangkan tubuhnya, rasanya tulang-tulangnya mengkerut.


Perlahan dia membuka mata melihat langit-langit ruangan, mengerjap pelan, menoleh ke kiri dan kekanan. Dia mendapatkan kesadarannya.


"Jam berapa sekarang? Zara memegang kepalanya yang masih sedikit pening karena lama menangis.


"Kau sudah bangun rupanya".


'Deg


Zachry mendekat, dia sudah rapi sekarang dengan kaos berwarna hitam santai dipadukan celana jens sebatas lutut. Benar-benar berbeda dari penampilan biasanya yang selalu saja memakai kemeja dan jas.


"A-ku..Jam berapa sekarang?. Tanya Zara membernarkan duduknya.


"Kau melewati makan malammu? Kau bersihkan diri sulh, kita makan malam bersama". Sekarang Zachry duduk disamping Zara, menatap dengan lekat istrinya.

__ADS_1


Zara berdiri menuju oi tu keluar. Tapi suara baroton itu menghentikanya. Zachry memeluknya dari belakang.


"Mau kemana hm?" Zara membolakan mata, kaget.


"Lepas, apa yang kau lakukan?" Siap membwrontak, tapi pelukan diperutnya makin kencang.


"Aku memelukmu, memeluk istriku, apa itu salah?" Tanya nya mulai dengan nada tidak suka, karena gadis ini selalu saja memberontak.


"Zachry, aku mohon lepaskan aku dulu". Pinta Zara pelan


Setelah tangan yang melingkar di perutnya terlepas, Zara berbalik ke arah Zachry.


"Aku, akan tidur di kamar tamu, apa boleh?" Mohonnya dengan suara memohon, dan tentu saja Zachry tidak mengizinkannya, bagaimana mungkin mereka akan tidur dikamar terpisah. Apalagi di Mansion Utama. Kediaman orang tuanya. Oh gadis ini.


"Kenapa kalau disini?"


Belum sempat Zara memberi argumen, Zachry kembali mengambil kendali.


"Kau tidak ingin satu kamar denganku? Karena kau tidak mencintaiku? Tanyanya dengan nada serius.


"Baiklah.. Besok kita akan kembali ke Mansionku. Disana kau boleh melakukan apapun sesukamu. Karena hanya ada kita berdua disana. Tapi ku mohon untuk malam ini tetaplah disini".


Zara hanya diam, tetapi dia tidak mungkin didalam ruangan yang sama walaupun mereka sudah suami istri. terlalu berbahaya.


Melihat Zara yang hanya diam, Zachry menarik taggan Zara lembut, membawanya ke kamar mandi agar gadis ini bisa bergerak leluasa. Tidak terbebani dengan panjangnya gaun yang masih melekat di rubuhnya.


"Hei..Apa yang kau lakukan?" Zara sudah di kamar mandi, Zachry mengankatnya karena terlaku lama bergerak. Pintu di tutup dari luar, membiarkan Zara berteriak didalam.


"Bersihkan dirimu, aku sudah menyiapkan pakaian tidur untukmu di kamar. Pakaialah setelah kau selesia membersihkan diri".


Didalam kamar mandi, Zara masih mondar mandir, dengan gaun pengantinnya.


Setelah beberapa menit, Zara selesai dengan ritual mandinya, sekarang dia merasa sangat segar.


"Ternyafa manusia kaku itu pintar juga meracik air aroma terapy buat mandi" gumamnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil dan berjalan keluar kamar mandi.


"Kau lama sekali didalam". Ketus Zachry yang berada dipinggir tempat tidur dengan kaki di angkat sebelah.


Mendengar suara Zachry, Zara mebolakkan mata.

__ADS_1


"K-Kau...Aaaaahhhh...."Zara reflek menutup punvgungnya yang terbuka. Jelas saja dia hanya menggunakan handuk yang panjangnya diatas lutut dan yang melilit didada.


__ADS_2