
"Tapi..."
"Duduklah sebentar, sudah pagi dan aku juga harus kembali". Ujar Nania sudah duduk dengan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Apa kau menyesal mengetahui fakta ini? Masih ada waktu, pergilah temukan kebahagianmu". Nania tersenyum lembut. Masalah ini tidak ada kaitannya dengan Leon. Jangan sampai dia terlibat.
Sedangkan di mansion milik Zachry pagi-pagi sekali Zara sudah sibuk mengemasi kue yang akan dia bawa untuk Mommy nya. Sudah jam tujuh tapi suaminya belum juga bangun.
Semalam mereka harus berolahraga kembali untuk menenangkan Zara yang marah. Tetapi berakhir Zachry yang bangun telat.
Zara terus mengomel karena sudah pagi tetapi yang ditunggu belum juga bangun, saat dia berniat akan naik menyusul Zachry dia mendengar langkah kaki menuju ke arahnya. Dan benar saja pria tampan itu sudah terlihat sangat segar.
Zachry mendekat ke istrinya, mendaratkan satu ciuman di pipi putih itu.
"Selamat pagi" Sapanya
"Kau terlambat Tuan". Jawab Zara ketus
Zachry tergelak, bagaimana bisa ini dikatakan terlambat. Masih jam tujuh, dan mereka akan berangkat jam sembilan.
"Kau bercanda, ini masih sangat pagi". Jawabnya tenang.
"Bagiku sudah siang". kini Zara sudah duduk didekat Zach dan mendaratkan satu ciuman juga dipipi suaminya.
"Kau menciumku? tiba-tiba sekali, ada apa? Zachry sebenarnya senang tapi dia harus memastikan dulu apa rencana gadis ini.
"Aku ingin bekerja diluar, sudah sebulan lebih kau mengurungku dirumah, dan aku bosan".
"Zara..kita sudah membahas ini diawal pernikahan kita kan? Kau tidak akan kebali ke tokomu".
Zara yang mendengar itu hanya mengerucutkan bibir.
"Baiklah, aku juga tidak akan kembali kesana. karena aku bisa memantau semua dari rumah". Jawabnya santai.
Untuk yang ini Zachry juga baru mengetahuinya. pasalnya selama mereka menikah istrinya tidak pernah terlihat sibuk dengan sesuatu yang berbentuk laporan atau apapum.
"Kau memantau dari mana?" selidiknya.
"Itu, dari sana aku bisa melihat semua pekerjaan karyawan, dan menerina laporan setiap harinya". Menunjuk tablet.
Zachry memang beberapa kali melihat Zara memegang benda agak sedikit lebar itu. Fikirnya istrinya hanya melihat-lihat di aplikasi belanja.
"Wah..kau luar bisa. Jadi kau selalu mengintip mantanmu itu?" Zachry kesal sendiri sekarang mengetahui di tablet istrinya tersambung cctv.
"Jangan memulai, kami tidak memasang cctv didalam ruangan. Hanya dibagian pengunjung dlkasir, dan dapur". Jelasnya "lagi, aku belum melihat nya melintas di camera".
Jawabann Zara membuat Zachry semakin kesal
"Haruskah ku singkirkan dia?"
"Jangan macam-macam Daddy ku akan marah, bukankah kalian sudah menyepakati bahwa kau tidak bokeh melukainya". Zara mengingatkan.
__ADS_1
"Kau menguping". Zara diam. Dia ketahuan.
"Boleh aku tanya satu hal padamu". Tanya Zach serius dan di angguki Zara.
"Kenapa Daddymu seperti melindungi mantanmu itu, bukankah seharusnya tidak harus, ya maksudku kalian mantan, dan tidak seharusnya Daddymu menjaga keamanannya". Zach harus tahu yang ini
"Entahlah. Kenapa tidak tanya Daddy".
"Tidak dijawab, aku sudah pernah menanyakannya, dan tidak ada penjelasannya.
"Berarti memang seperti itu". Jawabnya santai.
"Sayang..aku serius setidaknya untuk melindugi nya dari hantaman ku selanjutnya". Zara melotot mendengar itu. Suaninya ini tiba-tiba kenapa sangat mengerikan.
"Karena Daddy memang menyukainya". Terbukti saat itu aku mendengar bahwa sebagian besar dana toko dari Daddy, aku hanya diam agar mereka berdua tidak tahu kalau aku mendengar pembicaraan mereka".
"Lalu apa alasan Daddymu tidak merestui hubunganmu dengannya". Semakin kesal Zachry. Padahal dia yang bertanya.
"Entahlah, kami hanya tidak akan mendapat restu sampai kapanpun, itu kata Daddy.
"Kau sedih? pancig Zach
"Kakau aku katakan sedih dan tidak terima pernikahan ini denganmu kau akan marah?".
"Tentu saja, kau istriku, mana bisa kau tidak bahagia, kau harus terima pernikahan ini karena kau yang memintanya waktu itu". Zachry kembali kesal.
Di kantor Zachry seperti raga tidak bernyawa. Datar dan kaku, hanya sedikit saja yang bisa melihat senyumnya. dan itu hanya Leon. kadang Nania.
Karena sudah menunjukkan jam sembilan Kedua pasangan suami istri yahg hampir saja bertengkar karena hal sepele yang Zachry buat. Mereka kembali dalam mode bahagia. ini pertama kalinya bagi Zachry menginap dirumah mertuanya. Kebetulan juga libur dia akan menuruti semua yang istrinya minta. Asal tidak kembaki ke toko
Ditempat berbeda, disebuah hotel, pria muda yang memiliki beberapa bekas pukulan itu bangun. Dia mendesah lelah. Dia tidak percaya akan tidur ditempat lain. Mengingat bagaimana Agatha bisa keluar masuk di apartemennya membuatnya jengah.
Dia bangun membersihkan diri dan berniat akan pulang mengganti pokaian baru datang ketoko.
Keluar dari lift matanya tidak sengaja menangkap sesorang yang dia kenal. Dia melihat dengan seksama mungkin saja dia salah lihat. Tetapi ternyata dia benar.
"Stella?". Batinnya melihat Stella keluar bersama seseorang yang sepertinya dia juga mengealinya.
"Sepertinya aku pernah melihat".
Dia terus menatap kemana karyawan barunya sampai wanita itu menghilang dengan mobil berwarna hitam.
"Dimana aku melihat pria itu?" gumamnya lagi, dia mencoba mengingat tetapi tetap tidak bisa mendapatkan jawaban. Dia berlaku kembali kerumah dan tiba di toko setelah agak siang.
Tidak seperti pekerja kantor toko tidak memiliki waktu libur. Jadi mereka harus bekerja bergantian untuk mendapatkan libur mereka.
Dan hari ini memang Stella mendapatkan liburnya, setelah kemarin membuat banyak stok kue
Jadi tidak akan masalah jika dia tidak datang selama dua hari. Walau libur memang hanya sehari.
"Semalam kau tidur dimana?" tanya Agatha yang melihat Aariz duduk di meja pengunjung. Memang masih sedikit sepi. Mereka akan mendapatkan banyak pengunjung di sore hari.
__ADS_1
"Di hotel". Jawabnya jujur.
"Kau menghindariku? Kenapa?" tanya Agatha mulai kecewa
"Aku tidak menghindarimu, memang semalam aku sangat lelah dari tempat teman jadi, karena sudah megantuk aku putuskan menginap saja". Kilahnya
"Jangan membohongiku, Jelas kau menghindariku".
"Kalau kau sadar, maka berhentilah, kita tidak akan bersama". Aariz berdiri dan masuk kedalam ruangannya. Entah kenapa Agatha sekarang lebih suka memancing emosinya
Dia terus memikirkan bagaimana cara mendapatkan kembali perhatian Zara, gadisnya yang manis.
"Sayang aku harap aku tidak terlambat memperjuangkanmu". Gumamnya dengan senyum tipis.
Dijalan sebelum sampai di dirumah mertuanya, Zachry menunggu istri nya yang masuk ke mini market dulu untuk membeli sesuatu. Zachry masih di mobil karena ada beberapa pekerjaan yang harus dia urus. Kebetulan Leon menelponnya.
Didalam Zara sibuk memasukkan belanjaan ditroli, dia akan membeli bahan makanan untuk dimasak di rumah mommy nya.
Tampa sengaja dia melihat seseorang yang masih dia kenal berdiri didepannya.
"Kenapa aku selalu bertemu orang yang salah". Batinnya melihat ke arah wanita yang masih mebatapnya. Dan Zara menatapnya datar.
"Wah, pengantin baru kita sedang berbelanja rupanya". Ejeknya melihat ke arah Zara.
Zara masih diam, dia akan pergi namun trolinya ditahan oleh Stella.
"Apa maumu? Tanya Zara akhirnya
"Tidak ada, aku hanya ingin minfa maaf". Katahya tersenyum masam.
"Tapi sepertinya kau tidak tahu bagaima cara meminta maaf dengan benar?"
"Karena aku memang tidak bersungguh-sunghuh".
Jawaban Stella membuat Zara bingung, menurutnya Stella adalah orang aneh yang pernah dia temui. Menampar tiba-tiba, meminta maaf, lalu apa ini?
"Pergilah, kau hanya merusak suasana hatiku". Desis Zara sudah mulai kesal
"Kau masih saja tetap sombong seperti dulu". Perkataan Stella membuat Zara berhenti dan berbalik, apa maksud gadis aneh ini?
"Kau lupa, beberapabtahun lalu, karena kau aku dipermalukan di depan anak-nak lain? Bahkan mereka mengatakan aku seperti hama?
Zara masih mengerutkan kening. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan wanita ini.
"Oh Tuhan lihatlah gadis sombong ini, dia seolah melupakan semuanya".
Menghela nafas panjang, Zara mendekat tepat ditelinga Stella dia berbisik " Dengarkan aku, kau memang benar, kau itu selerpi hama bagiku, muncul tiba-tiba, dengan berbicara tidak jelas". Jawaban Zara membuat Stella semakin murka karena dikatakan hama.
"Dan lagi tamparanmu waktu itu, aku belum membalasnya janga harap aku melupakannya, aku hanya menunggu waktu yang tepat".
Setelah mengatakan itu, Zara pergi dengan menyenggol bahu Stella yang sudah semakin emosi.
__ADS_1