
Di rumahnya Seshil menatap Nurmansyah sebel, dari tadi pria tua itu sibuk dengan ponselnya dan sesekali tersenyum manis.
Seshil benar-benar mengawasi pergerakan Nurmansyah. Ketika Nurmansyah pergi ke kamar mandi dengan gerakan cepat Seshil segera memeriksa ponsel Nurmansyah. Tidak ada yang menarik sama sekali, kecuali salah satu percakapan Nurmansyah dengan seseorang. Orang itu mengirimkan gambar seorang gadis yang sedang memasak dan sepertinya gambar ini diambil candid. Seshil mengirimkan salah satu foto tersebut ke handphone miliknya dan menghapus riwayat pengirimannya agar tidak ketahuan Nurmansyah.
Di kantornya Aaron tersenyum menyeringai melihat saham yang anjlok, itu artinya sedikit waktu lagi perusahaan ini akan benar-benar gulung tikar. Aaron tidak peduli karena dirinya sudah membuka perusahaan yang lebih kecil tetapi dengan orang-orang yang bisa dipercaya. Tidak seperti ditempat ini, semua yang punya posisi menjadi ular yang bisa menikamnya sewaktu-waktu.
Mr. X tidak lagi menerornya beberapa minggu terakhir ini. Entah karena memang perusahaan yang dipimpin Aaron sudah tidak menarik dimatanya atau karena pria itu lagi merancang rencana yang lain. Aaron tidak tahu, yang pasti Aaron selalu sedia dengan segala kemungkinan dari Mr.X
Lamunan Aaron terhenti ketika mendengar dering telepon dari ponselnya. Aaron mengangkatnya dengan jantung yang berdegup kencang. Sepertinya ada yang sangat penting.
"Walaikumsalam, Oma. Oma apa kabar?" Aaron menelan ludahnya mendengar jawaban pedas dari seberang sana.
"Alah, ngapain tanya kabar Oma. Kalau Oma tidak telepon kamu juga tidak pernah menelpon oma." Aaron menelan ludahnya.
"Jenguk oma dong, bawa istrimu. Oma tidak terima alasan atau penolakan, ini hukuman kamu. Klik!" Tanpa membiarkan Aaron menjawab oma segera mematikan sambungan teleponnya. Aaron menarik nafas bagaimana membicarakan ini dengan Carissa.
Aaron terlalu menikmati hidupnya sekarang sampai lupa kalau ada omanya yang harus dijenguk, dikenalkan dengan Carissa lebih cepatnya. Aaron khawatir akan penolakan oma, sejak zaman dahulu banyak cewek-cewek yang pernah pdkt dengannya mundur karena sikap ceplas-ceplos omanya. Fani pun pernah menjadi bulan-bulanan omanya. Selain itu oma punya standar tersendiri dalam menentukan pasangan hidup anak-anaknya. Aaron menelpon Aziz untuk datang menemuinya.
Di belahan kota yang lain seorang wanita tua yang terkenal karena ceplas ceplos dan keras kepala terduduk sambil tersenyum menyeringai.
"Mari kita lihat, siapa istri Aaron. Siapa gadis yang membuat Nurmansyah bodoh itu mendapatkan balasan dari dosa-dosa masa lalunya." Diana tersenyum sambil menikmati rebusan air jahe di depan rumahnya.
"Eh oma, senang banget kelihatannya. Ada apa oma?" Sasha tersenyum pada oma yang dibalas datar wanita tua itu. Hal ini kadang membuat Sasha kesal, tapi mau bagaimana lagi oma memiliki banyak harta yang bisa digunakannya dengan cuma-cuma. Kalau dia sampai berbuat tidak baik pada wanita tua ini pasti dirinya tidak akan menikmati lagi harta-harta itu.
"Aaron akan datang, sana masuk! Jangan ganggu waktu istirahatku." Sasha masuk dengan bibir mencebik. Palingan juga Carissa akan terusir, apalagi kalau sampai oma tahu Carissa tidak bisa memberikan keturunan. Gadis itu jadi memikirkan hal-hal indah untuk membalas keduanya, Aaron dan Carissa.
Di rumah Carissa dan Nadirah selesai kursus memasak dan masakan mereka habis diberikan pada para bodyguard yang menjadi kelinci percobaan untuk masakan mereka.
"Mbak, ngapain sih ikut kursus seperti itu? Disini sudah banyak pelayan kok." Carissa tertawa kemudian tersenyum pada Nadirah.
"Jaga-jaga sih, kamu perlu tahu mbak dan Abang kamu menikah bukan karena jatuh cinta. Bisa saja kan? Suatu saat nanti Abang kamu menemukan orang yang tepat dan jatuh cinta dengan orang tersebut, dan mungkin pada saat itu abang kamu akan berpisah dengan mbak. Setidaknya dengan pintar memasak mbak bisa cari kerja atau membuka usaha sendiri tentang masak-memasak. Mbak sudah pernah merasakan susahnya jika tidak punya keterampilan apa-apa, jadi ketika ada kesempatan mbak gunakan dong." Nadirah mengangguk paham.
"Kenapa mbak tidak membuat bang Aaron agar tergila-gila pada mbak, jadi mbak tidak perlu berpisah dengan bang Aaron kan?" Carissa menggeleng.
"Mbak tidak bisa, mbak takut dengan resikonya." Nadirah diam, padahalkan sudah nikah yang belom nikah saja banyak kok yang berjuang untuk mendapatkan hati gebetan mereka.
"Mbak, Nadirah yakin kok bang Aaron gampang mbak jinakkan" Nadirah mengedipkan mata. Carissa terbelalak dan semburat merah muncul di wajahnya.
"Au ah gelap!" Nadirah tertawa mendengar jawaban Carissa.
"Mbak pernah pacaran sebelumnya?" Carissa menggeleng.
__ADS_1
"Rugi banget mbak, kalau pernah pacaran mbak akan tahu tipe-tipe pria dan akan bersyukur dapat pria seperti bang Aaron." Carissa terlihat berpikir.
"Iyalah bang Aaron kakakmu, pantas kamu promosikan." Nadirah juga tertawa.
"Aku dukung mbak kok, kalau mbak membuat bang Aaron terikat sepenuhnya pada mbak." Carissa menyentil dahi Carissa.
"Mbak aku make up mbak yuk, biar bang Aaron pangling." Carissa menggeleng tegas.
"Mbak ayolah, sesekali mbak bahagiain aku." Nadirah memasang wajah memelas pada Carissa.
"Nanti aku dikira menggoda dia lagi, gimana sih." Nadirah langsung menyeret Carissa.
"Tidak bakal dong, sudah sah kok mbak". Carissa pasrah mengikuti adik iparnya ini.
Carissa rasanya mau tertidur ketika Nadirah mencoret-coret wajahnya.
"Kamu sejak kapan pintar make up orang lain?" Nadirah menjawab sambil fokus dengan kuasnya.
"Sejak dilu mbak, habis aku tidak dibolehin untuk main sama Abang." Pantas saja tangan Nadirah dengan lincah bermain di wajahnya. Berarti Nadirah menghabiskan waktunya di rumah, itu artinya Nadirah pasti sering menghabiskan waktunya dengan bermain make up.
"Kamu tidak kangen mama?" Nadirah terdiam.
"Kangen, tapi mau gimana. Nanti kalau Nadirah libur, mbak mau kan temanin Nadirah ketemu mama?" Carissa mengiyakan. Keduanya larut dalam obrolan ringan sampai Nadirah melarang Carissa membuka mata.
"Wow, mbak jadi cantik banget. Kamu pintar banget, ajarin mbak ya!" Nadirah mengangguk semangat.
"Ini tidak masalah kalau basah?" Nadirah mengangguk, itu make up mahal dan rata-rata waterproof.
"Makasih ya Nad, aku naik ke atas dulu." Nadirah mengangguk dan melanjutkan merapikan peralatan make up miliknya.
Carissa berguling-guling di atas kasur, dirinya bingung mau melakukan apa. Apalagi setelah memutuskan untuk cuti kuliah. Carissa yang tidak bisa tidur siang menghabiskan waktunya dengan menonton drama Korea.
Aaron pulang lebih sore dengan wajah yang terlihat lelah. Pria itu segera menuju kamarnya, Aziz yang mengekorinya berbelok ke arah ruang kerja pria Aaron.
"Kreek" Aaron terbelalak melihat Carissa yang keluar dari kamar mandi. Gadis itu terlihat sexy dengan titik air yang membasahi tubuhnya. Aaron menelan ludahnya kemudian menerobos masuk dalam kamar mandi. Carissa mengangkat bahu acuh. Kemudian mengeringkan rambutnya dan mencari pakaiannya.
Aaron yang keluar dari kamar mandi menghampiri istrinya, Carissa mengerutkan alis. Aaron membelek-belek wajah Carissa seperti memerhatikan sesuatu.
"Habis darimana?" Carissa menggeleng. Jantungnya berdegup kencang melihat Aaron yang sedekat ini dengannya. Tatapan mata Carissa terkunci pada mata Aaron. Aaron menangkup pipi Carissa dan mencubit bibir Carissa menggunakan bibirnya. Kedua anak manusia itu tenggelam dan gairah pertarungan bibir.
Adzan magrib yang berkumandang membuat Aaron melepaskan tautan bibirnya dan mencium ubun-ubun istrinya. Carissa yang merasa malu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Aaron memeluk gadis itu dan satu tangannya memainkan rambut Carissa.
__ADS_1
"Tunggu mas, kita jamaah." Carissa mengangguk dan menjauhkan dirinya dari Aaron. Aaron menyembunyikan senyum melihat istrinya itu yang terlihat malu-malu padahal ini bukan yang pertama kalinya untuk mereka.
Selesai shalat dan berdoa bersama Carissa Salim pada suaminya. Aaron tidak segera bergegas pria itu malah duduk disamping istrinya.
" Kamu di make up sama Nadirah ya?" Carissa mengangguk.
"Aku sampai minta diajar make up sama Nadirah, biar aku bisa make up sendiri." Aaron memerhatikan wajah istrinya.
"Kamu jangan keseringan make up, aku senang kamu natural." Carissa cemberut.
"Tapikan aku tambah cantik kalau di make up mas." Aaron menggeleng.
"Iya, tapi aku suka kamu yang natural sayang." Carissa cemberut dan berdiri.
"Tolong ambilkan mas Al Qur'an, sayang." Carissa yang berdiri untuk mengambil minum segera mengambilkan suaminya Al Qur'an dan ikut duduk disamping Aaron. Aaron mulai mengaji, Carissa hanya memerhatikan saja.
Selesai shalat isya Aaron dan Carissa turun untuk makan malam. Carissa merasa risih pada Aaron yang selalu mendekatinya.
"Mas, ihhh jauh-jauh." Aaron menyipitkan matanya menatap Carissa curiga.
"Kamu kenapa mau mas jauh-jauh? Tadi kamu juga biasa saja mas dekatin bahkan mas ciumpun kamu, Akhhhh." Carissa menatap penuh permusuhan pada suaminya itu.
Aaron meringis merasakan kakinya yang sakit karena diinjak Carissa. Carissa berjalan meninggalkan Aaron dan segera duduk di meja makan. Dasar pria tidak tahu malu, dari tadi Carissa sadar mereka menjadi sorotan orang-orang di rumah ini, termaksud Nadirah dan Aziz yang terlihat menahan senyum dengan kehadiran Carissa.
" Sayang, kamu kok main tinggal sih. Tidak asyik banget!" Aaron datang dengan rengekan yang tidak dipedulikan oleh Carissa.
Nadirah menggaruk kepalanya melihat tingkah dua sejoli yang duduk di depannya ini. Carissa terlihat diam dan mengabaikan Aaron sedangkan Aaron mendekatkan kursinya dan melakukan sesuatu untuk menarik banyak perhatian Carissa.
"Yakin tidak mau ngomong dengan mas?" Carissa masih diam, Aaron menarik dagu Carissa sehingga matanya langsung bertatapan dengan mata Carissa.
Aaron yang tenggelam dalam tatapan Carissa kembali mendekatkan wajahnya. Merasa terabaikan dan menjadi pihak yang tidak dianggap di tempat ini Aziz segera menutup mata Nadirah dan menarik gadis itu pergi meninggalkan ruang makan.
"Ihhhh, Abang itu apa-apaan sih main tarik-tarikan dan menutup mata aku." Aziz menutup telinganya mendengar suara Nadirah yang menggelegar.
"Kamu harus paham dong, itu tadi ada adegan dewasa jadi kita harus pergi dari sana." Nadirah berkacak pinggang.
"Aku tidak peduli, akukan mau makan malam. aku juga sudah cukup umur kok." Aziz menatap Nadirah datar.
"Serah deh, aku mau pergi makan diluar kalau kamu mau ikut silahkan kalau mau masuk kembali di dalam silahkan." Aziz berjalan meninggalkan Nadirah. Nadirah merasa kikuk untuk kembali ke dalam, dengan hati yang dongkol Nadirah mengikuti Aziz yang sudah jauh bahkan Nadirah sampai harus berlari kecil untuk menyusul pria itu.
"Akhhhhh" Aaron kembali merasakan sakit kali ini yang menjadi sasaran Carissa adalah perutnya, walaupun sebenarnya tidak terlalu sakit sih.
__ADS_1
"Mas, kamu apa-apaan. Nadirah dan Aziz sampai tidak jadi makan malam." Aaron menatap Carissa dingin, pria itu mengambil makan untuk dirinya.
"Nadirah dan Aziz dipedulikan, suami sendiri diacuhkan." Carissa menelan ludah kelu. Aaron benar-benar fokus pada makanannya dan tidak lagi menatap Carissa. Carissa menghela napas, apa malam ini dirinya keterlaluan pada Aaron ya?