Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Ketakutan


__ADS_3

Carissa ketakutan


Sejak menjadi suami istri sungguhan dengan Carissa beberapa hari yang lalu, Aaron makin sering menghabiskan waktu bersama istrinya di luar. Seperti malam ini pria itu mengajak istrinya untuk makan malam diluar. Sedari keluar dari rumahnya Carissa merassa tidak nyaman, entah cuma perasaannya atau memang benar sejak tadi sebuah mobil berwarna hitam selalu mengikuti mereka.


"Mas, Carissa merasa ada yang ngikutin kita." Aron tersenyum tidak menanggapi serius perkataan istrinya.


"Sayang, itu paling bodyguard kita yang ngkutin." Carissa diam. Mungkin seperti kata Aaron, hanya bodyguard Aaron yang mengikuti mereka. Wanita itu merapatkan sealtbelt ke tubuhnya.


Turun dari mobil Aaron membukakan pintu dan segera menggenggan jemari lentik istrinya sambil sesekali mengacak-acak rambut istrinya. Carissa masih gelisah matanya menatap takut-takut kemudian kembali melirik ke belakang mereka, Carissa tidak melihat siapapun. Aaron mengikuti arah pandangan istrinya, memicingkan matanya memang ada orang aneh yang sepertinya fokus memperhatikan mereka dari kejauhan, Aaron sengaja kembali fokus pada istrinya agar Carissa tidak takut. Tangannya mengirimkan pesan pada anak buahnya untuk mencari tahu siapa orang yang mengikuti mereka itu.


"Mas, Carissa tidak yakin tapi sepertinya hari-hari ke depan kita akan semakin sulit." Carissa merasa jika mereka benar-benar diikuti saat ini. Aaron memandang serius istrinya dan mengiyakan.


"Kita akan melewati masa itu sama-sama , sayang." Aaron mengeratkan rangkulannya pada istrinya.


"Mas, tidakk akan ninggalin Carissa kan?"


Aaron meggeleng dan mengecup jemari istrinya.


"Mas, Minggu depan Carissa mau bertemu dengan seseorang yang juga melindungi Carissa. Mas tidak akan marahkan?" Carissa mengatakannya dengan berbisik takut ada yang akan mendengar suaranya.


"Tidak sayang selama kamu tidak macam-macam, mau mas temanin?" Carissa menggeleng.


"Jangan mas! Karena sebenarnya Carissa dilarang memberitahu siapapun, Carissa cuma bilang ke mas saja."


Aaron mengangguk dan ber oh ria.


Sampai di dalam ruangan yang telah dipesannya Aaron dan Carissa duduk.


"Mas, ibu dan ayah gimana kabarnya?" Carissa sudah lama tidak mendengar kabar kedua mertuanya itu.

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja kok, malah ayah sudah makin maju usahanya. Ibu juga baik-baik, selesai umrah ibu memilih untuk menetap dulu di rumah Tante Vella." Carissa manggut-manggut, syukurlah kalau semuanya baik- baik saja.


"Mas masih marah dengan ayah?" Aaron menggeleng, sekarang dirinya sudah tidak memiliki kemarahan apapun untuk papanya.


"Tidak dong, bagaimana pun itu tetap ayah mas. Kamu dengan Nadirah bagaimana hubungannya?" Carissa mengernyit, menyesap minumannya.


" Masih seperti orang asing. Tapi mas sudah baikan dengan Nadirah, kan?" Carissa menatap suaminya serius, seingat Carissa Aaron dan Nadirah tidak pernah bertegur sapa.


"Iya dong, mas sudah baikan." Carissa tersenyum lega mendengarnya. Gantian sekarang Arlan menatap Carissa curiga, ini tentang Arlan yang sudah lama ingin ditanyakan secara langsung pada Carissa.


"Sayang kamu tidak punya hubungan lainkan dengan teman kamu yang namanya Arlan?" Carissa tertawa mendengarnya.


"Aneh deh pertanyaan mas, Arlan cuma teman aku sejak SMA." Aaron mengecup kening istrinya dan bersuara lirih.


"Jangan terlalu dekat dengan dia, mas tidak suka." Carissa mengangguk dan terkikik geli melihat suaminya yang cemburu.


Carissa terdiam melihat pelayan yang datang mengantarkan mereka makanan. Carissa menyipit curiga menatap pelayan itu, Carissa merasa ada yang tidak beres dengan pelayan itu. Kebetulan sekali mukanya juga tidak asing, tapi Carissa lupa dimana pernah melihat pelayan itu.


Aaron segera menarik Carissa, bunyi tembakan terdengar bersahutan di belakang mereka bahkan Aaron juga mengeluarkan pistol dari balik jasnya untuk menembak orang yang mengikuti mereka. Carissa yang melihatnya menjadi gemetar dan keringatnya bercucuran, mereka kini berada di luar restoran dan langsung masuk dalam mobil yang sudah di setir oleh anak buah Aaron.


Aaron duduk disamping Carissa, Carissa menatap Aaron takut-takut masih terbayang jika tadi suaminya itu menembaki orang. Merinding Carissa mengingat ekspresi Aaron yang seperti tadi.


"Mass sejak kapan main tembak-tembakan gini?" Carissa masih menatap waspada pada suaminya ini. Aaron menatap istrinya sebentar, kemudian memegang dagunya memikirkan kata-kata yang tepat untuk memulai penjelasannya, agar istrinya tidak salah menafsirkan.


"Sayang, ini mas lakukan karena keadaan kita yang makin terdesak. Kita wajib berjaga-jaga sayang." Carissa menggelengkan kepala, Aaron tidak menjawab pertanyaannya. Carissa menutup matanya malas berbicara lagi dengan Aaron.


Sampai di rumah Aaron segera menggendong istrinya yang ketiduran untuk bawa ke kamar utama.


Aaron kemudian meninggalkan Carissa untuk pergi menemui Aziz. Aaron yang terburu-buru dengan napas ngos-ngosan memasuki apartemen Aziz.

__ADS_1


"Bagaimana bos? Bagaimana dengan nyonya Carissa?" Aziz menatap heran bosnya.


"Carissa takut melihatku membawa senjata, tadi itu sangat darurat. Anak buah X mengejar kami." Aziz menyuguhkan kopi untuk bosnya itu. Kemudian ikut duduk disamping bosnya itu.


"Hahahaha, jadi bagaimana keadaan nynyonya sekarang?" Aaron tersenyum, Aziz mengangkat kening.


"Dia lagi tidur sekarang, itulah aku datang kesini" Aziz mengangguk mendengarkan.


"Bos, lo tidak sempat makan kan? Pelayan yang mengantar makanan itu penyusup anak buah X." Aaron menggeleng.


" Carissa menghentikan gue, sepertinya carissa mengetahui sesuatu." Aziz sedikit tertarik, dan berbicara dengan serius.


"Bos, sebenarnya Tuan X adalah orang yang sama dengan yang mengambil harta orang tua Carissa". Aaron menyeringai, menarik sekali fakta yang didengarnya ini.


"Tapi harta yang berupa aset-aset hanya bisa dicairkan oleh Carissa, dan sayangnya Carissa tidak tahu itu." Aaron tidak heran, mengingat Carissa tidak mencari tahu lebih jauh tentang harta peninggalan orang tuanya.


"Semua tekanan dan teror yang diberikan hanyalah untuk mencairkan aset itu, dan itu sangat berbahaya untuk anda bos selaku suami Carissa." Aziz menghembuskan nafas kemudian kembali menyesap kopinya.


"Ditambah lagi Zein tangan kanan ayah Anda mulai mengikuti Carissa." Aaron mengangkat bahu tidak peduli, masalah Zein bisa diurusnya sendiri.


Setelah berbincang-bincang dengan Aziz, Aaron memutuskan untuk pulang ke kediamannya. Aaron melihat ada sebuah mobil yang mengikutinya, Aaron menyeringai kemudian menaikkan kecepatan mobilnya. Aaron segera memasuki kediamannya setelah menembak ban dari mobil yang mengikutinya. Aaron menyeringai melihat mobil yang mengikutinya itu oleng. Setelah sampai dirumahnya Aaron segera menuju kamarnya dan bergabung bersam Carissa dalam selimut. Orang yang mengikutinya tidak mungkin berani untuk mengikutinya sampai di dalam rumahnya.


" Josh gila lo, untung cuma ban mobil doang yang ditembaknya." Abeng memegang kepalanya yang tadi terbentur dashboard.


" Gimana dong, gue kalau malam agak rabun jadi harus mengikutinya dari dekat." Abeng menggerutu pelan mendengar jawaban Josh.


" Bos pasti akan marah karena kita ketahuan." Josh terdiam sambil menelpon seseorang untuk datang menjemput mereka.


"Makanya lo jangan cerewet, biar kita tidak kena marah" Abeng mengangguk, daripada mereka harus kena marah lebih baik mereka tidak memberitahu bos mereka.

__ADS_1


Kedua orang suruhan itu menunggu jemputan dari teman mereka dan segera pergi dari depan rumah Aaron. Mereka melupakan jika mereka sedang ditonton oleh seseorang di balik layar.


__ADS_2