Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Penjelasan Paman Fani


__ADS_3

Hari ini Fani melamun gadis itu masih terngiang-ngiang dengan perkataan Aaron yang memintanya untuk menanyakan penjelasan hubungannya dan Aaron pada pamannya. Mengapa Aaron tidak berterus terang sendirian? Karena tidak punya jawaban Fani mengambil ponselnya. Gadis itu mengirimkan pesan pada pamannya jika dirinya akan ke Paris, Fani meminta pamannya agar tidak keluar-keluar. Setelah itu Fani segera menelpon Rega, dirinya perlu bantuan pria itu sekarang.


“Rega, tolongin gue dulu. Gue butuh bantuan lo sekarang. Ke apartemen gue langsung.” Fani tersenyum lega ketika Rega mengiyakan permintaannya. Gadis itu segera menyiapkan pakaian seadaanya karena dirinya tidak akan lama di Paris, dia hanya akan mendengar penjelasan dari pamannya.


Setelah menerima telepon dari Fani, Rega segera menelpon asistennya untuk menggantikan dirinya memimpin rapat siang ini. Fani membutuhkan dirinya sekarang, Rega tidak tahu apa yang akan diminta oleh gadis itu. Setelah semuanya beres Rega segera menyetir mobil menuju apartemen Fani. Rega tidak pernah bisa menolak gadis itu, Bahkan dirinya sebenarnya masih terluka dengan perlakuan gadis itu yang seenak jidatnya tidak mengabarinya sejak insiden yang terjadi di restorannya kemarin.


Rega segera memasukkan password apartemen Fani, pria itu mengernyit melihat Fani yang sudah rapi dengan kopernya. Kemana gadis ini akan pergi? Bukannya sekarang Fani sedang sibuk-sibuknyanya?


“Mau ke mana lo? Bukannya lo lagi sibuk ngurusin restoran lo sekarang?” Fani menggelengkan kepala.


“Ada deh, kepo amat. Tolong dong, bantu gue ke Paris sekarang ada hal yang penting yang gue mau urus." Rega mengangguk santai, tapi pria itu penasaran hal penting apa ya?


“Hal penting? Apaan?” Fani tersenyum cerah, kemudian menatap Rega dengan pandangan berbinar-binar.


“Mau minta penjelasan dari paman seperti yang dibilang Aaron kemarin. Biar aku tahu dan aku lega.” Rega mendengus, bukan hal yang penting menurutnya. Untuk apa juga Fani repot-repit dengan penjelasan itu? Penjelasan itu cuma akal-akalan Aaron doang. Fani polos banget sih, sampai percaya pada Aaron membatin kesal.


“Lo percaya begitu saja? Hello Fan, itu Cuma lasan yang dibuat-buat Aaron. Penjelasan hubungan kalian masa sama paman lo. Gak masuk akal, mau saja lo dibodohi fia.” Fani mendengus mendengar Rega yang mulai lagi suudzon pada Aaron.


“Lo itu selalu saja begitu sama Aaron, tapi kalia ini gue maafin karena gue tidak ingin ribut. Gue cuma butuh bantuan lo.” Rega meremas kepalanya. Sepertinya Fani mulai tidak nyaman.

__ADS_1


"Lupakan. Jadi gue bantu apaan?” Rega bertanya dengan tatapan pasrah pada Fani. Fani tersenyum.


“Lo bantu gue dengan naik jet pribadi lo. Biar makin cepat, makin clear masalahnya.” Rega mengangguk dan bantu menegangkan koper gadis itu. Semoga saja gue masih mampu bertahan dengan semua hal yang berpotensi untuk membuat gue gila setiap harinya ini. Rega akhirnya mengikuti Fani ke Paris.


Fani sampai di rumah lebih cepat dari biasanya, dan pamannya tidak berada di rumah itu. Paman, ngeselin banget sih, aku sudah bilang jika ini sangat penting. Rega sudah beristirahat di kamar yang lain, akhirnya Fani masuk juga ke kamar yang lainnya. Fani menunggu makan malam yang akan tiba dengan was-was. Saat makan malam pamannya baru sampai di rumah. Fani menyambutnya ogah-ogahan. Semuanya makan dalam diam, begitulah aturan yang berlaku di rumah ini. Setelah makan mereka berkumpul di ruang keluarga untuk berbicara satu sama lain.


"Bagaiamana nak Rega dengan perusahaan yang ada di Indonesia?" Rega tersenyum menatap Ismail.


"Lumayan stabil sih om, aku malah membuka restoran juga disana. Buka bisnis butik juga. Aku sedang menikmati semuanya sekarang." Ismil memgangguk-angguk dan keduanya larut dalam percakapan yang membuat Fani mengernyit. Kalau seperti ini aku kapan ngomongnya, Rega sengaja atau gimana? harusnya dia juga tahu jika aku ingin ngomong serius dengan pamannya malam ini .


"Paman, aku mau ngomong penting banget." Fani akhirnya memotong pembicaraan itu, dan ini bukan perbuatan yang patut untuk ditiru dan sangat tidak sopan. Fani menerima pelototan tajam dari pamannya dan Rega.


"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan?" Fani menelan ludah mendengar suara pamannya yang terdengar galak, gadis itu menarik napas pelan.


"Tentang aku dan Aaron, apa yang paman sembunyikan dari aku?" Fani mengamati Ismail yang terlihat sedikit terkejut, kemudian pria itu terdiam. Sedetik kemudian Ismail mengangkat bahu.


"Tidak ada yang paman sembunyikan kok, lagi pula ngapain kamu menanyakan hal itu. Toh Aaron sudah menikah, ada baiknya kamu mulai melupakan pria itu sekarang." Fani tercekat, what? jawaban ini tidak sesuai sama sekali dengan harapannya.


"Paman pikir gampang untuk melupakan orang yang kita sayang? Aku yakin Aaron tidak mungkin bohong karena dia sendiri yang bilang ke aku untuk menanyakan penjelasannya dari paman." Nafas Fani mulai berkejaran, gadis itu mulai tersulut emosi. Ismil tersenyum kecil menatap Fani.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa kok, dia sendiri yang mulai meninggalkan kamu. Kalau pun dia tidak meninggalkan kamu, paman tidak akan pernah merestui kalian." Ismail mengucapakan kalimatnya dengan tajam. Pria itu benar-benar tidak main-main. Masih terasa sakitnya hatinya karena penghinaan yang dirasakannya dari Nurmansyah.


"Fan, Fan. Coba buka mata kamu, siapa yang paling banyak berkorban untuk kamu? Siapa yang menjadikan kamu seperti ratu? Rega 'kan? Terus ngapain kamu mau peduli pada Aaron lagi? Kamu pikir Aaron lebih baik? Pikirkan itu baik-baik," setelah itu Ismail segera meninggalkan Fani di ruangan itu. Gadis itu mengepalkan tangannya dan berlari mengejar Ismail.


"Paman, tidak menjawab pertanyaaan aku. Tolong jawab aku! Jelaskan apa yang tidak aku ketahui?" Fani berteriak frustrasi. Ismail menghela napas dan berbalik menatap Fani.


"Paman tidak akan pernah merestui kalian itu yang tidak pernah kamu ketahui, jadi jangan pernah mengharapkan Aaron lagi." Ismail bersuara tegas. Fani tersenyum menantang.


"Aku tidak butuh restu dari paman, kalau paman mau tahu. Aku akan mendapatkan Aaron balik bagaiamana pun caranya." Fani bersuara tak kalah tegasnya, ini adalah keputusan final dari dirinya. Setelah itu gadis itu meninggalkan Ismail yang seperti tersetrum pria itu menjadi pucat. Ismail segera mencari Rega, dirinya perlu bicara dengan pria itu.


Rega yang masih kerja dikamarnya segera membukakan pintu dan mempersilahkan Ismail untuk masuk.tidak tahu apa yang akan di jicarakan oleh pria ini. Ismail menatap Rega dengan gelisah, tangan pria itu mulai gemetar.


“Nak Rega, Fani benar-benar keterlaluan. Dia akan merebut Aaron kembali, kamu tahu sendiri itu bukan hal yang baik.” Rega terdiam menyimak, pria itu mendengarkan dengan seksama.


“Lalu, itu bukan masalah serius kan?” Ismail menggelengkan kepala ragu-ragu menjawab pertanyaan Rega


“Kamu tahu sendiri, tidak akan semudah itu. Fani benar-benar akan melakukan hal itu, dan itu akan mengacaukan semua yang telah dicapainya selama ini.” Rega terdiam. Dirinya tidak tahu cara apa lagi untuk menyadarkan gadis keras kepala itu. Tapi akhirnya pria itu tersenyum dan berdiri menatap Ismail.


“Jangan terlalu dipikirkan om, lagi pula itu bukan hal serius. Fani Cuma belum mengerti saja. Aku akan berusaha membuat dia, agar bisa melupakan Aaron.” Rega menepuk pundak Ismail. Setidaknya ketegangan Ismail berkurang, pria itu menatap Rega dengan kagum. Rega memang pria yang baik dan sangat sayang untuk disia-siakan. Entah terbuat dari apa mata Fani sampai tidak mampu melihat ketulusan dari mata pria ini.

__ADS_1


__ADS_2