Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Deja Vu


__ADS_3

Dejavu


Pagi ini Carissa bergerak dengan penuh semangat, Carissa akan mengikuti ujian di kampus jadi gadis itu sengaja membuat dirinya bersemangat agar bisa menyelesaikan soal-soal ujiannya dengan mudah. Rumah dalam keadaan sepi, suaminya berangkat lebih pagi, begitu pula dengan adik iparnya dan Sasha. Hanya para pelayan yang berlalu lalang dalam rumah ini.


Carissa yang sudah siap diantar oleh sopir mulai hari ini, ini perintah langsung dari Aaron. Pria itu mengharamkan Carissa untuk naik grab karena menurutnya keadaan sekarang semakin berbahaya, dan Carissa harus berhati-hati. Sampai di depan kampus Carissa segera turun, gadis itu berjalan pelan-pelan menuju gerbang kampus.


Tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang di depan Carissa dan dari arah yang berlawanan sebuah mobil juga melaju tak kalah kencangnya. Carissa menantap kedua kendaraan yang berlawanan arah itu dengan perasaan takut, gadis itu mulai mengigil.


"BRAKKK"


"AKHHHH"


Ketakutan Carissa terbukti, tanpa dapat dihindari tabrakan terjadi. Jantung Carissa berdegup kencang, Carissa mematung ditempatnya, gadis itu tidak bergerak sama sekali. Carissa yang mematung ditempatnya merasa pusing dan mual ketika melihat para pengandara yang berlumuran darah. Carissa semakin menggigil, keadaan ini sama dengan yang dialami oleh kedua orang tuanya. Tubuh mereka berlumuran darah, wajah mereka nyaris tak lagi dikenali. Carissa jatuh lemas dipinggir jalan, padahal polisi sudah mengamankan korban akibat dari tabrakan sejak beberapa menit yang lalu.


Arlan yang melintas di sekitar situ, menghampiri Carissa dan pria itu refleks memegang tangan Carissa, tangan Carissa sangat dingin dan badannya sedikit gemetar, badan Carissa mengeluarkan banyak keringat. Carissa masih lagi menggigil dan matanya menatap jalan raya. Gadis itu tidak merespon perlakuan Arlan.


"Hei, hei ini gue Arlan!" Arlan menepuk pundak gadis itu, Carissa hanya memandang Arlan dengan kosong.


"Gue jadi ingat kecelakaan papa dan mama, gue jadi takut!" Carissa bersuara lirih, gadis itu menghela napas dan berusaha menata pikirannya kemudian berdiri dan berpegangan pada


Arlan.

__ADS_1


"Gak perlu takut, banyak kok yang sayang sama kamu. Banyak juga yang lindungi kamu." Arlan memeluk gadis itu, biar gadis itu tidak khawatir lagi.


Arlan memberikan air mineral dari dalam tasnya. Carissa menerimanya dan meminumnya dengan rakus. Beberapa menit telah berlalu Carissa merasa tenang, Carissa melanjutkan langkahnya untuk ke kelas. Sampai di kelas ujian sudah selesai, Carissa segera ke ruang dosennya guna menghadap untuk mendapatkan ujian susulan.


Arlan yang ditinggalkan Carissa segera menghubungi seseorang, memerintahkan orang itu untuk menyelidiki kejadian siang ini apa benar kecelakaan atau sebuah kecelakaan yang sudah di manipulasi untuk meneror Carissa. Sekali lagi Arlan memerhatikan tempat ini dengan detail tidak ada yang mencurigakan, kecuali seorang pria yang terlihat mengawasi kawasan ini. Arlan melirik arlojinya, jika mengawasi atau membuntuti pria itu maka dia akan kehabisan waktu. Hari ini ada kuis dari dosen yang terkenal tidak menerima alasan apapun dari mahasiswanya yang tidak mengikuti kuis. Arlan melirik sekilas kemudian secepatnya berlalu dari tempat itu, takut dirinya juga dicurigai oleh pria misterius itu.


Seseorang yang tadi berada diujung jalan segera mencari tempat yang aman untuk menghubungi bosnya, agar tidak ada yang mencuri dengar atau merekam pembicaraannya. Dering pertama panggilannya langsung terangkat, pria itu tersenyum licik sepertinya bosnya sudah tidak sabar untuk mendengar informasi miliknya.


"Seperti perkiraan bos, gadis itu sampai syok melihat kecelakaan tadi. Sepertinya akan semakin mudah untuk menekan gadis itu bos." suara diseberang sana terkekeh nyaring.


"Bos bonusnya adalah ada seseorang yang menenangkan gadis itu bahkan sampai memeluk gadis itu." Sekali lagi suara diseberang sana terkekeh, dari suaranya terdengar sekali pria itu sangat senang.


"Abadikan semua momen itu." Pria itu mengatakan siap kemudian mematikan teleponnya. Pria misterius itu berlalu setelah memastikan keadaan yang benar-benar aman.


Firasat Carissa mengatakan kejadian pagi tadi yang dialamainya adalah salah satu tanda jika keadaannya darurat, tiga tahun lebih Carissa berada di kota ini, dan baru pertama kalinya dirinya merasa diteror. Kiriman paket kain putih berlumuran darah, kecelakaan yang korbannya


dipenuhi darah. Mungkin karena dirinya menikah dengan Aaron keberadaannya mudah dideteksi oleh orang- orang yang mengincar Carissa setelah kematian orang tuanya. Carissa mencari nomor itu sampai berkeringat, gadis itu berharap Aaron tidak segera pulang siang ini. Hidup Carissa sekarang bergantung pada nnomor itu.


Beberapa menit kemudian gadis itu menemukan nomor yang dicarinya, Carissa segera mencatat nomor tersebut pada handphonenya. Setelah itu, Carissa kembali merapikan buku- bukunya seperti sedia kala agar tidak seorangpun mengetahuinya termaksud Aaron sekalipun.


Carissa segera ke dalam kamar mandi untuk mengirimkan pesan pada nomor itu.

__ADS_1


To. 0831xxxxxxxx


Keadaanku darurat, atur waktunya. Secepatnya! Balas melalui emailku yang dulu!


Pesan diterima✓


Melihat pemberitahuan itu, Carissa segera membatalkan registrasi kartunya. Carissa mencabut SIM card yang digunakannya untuk menghubungi orang itu, kemudian membuangnya ke dalam closet.


Carissa takut nomornya disadap atau diapakan untuk kepentingan orang yang mengincarnya. Untuk masalah ini Carissa tidak akan melibatkan Aaron, jika keadaan memaksanya untuk melibatkan Aaron itu mungkin masih lama bukan sekarang.Carissa mengamati keadaan di dalam kamarnya, Carissa tersenyum melihat cctv yang terpasang di setiap sudut kamarnya, suaminya sangat teliti dan waspada. Carissa berjalan keluar kamarnya mencari tempat yang tidak memiliki cctv atau pengintai lainnya. Gadis itu tersenyum melihat notifikasi email yang sangat ditunggunya.


Rainbow, reservasi Mikhael. Minggu depan. Jangan biarkan siapapun tahu!


Carissa hanya membalas oke, lalu menghapus semua riwayat percakapan dan sebagainya, agar tidak ada yang mendeteksi emailnya. Carissa bisa menghubungi Robin anak teman ayahnya untuk membantunya, tapi sekarang Carissa tidak bisa melakukan itu. Carissa merasa perlu waspada dengan orang-orang yang berada disekitarnya.Carissa memejamkan matanya menikmati kesunyian di taman ini. Carissa membuka matanya ketika merasakan handphonenya bergetar. Carissa melihat handphonenya, Aaron yang mengirimkan chat untuknya.


lagi dimana? 💬 Aaron


taman 💬Carissa


masuk dalam rumah, di taman dingin 💬 Aaron


oke💬 Carissa

__ADS_1


Carissa mengamati sekitarya, tidak ada yang mencurigakan seperti mata-mata atau kamera pengintai, tapi gadis itu menurut untuk masuk ke dalam rumah.


Aaron mengamati istrinya di layar, Aaron tersenyum walaupun dia tidak bisa melihat apa yang dilakukan gadis itu keseluruhan, dia bisa mencaritahunya nanti atau kalau beruntung gadis itu yang akan datang untuk bercerita padanya.


__ADS_2