Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Kecerobohan Carissa


__ADS_3

Carissa yang diliputi oleh rasa penasaran mengabaikan larangan Aaron yang melarang dirinya untuk keluar sendirian, siangnya Carissa meminta antar ke rumah Arlan. Carissa tidak menemukan petunjuk apapun tentang Arlan, Carissa tidak berani mengetuk pintu untuk masuk ke dalam rumah itu. Carissa hanya mengamati dari kejauhan. Carissa kemudian naik grab untuk ke tempat lain Carissa menggerutu kesal dalam hatinya, kenapa juga dia tidak membeli mobil sendirian saja lumayanlah tidak perlu capek capek naik grab.


Carissa mengikuti seseorang yang sepertinya dari rumah Arlan setelah jauh berjalan Carissa merutuki kebodohannya, bisa saja kan itu relasi bisnis ayah Arlan atau mungkin keluarganya. Carissa menepuk jidatnya sendiri, kemudian meminta untuk diantar ke mall pada sopir gran awalnya sopir grabnya mengomeli Carissa, sopir itu berhenti mengomel setelah Carissa berjanji untuk memberikan uang tambahan yang lebih dari tarif grabnya. Sampai di mall Carissa berjalan-jalan sendirian mengelilingi mall. Ia tidak membeli apapun, hanya melihat-lihat. Bosan juga Carissa berjalan sendirian, lain kali dirinya akan mengajak Maryam untuk menemaninya.


Carissa mencari makanan, gadis itu memesan bebek goreng. Saat menunggu pesanannya Carissa kembali merasa di perhatikan oleh seseorang, saat menoleh Carissa hanya melihat seorang vlogger yang terlihat asyik dengan review makanan miliknya. Carissa mengabaikan perasaannya kemudian menikmati pesanan yang sudah sampai di mejanya itu.


Setelah kenyang Carissa segera keluar dari mall dan memilih untuk pulang ke rumah, sepanjang jalan Carissa di buat khawatir oleh dua buah mobil yang searah dengannya seperti mengikutinya. Carissa menggigit bibir dan berusaha agar terlihat tenang walaupun dalam hatinya sangat ketakutan. Tidak ada yang aneh, Carissa pikir mungkin itu hanya perasaannya saja karena adanya teror kemarin-kemarin. Sayangnya, Carissa tidak bisa membohongi hatinya jika ketakutan itu masih ada, apalagi ketika mobil itu melambung grab yang di tumpanginya. Wajah orang-orang yang berada dalam mobil itu sangat menyeramkan menurut Carissa. Mereka memang memerhatikan Carissa yang duduk di kursi penumpang.


Carissa yang khawatir menyuruh sopir grab untuk sedikit melambatkan kendaraannya,mendekati tempat yang agak sunyi sebuat mobil melambung dengan cepat dan menghadang mereka, merinding Carissa. Carissa berharap dia tidak dibunuh apalagi kepergiannya kali ini tidak ditahu oleh Aaron dan juga tadi dirinya kabur dari pengawasan para bodyguard yang disediakan suaminya.Carissa menahan napas saat merasakan sopir dari mobil yang menghadangnya itu keluar, Carissa gemetaran di tempatnya.


Carissa baru bernapas lega setelah melihat dari dekat wajah orang yang menghadangnya, ternyata Aziz tangan kanan sekaligus asisten suaminya. Carissa akan melaporkan pada Aaron, berani sekali Aziz menakutinya. Pantas saja Carissa tidak mengenalinya, selain cukuran rambutnya yang diubah Aziz juga mengenakan pakaian santai bukan seragam seperti biasanya. Aziz berbicara dengan sopir grab kemudian meminta Carissa untuk keluar dari grab.


Carissa patuh walau hatinya masih menggerutu. Carissa diam sepanjang perjalanan bersama Aziz, Carissa tidak punya topik untuk dibicarakan dengan Aziz. Aziz hanya melirik Carissa kemudian berdehem sebentar dan memulai pembicaraan dengan nyonya mudanya ini.


"Nyonya, anda tahu dua mobil yang tadi mengikuti Anda?" Carissa menggeleng polos, kalau Carissa tahu ngapain sampai ketakutan tadi.


"Itu anak buah Mr. X, anda hampir di culik nyonya." Carissa terbelalak, kemudian menghembuskan napasnya bersyukur tidak jadi di culik.


"Terimakasih, sudah menyelamatkan aku." Carissa merasa lega, tetapi Carissa merasa tercekik mendengar kalimat Aziz berikutnya.


"Sampaikan terimakasih Anda pada tuan muda, nyonya." Carissa merasakan pasokan oksigen sepertinya habis untuk masuk ke paru-parunya.


"Aaron tahu?" Carissa bersuara lirih di tempat duduknya, tubuhnya rasanya melemas.


"Anda jangan memancing kemarahan tuan nyonya! Walaupun tuan sangat baik pada Anda bukan berarti anda seenaknya." Aziz menatapnya tegas, Carissa menelan ludah. Carissa sudah pernah bagaimana ekspresi ketika suaminya itu marah, Carissa menyalahkan dirinya, tapi Carissa menggeleng dan menatap Aziz berani.


"Aku tidak seenaknya, wajar dong aku keluar tanpa bodyguard. Aku tidak suka menjadi perhatian karena bodyguard-bodyguard Aaron."

__ADS_1


Carissa menatap Aziz sengit, Carissa tidak terima dituduh seenaknya oleh Aziz. Aziz hanya tersenyum dan mengangguk pada satpam.


"Sampaikan pembelaan Anda langsung pada tuan, Nyonya!" Carissa menatap Aziz geram tapi tidak bisa melakukan apa-apa sekarang mobil sudah berhenti.


Carissa menelan ludahnya, Carissa tidak sadar mereka sudah sampai di rumahnya. Matanya menatap para bodyguard yang berbaris bersama Aaron, tidak salah lagi itu pasti Aaron. Pria itu terlihat masih dilengkapi dengan setelan kerjanya. Apa gara-gara kecerobohannya sehingga jadi seperti ini? Carissa menelan ludah dengan susah payah. Aziz hanya terkekeh geli melihat ekspresi nyonya muda di sampingnya, Aaron terlihat mengisyaratkan agar Carissa turun dari mobil.


"Nyonya silahkan turun, tuan paling tidak suka dibuat menunggu." Carissa menatap Aziz memohon bantuan dan menatap Aaron dari jauh dengan takut-takut. Aziz hanya menggeleng sebagai jawaban bahwa pria itu juga tidak bisa menolongnya.


Carissa berjalan sangat pelan dengan ragu-ragu, Aziz sudah jauh di depannya, bahkan sudah berbincang-bincang dengan suaminya. Akhirnya sampai juga Carissa di hadapan Aaron, Carissa hanya tersenyum lemas menatap suaminya. Aaron hanya menatapnya datar bahkan tidak membalas senyumannya. Aaron mengisyaratkan para bodyguard dan Aziz untuk bubar, dia punya trik tersendiri untuk mengajar istrinya ini.


Aaron tidak mengatakan apapun, pria itu hanya menarik tangan istrinya dan berjalan memasuki rumah. Carissa menatap takut-takut pada Aaron dan tangannya yang berada dalam genggaman Aaron. Carissa tidak bertanya lebih lanjut lagi, takut malah akan meledakkan kemarahan Aaron. Sekarang pun Carissa sudah melihat wajah suaminya yang memerah dan rahangnya yang mengetat. Aaron mengantarkan Carissa di kamar utama kemudian meninggalkannya tanpa sepatah kata pun. Carissa hanya menggigit bibirnya, kemudian membersihkan dirinya dan akan turun untuk menemui Bi Sitti. Carissa merasa bersalah seperti ini.


Bi Sitti terlihat terlihat sibuk meracik mie pangsit, Carissa berlama-lama di dapur menunggu kesempatan untuk berbicara dengan kepala pelayannya. Bi Sitti mengisyaratkan pelayan lain untuk meninggalkan mereka berdua.


"Ada yang bisa saya bantu, nyonya?" Carissa mengangguk menatap serius pada Bi Sitti.


"Iya nyonya, semua pelayan disini paham kalau tuan Aaron marah tidak ada yang berani mendekatinya, karena jika tidak diam tuan Aaron akan meledak-ledak kalau sedang marah." Carissa menggigit bibirnya, apa separah ini tindakannya yang keluar siang tadi.


"Bi, apa ini karena aku keluar siang tadi?" Bi Sitti mengangguk, Carissa bertambah merasa bersalah.


"Tuan muda, sangat melindungi orang-orang yang disayanginya, harusnya anda tidak bermain di saat situasi seperti ini nyonya. Tuan tidak pernah main-main, bisa jadi karena kecerobohan anda, orang-orang yang bekerja pada tuan kehilangan pekerjaan nyonya, berpikirlah sebelum melakukan sesuatu, nyonya!" Carissa mengangguk lemas, menatap penuh rasa bersalah pada


Bi Sitti.


" Sampai berapa lama Aaron akan mendiamkan orang?" Bi Sitti mengingat-ingat, kemudian tersenyum lembut menatap Carissa


"Tergantung besarnya kemarahan tuan nyonya." Carissa mengangguk kemudian pamit dan mengucapkan terimakasih pada Bi Sitti. Carissa kembali masuk ke kamarnya.

__ADS_1


********


Sekarang waktunya makan malam, Carissa masih berada di kamarnya. Dari tadi Carissa hanya memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpanya ketika ikut makan malam. Carissa membulatkan tekadnya untuk berdiam di kamar saja. Di meja makan rasanya sangat mencekam, Nadirah hanya diam begitupun Aaron. Makan malam tidak dimulai, didikan Aaron sejak kecil adalah makan malam akan dimulai jika semua sudah berada di meja makan.


Aaron mengisyaratkan Bi Sitti untuk mendekat, kemudian meminta kepala pelayan itu untuk memanggil istrinya turun makan.


Bi Sitti mengetuk pintu kamar Carissa. Carissa terbelalak melihat kepala pelayan itu, apalagi tampilannya sangat acak-acakan rambutnya di gulung biasa tanpa disisir lebih dulu. Carissa


juga sudah lengkap dengan piama tidurnya, Carissa menggeleng mendengar permintaan Bi Sitti.


"Segera bergabung nyonya, tuan tidak suka memerintah dua kali jika anda ingin baik-baik saja!" Carissa cemberut dan mengikuti langkah Bi Sitti.


Sampai di meja makan Carissa melihat sudah ada Nadirah dan Aaron di meja makan. Carissa menggaruk tengkuknya, suasananya sangat tidak nyaman selera makan Carissa sudah hilang. Tetapi karena tidak enak sudah sampai di meja makan Carissa ikut bergabung dan duduk di meja yang berdampingan dengan Nadirah. Aaron tidak mengatakan apapun.


"Nyonya tempat anda disamping tuan muda." Bi Sitti bersuara tegas. Carissa tidak menawar lagi, langsung berpindah tempat ke samping Aaron.


Carissa menatap Nadirah dan Aaron, Nadirah terlihat mengambil makan untuk dirinya Carissa ikut mengambil makanan untuk dirinya. Carissa tidak mengambilkan makan untuk Aaron karena canggung, dan sedikit takut. Apalagi sejak tadi Aaron hanya diam di meja makan, pria itu hanya duduk dan diam. Carissa dan Nadirah mulai makan, Aaron masih diam seperti tadi.


Bi Sitti yang melihat keadaan meja makan merasa waspada takut kalau-kalau Aaron mengamu k di meja makan.


"Nyonya Anda jangan hanya makan sendirian, anda harus menyuapi tuan muda Aaron." Carissa menggaruk kepalanya, kemudian menatap Bi Sitti seolah bertanya apa yang akan di makan oleh suaminya. Carissa tidak bertanya pada Aaron, karena melihat Aaron masih dalam mode diamnya.


"Ada pangsit di depan Anda, tuan muda ingin makan pangsit nyonya." Carissa mengangguk dan mulai menyuapi Aaron.


Aaron mulai membuka mulut menerima suapan Carissa, dalam hati Carissa mengutuk Aaron habis-habisan. Carissa sedikit dibuat jengkel melihat Aaron yang diam ini, maunya kalau ngediamin orang sekalian hidup mandiri jangan makan pun masih harus di suap. Carissa menyuapkan suaminya juga dengan diam.


Carissa makan setelah Aaron selesai makan, Aaron menunggu istrinya itu selesai makan barulah kemudian beranjak dari meja makan.

__ADS_1


Carissa naik ke kamarnya dengan perasaan dongkol, kalau bukan karena dirinya salah Carissa sebenarnya ogah-ogahan untuk menyuapi suaminya yang seperti patung itu. Carissa sangat benci pada Aaron sekarang ini!


__ADS_2