Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Berpelukan


__ADS_3

_Cinta tak selalu diungkapkan, jika hatimu jeli kamu pasti akan mengenalnya, itu cinta_


Setelah acara pukul memukul itu, Fani membawakan kotak obat dan memberikan kotak obat itu pada Carissa. Fani melakukan ini bukan karena menghormati Carissa yang menjadi istri Aaron tapi karena Aaron yang menggelengkan kepala ketika dirinya ingin menyentuh pria itu. Carissa segera membersihkan luka Aaron, tidak parah sih cuma lebam-lebam dan juga bibirnya yang robek. Setelah selesai Aaron berusaha bangkit dan keluar dari ruangan Rega menuju parkiran dengan langkah yang terseok-seok. Pria itu tidak pamitan pada Fani, Carissa yang tidak enak hati dengan kepergian Aaron segera pamitan pada Fani. Carissa meninggalkan restoran Rega tanpa menoleh lagi pada Fani yang kini menatap punggung Carissa yang menyusul Aaron.


"Mas, aku saja yang nyetir kalau mas masih kesakitan." Mendengar suara lembut Carissa Aaron mengulas senyum hatinya berbunga-bunga, Carissa ternyata khawatir juga pada dirinya.


"Tidak masalah, mas masih bisa menyetir biar mas yang antar kamu pulang." Carissa mengangguk dan memasang sealtbelt miliknya. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam kepala Carissa dan ingin sekali ditanyakannya pada Aaron. Tapi Carissa memilih diam sepanjang perjalanan, takut jika Aaron malah akan tersinggung nantinya. Aaron merasa aneh dengan keterdiaman Carissa, pria itu melirik Carissa dengan ujung matanya.


"Kok diam, tidak biasanya." Carissa tersenyum kecil melirik Aaron kemudian kembali menatap jalan yang memanjang di depannya. Aaron juga ikut menatap jalan, pria itu mengeluarkan suaranya dengan pelan.


"Kamu lihat 'kan yang terjadi tadi? Itu sudah cukup untuk membuktikan mas tidak layak untuk mendampingi siapapun." Carissa terkejut mendengar pengakuan Aaron, apalagi suara pria itu yang terdengar sendu. Mengapa Aaron berkesimpulan seperti itu?


"Kalau kamu mau tahu, itu juga alasan mas hanya akan mempertahankan pernikahan kita sampai kasus Nadirah terungkap, bukan karena Fani tapi karena mas sendiri." Aaron masih mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal dalam hatinya, walaupun masih belum ada respon dari Carissa. wanita itu masih mengatupkan bibirnya, dan matanya masih fokus pada jalan raya.


"Tapi, tapi kenapa mas?" Carissa melirik Aaron yang juga melirik dirinya. Aaron menarik napas, sesak dadanya untuk mengucapkan semuanya tapi itu harus dilakukannya.


"Mas hanya membawa masalah dalam hidup orang-orang yang dekat dengan mas. Kamu juga sudah dapatkan? Jika kamu selalu ada di dekat mas kamu mungkin akan selalu dapat masalah, apalagi papa juga selalu mencari-cari alasan untuk membuat kamu terpojok." Carissa mengigit bibirnya, air matanya sudah ingin menetes. Carissa menggelengkan kepala pelan, dirinya beralih menatap Aaron dengan lembut yang sarat akan ketulusan dan kasih sayang. Aaron menangkap semua itu dari binar mata yang dipancarkan Carissa.


"Tapi itu bukan alasan, aku bisa bertahan untuk selalu disamping mas kalau mas ingin." Aaron tersenyum mendengar ucapan istrinya. Tapi sampai kapan Carissa bertahan kalau keadaan tidak berpihak pada mereka? Bagaimana jika akhirnya wanita itu merasa lelah dengan sendirinya?


"Tapi kamu akan menderita, mas tidak mau kita berdua mengalami apa yang terjadi pada mas dan Fani." Carissa terdiam, entah Aaron benar-benar tulus atau dengan hubungan mereka atau hanya merasa prihatin dengan dirinya? Aaron tersenyum getir melihat Carissa yang kini terdiam. Carissa bermain tebak-tebakan dengan dirinya sendiri akhirnya terdiam sepanjang jalan tidak lagi melirik pada Aaron.

__ADS_1


Setelah sampai Aaron segera membukakan mobil untuk Carissa. Carissa tersenyum tipis, cepat sekali sekarang mereka sudah sampai di rumah Dewi. Carissa segera melangkah ingin masuk ke dalam rumah. Aaron menahan pergelangan tangan gadis itu.


"Tidak ada terimakasih?" Aaron tersenyum kecil, Carissa mengangkat alisnya tidak mengerti. Aaron menggaruk kepalanya.


"Bisa mas minta dipeluk?" Carissa terkaku dan menatap Aaron yang menatapnya penuh harap. Tumben banget pakai ijin biasa juga 'kan tidak izin langsung peluk. Aaron merentangkan tangannya. Carissa segera maju dan memeluk Aaron, Aaron balas memeluk Carissa tak kalah eratnya. Pria itu menghirup wangi rambut Carissa. Aaron merasa tenang, Carissa merasakan Aaron menarik senyum sekarang. Dengan refleks Carissa mendongak, menatap bola mata Aaron.


"Kasih Carissa kesempatan untuk mendampingi mas menyelesaikan semua masalah dan kekacauan yang ada di hidup mas, kalau Carissa menderita seperti yang mas katakan. Mas boleh buang Carissa, atau meninggalkan Carissa." Aaron terkaku mendengar permintaan Carissa, kemudian pria itu merasakan kemejanya basah. Carissa menangis, Aaron tersenyum kecut kemudian mengelus punggung Carissa sampai Carissa selesai menangis.


"Maaf aku cuma bisa bikin kamu nangis," Aaron mengelap kemudian mengecup kedua kelopak mata Carissa. Carissa mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Aaron.


"Jangan sedih-sedih, aku 'kan ikut sedih jadinya." Carissa mengangguk kecil. Aaron sekali lagi menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Mau kemana kamu?" Eh? Dewi melirik dirinya yang sudah berjalan menuju pintu. Saking kesalnya gadis itu refleks ingin pergi menghampiri Aaron.


"Biarin saja, mereka sudah dewasa kok. Sini duduk makan bareng aku." Dewi menurut, gadis itu melangkah mendekati Arlan yang makan di sofa. Ia juga sih, mereka sudah dewasa. Tapi kan Aaron itu selalu membuat Carissa terluka, kasihan Carissa kan?


"Mas, tapi kan kasihan sama carissa. Orang seperti Aaron itu nggak jelas banget plin plan seperti itu. Mas tahu sendiri, bahkan aku pernah lihat loh dia makan malam dengan cewek lain." Dewi meremukkan bantal sofa yang di peluknya. Arlan menggeleng pelan melihat pacarnya yang terlihat emosi Sekarang.


"Santai saja kok, itu kan masalah rumah tangga mereka, jadi itu urusan mereka berdua kita cuma orang luar jadi biarkan saja seperti itu. Kamu tidak perlu terlalu protektif pada Carissa. Lagi pula yang kamu lihat mungkin cuma temannya Aaron." Dewi melirik Arlan kesal, kok Arlan malah belain Aaron sih.


"Tidak boleh gitu dong mas, kalau Carissa kenapa-kenapa gimana?" Arlan menggeleng dan tersenyum tipis. Tidak menyangka Dewi sepeduli ini pada Carissa.

__ADS_1


"Dia sudah dewasa, kalau kenapa-kenapa itu kan sudah resiko dijadikan pelajaran saja." Dewi diam, kehabisan kata untuk mendebat Arlan.


Di tempat Rega, Fani duduk termenung sendirian yang membuat Rega ikut sedih. Selakau saja seperti itu, dan Fani tidak pernah kapok dan masih berharap pada Aaron. Pelan-pelan di hampirinya gadis itu.


"Kamu sangat sayang banget sama Aaron, biar sudah disakiti masih juga peduli. Kamu cuma buang-buang air mata kamu, Fan." Fani diam, tidak menggubris Rega.


"Aku tidak peduli Rega, biarkan aku sendiri!" Fani bicara dengan dingin. Fani tidak ingin bertengkar dengan Rega lagi. Gadis itu melangkah pergi meninggalkan Rega, Fani ingin menenangkan dirinya sendiri saat ini.


Carissa yang sudah merasa cukup dengan pelukan Aaron melepaskan pelukannya. wanita itu tersenyum pada Aaron. Senyummu mengalihkan duniaku, melihat senyummu dunia rasanya seketika membaik itu suara hati Aaron.


"Mas, kalau ada apa-apa hubungin aku ya? Aku akan selalu ada kok untuk mas." Aaron mengangguk kepala.


"Kamu kok jadi sweet sih sekarang? aku makin klepek-klepek." Aaron mengacak rambut gadis itu dan tertawa jahil.


"Modus amat, klepek-klepek dari Hongkong." Carissa mulai kesal, aku ngomong baik-baik dan khawatir dianya sudah kembali jahil lagi. untung jadi suami, kalau jadi teman sudah lama aku tendang.


"Jujur selalu dibilang modus, modus juga Selakau dibilang modus. Aku mah Selakau salah." Aaron membuat muka dramatis. Carissa hanya mencibir pria itu, dasar drama aku juga tidak pernah salahin dia kok batin Carissa.


*********


Jangan lupa like, komentar, dan Voteđź’•

__ADS_1


__ADS_2