
Paginya Aaron pergi ke kantor lebih pagi, bahkan Carissa tidak bertemu dengan pria itu. Carissa bersiap ke kampus dan di antar oleh sopir seperti biasanya. Sampai di kampus Carissa segera masuk ke kelasnya, menunggu dosen yang akan memberikan materi di kelasnya. Beberapa menit menunggu, Carissa mengecek handphone-nya dan mengecek WhatsApp miliknya. Grup kelas Carissa ternyata menjadi ramai karena adanya informasi dari ketua tingkat bahwa hari ini tidak jadi masuk karena dosennya berhalangan untuk hadir.
Mengetahui tidak jadi masuk kuliah Carissa segera keluar kelas, Carissa yang tidak sempat sarapan mampir ke sebuah kafe yang tidak jauh dari kampusnya.
Carissa memesan minuman dan beberapa jajanan tradisional. Untuk mengurangi kebosanannya Carissa mengeluarkan ponselnya dan membuka media sosial miliknya. Tidak ada yang menarik, Carissa hanya menarik ulur beranda.
"Permisi Mbak, boleh aku duduk disini?" Zein melangkah dengan sebotol minuman dan sepiring jajanan.
"Duduk saja mas, inikan tempat untuk umum." Carissa tersenyum kemudian kembali fokus pada handphonenya.
" Mbak sering sarapan disini?" Zain mencoba mengobrol dengan Carissa.
"Kadang-kadang kalau tidak sempat sarapan mas." Carissa menjawab dan kembali mengabaikan cowok yang ada di depannya.
"Mas aku duluan ya!" Carissa segera berlalu setelah menghabiskan sarapannya.
Zein mengangguk kemudian menatap kepergian Carissa dengan senyuman.
Beberapa saat kemudian Nurmansyah datang menemui Zein. Pria tua itu tampak lebih segar.
"Jadi, ada informasi apa Zein?" Zein tertawa dan menyalami Nurmansyah.
"Anda sudah tidak sabar rupanya, Anda sangat terburu-buru, Tuan!" Zein terkekeh, Nurmansyah ikut terkekeh.
"Aku merasa ini kabar yang sangat membahagiakan, Zein." Zein mengangguk memegang dagunya kemudian memajukan kepalanya berbisik pada Nurmansyah.
"Aaron mulai kalang kabut, perusahaannya mulai kacau Tuan.," Nurmansyah berbahak-bahak tahu rasa anak itu, Nurmansyah menyeringai licik.
"Kerja bagus, nanti aku transferan bonusmu." Zein mengangguk senang.
"Bagaimana dengan Carissa?" Zein menjadi murung kemudian berdehem sebentar.
"Sampai sejauh ini tidak ada celah untuk merenggangkan hubungan mereka, Tuan." Nurmansyahtersenyum kecut dan menatap serius pada Zein.
__ADS_1
"Selalu ada celah Zein, sedikit waktu kamu akan menemukannya." Zein mengangguk, Nurmansyah tersenyum licik. Tunggu saja kehancuranmu anak kurang ajar! Nurmansyah tersenyum licik membayangkan kehancuran Aaron. Kedua pria berbeda usia itu lalu menikmati minuman mereka sebelum akhirnya pergi melanjutkan aktivitas masing-masing.
Di tempat lain seorang pria tua mengerutkan alisnya mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya.
"Jadi semua tidak bisa diwariskan?" Lou menatap tajam sang pengacara.
"Tidak bisa tuan, karena disini tertulis akan cair jika nona Carissa menikah, dan ini hanya bias dicairkan oleh nona Carissa sendiri." Lou menghirup rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya yang mengepul.
"Carissa sudah menikah, apakah tanda tangan bisa dimanipulasi untuk mencairkan cek ini?" Lou memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang harus dilakukannya
.
"Tidak bisa tuan, karena banyak syarat untuk bisa mencairkan aset ini." Lou membuang rokoknya asal, selalu kakak iparnya itu menyusahkan dirinya. Lou kembali menghisap rokok dan menggoyang-goyangkan kursinya, pasti ada cara untuk membuat Carissa mencairkan cek itu. Dia hanya butuh sedikit waktu untuk menemukan cara itu.
Siang ini Arlan datang menemui Carissa di rumahnya, ia perlu berbicara dengan Carissa secepatnya. Arlan menekan bel rumah dengan cepat. Pelayan yang membukakan pintu segera mempersilahkan Arlan masuk dan menunggu di ruang tamu. Pelayan itu menyuruh pelayan lain untuk memanggil Carissa. Carissa yang di panggil segera berlari menemui Arlan di ruang tamu, pria itu tampak seperti menahan kesakitan.
"Lo tidak apa-apakan?" Arlan berusaha tersenyum, walau masih tampak menahan kesakitan.
"Gue tidak apa-apa, gue baik-baik saja." Arlan terlihat lebih santai. Arlan meminum jus yang disiapkan di atas meja oleh pelayan Carissa. Terlihat beberapa kali pria itu menghela napas kemudian menatap Carissa serius.
"Lo jaga jarak dari gue, sampai gue hubungin lo duluan. Keadaan sekarang sedang tidak memungkinkan untuk kita bersama." Carissa mengangguk kemudian menatap hati-hati ke arah Arlan.
"Lo punya masalah sama siapa?" Arlan menggeleng.
"Kalau ada waktunya gue bakal cerita, tapi bukan sekarang. lo jaga diri saja baik-baik, jangan percaya sama orang baru." Arlan menghela napasnya.
"Oke. Tapi nanti lo bakal cerita kan?" Arlan mengangguk pasti. Kemudian Arlan pamit, Carissa menahan Arlan untuk lebih lama yang ditolak dengan halus oleh pria itu.
Setelah sampai di luar rumah Carissa dan memastikan sekitarnya aman, Arlan segera menghubungi seseorang.
"Bro, cepatan jemput gue dirumah Carissa. Gue sekarat nih." Arlan berusaha menahan darah yang mengalir dari perutnya. Lumayan juga luka robeknya kali ini.
" Buruan naik, sebelum anak buah Aaron sadar kita berada disini!" Arlan segera naik kemudian mobil melaju dengan kencang.
__ADS_1
"Bro, untuk apa lo capek-capek melindungi cewek itu? Dia kan sudah menikah?" Pria yang menyetir menatap Arlan kasihan.
"Ini karena janji gue sama bokap gue, gue akan merasa lega kalau semuanya telah selesai." Pria itu hanya menggelengkan kepala mendengar pembelaan Arlan.
"Kita kemana? Rumah sakit?" Arlan menggeleng, pria itu meminta untuk diturunkan di rumahnya.
"Lo yakin ini akan selesai? ini terlalu rumit bro." Arlan terkekeh mendengar penuturan sahabatnya.
"Yakin, gak serumit hubungan lo dan dia kali." Sahabatnya itu menjitak kepala Arlan.
"Semerdeka lo." Arlan hanya terkekeh kemudian terdiam merasakan perutnya yang makin nyeri.
Carissa menatap kepergian Arlan dengan bertanya-tanya apa yang telah menimpa Arlan? Seingat Carissa Arlan tidak memiliki musuh atau apapun, pria itu sejak dulu merupakan orang yang humoris dan gampang berteman dengan siapapun.
Carissa mengamati pelayan-pelayan yang ada di rumah ini tidak ada yang mencurigakan sedikitpun. Carissa menajamkan matanya ke arah gerbang rumahnya, mencari-cari siapa tahu ada orang- orang yang mengikuti Arlan. Tidak terlihat apapun.
Carissa khawatir untuk banyak hal, Carissa segera ke kamarnya untuk menghubungi seseorang di masa lalu. Carissa segera mengirimkan email untuk orang itu.
"Bisa tidak pertemuannya dipercepat?"
Carissa tidak akan sanggup untuk menunggu satu Minggu lagi, Carissa khawatir akan banyak hal yang terjadi lagi. Apa mungkin Arlan ada kaitannya dengan orang-orang yang mengikutinya? Carissa menggeleng tidak tahu jawaban yang tepat untuk itu.
"Bersabarlah, jangan keluar sendirian. aku akan coba mengosongkan jadwalku."
Carissa mengucapkan terimakasih dan menghapus riwayat obrolannya dan menyembunyikan laptop yang digunakannya di tempat yang tidak akan mudah terbaca. Carissa berjalan ke balkon untuk melihat sekitar rumahnya, lama gadis itu memicingkan matanya.
Carissa sedikit lega tidak menemukan hal yang aneh pun.
Carissa turun ke dapur untuk membuat jus alpukat, kemudian berjalan ke samping rumahnya dan duduk di atas gazebo.arissa melambaikan tangan mengajak Bi Sitti ikut gabung dengannya.
"Ada apa nyonya memanggil saya?" Carissa tersenyum kemudian mendekatkan tubuhnya dengan wanita itu.
"Sejak kapan Aaron pandai menggunakan senjata? atau memiliki senjata?" Bi Sitti menggeleng kemudian berdiri memohon diri untuk pergi.
__ADS_1
"Akan ada saatnya nyonya tahu sendiri dari tuan, nyonya cukup bersabar." Carissa cemberut, kepala pelayan pun ternyata pelit informasi.
Carissa menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, Carissa akan mencari tahu sendiri dari suaminya. Carissa sangat tidak sabar untuk bertemu dengan orang yang akan menolongnya itu.