
Happy Reading 💃
Tersenyumlah secerah mentari di pagi hari
Tersenyum lah seindah senja di sore hari
Tersenyumlah semanis takjil di sore hari😆 abaikan🤣
_Waktu dapat mengubah segalanya, termaksud cinta_
Fani menatap Aaron dan Carissa dengan hati yang terbakar. Ngapain juga sih gadis itu menyuruh Aaron makan ? Mau mencari muka sama diakah? Fani menggenggam garpunya kuat-kuat, dasar perempuan penggoda bisik dalam hatinya. Carissa yang merasa tidak enak dilihat Rega dan Fani menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Aaron, Aaron malah semakin memperkuat penyatuan jari-jari mereka. Carissa akhirnya makan dengan acuh tidak peduli dengan mereka semua.
Aaron hanya mengamati Carissa yang makan sampai selesai, melihat Carissa sudah menyelesaikan makannya pria itu mendekatkan gelas air minum pada Carissa. Rega benar-benar muak melihat pemandangan di depannya ini, apa Aaron benar-benar tidak paham jika Fani sudah mulai terlihat aneh? Fani bahkan membunyikan piringnya dengan keras karen kesal dengan tingkah Aaron.
"Kamu lapar banget ya, makan sampai keringatan." Aaron mengelap peluh yang ada di wajah Carissa, Aaron seakan lupa jika sekarang mereka ada di tempat umum dan yang penting ada Fani dan Rega yang menatap mereka berdua. Carissa menepis tangan Aaron, malu banget apalagi sekarang Rega dan Fani menatap mereka.
"Sedikit sih, aku bisa sendiri kok mas hehehe." Carissa tertawa canggung, kemudian menjarakkan dirinya dengan Aaron.
__ADS_1
Fani tidak bersuara sama sekali, gadis itu makan seperti menelan duri. Aaron benar-benar berubah, tapi karena apa? Bukankah saat malam ulang tahunnya pria itu datang menemuinya? Bahkan juga memberikan bunga untuknya. Pasti Carissa yang telah membuat Aaron seperti ini, Fani benar-benar akan membuat perhitungan dengan wanita ini.
"Ar, bisa kita bicara sebentar ada yang aku mau omongin." Fani berdiri dan segera mengelap bibirnya. Aaron menatapnya aneh, dalam hati menerka-nerka apa yang akan dikatakan gadis itu? Aaron menoleh pada Carissa melihat Carissa yang mengangguk Aaron setuju untuk mengikuti gadis itu. Setelah sampai di ruangan pribadi Rega, Fani berhenti dan menutup pintu agar suara mereka tidak terdengar di luar dan dicuri dengar oleh orang lain.
"Mengapa lo tidak pernah menghubungi gue, setelah dua tahun gue di Paris bahkan lo mengganti semua kontak milik lo?" Fani menatap Aaron, Aaron berdehem pelan. Pria itu menatap ke depan dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Aaron menghela napas memikirkan kalimat yang tepat untuk disampaikannya pada Fani.
"Aku tidak mau menggganggu kamu, aku sudah membuat hidupmu mengalami banyak kekacauan Fani." Aaron menarik napas menunggu respon Fani, Fani terdiam.
"Terus kamu pikir dengan seperti ini hidup aku tidak kacau? Kamu pikir aku baik-baik saja ketika kamu seperti ini?" Fani mulai sedikit membentak, Mata Fani mulai berkaca-kaca. Gadis itu merasa sedih mengapa Aaron yang pernah mengajaknya berjuang sama-sama akhirnya menjadi seperti ini?
"Maaf, aku." Aaron tidak melanjutkan kalimatnya pria itu terdiam. Aaron merasa menjadi orang yang sangat jahat untuk Fani. Sayangnya, Aaron tidak bisa lagi meyakinkan Fani untuk hubungan mereka ini.
"Aku minta maaf Fan, aku tidak bisa seperti dulu. Aku, aku, aku." Kata-kata yang ingin disampaikan Aaron tercekat di tenggorokannya, Aaron tidak tega untuk membuat Fani semakin terluka. Pria itu menelan ludah dan bergerak mendekati Fani.
Fani menepis tangan Aaron, dengan tangannya.
"Kamu lebih milih perempuan penggoda itu? Kamu lebih milih dia dari pada aku. Aku tidak pernah menyangka apa yang aku lakukan untuk kamu selama ini sia-sia." Fani menjauh dari Aaron, Aaron meremas rambutnya frustrasi.
__ADS_1
Rega dan Carissa terdiam tanpa berbicara satu sama lain. Rega gelisah menunggu Aaron dan Fani yang tidak kunjung keluar. Carissa terdiam, kira-kira apa yang dibicarakan Fani pada Aaron? Carissa seketika diterpa kecemasan, tapi kalau dipikir-pikir dirinya yang menjadi pengganggu disini. Aaron dan Fani adalah kekasih sebelum kehadirannya. Carissa menelan ludahnya susah payah mengingat kenyataan itu.
Rega segera berdiri dan melangkah menuju ruangannya, dengan tergesa-gesa pria itu mendobrak pintu. Melihat Fani yang menangis Rega langsung memberikan penumbuknya pada Aaron. Carissa yang menunggu di meja segera menyusul Rega, perasaan tidak enak menerpanya.
"BRENGSEK LO, LO DARI DULU SELALU MEMBUAT FANI TERLUKA. BUGH!" Rega segera memberikan bogem mentah pada aaron. Jika dulu Aaron pernah balas memukul Rega maka sekarang Aaron tidak melawan Rega. Aaron malah membiarkan Rega memberikan banyak tinjuan pada dirinya. Aaron sadari perkataan Rega benar, dia hanya memberikan luka pada Fani. Carissa yang berada di depan pintu, terkaku di tempat. Wanita itu terdiam melihat Aaron yang dipukuli dan Fani yang masih menangis.
"LAWAN GUE, LO JANGAN DIAM. LAWAN GUE! DASAR PENGECUT LO, PECUNDANG LO." Fani yang melihat Rega meninju Aaron kesetanan segera menarik Rega. Fani kasihan melihat Aaron yang terus dipukuli Rega.
"Rega, berhenti!" Fani mulai mengeluarkan suaranya yang serak.
"Tidak, gue harus hajar dia untuk semua penderitaan yang diberikan pada kamu. Gue harus hajar dia." Rega sudah terlepas dari Fani dan kembali memukuli Aaron. Rega tidak peduli walaupun darah sudah mulai keluar di sudut bibir Aaron. Carissa yang hanya jadi penonton segera masuk dan memeluk Aaron.
"Pindah lo, kalau tidqk pindah lo yang akan gue tinju." Rega menatap nyalang pada Carissa. Apa yang dilakukan gadis ini? Apa di pikir dia bisa melindungi Aaron? Melihat Carissa yang tidak menjauh, Rega melangkah menarik Carissa agar menjauh dari Aaron. Fani semakin takut melihat Aaron yang terlihat tidak berdaya, yang dipikirkan saat ini Aaron akan mati jika terus dipukul oleh Rega bahkan Carissa pun tidak akan mempu melindungi pria itu.
"Bugh!" Rega berhasil menjauhkan Carissa dan kembali meninju Aaron.
"REGA BERHENTI, SEKALI LAGI LO MEMUKUL AARON. PERSAHABATAN KITA BERKAHIR DI SINI." Bagai tersihir tangan Rega tertahan di udara. Pria itu berhenti memukul Aaron, Fani segera melangkah memeluk Aaron. Carissa tertegun di tempatnya, Fani terlihat sangat mencintai Aaron. Rega juga tertegun, sejahat apa pun Aaron, Aaron tetaplah pemenang di hati Fani. Bahkan pria itu juga sudah sangat jahat pada Fani, tapi lihat Fani masih lagi peduli pada pria itu. Rega tersenyum miris pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Fan, tanya paman lo untuk penjelasan tentang kita." Aaron bersuara lirih, badannya serasa remuk semua. Ketika matanya bertubrukan dengan mata Carissa, Aaron tersenyum kecil pada Carissa yang juga menatapnya dengan wajah sendu.
**********