
dalam kamar yang dominan dengan warna oranye dan hijau,seorang wanita berkepala 3 duduk diatas kasurnya,memandangi foto seorang pria dengan wajah sendunya
"mas,seandainya kamu lihat anak kita tumbuh dewasa,meskipun dia hidup tanpa seorang ayah,tapi dia selalu bahagia,dukung aku nas agar aku bisa memberi semangat dan membuat hidupnya semakin baik"air mata menetes,membasahi foto seorang pria yang tak lain adalah ayah Vani yang telah tiada.
pagi mulai mendatang,matahari mulai terbit dengan sejuta pesonanya,membuat semua orang semangat menjalani hari hari nya.
Vani telah siap dengan seragam sekolahnya,dengan bedak bayi yang selalu menemani hari harinya,dia berjalan menuruni anak tangga,menuju mama tercintanya
"mama.."panggil Vani,membuat Lidya menoleh ke arah suara
"sudah siap sayang?ayo kita berangkat bersama"ajak Lidya
"tidak,aku akan berangkat bersama Novy dan tyani"Vani menolak dengan senyuman nya
"baiklah,hati hati dijalan dan semangat menjalani hari harinya"Vani tersenyum lalu mengangguk untuk kemudian mencium tangan mama nya
jam sudah menunjukan pukul 06.30,hanya tersisa Vani di teras rumah menunggu teman teman absurd nya menjemput,tak lama berselang suara toa mesjid memekakkan telinga
__ADS_1
"a-yo tyani yang cerat kambekkkkkk,red karpet silahkan digelar"teriak Tyani membahana
"woy brisik,ini komplek bukan hutan dasar Tarzan kesasar"ketus Novy
"awuo wuoo dongggg"Vani membalas dengan kekehan
"hish,ga seru klean berdua"dengus Tyani
"utututu baby Tarzan nya ngambek nieee"goda Novy,yang tak dihiraukan oleh Tyani
"eh..mmm.ngga ko ini kelilipan"jawab Vani gugup,karena Novy juga ikut menatap tajam dirinya
"ga usah bohong sama kita,lu ga akan berhasil"ucap tyani dingin
Vani hapal suasana ini,dimana Vani akan menjadi sahabat protective untuk dirinya karena merahasiakan sesuatu dari mereka berdua
"bilang sama gue,siapa yang bikin lu nangis,dan apa sebabnya"sekarang giliran Novy yang berbicara dingin dengan tatapan penuh intimidasi
__ADS_1
Vani menghela nafas dan menghembuskanya perlahan,dia tau sekarang sudah tidak ada jalan untuk mengelak dari dua sahabat absurd nya
"gue...gue cuma bingung dengan perasaan gue sama Adyan,satu sisi gue cinta dia tapi di sisi lain dia ga pedulian gue"Vani menunduk merasakan sesak di dadanya
"jangan di fikirin ya,kita selalu ada buat lu,dan bila perlu kita akan hajar adyan karena udah bikin lu nangis"ucap tyani mencoba menenangkan Vani
"jika sudah lelah maka berhentilah,sekuat apa pun kita mengejar,jika orang itu bukan untuk kita,maka kita bisa apa selain pasrahkan semua nya pada sang pencipta"Novy menjadi paling bijak,membuat tyani melongo mendengar kata kata bijak Novy
"astogehhhhhh,ga nyangka sahabat gue akhirnya otak nya majuuuu"teriak Tyani mencairka suasana,membuat Vani menjadi tertawa sedangkan Novy mendengus sebal
"udah yaa,jangan sedih lagi dan kalo ada masalah,cerita sama kita berdua,kita selalu ada ko"tyani tersenyum tulus
"sinyi sinyi peyukkk"ajak Novy dengan suara manja nan centil nya
mereka berpelukan seperti telle tubbis,seperti ini sahabat sesungguhnya ada saat di butuhkan dan tidak menghilang saat kesusahan,saling mendukung dan saling menguatkan
"tuhan, terimakasih engkau telah mengirimkan beribu ribu kebahagian dan orang orang yang masih peduli dengan ku,dibalik semua ini pasti ada sesuatu yang kau rencanakan"batin Vani
__ADS_1