Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Mencari Nadirah


__ADS_3

Carissa segera menjauhkan dirinya setelah mendengar suara-suara itu terdiam. Takut juga dirinya kalau ketahuan menguping pembicaraan Aaron dan tamunya. Carissa jadi termenung apa gadis yang bernama Fani adalah orang yang sama dengan yang dilihat Dewi di rumah makan? Carissa merasakan sesak di dalam hatinya. Apalagi Aaron punya janji tersendiri untuk gadis itu, janji apa? Aaron tidak pernah menjelaskan jika dirinya pernah dekat dengan gadis yang bernama Fani, apa mungkin pria itu sengaja merahasiakannya agar dia bisa menjalin hubungan diam-diam dengan gadis itu?


Mungkin dirinya cuma pelarian Aaron. Mereka menikah pun bukan karena saling mencintai, pria itu menikahinya karena dirinya yang nekat menemui Nurmansyah. Apalagi tadi dia mendengar dengan jelas Aaron tidak mengatakan siapa yang dicintainya. Pria itu tidak menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya. Carissa menghela napas gadis itu menahan setitik air mata yang ingin jatuh di pipinya, tidak perlu untuk dirinya menangisi orang seperti Aaron. Apalagi siang tadi Aaron baru saja melukai hatinya. Carissa segera berjalan menjauhi kamar tamu untuk kembali ke kamarnya.


Selesai dengan pembicaraan mereka Aaron, keluar dari kamar Rega. Pria itu benar-benar keterlaluan datang menyusulnya sampai kesini bagaimana kalau Carissa tahu tentang Fani? Aaron belum siap untuk membahas Fani di depan Carissa. Aaron terkejut melihat pintu yang tidak tertutup rapat, pria itu segera keluar dan naik ke kamarnya untuk memastikan sesuatu. Bisa jadi gawat kalau Carissa mendengar pembicaraan mereka. Aaron berjalan dengan cepat menuju kamarnya.


Aaron membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa, pria itu menghembuskan napas lega melihat istrinya yang tertidur di atas ranjang. Aaron kemudian keluar dari kamar itu. Dia akan tidur dikamar lain malam ini.


Setelah kepergian Aaron, Carissa bangun dan terduduk diatas ranjang miliknya. Syukurlah Aaron tidak tahu kalau dirinya menguping pembicaraan itu. Carissa mengelap air matanya, Aaron benar-benar menghindarinya itu artinya pria itu benar-benar tidak menginginkan dirinya, dirinya memang hanya pelarian.


Keesokan harinya, Nadirah yang sudah selesai dengan kuliahnya berjalan keluar dari gerbang kampus. Tiba-tiba gadis itu ditarik oleh orang yang tidak dirinya kenali. Nadirah meronta-ronta sekuat tenaga letika merasakan orang itu membawanya masuk ke dalam mobil. Gadis itu kehilangan kesadaran setelah merasakan bau yang menyengat dari sesuatu yang menempel dihidungnya.


Di sebuah ruangan di rumah yang terpencil, seseorang yang menggunakan topeng tersenyum melihat Nadirah yang beringsut ketakutan gadis itu sampai memohon-mohon agar dilepaskan. Sayangnya, hati pria bertopeng itu tidak terketuk, dirinya tanpa basa-basi merenggut kehormatan gadis itu dengan paksa. Tidak dipedulikannya raungan atau tangisan dari gadis itu, dendam harus terbayarkan itu yang ada dipikiran pria bertopeng itu. Raungan, cacian dan makian gadis itu semakin melemah seiring dengan tubuhnya yang mulai terkulai lemas. Pria itu tersenyum menyeringai dan mengeluarkan ponselnya mengambil gambar gadis yang kini polos dihadapannya.

__ADS_1


Aziz merasa tidak tenang, sejak tadi mereka mencari keberadaan Nadirah karena gadis itu belum pulang dan sopir yang menjemput Nadirah mengatakan tidak bertemu Nadirah di kampus. Semua teman-teman Nadirah yang mereka tanyai mengatakan jika Nadirah sudah pulang duluan. Aziz yang mulai panik segera memberitahukan pada Aaron tentang Nadirah yang hilang. Kemudian pria itu segera menelpon anak buahnya untuk mencari atau melacak keberadaan gadis itu.


Aaron yang habis menerima telepon dari Aziz segera ke kamarnya dan mengemasil pakaian miliknya, jantung pria itu berdebar kencang ketakutan. Carissa memerhatikan tindakan suami itu dengan kening terangkat.


"Kemasi pakaian kamu, Nadirah hilang kita harus balik sekarang." Carissa bagaikan tersambar, Nadirah hilang? Carissa ikut khawatir, semoga Nadirah baik-baik saja Tuhan doanya dalam hati.


Tanpa membuang waktu Carissa segera mengemasi pakaian miliknya. Aaron segera turun yang diikuti oleh Carissa, mereka pamitan pada Oma. Aaron tidak menyampaikan hal sebenarnya pada Oma, Aaron beralasan ada pekerjaan yang harus diselesaikan agar cepat pulang. Carissa lupa pada pertengkaran mereka dan segera menggenggam jemari Aaron.


Sepanjang perjalanan Carissa dan Aaron sama-sama larut dalam kepanikan, mereka menduga-duga apa yang terjadi pada Nadirah. Nadirah bukan gadis bandel yang suka menghilang tanpa pamit pada abangnya, gadis itu selalu pamit dimanapun dia pergi kalau bukan pamit pada Aaron maka gadis itu akan pamit pada Aziz. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Nadirah, tapi yang paling aku takutkan jika yang menculik Nadirah adalah orang-orang yang mengincarku bisik hati Carissa.


Sebrengsek apapun dirinya, Nurmansyah juga merasa sedih melihat anak perempuannya diperlakukan seperti ini. Nurmansayah bertambah terpukul melihat keterangan yang ditulis oleh orang itu.


Ini baru permulaan Nurmansyah. Tunggu kejutan-kejutan berikutnya.

__ADS_1


Nurmansayah terduduk lemas, anak perempuannya telah dinodai kehormatannya oleh orang yang mengenalnya. Sebagai orang tua, Nurmansyah sangat manat hati melihat anaknya diperlakukan tidak hormat seperti ini. Nurmansyah menggelengkan kepalanya inilah kegagalan terbesar dalam hidupnya. Pria tua ini mengelap air matanya yang membasahi pipinya.


Menekan ego miliknya, Nurmansyah menelpon Aaron. Aaron harus tahu malapetaka yang menimpa adiknya itu. Terdengar telepon diangkat, pria itu menarik napas kemudian berbicara pada Aaron tentang hal yang terjadi pada Nadirah. Aaron mengatakan akan segera mencari keberadaan Nadirah sekarang pria itu sedang diperjalan pulang menuju rumahnya, Nurmansyah merasa lega Aaron ikut untuk mencari Nadirah. Pria itu juga menelpon Zein dan anak buahnya yang lain untuk membantunya mencari Nadirah.


Carissa segera menghubungi Arlan untuk memberikan informasi terkini tentang Nadirah. Aaron sudah pergi sejak tadi mencari Nadirah, pria itu tidak mengajak Carissa. Mungkin Aaron merasa Carissa tidak perlu ikut karena Carissa bukan orang penting untuk Nadirah.


"Lo tolong gue untuk memastikan itu bukan anak buah paman gue ‘kan pelakunya?" Arlan mengiyakan dan menjelaskan jika Lou benar-benar tidak ada hubungannya dengan kasus Nadirah.


"Lo jemput gue dong, biar kita bantuin cari Nadirah. Gue sudah menganggap Nadirah itu seperti adik sendiri." Arlan mengiyakan dari seberang sana. Carissa menghembuskan napas lega dan mengucapkan terimakasih.


Carissa segera mengganti pakaiannya. Kemudian menunggu Arlan yang tidak kunjung sampai dirumahnya. Carissa mulai menggerutu kesal. Bi Sitti yang melihat Carissa di halaman rumah segera menmendekatinya.


“Nyonya mau kemana?” Carissa menatap Bi Sitti santai, Carissa berhenti menggerutu.

__ADS_1


“Aku mau bantu cari Nadirah Bi, memangnya ada apa?” Bi Sitti menggeleng. Entah kenapa firasat Bi Sitti tidak enak, tapi urung disampaikan pada Carissa takut gadis itu malah akan berburuk sangka padanya.


“Hati-hati saja, semoga Nadirah cepat ditemukan.” Carissa mengangguk dan mengaminkan.


__ADS_2