
Lama mengobrol sampai mereka tidak menyadari bahwa hari sudah gelap. Mom Luna membawa kedua gadis itu untuk menempati kamar tamu untuk membesihkan diri dan makan malam, Mom Luna meminta mereka agar menginap.
Kamar Nania dan Alena bersebelahan. Mereka menempati kamar tamu dilantai bawah.
Setelah waktu makan malam tiba, mereka semua sudah berada dimeja makan. Mom Luna sangat menyukai ini. Mansionnya tidak lagi sepi. Ada Leon juga disana.
"Mom sangat bahagia seperti memiliki anak banyak dan semua berkumpul dimeja makan". Terlihat matanya berkaca-kaca sangat terharu dan Dad Edgar melihat itu merasa tidak enak.
Sebenarnya Zachry memiliki adik kembar perempuan namun naas kecelakaan membuat kedua putri kembar mereka harus berpulang terlebih dulu.
"Sudah ayo kita makan". Ucap dad Edgar tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan
"Ini sangat enak". Aku Alena saat mencicipi makanan didepannya, memang terlihat sangat mengiurkan. Semua orang mengakui itu.
Semua orang mencicipi makanan yang Alena makan dan memang sangat enak, Zachry sudah tahu bahwa istrinya suka memasak bahkan di Mansion mereka tidak memiliki koki didapur dan hanya memperkerjakan tukang bersih dan pengawal saja.
"Kalau begitu makanlah, dan ucapkan terima masih pada koki kita". Sontak perkataan Nania membuat semua orang menoleh padanya dan Zachry yang mengetahui istrinya dikatakan koki sangat kesal namun dengan tenang Zara mengusap punggung tangan suaminya.
"Koki?".
"Nania".
Seru Alena dan Leon bersamaan. Alena yang bingung dan Leon yang tidak suka sahabatnya mengatakan itu.
Jelas saja Nania tahu siapa yang memasak karena dia pernah sekali makan diMansion keluarga Zara, dan dia yakin wanita itu yang memasak, bukankah dia lebih cocok sebagai koki ketimbang istri pengusaha?
"Ups maafkan Nania Moms, Kakak ipar jangan marah, sungguh aku sangat menyukai masakanmu, dan kau seperti koki terbaik buatku, Aku harap kau tidak tersinggung". Ujar Nania tampa merasa salah.
"Kalau begitu makanlah. Bukankah tidak baik berbicara disaat makan. Lagi kedua orang tua kita tengah menikmati makan malamnya?" Ujar Zara tenang, membuat Nania kehabisan kata-kata. Malu.
Tapi Alena menikmati kekalahan Nania. Dia semakin bersemangat membuat wanita yang bestatus istri mantan tunangannya tumbang.
"Ah Mom Lupa, Sayang dia Alena". Tunjuk Mom Luna pada Alena yang disambut dengan senyuman oleh Zara.
__ADS_1
"Dan Ale dia-"
"Kami sudah pernah bertemu Mom, dia beruntung bisa menikah dengan Zach". Ucap Alena dengan senyum getir"
"Kau salah, Akulah yang beruntung menikahinya. Dia tidak hanya baik dan cantik tetapi juga bisa memasak". Jelas Zach membuat kedua wanita itu mengepalkan tinju dibawah meja.
Merka makan dengan damai tapi tidak dengan kedua wanita dengan niat yang sama namun saling tidak menyukai itu. Bagaimana tidak kesal mereka dihidangkan pemandangan yang memuakkan. Bagaimana Zara melayani suaminya dengan baik, memberi perhatian dengan sangat tepat pada kedua mertuanya sampai kedua pasangan paruh baya itu kembali ke kamar dengan perasaan bahagia.
Zara masih didapur menemani kedua pelayan yang tadi menemaninya memasak, membereskan semuanya. Zachry sudah melarang istrinya dan memintanya naik bersamanya. Namun bukan Zara namanya kalau tidak keras kepala.
Wanita itu selalu suka dengan bau dapur.
Setelah merasa semua beres. Bahkan Maidnya juga sudah kembali kekamar istrahat. Zara beranjak dan akan menyusul suaminya ke atas namun langkahnya berhenti saat melihat siluet seseorang ditaman samping.
Langkahnya pelan tapi pasti senyumnya tersungging saat benar matanya menangkap sosok seorang yang sudah diam-diam merasuk dijiwanya. Suaminya Zachry.
Namun langkahnya berhenti saat seseorang tiba-tiba memeluk suaminya dengan erat. Samar-samar dia mendengar isakan kecil entah apa yang mereka bicarakan sampai mendengar isakan pilu Alena.
"Kenapa? Kenapa lebih menyakitkan ini?" Gumamnya kecil dan tampa dia sadari ujung matanya berair.
Dia berbalik saat mendapatkan kembali kesadarannya, menghapus air matanya kasar dan berjalan dengan tatapan kosong naik kekamarnya.
Ditempat yang lain juga seorang wanita bertubuh tinggi dan langsing tengah mengepalkan tangan kuat, dia melihat semua dibalik jendela kamarnya. Dia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. tapi yang tidak dia sukai bahkan membuat dia tidak tenang saat melihat Zachry membalas pelukan itu dan mengusap lembut punggung Alena.
"Aku akui keberanianmu Alena". Ucap Nania berbalik dan mengumpat kesal.
Dikamar Zara langsung tidur setelah membersihkan diri, dia tidak ingin bertemu muka dengan Zachry. Terlalu perih. Dia juga tidak mengerti sejak kapan dia merasa terganggu dengan semua ini.
Sampai dikamar Zachry yang melihat istrinya tertidur hanya mengehela nafas panjang, dia berjalan samping melihat wajah cantik wanitanya.
Membelai wajah itu dengan pelan dan memberikan sebuah kecupan dikening. Setelah itu Zach keluar kamar meninggalkan Zara yang ternyata belum tertidur.
Zara memegang dadanya yang sangat sesak. Memukulnya beberapa kali agar nafasnya kembali normal sampai butiran bening itu kembali menetes melewati pangkal hidungnya.
__ADS_1
Diruangan berbeda dikamar Alena wanita itu sedikit puas sekarang. Dia membaringkan tubuhnya terlentang. Dia bahagia. Tetapi ketukan dipintu kamarnya membuatnya mengerutkan kening. Melihat jam diatas nakes sudah tengah malam. fikirnya siapa yang melakukan ini malam-malam.
"Siapa?" gumamnya pelan.
Dia berjalan ke arah pintu, tangannya sudah memegang knop pintu tetapi kemudian dia menarik tangannya kembali dan mundur selangkah.
"Tidak..aku tahu dia pasti akan menemuiku". Gumamnya dengan seringaian licik.
Dia terus membiarkan orang diluar sana mengetuk pintunya sampai lelah. Dia yakin itu Nania yang tidak terima karena tadi dia sempat bertemu berdua dengan Zachry.
Alena tahu karena letak kamar Nania bersebelahan dengan taman belakang tempat dia dan Zachry bertemu. Sudah pasti Nania melihatnya.
"Kali ini aku yang akan mengendalikan permainan Nania".
Pagi harinya di Mansion Utama Richard Zara yang bangun pagi-pagi sekali langsung turun ke lantai bawah menuju dapur.
Dia menggunakan atasan sabrina berwana biru pekat yang dipadukan dengan celana jeans pendek diatas kutut. Rambutnya dikuncir asal. Andai orang kain tidak pernah menghadiri pernikahannya mereka akan mengira Nyonya muda ini anak remaja yang masih dalam study.
Didapur dia mulai dengan aktifitasnya menyiapkan sarapan bersama pelayan yang bertugas didapur. Mereka sudah melarang namun dasar Zara yang memang menyukai hal ini tentu tidak akan mengindahkan permintaan siapapun.
"Tidak mengapa, aku sudah terbiasa memasak di Mansion Mommy sebelum menikah". Pelayan yang mendengar itu mau tidak mau menerima walau sebenarnya mereka takut akan kena marah.
Sedang sibuk menyiapkan sarapan. Terdengar sesekali para pelahan tertawa bersama Nyonya muda mereka. Mereka senang karena yang menikah dengan Tuan muda mereka adalah Zara, jika dia adalah Alena atau Nania sudah dipastikan mereka tidak akan suka, mengingat bagaimana buruknya mereka berdua saat memerintah pelayan saat Nyonya besar tidak melihat.
Melihat Zachry yang baru datang kompak mereka bertiga terdiam Zara memalingkan wajah. Kedua pelayan merasakan aura dingin seketika mencekam.
"Sudah ku katakan jangan terlalu sibuk jika dirumah Mommy". Zachry mendekat dan mengecup pipi istrinya. Menghirup aroma tubuh istrinya. Wangi mawar. Zachry suka.
"Kau bangun jam berapa atau kau memang tidak kembali ke kamar?" pertanyaan Zara seketika membuat Zachry menegang. Bukan karena dia ketahuan tidak tidur dikamar tetapi karena melihat sorot mata Zara yang berbeda.
Alena yang baru saja akan mengambil air minum didapur mendengar itu membuatnya terdiam lama dibelakang.
"Zachry tidak kembali kemarnya? apakah semalam yang-" Alena menyunggingkan senyum iblis. Baginya ini berita bagus karena tahu pasangan ini tidaklah terlalu dekat. Dan dia akan memanfaat celah ini untuk masuk.
__ADS_1