
Kedua pria yang berbeda usia itu menikmati minumannya. Setelah minum, Nurmansyah menawarkan pria muda itu untuk memilih perempuan yang akan menemaninya sepanjang malam ini, dengan sopan pria muda tersebut menolak dan pamit. Zein menghilang dalam hiruk-piruk orang-orang yang bersenang-senang di tempat itu. Nurmansyah juga memutuskan pulang, pria tua itu butuh istrahat untuk memulai misinya.
Kesokan paginya, Aaron bangun lebih pagi karena ada pertemuan dengan Aziz di ruang kerjanya untuk membicarakan beberapa hal-hal penting terkait perkembangan masalah yang menghadapi mereka. Aaron memasuki ruang kerjanya dan sudah lengkap dengan pakaian kerjanya. sampai di dalam ruang kerjanya Aaron segera Mengirim pesan pada Bi Sitti agar diantarkan kopi untuk dirinya dan tamunya nanti. Bi Sitti langsung mengantarkan kopi bersamaan dengan kemunculan Aziz yang datang untuk menemui bosnya. Aziz mengekori kepala pelayan idalam diam tanpa mengajak kepala pelayan itu berbicara.
“Tok tok tok!” Aziz segera mengetuk pintu ruang kerja aaron, bi sitti berdiri dibelakang pria itu.
Pintu langsung terbuka, Aziz dan kepala pelayan langsung masuk ke dalam ruangan itu. Setelah menyajikan kopi di atas meja Bi sitti langsung meninggalkan tempat itu. Aziz yang masuk ke ruangan itu duduk dihadapan Aaron, dan menatap Aaron serius.
"Jadi apa yang akan kita bahas kali ini?" Aziz bertanya dengan sangat serius. Pria itu menggulung ujung kemejanya kemudian kembali memusatkan perhatiannya sama bosnya.
"Tentang perkembangan papa dan beberapa hal lainnya". Aaron menyesap kopinya, kemudian Aaron membungkukkan badannya berbisik pada Aziz.
__ADS_1
"Carissa di ikuti oleh seseorang? Bagaimana dengan bodyguard yang ditugaskan untuk mengawasi Carissa? Aku merasa kecolongan?" aaron berdecih tajam, Aziz berdehem menetralisir ketakutannya, pria itu lalu memberikan satu berkas untuk dibaca oleh bosnya itu.
" Orang itu mengawasi Carissa tanpa disadari oleh orang-orang kita, tidak begitu terbaca. Sepertinya ia sudah lebih berpengalaman bos," Aziz ikut menyesap kopi yang ada di depannya. Kening Aaron berkerut dengan tulisan-tulisan yang ada di diatas kertas yang diberikan Aziz.
"Jadi bukan hanya Sasha sekutu papa? Semakin perketat pengawasan pada Carissa dan perusahaan." Aziz mengangguk setuju, memang itu yang sedang dilakukan sekarang.
"Tuan, seseorang yang mengikuti nyonya Carissa bisa jadi juga mengikuti anda. Telepon Robin agar memeriksa ruang kerja anda, bisa jadi diruangan anda ada kamera pengintai dan mungkin dipasangi penyadap suara." Aaron mengangguk. Kembali menyesap kopinya.
"Yang harus anda tahu, bukan hanya anda yang membuat Tuan besar bangkrut, ada satu pihak lagi. Tetapi belum ada bukti sih, walaupun semua mengarah pada itu. Ada orang lain yang ikut membantu." Aaron meremas rambutnya, papanya pengusaha terkenal jadi bisa saja memiliki musuh yang mungkin memanfatkan perpecahan antara dirinya dan ayahnya. Momen yang tepat untuk menyerang Nurmansyah bukan?
"Cari tahu dan awasi jangan sampai keadaan ini dimanfaatkan oleh seseorang." Aziz mengangguk, Aaron larut kembali dalam pikirannya.
__ADS_1
"Sasha beberapa kali mencoba mencelakai Carissa , jadi apa yang harus aku lakukan menurut kamu?" Aaron mengetuk-ngetuk meja, pria itu sebenarnya tidak suka istrinya diperlakukan seperti itu.
" Biarkan saja dulu tuan, mengusir nona Sasha malah akan membuat tuan besar akan mengirimkan seseorang yang lebih berbahaya lagi." Aaron mengangguk setuju pria itu juga berdoa agar istrinya bisa mempertahankan dirinya sendiri. Setelah pembicaraan yang penting dan serius kedua pria itu ke meja makan, seperti biasa sarapan sebelum ke kantor. Di meja makan Aaron menghampiri kursi istrinya, agar sarapan bersama istrinya. Sasha dan Nadirah yang juga ikut sarapan hanya terdiam tanpa melakukan apapun. Mereka tidak berani melakukan hal-hal yang berbahaya, apalagi ada asisten yang juga tangan kanan kakaknya itu.
Selesai sarapan Aaron berdiri dari meja makan, pria itu tak lupa melakukan rutinitas sebelum ke kantor setiap paginya dengan mengecup kening istrinya, kemudian ke kantor. Setelah kepergian suaminya Carissa pun ikut meninggalkan meja makan. Agar paginya tidak dirusak oleh Sasha gadis jadi-jadian itu.
“ Eh, orang kampung! Mau kemana lo?” Carissa menyenggol sasha, benar saja sasha mengejar dirinya yang hendak naik ke kamar atas dan kembali menghalang-halangi jalanya.
“Mau kemana pun, itu bukan urusan lo” Carissa segera naik ke kamarnya. Sasha kembali berteriak dan mengatakan akan membalas semua perbuatan carisa di kemudian hari.
Sampai di kantor Aaron segera menemui Robin yang telah menunggunya. Mereka bertiga segera menggeledah ruang kerja Aaron. Tidak berapa lama Robin menemukan kamera pengintai yang terpasang di setiap sudut kamar di samping lukisan atau hiasan yang lainnya. Robin segera merusak kamera tersebut. Bahkan Aaronn menemukan penyadap suara yang terpasang di dekat meja kerjanya. Robin juga sampai menggunakan tangga untuk mengintip ke langit-langit, untunglah masih aman,tidak ada alat penyadap lagi. Aaron bersama Aziz kembali untuk membereskan kekacauan itu, keamanan kantor semakin diperketat. Di suatu ruangan rahasia di sebuah rumah mewah seorang pria tertawa, sangat cerdas pria itu menatap monitornya yang tidak lagi menampilkan apapun. Aaron ternyata lebih hebat, pantas saja Nurmansyah sampai harus menggunakan jasanya. Pria itu tersenyum, jika bukan karena perusahaan maka istrinya lah yang akan menjatuhkan Aaron. Pria itu memutar kursinya menatap pada monitor yang lain, layarnya menampilkan pria tua yang sendang mempresentasikan idenya di hadapan kliennya. Pria itu terlihat semakin membaik. Lumayanlah, sebentar lagi semuanya akan kembali menjadi puing-puing.
__ADS_1
Zein Menyeringai. Kemudian mengalihkan wajahnya pada monitor khusus, bibirnya langsung tersenyum lebar. Cinta tidak pernah salah, waktunya saja yang kurang tepat. Di layar monitor Carissa terlihat serius belajar kadang-kadang gadis itu sampai tersenyum jika dosennya yang memberikan perkuliahan mengucapkan hal yang lucu. Selama diruangan rahasianya hanya inilah tayangan yang membuatnya betah untuk duduk berjam-jam di depan monitor. Salahkan wajah cantik manis milik Carissa. Zein tersenyum, suamimu sangat beruntung bisik hatinya sambil menatap Carissa.
Sasha yang telah gagal beberapa kali untuk membuat Carissa pergi dari rumah Aaron menjadi gemas ingin segera memberikan Sasha pelajaran. Akhirnya gadis itu membaca artikel-artikel di handphonenya mencari hal-hal yang dapat menyebabkan perceraian yang akan digunakannya untuk menjauhkan Carissa dan Aaron. Setengah jam berselancar tidak ada hasil yang memuaskan. Gadis itu menghentak-hentakan kakinya kesal, Sasha menggali-gali kembali ingatannya, kalau tidak salah ingat dulu pamannya kecelakaan karena stress ditinggalkan istrinya. Sasha kembali sibuk dengan ponselnya untuk mencari lagi artikel-artikel yang akan membuatnya memiliki ide memisahkan Carissa dan Aaron, namun hasilnya masih nihil.