Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Lanjutan mencari nadirah


__ADS_3

Carissa berharap-harap cemas, sudah empat bangunan yang mereka periksa bersama Arlan dan semua bangunannya benar-benar kosong. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Nadirah. Peluh mulai membasahi mereka berdua.


"Ar, kalau gak ketemu gimana?" Carissa menatap Arlan khawatir, takut Nadirah kenapa-napa nantinya.


" Lo berdoa ipar lo gak kenapa-kenapa." Carissa mengangguk dan mulai merapalkan doa dalam hatinya. Arlan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi agar menemukan gedung lain yang belum mereka periksa. Arlan mendengus ketika merasakan tidak ada lagi gedung, sekarang yang ada hanyalah pohon-pohon besar.


Arlan tidak putus asa, pasti ada gedung lain yang akan ditemukannya. Arlan tersenyum melihat ada jejak mobil yang menggilas rumput, pasti itu jejak si pelaku. Arlan menyusuri jejak itu dan hasilnya buntu, mereka justru tembus ke gedung yang sudah mereka periksa. Arlan mendesah frustrasi mungkin itu jejak Aaron yang juga mencari Nadirah.


“Lo kenapa si Cuma putar-putar disini saja dari tadi?” Carissa menatap Arlan sebal.


“Maaf, gue kira tadi kita mengikuti jejak si pelaku padahal mungkin itu jejak Aaron karena tembus di gedung yang sama dengan yang sudah kita lewati.” Carissa mendesah lelah, mereka sudah menghabiskan waktunya hanya dengan berputar-putar mencari Nadirah.


“Terus gimana, apa tidak ada jalan lain lagi yang lo tahu? Setidaknya kita tidak boleh pulang kosong ‘kan?” Arlan mengengguk, mereka sudah sangat jauh menyusuri hutan ini. Pria itu mulai menyetir dengan pelan sembari matanya memerhatikan sekitarnya dengan ssaksama. Setelah jauh masuk dalam hutan akhirnya Arlan tersenyum lega ketika retinanya menangkap sebuah gedung yang berdiri kokoh dihadapannya, walaupun warna gedung ini mulai usang. Gedung ini memang berada sangat jauh dan lebih terpencil daripada yang lainnya.


Semoga di gedung ini mereka akan menemukan Nadirah. Arlan segera memarkirkan mobilnya dan turun dari mobil untuk mengecek gedung itu. Carissa mengikuti Arlan turun dari mobil, Arlan berjalan sambil mengamati jejak gilasan di atas rumput. Carissa berjalan lebih cepat mendahului Arlan segera menuju pintu gedung itu.

__ADS_1


"Ar, pintunya benar-benar kekunci." Arlan mendongak mendengar suara cempreng Carissa, Carissa sudah berada di depan pintu gedung itu. Arlan segera berlari menghampiri Carissa. Arlan menjadi lemas melihat pintu yang dililit rantai dan gembok yang besar, Arlan pikir dirinya bisa mendobrak pintu itu agar terbuka. Melihat Arlan yang lemas, Carissa berjalan mencari alat yang dapat menghancurkan rantai itu. Mata Carissa berbinar bahagia melihat ada potongan besi besar, pasti bisa digunakan untuk menghancurkan rantai itu. Carissa segera menghampiri Arlan dan menarik pria itu.


"Ar, ini ada besi, pakai ini!" Arlan mengambil potongan besi yang ditunjukkan Carissa kemudian kembali ke gedung untuk menghancurkan rantai yang melilit di pintu itu. Keringat membasahi wajah Arlan, beberapa pukulan tidak langsung menghancurkan gembok itu. Ternyata tidak mudah menghancurkan gembok ini, sehingga Arlan harus mengeluarkan semua tenaganya agar pintu terbuka.


Kreek! Rantai itu terlepas dan pintu akhirnya terbuka, Arlan melemparkan besi yang masih ditangannya ke samping gedung itu. Napas pria itu berkejaran karena kelelahan, tubuhnya merosot di depan pintu. Melihat pintu yang terbuka, Carissa langsung menyelonong masuk.


"AAAAAAAAAAA," Carissa menjerit melihat Nadirah yang terbaring tanpa menggenakan apapun. Gadis itu terlihat menggenaskan dengan luka-luka yang ada ditubuhnya, Carissa juga melihat ada tetes-tetes darah di lantai. Ada sisa-sisa air mata dimata Nadirah, tangan Carissa gemetaran memeriksa nadi Nadirah. Syukur masih berdenyut, Carissa mengelap air matanya. Wanita itu segera berdiri menuju pintu dan menahan Arlan yang terlihat ingin masuk.


"Lo, cari kain atau apapun untuk menutup tubuh Nadirah. Nadirah tidak mengenakan apapun, kondisinya sangat memprihatinkan." Arlan mengangguk, dan kemobilnya mencari kain. Tidak ada kain yang mendukung sama sekali. Pria itu membuka bagasinya, Arlan menghembuskan napas lega ketika menemukan handuk yang dilupakannya dari puncak kemarin. Arlan menciumnya, agak apek sih. Arlan berlari menghampiri Carissa.


"Cuma ini yang ada, tapi baunya apek banget." Carissa menarik handuk itu dan berusaha memakaikannya pada Nadirah, tidak cukup untuk menutupi tubuh gadis itu.


"Ar, kesini sekarang!" Arlan membalik badannya berjalan ke arah Carissa.


"Ar, pakaiannya sudah sobek-sobek kita bawa pulang atau gimana?" Arlan menggeleng.

__ADS_1


"Jangan! Mungkin saja dipakaiannya ada sidik jari pelaku. Kita bawa Nadirah saja keluar dari sini, gadis ini butuh perawatan yang lebih baik." Arlan mencoba menggendong Nadirah, Carissa mengikuti pria itu. Aaron dan Nurmansyah bertemu di gedung sama keduanya saling menatap kecewa. Pencarian mereka malah masih menghasilkan jalan butu. Dengan canggung Nurmansyah mendekati Aaron.


“Kamu percaya tidak kalau papa bilang ini semua Carissa yang lakukan?” Aaron menelan ludah, tidak mungkin. Carissa tidak mungkin sejahat itu, dia kenal istrinya bahkan Carissa dan Nadirah makin dekat sekarang ini.


“Papa jangan mengada-ngada. Papa jangan mengkambinghitamkan Carissa.” Aaron bersuara tajam pada papanya. Nurmansyah tersenyum sinis, kemudian memberikan handphonenya.


“Bagaimana? Masih tidak percaya?” Aaron terdiam, itu nomor yang sama dengan nomor Carissa. Tapi mengapa? Apa ada orang lain yang sengaja mengadu domba mereka?


Aaron tidak menanggapi Nurmansyah, pria itu segera ke mobilnya melanjutkan pencariannya. Aaron masih terbayang-bayang bukti yang ditunjukan Nurmansyah tadi, tapi itu belum pasti bisik hatinya. Aaron tersenyum menyeringai melihat ada mobil yang parkir di gedung yang agak terpencil di hutan ini. Semoga ini mobil pelaku, dan mereka tertangkap basah. Sayangnya, Aaron menjadi marah melihat siapa yang ada didepannya. Itu Carissa, bersama seorang pria. Apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh papa?


"JADI KAMU PELAKUNYA?" Arlan mendongak, Aaron berdiri dengan muka bengis dihadapannya. Pria itu hampir menonjok muka Arlan, tapi tertahan melihat Nadirah yang berada dalam gendongan Arlan. Carissa membulatkan mulut melihat Aaron ada di depannya. Satu mobil lagi menyusul, yang keluar Nurmansyah ditemani anak buahnya.


"Bukan gue, gue cuma membantu Carissa mencari Nadirah. Lo suruh anak buah lo menyelidiki semua di dalam gedung itu. Banyak barang yang bisa lo jadikan bukti." Aaron menahan geram kemudian menyuruh anak buahnya untuk mengambilkan selimut yang dibawa oleh papanya. Kemudian pria itu mengambil alih Nadirah membawanya dalam gendongannya.


"KALAU SAMPAI ADEK GUE KENAPA-KENAPA, LO ORANG PERTAMA YANG AKAN GUE CARI." Carissa melongo, kenapa Arlan yang malah dipersalahkan.

__ADS_1


"Lo, jangan salahin Arlan. Arlan itu bantuin kita semua." Carissa bersuara tenang. Nurmansyah tersenyum sinis, membantu apa yang dimaksud Carissa? Dasar wanita ular yang mencari muka pada Aaron.


"Awas saja, kalau aku tahu ini ada hubungannya dengan kalian berdua!" Aaron menatap mereka berdua penuh benci, Carissa ingin membela diri. Terlambat, Aaron sudah pergi diikuti oleh Nurmansyah dan yang lainnya. Melihat kepergian mereka Arlan dan Carissa berpandangan penuh arti kemudian tertawa miris. Jadi seperti ini akhirnya? Mengapa mereka berdua yang ditatap penuh permusuhan?


__ADS_2