Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta
Bab 27 | Lupakan


__ADS_3

Setelah mandi dan makan bersama, kedua pengantin baru itu berjalan ke taman belakang, disana terdapat gazebo dengan kolam ikan dibawahnya.


"Jadi sekarang jelaskan". Kata Zara mengelus rambut Zachry yang berbaring dan menjadikan paha Zara sebagai bantal.


"Kau ingin mendengar apa sebenarnya?


"Bukankah kau pernah mengatakan bahwa aku pernah memintaku menemukanku, maksudku apakah sebelumnya kita pernah kenal?". Ucap Zara hati-hati.


Zachry menatap wajah Zara dari bawah. Memperhatikan mata bulat indah itu saat berkedip. "Kau benar-benar melupakanku?"


"Apakah kau benar-benar melupakan tetanggamu saat di Roma waktu itu? pemuda yang selalu mengatakan cinta padamu tapi kau selalu saja menolakku". Mata Zara melotot tidak percaya mengetahui kenyataan ini. Ya dia ingat sekarang saat mereka masih tinggal di Roma dia memiliki tetangga, keluarga mereka sangat akrab, jadi tidak jarang Zachry yang hampir remaja datang ikut berkunjung. Namun yang tidak dia percaya adalah anak itu yang dulu hanya menggunakan kaca mata besar sekaramg sudah setampan ini.


"Dan kau sendiri mengatakan bahwa aku harus menemukanmu bukan, dengan begitu aku bisa bersamamu kau ingat?"


Zara hanya cengir kuda memperlihatkan lesung pipinya, sangat manis. "Aku hanya bercanda waktu itu. Aku yakin kita tidak akan bertemu". Zara menyembunyikan fakta lain. Bahwa dulu dia melihat Zachry sangat aneh.


"Aku tahu apa yang kau fikirkan". Wajah datar Zachry kembali terlihat. Membuat bulu kuduk Zara meremang.


Setelah menegetahui kenyataan wanitanya dulu memang tidak menyukainya membuat Zachry kesal dan untungnya sekarang dia sangat tampan tidak mungkin ditolak. Tetapi nyatanya dia masih harus berjuang karena si brengsek Aariz mengalahkannya.


"Sayang....."


"Hm..." Zara hanya bersedehem pelan.


"Apakah kau masih menyukai mantan kekasihmu yang banyak digilai wanita itu?". Yah Zachry mengakui dalam hati kalau mantan kekasih istrinya memang banyak dikagumi wanita, entah mereka melihat dari sudut pandang mana. Walaupun dia juga sebenarnya banyak yang mengidolakannya, tetapi tidak serta merta menerima sentuhan kecuali pada Nania, karena dia menganggap gadis itu adiknya.


"Kau mau jawaban jujur atau berbohong?" Zara menoleh ke arah Zachry yang sejak tadi menikmati wajahnya.

__ADS_1


"Ck, lupakan". Zachry kesal bisa-bisanya dia masih dikalahkan oleh pria itu. Dia berdiri dan melangkah kan kaki lebar kedalam rumah. Dia harus menelpon anak buahnya.


Waktu bergulir sangat cepat disnilah Zach dan Zara sekarang, di sebuah cafe bintang lima dengan pelayanan VIP. Zara terlihat sangat anggun dengan gaun malam berwarna hitam dengan belahan dada rendah dan tampa lengan. Gaun itu menjungai panjang sampai mata kaki. Sangat pas ditubuhnya, tetapi terdapat belahan pada bagian paha sebelah kiri, sehingga saat dia berjalan akan nampak kaki jenjangnya yang putih dan mulus. Jujur Zachry sakit kepala melihat bagaimana beraninya istri kecilnya berpakaian seperti itu, tetapi karena melihat siapa yang mengundang mereka maka Zachry membiarkannya. Dia berjanji setelah pertemuan ini dia akan membuang semua pakaian kurang bahan istrinya.


Zachry juga tidak kalah tampannya malam ini dia menggunakan pakaian senada dengan Istrinya dominan hitam. Sungguh pasangan yang serasi. Tapi bagi Alena yang sedari tadi melihat penampilan Zara dia tersenyum seperti mengejek karena merasa dia jauh lebih cantik dibanding dengan wanita yang berhasil menikahi mantan tunangannya.


"Terima kasih karena kau mau menerima undanganku". Alena mendekat memeluk dan mencium pipi Zachry. Dia sengaja agar wanita disampingnya ini sadar bahwa dia bisa mengambil Zachry kembali.


"Bukankah seharusnya kau tidak melakukannya Nona?" Desis Zachry merasa sangat mual. Wanita ini berani menyentuhnya didepan Zara.


"Oh maafkan aku Tuan Richard". Alena tersenyum canggung namun itu hanya sebentar, kemudian dia menoleh pada wanita disamping Zach, menurut penilaiannya wanita ini masih terlalu muda jadi dia merasa semakin yakin bisa menyingkirkannya.


"Maafkan saya Nyonya Richard, karena melupakan kehadiran anda disini". Senyum remeh Alena sangat terlihat membuat Zara hanya mengerutkan kening beberapa saat. Dia memang hanya tidak terbiasa melihat suaminya sangat intim dengan wanita lain. Namun dia tidak menyalahkan Zachry sepenuhnya.


Yang mereka bicarakan hanya seputar bisnis dan keluarga, tetapi, Zara menangkap tatapan berbeda dari klien suaminya. Tatapan ingin memangsa, dan sesekali terlihat Alena dengan sengaja menggerakkan tubuhnya dengan sensual. Misalkan seperti saat ini dia sengaja menumpahkan air dimeja, sehingga alirannya mengenai celana Zachry yang tidak terlalu jauh darinya


"Aku akan ke toilet sebentar, Sayang tunggu disini". Zach mengecup pucuk kepala Zara dan berlalu ke toilet meninggalkan Alena dan Zara berdua. Beberaoa saat suasana menjadi sangat canggung karena sedari tadi Zara tidak pernah bersuara.


"Bagaimana rasanya menikah dengan mantan tunanganku?"


'Deg


Zara menghentikan gerakan tangannya yang akan memasukkan potongan daging kecil itu. Dia terkejut karena ini berita baru baginya. Namun secepatnya dia menormalkan wajah.


"Seperti yang kau lihat". Zara menjawab acuh dan kembali mengunyah anggun.


"****** kecil ini, ternyata sangat pandai berbicara rupanya, aku mengira kau hanya akan bersembunyi di ketiak tunanga-"

__ADS_1


"Mantan tunangan, ku ingatkan kalau kau lupa, dan aku istrinya". Jawab Zara bangga dia masih diatas Alena yang hanya mantan tunangan.


Alena sangat berang, beraninya wanita muda didepannya menjawab semua perkataannya.


"Jujur aku terkejut, ternyata kau wanita yang cukup berani".


"Ku anggap itu pujian"


Alena semakin mengetatkan rahangnya. Marah.


"Cih! Kau seharusnya sadar kau tidak terlihat pantas dengannya". Senyum sinis Alena.


"Pantas atau tidaknya aku untuknya, bukankah itu tergantung penilaian suamiku?". Zara menekan kata Suami membuat Alena semakin kesal "Oh ya, aku tidak tahu kenapa kau tidak menyukaiku, dan aku tidak menyangka orang hebat sepertimu mengatakan hal-hal konyol".


Sebelum Alena kembali membalas langkah kaki Zachry membuatnya terdiam dan mengubah mimik wajah menjadi ramah membuat Zara yang melihatnya hanya tersenyum geli.


"Maafkan aku terlambat". Kata Zachry mencium pipi Zara. mereka kembali menyelesaikan makanan mereka sebelum Zachry membawa istrinya pulang. Namun sebelum mereka benar-benar menjauh dari meja yang Alena tempati Zara kembali mengambil ponselnya yang memang sengaja dia tinggalkan.


"Tunggu aku, sepertinya aku meninggalkan ponselku". Zachry sudah menawarkan akan mengambilnya tetapi Zara sudah beranjak mendekati meja tadi terlihat Alena yang sudah berdiri dan melirik ponselnya.


Dengan gerakan cepat Zara berhasil lebih dahulu meraih ponselnya "Ini ponselku, terima kasih karena menjaganya". Zara memberikan senyuman termanisnya, membuat Alena mual.


"Oh aku lupa mengatakan ini padamu tadi". Zara masih tersenyum "Jangan macam-macam denganku, atau kau akan menyesalinya". Setelah mengatakan itu Zara berbalik dan meninggalkan Alena dengan aura permusuhan. Dia semakin terpancing untuk menghancurkan wanita yang dia kira seumuran dengan adiknya.


"Hah, ****** sialan, dia mengancamku rupaya".Alena tertawa, kesal karena seseorang dengan berani mengancamnya langsung.


"Aku akan membuatmu menyesal, Zara.."

__ADS_1


__ADS_2