
Carissa bangun lebih pagi untuk menikmati menikmati matahari pagi dari balkon, udara disini sangat dingin. Saat kembali ke kamarnya Aaron masih tertidur nyenyak di atas ranjang. Carissa tersenyum jahil, gadis itu sengaja membuka tirai lebar-lebar sehingga sinar matahari memasuki kamarnya.
Aaron terlihat masuk ke dalam selimut, berlindung dari sinar matahari. Carissa terkekeh melihat kelakuan Aaron.
Carissa keluar dari kamarnya, gadis itu menuju dapur. Carissa memeriksa bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Carissa hanya membuat omelet, mereka tidak butuh makanan berat untuk pagi ini. Carissa memotong daging dan sayuran dengan cekatan.
Di kamarnya Aaron meraba ranjang disampingnya, kosong. Aaron membuka matanya, tirai sudah terbuka lebar cahaya matahari langsung mengenainya. Aaron bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Aaron akan menghabiskan waktunya seharian ini bersama istrinya. Pria itu akan bolos kerja khusus hari ini. Setelah berpakaian, Aaron turun ke lantai bawah. Pria itu disajikan pemandangan istrinya yang bergelut dengan masakan. Aaron tersenyum kecil menatap Carissa, pria itu segera memeluk Carissa dari belakang.
"Mas, jauh-jauh!" Carissa berusaha melepaskan diri dari pelukan aaron. Aaron malah tertawa dan kembali mempererat pelukannya. Aaron mengendus-endus leher Carissa. Bahkan pria itu mulai menggigit-gigitnya. Carissa memejamkan mata, kesadaran menghampirinya bisa berbahaya jika dibiarkan tindakan Aaron ini. Aaron bisa berbahaya di saat-saat seperti ini.
"Akhhhh!" Aaron menahan sakit yang ada di kakinya, sampai hati Carissa menginjak kakinya padahal niatnya hanya untuk manja-manja dengan istrinya.
"Mas ih, kan gosong!" Aaron menggaruk kepalanya melihat Carissa menyajikan omelet di piring.
Omelet itu setengah gosong, Aaron meringis melihatnya. Carissa memberikan Aaron omelet yang masih bagus, sedangkan Carissa makan omelet yang gosong itu. Aaron merasa sedikit bersalah karena dia yang punya andil besar sehingga omelet itu hangus. Dia mengganggu konsentrasi Carissa yang sedang memasak. Aaron duduk disamping Carissa. Aaron tidak bicara apapaun pria itu mulai menyuapkan omelet miliknya pada Carissa, Carissa menggeleng. Aaron semakin manis saja pikir carissa, ini akan berbahaya untuk Carissa.
"Mas, Carissa mau makan sendiri." Carissa menggeleng melihat Aaron yang masih berusaha menyuapinya. Aaron yang mendengar penolakan menatap Carissa tajam, agak menciut Carissa dibuatnya. Melihat tatapan Aaron yang masih tajam Carissa akhirnya membuka mulutnya, membiarkan Aaron menyuapnya. Aaron sangat telaten menyuapkan omelet pada Carissa. Carissa ikut menyuapi suaminya itu, biar tidak menganggur pikirnya. Aaron tersenyum melihat Carissa yang menyuapinya, Aaron sengaja menjilati jari-jari tangan Carissa. Merinding Carissa dibuatnya.
"Mas, yang gosong biar Carissa saja yang makan." Carissa menggelengkan kepala melihat Aaron yang membuka mulut.
"Sayang biarkan mas makan atau buang saja masakan kamu ini!" Carissa menggeleng protes. Aaron tidak sepenuhnya peduli sebenarnya, toh dia bisa memesan makanan yang lebih enak daripada omelet.
"Mas, sayang loh kalau dibuang" Carissa mengalah dan kembali menyuapi Aaron, Aaron tersenyum senang kemudian kembali makan seperti biasa.
Setelah omelet habis Aaron tidak segera pergi. Pria itu malah membawa Carissa diatas pangkuannya. Carissa menatap Aaron terkejut. Aaron mengelus-elus rambut Carissa kemudian menatap wajah istrinya dengan lembut. Carissa terkunci pada tatapan Aaron. Mata yang hitam legam itu menenggelamkan Carissa. Setelah beberapa detik bertatapan Aaron mendaratkan ciumannya pada bibir Carissa. Carissa kaku, gadis itu tidak membalas ciuman Aaron.
Aaron menghentikan ciumannya kemudian memfokuskan pandangannya pada Carissa.
"Sayang, balas ciumam mas!" Carissa mengangguk, seluruh wajah gadis itu memerah.
Aaron kembali menciumi istrinya, dan Carissa membalasnya. Aaron mengeratkan pelukannya pada carissa. Setelah ciumannya selesai Aaron menjilati bibir istrinya. Carissa merasa malu untuk menatap wajah Aaron, Carissa menyembunyikan mukanya di dada Aaron. Aaron tersenyum kemudian mendaratkan kecupan-kecupan gemas pada kepala istrinya. Beberapa saat kemudian Aaron menggendong Carissa.
"Mas, mau kemana?" Carissa meminta diturunkan dari gendongan Aaron.
__ADS_1
"Keluar, jalan-jalan di sekitar sini." Aaron memegang tangan Carissa. Carissa memandang takjub, ternyata villa ini berada di sebuah pedesaan yang masih alami masih banyak pohon-pohon hijau. Carissa menghirup udara, sangat segar pikirnya.
"Suka?" Aaron beberapa kali menyelipkan rambut-rambut kecil yang menghalangi wajah Carissa. Carissa mengangguk antusias.
"Mas, ini villa milik siapa sampai bahan makanannya lengkap dalam kulkas?" Aaron tersenyum kemudian duduk di bangku yang ada di bawah pohon.
"Milik mas dong! Mas sering kok datang kesini, jadi mas menyuruh Mbak Surti yang mengisi bahan makanan itu." Carissa mengangguk, gadis itu ikut duduk disamping suaminya.
"Mas, disini tidak ada kan gebetan mas?" Mata Carissa menyipit pada suaminya, Aaron tertawa kemudian mencolek dagu istrinya.
"Kenapa Huem? Cemburu?" Carissa menggeleng, sekedar bertanya saja. Karena Carissa menangkap banyak gadis-gadis cantik yang memerhatikan Aaron.
" Tidak keren amat mau cemburu." Carissa sedikit menjauh dari Aaron.
"Mas keluar villa hanya sama kamu. Kalau sendiri mas jalan-jalan di halaman villa saja." Carissa menggut-manggut saja mendengar penuturan Aaron.
"Mas, Carissa boleh tidak keliling desa ini sendirian?" Aaron menggeleng tegas, dia kesini mau menghabiskan waktu bersama Carissa masa dirinya akan ditinggal sendirian?
"Tidak sayang, kamu boleh jalan kalau bersama mas saja!" bibir Carissa cemberut, tapi gadis itu tidak berani protes melihat wajah Aaron yang tidak bisa diajak berkompromi.
Aaron mengikuti saja langkah istrinya, ternyata sangat menyenangkan berjalan di bawah pohon- pohon bersama Carissa. Aaron melupakan semua masalah yang menimpanya.
Aaron mengeratkan pelukannya saat merasakan anak muda yang melewati mereka menatap kagum pada Carissa. Carissa merasa kikuk dipeluk-peluk ditempat umum seperti ini. Saat sampai di vila keduanya di sambut oleh seorang pria yang berumur sekitar limah puluh tahun.
"Silahkan tuan, Bik Surti sudah menyiapkan makan siang anda." Aaron tersenyum kemudian menarik Carissa ke sebuah gazebo. Gazebo itu sudah dipenuhi oleh banyak makanan. Seketika cacing-cacing di perut Carissa meronta-ronta.
"Mas, Carissa lapar." Carissa menatap Aaron manja, Aaron yang gemas mencium sudut bibir istrinya.
"Cepat naik, kalau mau makan sayang!" Carissa mengangguk dan ikut naik.
Gadis itu mengambil tempat yang jauh dari suaminya, biar makannya dinikmati. Apalagi suaminya suka sekali mencari kesempatan pada dirinya. Carissa juga mengesalkan dirinya sendiri yang gampang terbuai oleh semua yang dilakukan Aaron.
Aaron mengerutkan kening melihat Carissa yang menjauh darinya. Bahkan ketika dirinya mendekat Carissa segera menjauh.
__ADS_1
"Kok mas dijauhin?" Carissa menggeleng, gadis itu fokus mengambil makan untuk dirinya.
"Perasaan mas saja kok, hehehe." Carissa tertawa menampakkan gigi cantiknya. Aaron sedikit kesal, segera duduk disamping Carissa. Kicep Carissa jadinya.
"Iya benar, cuma perasaan mas saja, heheheh." Tawa Aaron terdengar dibuat-buat ditelinga Carissa. Carissa merasa suaminya ini sangat kesal padanya. Carissa menghela napasnya, harusnya dia bersyukur Aaron sudah sangat baik memperlakukan dirinya selama ini, kecuali kenakalan-kenakalannya itu poin tersendiri. Bahkan pria itu juga melindunginya dari Sasha dan Nurmansyah.
Carissa merapatkan duduknya di dekat Aaron, Aaron mengangkat Alisnya.
"Mas mau makan apa, Carissa ambilkan?" Aaron mengangkat bahu, pria itu menunjuk semua makanan yang ada di atas meja. Carissa membulatkan matanya, yang benar saja suaminya ini.
"Yakin mas?" Aaron mengangguk. Carissa mengambilkan semua makanan yang ditunjuk suaminya. Aaron hanya melihat-lihat istrinya. Ketika Carissa akan menyuapkannya Aaron menggeleng.
"Mas sudah tidak selera, mas mau makan makanan kamu saja, hehehehe." Aaron tertawa tanpa dosa, Carissa geram. Carissa memegang sendok dan garpunya dengan kuat. Wajah Carissa memerah, dengan kesal Carissa menatap Aaron lewat sudut matanya. Carissa menyuapkan suaminya dalam diam, gadis itu masih menahan kemarahan yang berada di ubun-ubunnya. Aaron tersenyum gembira, istrinya terlihat lebih cantik sekarang ini, apalagi wajahnya yang memerah.
"Pakai tangan saja, mas mau makan dari tangan Carissa." Carissa menjeling ke arah suaminya. Gadis itu menghela napas mengumpulkan kesabaran. Carissa menyuapi Aaron dengan sabar ada-ada saja ulah suaminya. Aaron menjilat-jilat tangan Carissa kemudian mengigit tangan Carissa. Carissa menatap Aaron tajam, Aaron hanya tersenyum polos. Usai menyuapi aaron, Carissa makan. Aaron menunggui istrinya makan, pria itu menyodorkan air minum.
"Makasih mas." Aaron mengangguk kemudian memeluk Carissa
"Sayang, mas gak suka dijauhin!" Carissa mengangguk, sepertinya suaminya berkecil hati karena tindakannya tadi.
Aaron mengecup kepala istrinya, akhir-akhir ini memang dia sangat susah untuk mengontrol dirinya terkait Carissa. Setelah beberapa saat terdiam Carissa melangkah ke kolam, gadis itu memainkan kakinya dalam air. Aaron hanya melihat-lihat kegiatan istrinya sebelum akhirnya berjalan mendekati istrinya.
"Ih, mas jauh-jauh dari sini, Carissa mau berenang." Carissa menjauh dari Aaron. Aaron tersenyum, pria itu tidak peduli dengan larangan Carissa.
Melepaskan pakaian dan boxernya pria itu berenang di depan Carissa. Carissa cemberut, apalagi melihat suaminya yang berenang dengan banyak gaya. Carissa memalingkan muka melihat Aaron yang hanya mengenakan celana dalam didepannya. Aaron menarik istrinya, dan membawanya ke dalam air. Aaron tertawa terbahak-bahak ketika Carissa berusaha menjauh darinya.
"Mas, jangan lihat-lihat!" Carissa menutup dadanya dengan tangan, karena bajunya menjadi transparan saat berada dalam air. Dalamannya tercetak dengan sangat jelas. Aaron kembali terkekeh dan segera menarik Carissa dalam pelukannya.
"Mas gak lihat kok, mas cuma ngintip-ngintip sayang". Bisik Aaron sambil tertawa nakal, tangan pria itu tidak diam seperti biasa. Carissa berdebar merasakan tangan suaminya yang bergerilya dalam bajunya.
"Mas, Carissa belum siap!" Carissa menggigit bibirnya, suaminya itu mulai nakal sekarang. Aaron tersenyum, pria itu merapatkan tubuhnya pada istrinya. Aaron berbisik di telinga carisaa dan memberikan sedikit gigitan.
"Mas tunggu kamu siap, mas masih bisa bersabar." Carissa tersenyum lega mendengar perkataan Aaron.
__ADS_1
"Makasih mas." Carissa mengembangkan senyumannya, Aaron kembali tergoda dengan senyuman di bibir istrinya itu.
Aaron meraih tengkuk istrinya dan memberikan ciuman, bibir istrinya ini selalu menggairahkan untuknya. Carissa terbelalak, kemudian memejamkan matanya menikmati ciuman dari suaminya. Aaron tersenyum membawa istrinya ke pinggir kolam kemudian kembali melanjutkan ciumannya. Tuhan saja yang tahu jantung Carissa berdebar-debar kencang dengan semua sentuhan yang diberikan suaminya.