
Carissa dan Nadirah benar-benar bersenang-senang seharian, mulai dari membeli beberapa potong pakaian baru, melakukan berbagai perawatan diri ke salon. Para bodyguard yang menemani mereka dibuat kewalahan karena banyaknya belanjaan yang mereka beli
"Dek, ini abangmu nggak bakal marah kan?" Carissa sedikit khawatir melihat belanjaan mereka yang sangat banyak, apalagi harga dari barang-barang mereka yang membuat Carissa sesak napas.
"Santai saja mbak, Bang Aaron akan sangat senang. Karena semua barang yang mbak beli akan membuat mbak semakin cantik loh." Nadirah tersenyum meyakinkan.
"Habis ini kita kemana?" Nadirah terlihat berpikir, gadis itu berulang ulang melirik barang-barang mereka yang sudah penuh di dalam mobil.
"Kita makan siang mbak, barang-barang belanjaan kita biar pak Tino yang antar." Carissa mengangguk dan mengikuti langkah Nadirah. Carissa tersenyum bahagia, ternyata semenyenangkan ini kalau mempunyai saudara perempuan.
"Mbak punya alergi atau apa sama makanan tertentu tidak?" Carissa menggeleng, sejak kecil dia tidak punya alergi apapun. Itu anugrah terindah yang dimilikinya, dia cocok dengan semua makanan.
"Mbak, kita makan seafood saja. Mau ya?" Carissa mengangguk. Nadirah segera menyeret Carissa dan memilih menu untuk mereka berdua.
"Mbak dulu sering makan di tempat seperti ini?" Carissa menggeleng, ayahnya sangat melarang dirinya untuk makan di luar. Semua makanan yang diinginkannya selalu disiapkan dirumahnya.
"Nggak sih, mbak selalu makan di rumah. Ada koki khusus, mbak tinggal request saja mau makan apa." Nadirah mengangguk dan kelihatan tertarik untuk bertanya lebih jauh tentang keluarga Carissa.
"Orang tua mbak dimana sekarang?" Carissa tersenyum lembut menatap Nadirah.
"Mereka berdua sudah tidak ada di dunia ini." Nadirah tercengang, gadis itu menggigit bibir merasa bersalah.
"Mbak maaf yah, aku tidak sengaja." Carissa mengangguk dan menatap Nadirah tenang.
"Nggak papa, kamu kan juga tidak tahu." Nadirah mengangguk, dan tersenyum.
__ADS_1
perbincangan kedua gadis itu terhenti ketika pelayan mengantarkan pesanan mereka .
Carissa dan Nadirah makan dengan tenang. Carissa menghentikan aktivitas tangannya dan memicingkan matanya ketika merasa diperhatikan oleh seseorang. Benar saja, beberapa meja di depannya Nurmansyah terlihat makan bersama dengan seorang gadis. Bukannya merasa malu, Nurmansyah yang tertangkap basah menatap Carissa malah tersenyum dan mengedipkan matanya dengan genit. Melihat hal itu Carissa menjadi bergidik jijik dan mengalihkan pandangannya. Dasar pria tua tidak tahu malu Carissa merasa geram
"Mbak ada apa sih? Kok mbak tidak jadi makan?" Carissa mengarahkan Nadirah dengan matanya ke arah dimana Nurmansyah berada. Mata Nadirah terbelalak melihat papanya makansiang ditempat ini dan juga melihat teman papanya makan siang.
"Mbak itu tuh, cewek yang juga kekasih Ben. Yang aku ceritain, ingat kan?" Carissa mengamati gadis yang berada di samping Nurmansyah, gadis itu cantik dan masih seumuran Nadirah. Carissa tersenyum miris, gadis itu mungkin terhimpit ekonomi sehingga mau menjadi kekasih pria tua seperti Nurmansyah.
"Dek, apa ini tidak berbahaya? kamu tahukan kalau papa tidak suka sama aku?" Nadirah dengan santai melanjutkan makannya dan kemudian mengunyah makanannya dengan perlahan.
"Santai saja mbak, kita diawasi oleh bodyguard bang Aaron jadi papa gak bakal berani macam-macam." Melihat Nadirah yang terlihat biasa saja, Carissa akhirnya ikut melanjutkan makannya dan mengabaikan keberadaan Nurmansyah. Setelah makan Nadirah segera membayar makanan mereka dan keduanya meninggalkan Restoran itu.
Nurmansyah mendengus kesal, dia tidak bisa bergerak lebih leluasa untuk membuntuti Carissa dan Nadirah karena keberadaan Seshil, istri sirinya. Nurmansyah segera mengetikkan instruksi untuk anak buahnya agar mengikuti kemana perginya Nadirah dan Carissa. Nurmansyah juga merasa kecolongan melihat keakraban yang diperlihatkan oleh Carissa dan Nadirah. dia merasa telah melewatkan banyak hal sehingga tidak tahu apa-apa tentang perkembangan Carissa. Mengapa mereka berdua terlihat sangat akrab?
Nurmansyah kembali menaruh perhatian pada Seshil. Setelah kebangkitan perusahaanya, Nurmansyah kini kembali dikelilingi oleh para wanita. Namun yang berhasil menjadi istrinya walaupun secara siri adalah Seshil, gadis itu sangat cantik walaupun lebih cantik Carissa. Nurmansyah tidak mempermasalahkan itu lagi pula dia punya kebutuhan yang harus dipenuhi. dia tidak lagi berani untuk menyewa ******* atau wanita penghibur karena takut untuk tertular penyakit-penyakit menular.
Carissa sibuk sampai malam menyortir pakaian yang masih digunakan atau sudah digunakan oleh dirinya. Malamnya semua makanan kesukaan Aaron disiapkan di meja makan, Carissa yang memasuki ruang makan segera tersenyum hangat pada Nadirah. Carissa sedikit kaget melihat Aaron sudah duduk di meja makan, sepertinya suaminya ini sampai sejak sore di rumah ini.
Aaron menatap Carissa dengan teliti, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gugup Carissa di buatnya, Carissa ikut mengamati penampilannya. Dia mengenakan piyama lengan pendek dan celana panjang, tidak ada yang aneh menurut Carissa. Aaron segera menepuk kursi disampingnya, mengisyaratkan agar Carissa ikut duduk disampingnya. Nadirah tidak memerhatikan pasangan suami istri itu. Nadirah menyibukkan diri dengan memilih menu makan untuk dirinya.
Setelah makan malam, Carissa mengikuti Aaron yang menggenggam tangannya. Carissa bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat Aaron jalan tergesa-gesa seperti ini. Sampai di kamar, Aaron menatap Carissa penuh selidik.
"Kenapa rambutnya jadi kecoklatan?" Carissa menggaruk tengkuknya, dan menatap Aaron dengan senyum manis agar Aaron tidak terlalu tegang lagi menatapnya.
" Bosan mas dengan yang warna hitam, jadi Carissa mengubah warna rambut jadi warna coklat." Aaron tersenyum sinis mendengar pembelaan Carissa.
__ADS_1
"Besok ganti jadi hitam, aku tidak mau tahu dan tidak menerima protes!" Carissa ternganga mendengar permintaan Aaron. Carissa sudah bersusah payah untuk mendapatkan warna rambut seperti ini. Selain karena proses pewarnaannya yang lama Carissa juga menyukai warna baru rambutnya ini.
"Nggak bisa dong mas, Carissa suka warnanya." Aaron diam dan menatap Carissa frustrasi, pria itu masuk ke kamar mandi yang disusul oleh dentingan pintu yang sangat keras.
Carissa menatap kepergian Aaron dengan kesal, Carissa menjadi kesal sekarang Aaron semakin menjengkelkan dan banyak permintaan yang ingin dituruti. Carissa segera menuju meja rias, menatap bayangannya di cermin sepanjang penglihatan Carissa tidak ada yang aneh dengan warna rambutnya.
Dalam kamar mandi Aaron mengguyur tubuhnya dengan air dingin, sejak di ruang makan tadi Aaron menjadi bergairah melihat istrinya dengan tampilan barunya itu. Seperti informasi yang didapatkan dari para bodyguardnya Carissa dan Nadirah berbelanja dan melakukan perawatan diri hari ini. Aaron tidak menyangka jika Carissa menjadi semakin cantik dan menggiurkan dimatanya. Aaron membenci Carissa yang terlihat semakin cantik, pasti banyak pria yang terpesona dengan istrinya hari ini.
Setengah jam kemudian Aaron keluar dari kamar mandi, Carissa terlihat sudah berbaring memunggunginya. Aaron memakai piyamanya dan ikut bergabung di atas ranjang bersama istrinya. Aaron sengaja memeluk istrinya dari belakang, Aaron merasakan tubuh istrinya menegang beberapa saat. Carissa belum tertidur, Aaron mulai menggoda istrinya dengan menciumi tengkuk istrinya.
Carissa mulai tidak nyaman dengan perlakuan Aaron, Carissa berusaha melepaskan diri dari pelukan Aaron. Gadis itu masih kesal pada Aaron yang tadi marah hanya karena warna rambutnya. sekarang pria itu dengan seenak jidatnya malah mencuri kesempatan dengan melemparkan ciuman-ciuman kecil pada tengkuk istrinya.
"Lepasin, aku lagi marah." Carissa bersuara tegas membuat Aaron terkekeh kecil dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Dosa lo marah sama suami," Aaron mencium pipi Carissa sambil tertawa.
"Mas yang duluan marahin Carissa, kalau mas lupa." Aaron tersenyum mendengar suara kesal istrinya.
"Kamu juga kan, ngapain rambutnya di warna-warna segala. Mas tidak suka kamu seperti itu rambutnya mas suka kamu rambutnya warna hitam, lebih fresh." Carissa menghela napas tidak setuju. Aaron terlalu mengada-ada yang ada dengan warna rambutnya yang kecoklatan dirinya terlihat lebih fresh. Carissa akhirnya berbalik untuk menghadap Aaron.
"Tapi Carissa suka yang warna ini, gimana dong?" Aaron menghela napas frustasi, kalau dia marah pasti Carissa marah balik.
"Oke. Tetapi kalau kamu tidak mau mengubah warna rambut, kamu harus pergi kemana pun bersama mas dan tidak ada penolakan!" Carissa cemberut, selalu saja Aaron membuat keputusan yang membuatnya rugi. Tidak sepenuhnya rugi Aaron sangat tampan untuk jadi gandengan, hehehe.
"Kangen mas, nggak?" Carissa menggeleng, Aaron melepaskan pelukannya. Carissa mendengus dan segera menjauh dari Aaron.
__ADS_1
"Katanya nggak kangen, tapi kok dilepas pelukannya malah cemberut?" Carissa menarik selimut menutupi seluruh wajahnya apalagi telinganya mendengar Aaron yang tertawa geli. Aaron menggulingkan badannya lalu membawa istrinya dalam pelukannya. Aaron tertawa merasakan istrinya membalas pelukannya. Kadang kala bibir dan hati tidak sinkron untuk masalah perasaan.