
Dalam mobil Aziz dan Nadirah sama-sama terdiam. Hanya suara radio yang terdengar memecah keheningan
"Kamu mau makan dimana?" Nadirah mengernyit kemudian menatap Aziz.
"Terserah Abang saja, Nadirah mengikut." Aziz mengangguk. Pria itu berhenti di warteg kecil.
"Lumayan ramai ya bang," Aziz mengangguk. Banyak pasangan muda-mudi yang datang ditempat ini.
"Kamu cari tempat duduk, biar Abang yang pesan." Nadirah mengangguk dan segera mencari tempat duduk yang kosong.
Tak lama kemudian Aziz datang dan duduk bersama Nadirah. Nadirah memusatkan perhatiannya pada orang-orang yang makan di tempat ini.
"Ngapain sih kamu perhatiin orang yang lalu lalang?" Nadirah tersenyum menatap Aziz yang terlihat heran.
"Senang saja aku merhatiin orang." Aziz mengangguk. Tak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan pesanan mereka, Nadirah dan Aziz makan dalam diam.
"Sayang, kamu kok tidak bilang-bilang kalau mau kemari." Nadirah terbatuk-batuk, gadis itu meraih minumannya kemudian menatap Ben yang tanpa dosanya malah ikut duduk di meja mereka.
"Kamu, apaan sih pakai sayang-sayangan? Kita sudah tidak punya hubungan apapun kalau kamu lupa." Ben tidak peduli, pria itu malah merangkul Nadirah. Nadirah menyikutnya agar Ben melepaskan pelukannya.
"Sayang, aku kan sudah minta maaf. Kamu jangan lama-lama dong marahnya." Nadirah memutar matanya. Aziz juga tidak peduli malah asyik dengan makanannya.
"Jangan drama deh Ben, aku benar serius untuk putus." Ben tetap tersenyum manis dan menatap Nadirah lembut. Tidak peduli oleh penolakan yang diberikan Nadirah.
"Aku antarin kamu pulang ya," Nadirah menggeleng.
"Kamu kenapa sih, aneh banget." Tiba-tiba Nadirah melihat Seshil berjalan ke arah mereka. Nadirah mengernyitkan alis, ada apa dengan Ben dan Seshil?
"Sayang, kamu tidak lucu. Aku tahu kamu belum bisa melupakan aku." Nadirah terbelalak ketika Seshil mengucapkan itu pada Ben. Apalagi Seshil mengucapkannya dengan suara yang dibuat-buat manja, rasa mau muntah Nadirah.
"Aku serius sayang, aku sudah lupa sama kamu. Kamu lihat kan sekarang aku sedang bersama kekasihku." Seshil tertawa, dan menatap remeh pada Ben.
"Kamu jangan bercanda. Mbak ini sedang dengan pasangannya." Seshil menunjuk Aziz yang asyik makan. Ben terbelalak, dirinya tidak memerhatikan jika ada orang yang bersama Nadirah.
"Aku serius kok sayang, ini abangnya kekasih aku. Kamu pulang deh, kalau tidak aku laporin ke suami kamu." Seshil mendengus, tapi akhirnya Seshil pergi dari situ. Seshil takut kalau Ben benar-benar akan melaporkannya pada Nurmansyah.
"Lo ngapain masih disini? sana pergi!" Ben memelas menatap Nadirah. Malu dilihat banyak orang ketika Nadirah menyuruhnya pergi.
"Gue serius, gue tidak akan mempertimbangkan lo lagi. Jadi silahkan lo pergi." Ben akur, pria itu pergi dari meja Nadirah. Apalagi tatapan orang yang bersama Nadirah juga sangat tajam untuk dirinya.
"Itu mantan kamu, kan? Nadirah mengangguk.
"Terus cewek itu siapa?" Nadirah mengangkat bahu. Malas mau menceritakan siapa Seshil sudah tidak penting untuk diingat.
__ADS_1
"Kok mirip istri tuan besar ya?" Nadirah tersenyum, dan menatap mengintimidasi pada Aziz.
"Jadi papa sudah menikah?" Aziz gelagapan dan mengangguk kikuk. Nadirah tersenyum dia sebenarnya sudah tahu kebenarannya.
"Lupakan saja, itu tidak penting!" Aziz mengangguk.
Selesai makan Nadirah langsung ke mobil , Aziz yang membayar makanan. Nadirah terbelalak ketika menyadari mengenal gadis yang barusan melewatinya. Untuk memastikan prasangkanya, Nadirah berlari mengejar gadis yang terlihat semakin menjauh itu. Nadirah menggelengkan kepalanya, tapi aroma dan posturnya sama. Nadirah tidak mungkin Nadirah kembali ke parkiran, gadis itu menelan ludah melihat Aziz yang sudah menatapnya tajam.
"Darimana kamu?" Tanya Aziz, Nadirah menatap Aziz takut.
"Aku dari sana bang aku melihat seseorang yang mirip dengan mbak Fani. Akan tetapi mungkin aku hanya salah lihat bang." Jawab Nadirah.
"Semoga kamu betul, itu hanya salah lihat karena sekarang Aaron sudah memiliki istri." Azis tahu fani adalah seseorang yang spesial buat Aaron di masa lalu.
"Ya sudah, silahkan masuk mobil sekarang kita pulang." Nadira menurut, gadis itu melangkah mengekori Aziz.
Dalam mobil suasana sangat hening keduanya tidak mengatakan apapun lagi.
Nadirah tidak mengetahui dengan sikap Ben yang seperti tadi, pasti ada sesuatu yang tidak diketahuinya.
Di kamarnya Aaron benar-benar mendiamkan Carissa. carissa juga diam karena gadis itu tidak tahu bagaimana caranya untuk mengembalikan mood pria itu.
Carissa akhirnya berbaring di ranjang, Aaron masih berada di ruang kerjanya. Nadirah sampai di rumah segera masuk ke kamarnya begitu pula dengan Aziz. Di kamarnya Carissa tidak dapat melelapkan matanya, sampai pagi Carissa terjaga, Aaron tidak kembali sama sekali.
Pria itu mengambil makanan sendiri, Nadirah yang ada di meja makan menatap mereka berdua dengan penasaran. Tidak biasanya abang dan iparnya bertingkah seperti ini. Ini yang pertama kalinya. Aziz yang juga berada di meja makan mengerutkan alis melihat Aaron yang menepis tangan Carissa. Nadirah dan Aziz tidak ikut campur mereka menyibukan diri dengan makanan yang ada di hadapan mereka. Selesai sarapan Aaron langsung pergi tanpa mengulurkan tangannya untuk disalam oleh Carissa. Nadirah yang melihat semakin yakin jika ada yang tidak beres pada Carissa dan Aaron.
"Mbak lagi bertengkar ya?" Carissa menggelengkan kepalanya menatap Nadirah lembut.
"Tidak bertengkar sih, mbak bingung gimana mau minta maaf bang Aaron lagi marah sama mbak." Nadirah mengangguk paham.
"Mbak coba saja dengan membuatkan makan malam untuk membujuk bang Aaron." Carissa mengangguk, boleh juga dicoba.
"Kenapa bukan makan siang saja? Kan bisa aku samperin ke kantor." Nadirah menggeleng.
"Sepertinya siang ini tidak bisa mbak, kata Aziz mereka ada urusan ke luar kota." Carissa menyipit menatap nadirah.
"Sejak kapan kamu dekat dengan Aziz?"
Nadira tersenyum kaku.
"Belum lama kok, mbak. Ternyata Aziz itu tidak terlalu menyebalkan seperti biasanya." Carissa mengangguk.
"Tapi yakin kamu, malam mereka pulang? Bukannya kalau keluar kota itu biasanya lama?" Nadirah mengangguk, hatinya membenarkan ucapan Carissa.
__ADS_1
"Kalau mbak, tidak yakin aku nanti konfirmasi ke bang Aziz biar kita ada kejelasan." Carissa mengangguk.
"Makasih ya, Nad." Nadirah mengangguk dan mengucapkan sama-sama. Setelah itu Nadirah kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke kampus. Carissa juga naik kelantai atas, untuk bersiap pergi membeli bahan-bahan makanan yang akan digunakannya untuk memasak makan malam.
Sepanjang perjalanan Aaron terdiam, Aziz membiarkan saja pria itu. Aaron terlihat menerawang, kemudian menatap Aziz.
"Menurut lo, carissa gimana orangnya?" Aziz tersenyum mendengar pertanyaan Aaron.
" Dia baik, ramah dan cantik." Aaron mengangguk.
"Menurut lo, salah tidak kalau aku ngambek sama dia?" Azis mengerutkan dahinya menatap Aaron.
"Tidak salah, tapi jangan lama-lama. Kasihan nyonya Carissa, Tuan." Aaron mengangguk.
Sampai di tempat tujuan Aaron benar-benar fokus pada meetingnya, Aaron tidak istirahat dan langsung meninjau lokasi yang akan dijadikan pabrik agar cepat pulang ke rumahnya. Aaron menyuruh Aziz pulang duluan, Aaron harus ke kantor untuk mengambil satu berkas yang penting.
Setelah menemukan berkas yang dicarinya Aaron segera bergegas untuk pulang. Keluar dari gedung kantornya Aaron memicingkan mata, itu seperti Fani. Aaron ingat betul, ia tidak mungkin salah lihat sekarang itu benar-benar Fani. Aaron segera mengejar gadis itu, setelah dekat Aaron memegang pundak gadis itu. Gadis itu berbalik merasakan ada yang menyentuh pundaknya.
"Ada apa?" Sama seperti Aaron, gadis itu diam dan memandang Aaron tak berkedip untuk beberapa saat.
"A..aar....Aaron, ini benaran Aaron kan?" Aaron mengangguk, Fani langsung mendekat dan memeluk Aaron dengan erat.
"Aku tidak menyangka kita akan ketemu lagi, aku kira kita benar-benar akan berpisah untuk selamanya." Aaron tersenyum kemudian mengacak-acak rambut gadis ini. Gadis yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun yang lalu.
"Aku juga tidak menyangka." Aaron tersenyum menatap Fani. Fani menatap Aaron penuh kerinduan. Aaron segera mengajak gadis itu untuk mencari restoran sekaligus untuk makan malam. Fani dan Aaron saling bertukar cerita tentang hal-hal yang telah terjadi di kehidupan mereka. Keasyikan mengobrol keduanya sampai lupa jika malam semakin larut.
Carissa yang sejak tadi menunggu Aaron akhirnya menyerah. Gadis itu mengajak Nadirah dan Aziz untuk makan duluan. Nadirah menatap Carissa tidak enak hati, Nadirah tahu jika iparnya mempersiapkan makan malam ini sejak pagi. Bahkan Carissa pergi membeli langsung bahan-bahan yang dibutuhkannya. Aziz makan dengan lahap dan tidak peka dengan Carissa yang terlihat gelisah. Nadirah menginjak kaki pria itu yang membuat Aziz meringis, dan menatap Nadirah tajam. Nadirah tersenyum kaku, dan menghabiskan makanannya.
Carissa makan dengan pelan dan tanpa menghabiskan makanannya, Carissa berdiri menyudahi makanannya. Carissa pamit pada Nadirah dan Aziz untuk masuk ke kamar lebih dulu. Setelah kepergian Carissa, Nadirah celingak-celinguk dan menggeser kursinya mendekati Aaron.
"Bang, bang Aaron sebenarnya kemana sih?" Aziz mengangkat bahu.
"Tadi katanya mau ambil berkas penting di kantor." Nadirah mengerutkan alis.
"Kok lama, abang tidak bohong 'kan?" Aziz menggeleng.
"Abang serius, tumben kamu tanyakan Abangmu. Memang ada apa?" Nadirah kesal dengan Aziz yang tidak peka dengan situasi ini.
" Bang Aziz lelet banget sih. Karena malam ini mbak Carissa memasak semua ini untuk bang Aaron." Aziz terkesiap.
"Mungkin bos ada pekerjaan, jadi telat pulang." Kemudian keduanya kembali sibuk dengan makanannya.
Aaron pulang setelah mengantar Fani, sampai dirumahnya keadaan sudah sunyi. Mengingat perang dinginnya dengan Carissa, Aaron berbelok menuju ruang kerjanya.
__ADS_1