Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Teman Lama Carissa


__ADS_3

Hari ini Carissa akan kembali kuliah, masa liburnya telah usai. Carissa tidak memedulikan Sasha yang mengganggunya sejak di meja makan dengan segala macam sindiran yang dilontarkannya pada Carissa. Terserah deh, asal kamu bahagia bisik hati Carissa.


" Duh duh, eh pembantu mau kemana pagi-pagi?" Sasha menghalangi jalan Carissa. Carissa menggigit bibirnya, dirinya malas ribut dengan gadis di hadapannya ini.


" Jadi, selain kampungan kamu juga budek ya?" Carissa berhenti, Carissa manatap malas pada Sasha.


"Masalahnya sama kamu apa?" Sasha geram mendengar suara Carissa yang naik satu oktaf dibandingkan suaranya. Tidak bisa dibiarkan! Harus diberi pelajaran ini, bisik hati Sasha.


"Eh, pembantu asal kamu tahu ya, kamu itu cuma istri sementara paling juga nanti akan ditinggalkan Aaron, jangan songong!” Carissa mendengus, astaga gadis ini benar-benar merusak moodnya. Carissa tersenyum miring, menatap dengan remeh pada Sasha. Sasha balas menatap Carissa sinis.


" Aku masih istrinya sekarang, tidak salahkan kalau songong?" Sasha terbelalak. Gadis kampungan ini sudah berani melawannya.


" Dasar perempuan kampungan!" Sasha berteriak kesal, Carissa tersenyum sinis.


"Sudah selesaikan? Aku mau pergi. Kamu membuang waktu berhargaku untuk semua kekonyolanmu pagi ini." Baru saja Sasha membuka mulut untuk membalas perkataan carissa, Carissa sudah pergi meninggalkannya.


Sasha yang ditinggalkan menghentak-hentakan kakinya. Gadis itu,sangat kesal. Ditengah kekesalannya Sasha mendengar suara cekikikan, sasha menoleh dan mendapati ada pelayan yang menonton aksinya.


" Apa kamu lihat-lihat? Dasar kalian sama-sama kampungan!" Sasha lalu menuju kamarnya meninggalkan pelayan itu. Sang pelayan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat aksi sasha yang berlagak seperti nyonya besar di rumah ini.


Di jalan Carissa tersenyum memikirkan keberaniannya saat melawan Sasha. Carissa mengikuti perintah suaminya untuk melawan semua orang yang menindas dirinya. Semalam, setelah makan mlam di kamar pribadi mereka Aaron memperingatkan banyak hal untuk istrinya itu.


"*Carissa, aku ingin kamu tahu walaupun pernikahan kita bukan terjadi karena kita saling mencintai. Tapi aku sungguh-sungguh dengan pernikahan ini, aku harap kamu juga begitu." Carissa mengangguk mengiyakan, toh dengan menikah dia tidak lagi merasa sendirian di dunia ini


" Papa dan mama akan bercerai, bukan salah kamu kok. Papa sering bermain perempuan sejak aku masih kecil dulu. Kamu hanya target terakhir papa dalam waktu dekat ini, dan kamu kecipratan dampaknya." Aaron menjelaskan sambil menatap istrinya, gadis itu hanya mengangguk mendengarkan. Pantas saja gadis yang belakangan diketahuinya sebagai adik Aaron, mengusirnya. Gadis itu pasti berpikir dialah penyebab kerusakan rumah tangga orang tua mereka.

__ADS_1


" Papa aku orangnya pendendam. Setelah kejadian kemarin papa pasti mencari celah untuk balas dendam sama aku ataupun sama kamu. Apalagi aku juga memutuskan hubungan kerja sama aku dengan papa aku." Aaron menegakkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang. Carissa menyimak dan memberanikan diri untuk bertanya pada Aaron.


"Kalau gadis yang di ruang tamu itu, siapa tuan?" Carissa penasaran dengan gadis yang ada dibawah tadi gayanya melebihi batas seorang sepupu.


" Itu sepupu aku, Sasha. Gadis itu tergila-gila padaku sejak dulu. Gadis itu sangat ambisi, dan pandai memutar balikan fakta. Kamu harus hati-hati pada dia. Jika dia menyakiti kamu secara verbal, balas biar dia bisa diam. Asal jangan main fisik, jika kamu melukainya secara fisik kamu akan mudah untuk dipersalahkan oleh dia." Carissa mengangguk, semoga Sasha tidak seburuk itu sih. Carissa kurang suka untuk bersilat lidah. Jadi bi sitti benar Sasha itu hanya sepupu Aaron.


“Kamu harus kuat, kamu harus bisa menjaga diri kamu. Walaupun aku juga melindungimu dengan berbagai cara, tetapi kamu harus bisa mempertahankan diri kamu. Keluarga besar aku, semua berlidah tajam. Jadi persiapkan dirimu." Carissa menyimak dengan baik, apa itu juga ya yang membuat Tuan ini tidak menikah dengan kekasihnya?


" Tuan, apakah ini juga yang membuat Anda tidak menikah dengan seseorang yang anda kasihi?" Carissa nyengir melihat Aaron yang menatapnya tajam.


"Tidak ada yang sanggup menjadi kekasihku itulah mengapa aku menikah bukan dengan kekasihku." Carissa terkikik geli, ternyata memang berat untuk menjadi pasangan pria ini. Aaron yang mendengar Carissa tertawa memelototi gadis itu. Carissa menetralkan wajahnya, walaupun tawanya hampir meletus saat ditahannya." Mengapa Nona Sasha tinggal disini, tuan." Carissa harus tahu biar tidak salah memperlakukan Sasha.


“Akupun tidak tahu, tapi sepertinya karena orang tuanya sedang ada perjalanan ke luar negeri." Carissa mengangguk. Aaron segera membaringkan tubuhnya, pria itu terlelap lebih dulu. Melihat suaminya yang tertidur, Carissa juga ikut tidur tak lupa gadis itu meletakkan dua guling sebagai pembatas diantara mereka*.


Lamunan carisa buyar ketika dirinya telah sampai di kampusnya. Carissa segera keluar dari grab yang ditumpanginya. Setelah membayar Carissa lalu menyusuri bangunan yang menjulang tinggi untuk menuju ke kelasnya. Carissa melemparkan senyum saat berpapasan dengan orang-orang yang mengenalnya.


" Ini gue, Arlan." Pria itu menghampiri Carissa, Carissa meneliti wajah Arlan. Gadis itu kemudian tertawa, pantas saja dirinya tidak mengenali Arlan. Selain rambutnya yang kini menjadi gondrong penampilan pria itu berubah. Tidak lagi menggunakan kacamata dan sekarang pria itu menggunakan pakaian yang mencetak otot-otot tubuhnya.


" Gila! Lo kok makin tampan, pantas gue linglung." Carissa tertawa dan bersalaman dengan Arlan, Arlan ini teman dekatnya saat SMA.


"Lo apa kurangnya, makin cantik aja." Arlan dan Carissa berjalan beriringan, mereka duduk di gazebo.


" Lo masih baru ya disini? Gue baru lihat lo soalnya." Arlan mengangguk mendengar pertanyaan Carissa.


"Bokap gue, dipindahkan tugas disini. Jadi gue juga ikut pindah." Carissa hanya mendengarkan.

__ADS_1


" Lo sekarang hidup dengan siapa, selepas kepergian orang tua lo?" Carissa menarik napas dan kemudian tersenyum.


" Awalnya sendiri sih, tapi sekarang gue sudah menikah." Arlan sedikit terkejut, kemudian dengan cepat pria itu menghilangkan ekspresi terkejutnya.


"Serius lo? Emang lo bahagia dengan pernikahan lo?" Carissa mengerutkan keningnya, gadis itu juga berpikir apa memang dia bahagia ya?. Carissa kembali tersenyum.


"Gue nggak tahu sih, tapi gue nggak menyesal dan menikmati pernikahan gue." Aaron tersenyum, pria itu berharap Carissa bahagia denaga pernikahannya.


"Lo sendiri bagaimana hubungannya dengan Dewi?" Carissa ingat Arlan dan Dewi adalah couple goals saat mereka SMA dulu.


" Gue udahan sama dia, gue nggak sanggup dengan semua kekangan dia." Carissa mengangguk, Dewi memang sangat posesif pada Arlan. Wajar juga kalau lama kelamaan Arlan menyerah.


Melihat jam ditangannya, Carissa pamit untuk pergi karena kuliahnya akan segera dimulai. Arlan melihat kepergian Carissa dengan berbagai rasa. Syukurlah sekarang Carissa ada yang menjaga setidaknya gadis itu akan lebih aman.


Sorenya Carissa balik ke rumah, gadis itu terheran melihat ada mama mertua dan juga adik iparnya. Apa mereka juga akan tinggal disini ya? Carissa berjalan menyalami mama mertuanya. Gadis itu tidak memedulikan tatapan tajam dari Sasha dan Nadirah.


Mama mertuanya akan berangkat untuk melaksanakan umrah, guna menenangkan pikirannya.


Jadi itulah sebabnya Nadirah dititipkan disini, di rumah Aaron. Mama mertuanya memberikan nasehat untuk melayani Aaron dengan baik. Wanita paruh baya itu juga memberitahukan makanan-makanan kesukaan Aaron.


Bahkan usai berganti pakaian dan ke dapur Carissa di ajak untuk membuat kue basah kesukaan Aaron. Tentu saja Carissa tidak akan menolak, kapan lagi bisa belajar bikin kue basah.


"Aaron itu sangat suka dengan puding, apalagi puding susu." Carissa mengangguk, gadis itu hanya membantu seperlunya. Karena yang membuatnya adalah ibu Aaron.


Selesai membuat puding Carissa di suruh untuk mengambil kikil dari kulkas, setelah itu ibu Aaron membersihkan kikil itu. Carissa hanya melihat-lihat, pekerjaan yang dilakukannya hanyalah memotong bawang.

__ADS_1


Walaupun sudah jatuh miskin Carissa tidak pernah bisa masak, selain karena gadis itu tidak belajar masak juga dia tidak punya uang banyak untuk membeli bahan-bahan yang akan dimasaknya. Gadis itu hanya membeli makanan yang sudah jadi atau hanya mengonsumsi mi instan.


Aisyah tidak terkejut melihat menantunya yang tidak bisa memasak. Nadirah pun anaknya tidak bisa memasak. Aisyah merasa bahwa Carissa memang sesuai untuk Aaron terlepas dari apa yang melatar belakangi pernikahan mereka. Aisyah sebenarnya resah melihat ada Sasha disini, takut nanti Sasha nekat untuk berbuat jahat dengan Carissa. Setelah acara masak selesai, Carissa kembali kekamarnya, gadis itu tidak melihat kedua adik iparnya itu. Setelah kejadian di dapur tadi, Carissa menjadi lega ibu Aaron sangat baik padanya. Carissa masuk mandi dan berendam dalam bathtub, Carissa menghembuskan napas berat sepertinya makan malam nanti adalah situasi terberat yang harus dirinya lewati. Nadirah dan Sasha pasti berkomplot untuk membuatnya tidak nyaman.


__ADS_2