Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Pertemuan


__ADS_3

Seperti notifikasi yang diterimanya kemarin, Carissa akan menemui seseorang yang akan membantunya. Carissa mengenakan pakaian santai seperti biasa untuk pergi ke hotel Victoria. Carissa langsung menuju kamar yang sudah ditetapkan sebelumnya.


Banyak pengawal yang sudah berjaga disana, Carissa segera diarahkan oleh salah seorang pengawal untuk langsung masuk ke dalam kamar.


Mata Carissa terbelalak ketika melihat ada Arlan di kamar itu. Carissa segera berlari dan memeluk temannya itu, ia merindukan pria ini.


"Gue kangen banget sama lo," Arlan tertawa dan mengacak-acak rambut Carissa.


"Gue juga kangen kok," Carissa mencibir mendengar pengakuan Arlan.


"Kangen apaan, orang lo yang melarang gue menghubungi lo." Arlan tertawa, dan duduk di kursi yang sudah tersedia dikamar itu.


Kamar ini dibuat seperti ruangan meeting di dalamnya. Carissa yang asyik dengan Arlan mengabaikan seseorang yang juga sudah lama duduk di kursi yang disitu. Pria setengah baya itu berdehem yang menarik perhatian Carissa. Carissa tertegun melihat pria itu. Pria itu orang yang sama dengan yang memberikan Carissa nomor telepon di pemakaman kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu. Carissa segera menghampiri pria itu dan salaman dengannya.


"Kok, lo kenal dengan om ini sih Ar?" Arlan tertawa, dan ikut duduk bersama pria itu.


"Bagaimana tidak kenal, dia adiknya papa aku." Carissa mengerutkan alis, bingung. Sepengetahuan Carissa Aaron tidak memiliki paman, pria itu juga tidak pernah cerita padanya sebelum-sebelumnya.


"Terus kaitannya dengan gue apaan?" Carissa menatap Arlan yang menggaruk kepalanya mendengar pertanyaan Carissa.


"Lo minum dulu, sabar dikit neng. Biar paman Mikhael saja yang jelasin." Carissa menatap orang yang disebut paman Mikhael oleh Arlan dengan mengernyit.


"Kamu tahukan kenapa kamu harus ketemu om?" Tanya Mikhael, Carissa mengangguk.


"Sebenarnya, sejak dulu kamu sudah berada dalam bahaya. Beruntungnya, kamu segera pindah dari tempat yang lama. Sehingga kamu tidak menarik perhatian untuk dibunuh." Carissa pucat dan mulai berkeringat mendengar kalimat dibunuh. Ia merasa ngeri jika dirinya benar-benar akan dibunuh. Mikhael menatap Carissa hati-hati.


"Syarat dari wasiat dan warisan orang tua kamu yang membuat kamu harus diincar kembali oleh musuh ayah kamu." Carissa menghela napas mendengarnya.


"Om jangan bercanda? Orang tua aku itu meninggalkan kebangkrutan, tidak ada wasiat atau apapun." Carissa menjadi shock, kalau ada warisan ngapain sih dirinya sampai terjebak dan Nurmansyah bahkan harus menikah dengan Aaron. Syukur Aaron orangnya baik, coba kalau Aaron jahat Carissa merinding tidak dapat membayangkan bagaimana nasibnya.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu karena pamanmu yang mengambil alih semuanya, Lou menutup semua kebenarannya dari kamu. Kamu juga tidak tahu kan kalau pamanmu yang melakukan pembunuhan itu?" Carissa yang mendengar perkataan Jordi tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Pamannya yang hidup susah, paman yang baik padanya, dan sekarang paman Mikhael menyebutnya pembunuh. Kejutan macam apa ini?


"Om jangan ngaco deh! paman yang selalu baik sama aku setelah mama dan papa meninggal bahkan sampai papa dan mama meninggal. Om jangan Fitnah paman Lou deh!" Jordi tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Carissa yang sepertinya tidak percaya padanya.


"Kamu terlalu naif Carissa, apa kamu tidak pernah berpikir kemana larinya harta orang tuamu? Apa kamu tidak pernah tahu kalau papamu memiliki aset milyaran rupiah? Apa kamu sudah mencari tahu semuanya?"


Carissa melotot, Carissa refleks menampar pipinya. Sakit! pipinya terasa sakit, berarti ini bukan mimpi. Papanya memiliki aset miliyaran rupiah? Carissa baru tahu sekarang.


"Papa tidak pernah cerita om, apa itu benar aset papa?" Mikhael mengangguk mantap.


"Iya itu benar, dan wasiat papamu aset itu akan cair jika kamu sudah menikah dan harus ada tanda tangan kamu dan suami kamu. Papamu memikirkan ini sangat matang, mungkin karena beliau curiga ada yang mengincarnya." Carissa diam, apa itu alasan papa yang menjadi tidak lagi akrab dengan pamannya dulu?


"Apa kecelakaan papa juga kesengajaan? Lalu bagaimana dengan pengacara papa yang juga meninggal di hari yang sama dengan papa dan mama?" Arlan menatap Carissa dan paman Mikhael. Mikhael mengangguk, mengizinkan Arlan untuk berbicara.


"Rissa, itu memang kesengajaan dengan paman lo yang merancang pembunuhan mereka berdua. Kita sekarang sedang mencari bukti yang kuat dan menyelidiki semua hal-hal ganjil yang mencurigakan." Carissa meletakkan kedua tangan ke dagunya.


"Sehari sebelum pembunuhan itu dokumennya sudah dipindah tangankan ke paman, jadi dokumennya dan semua surat-surat penting itu aman. Walaupun nyawa Abang om tidak selamat" Mikhael menghembuskan napasnya kasar.


"Jadi lo anak pengacara itu?" Arlan mengangguk.


"Ini rahasia, cuma lo dan Dewi yang tahu kebenarannya." Carissa mengangukan kepala.


"Gue didatangin lagi sama anak buah paman lo, itulah alasan kenapa aku menyuruh lo jaga jarak dengan gue!" Arlan takut Carissa akan mudah untuk dicelakai jika dekat dengannya.


" Maaf, keluarga gue sudah jadi beban untuk kalian." Carissa merasa bersalah, karena semua kejadian yang menimpa keluarga Arlan.


"Bukan salah lo, paman lo saja yang jahat." Arlan menjawab dengan lirih.


"Kalau gue serahin dengan suka rela harta itu, apa kita semua akan aman?" Carissa tersenyum cerah memikirkan itu.

__ADS_1


"Lo yakin? Harta itu bisa jaminan seumur hidup lo, masa lo mau serahin?" Carissa menatap Arlan tenang.


"Kalau tanpa harta itu kita bisa baik-baik saja, kenapa tidak sih?" Arlan menggeleng tidak sependapat.


"Lou itu serakah, tidak ada jaminan setelah harta itu menjadi miliknya kita baik-baik saja kan? Lagian kalau papa kamu mempertahankan harta itu mati-matian. Itu artinya papa kamu tidak mau harta itu jatuh ke tangan yang salah. Kalau bisa, jangan cairkan aset itu untuk mereka." Carissa diam, mencerna semua ini kenyataan yang baru diketahuinya sekarang.


"Menurut om, Aaron tahu hal ini?" Mikhael menatap Carissa dengan tenang.


"Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Kamu hati-hati saja, Lou itu sangat licik. Kalau ada apapun tentang Lou kamu hubungi om dan Arlan. Hal kecil apapun!" Carissa mengangguk, dan mengambil minumannya.


"Om, kita aman disini? Takutnya ada oknum tidak bertanggung jawab yang menyalah gunakan pertemuan kita!" Mikhael tersenyum.


"Semua aman, sekarang sudah jelas. Kamu sudah boleh pulang kok. Kamu pulang duluan saja!" Carissa mengangguk dan keluar dari kamar itu. Carissa mengamati sekitarnya benar-benar sepi, semoga semuanya berjalan baik-baik saja.


Carissa menelan ludahnya melihat Aaron juga berada di lobi hotel ini. Carissa pura-pura sibuk dengan handphonenya. Aaron yang mengenal gerak-gerik perempuan di depannya segera menghampirinya.


"Mas, lepas ih!" Carissa mengedarkan pandangan banyak mata disekitar lobi yang melihat kearah mereka.


"Jadi kamu sengaja, pura-pura tidak melihat mas?" Carissa menggaruk tengkuknya, kemudian tertawa canggung.


"Carissa tidak mau mengganggu pekerjaan mas, soalnya." Aaron terlihat berpikir, dan pandangannya berubah menyelidik pada Carissa.


"Terus tadi habis ngapain di dalam?" Carissa menggaruk kepalanya, nanti di rumah dia akan cerita pada suaminya itu.


"Gak ngapa-ngapain kok, pulang yuk!" Aaron hanya diam memerhatikan gelagat istrinya.


"Mas masih ada urusan di kantor, kamu ikut mas saja ya!" Carissa mengangguk saja, daripada harus menjelaskan banyak hal ditempat ini pada Aaron. Aaron melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Carissa erat meninggalkan lobi hotel.


********

__ADS_1


__ADS_2