
Dalam mobil Arlan Carissa menangis sejadi-jadinya, wanita itu masih merasa sakit hati atas tuduhan-tuduhan yang diberikan suaminya. Hanya gara-gara nomor yang sama dengan miliknya, suaminya itu langsung mengancamnya padahalkan Aaron bisa menyelidikinya lebih dulu sebelum menuduhnya. Aaron punya banyak uang menyewa detektif untuk membuktikan kebenarannya tanpa langsung mengancamnya. Carissa benci sekali pada Aaron sekarang, ingin sekali dipukulnya pria itu. Arlan yang menyetir hanya melirik Carissa, dirinya membiarkan saja Carissa menangis agar perempuan itu menjadi lebih tenang.
Carissa mengelap air matanya dengan kasar, sudah cukup hari ini dirinya menangis. Carissa akan mencari tahu siapa sebenarnya yang melakukan kejahatan pada Nadirah dan membuatnya menjadi kambing hitam. Carissa akan membawa bukti dihadapan Aaron dan akan membuat Aaron malu karena telah menuduhnya macam-macam. Aaron akan menyesal bisik hatinya, menghela napasnya Carissa menatap Arlan dengan matanya yang membengkak.
"Ar, tolongin gue. Cari tahu tentang orang yang menjadi dalang dibalik semua ini!" Carissa bersuara dengan serak karena habis menangis, Arlan mengangguk sembari fokus menyetir.
"Lo tenang saja, lo juga jangan salahin suami lo sekarang. Dia diposisi yang sulit, lo istrinya dan Nadirah adiknya. Dia seperti menelan buah simalakama, dia sebenarnya sangat terluka dengan kejadian yang menimpa adiknya apalagi sampai ada opini yang membuat lo sebagai pelaku." Carissa mencebik dan menatap Arlan. Carissa tidak mau berbaik sangka pada Aaron, pria itu juga sudah berburuk sangka pada dirinya.
"Ya, tapikan dia nggak boleh dong ancam-ancam aku segala, harusnya dia cari tahu lebih lanjut lagi. Aku juga terluka, apalagi sekarang hiks hiks hiks lupakan saja pria itu. Aku mau melupakan Aaron jahat itu." Arlan terbelalak dan menatap Carissa kaget, kemudian tertawa karena merasa lucu mendengar Carissa yang ingin melupakan Aaron.
"Lo serius? Gak segampang itu kali, lo harusnya memaafkan kekeliruan dia yang mengancam lo. Dia kan sekarang sangat tertekan. Gue bukan belain dia, maksud gue lo jangan ngomong sembarangan." Carissa cemberut, dirinya lagi malas sekarang memikirkan Aaron. Apalagi pria itu pernah memarahinya di rumah oma.
"Nggak, lo jangan sebut-sebut dia lagi. Malas gue, tapi itu benaran bukan ulah paman gue? Terus kalau paman Nurmansyah kan tidak mungkin banget, pria tua itu juga terlihat sangat terluka atas kejadian ini?" Arlan mengangguk, dan sesekali melirik Carissa. Carissa larut dengan pikirannya, lalu siapa yang menjadi dalang sebenarnya?
"Berapa kali juga gue bilang, itu memang bukan ulah paman lo. Kok lo tidak percaya sih?" Carissa mendengus,ini bukan tidak percaya. Carissa cuma ingin kepastian, agar hatinya menjadi tenang.
"Siapa tahu kan? Lo bantu cari detektif terhebat bodoh amat bayarannya mahal atau gimana, aku mau buat Aaron menyesal." Arlan mengangguk saja, toh menyenangkan orang sedih akan berpahala besar bisik hatinya.
__ADS_1
"Lo jangan manggut-manggut , jawab kek." Arlan memutar matanya, Carissa jadi nyebelin sekarang. Carissa menatap Arlan galak karena melihat pria itu memutar mata dihadapannya.
"Iya, iya Bu, siap laksanakan." Arlan bersuara dengan tegas yang membuat Carissa tertawa.
"Lo mau nginap dimana?" Carissa berpikir sejenak, ia tidak punya kenalan yang banyak. Sambil melirik Arlan, Carissa teringat pada Dewi kekasih Arlan.
"Kalau bisa di rumah Dewi saja, biar lebih aman." Arlan mengangguk mengerti, itu memang lebih baik apalagi Dewi juga tinggal sendirian gadis itu pasti senang jika ada Carissa yang akan menemaninya. Selanjutnya Carissa terdiam sembari menunggu mereka sampai di rumah Dewi.
Dewi yang sudah mulai tidur, terbangun ketika bunyi bel mengganggu tidurnya. Dewi bangun dan turun ke bawah untuk membuka pintu rumahnya. Dewi tersenyum sumringah melihat kedatangan Carissa, gadis itu memeluk Carissa dan menagajaknya masuk kemudian mengantarkannya ke kamar tamu. Tampilan Carissa terlihat sangat kacau, Dewi juga tersenyum dan memeluk Arlan. Arlan balas memeluk erat gadisnya.
"Sayang, jangan tanya-tanya Carissa kalau dia tidak cerita sendiri. Nanti aku cerita ke kamu kejadiannya." Dewi mengangguk patuh, dia paham sekarang perasaan Carissa sedang kacau.
"Ini sudah larut, mas mau langsung pulang. Kamu jaga Carissa ya?" Dewi mengangguk, Arlan tersenyum dan mengecup kening gadis itu.
"Mas pulang dulu ya!" Dewi mengangguk seraya melambaikan tangannya. Arlan berbalik dan menyetir mobilnya pulang. Dewi menutup pintu rumahnya setelah Arlan menghilang dari pandangannya. Gadis itu segera ke kamar Carissa, Dewi mengetuk pintu dan tersenyum ketika Carissa sudah membukakan pintu untuknya.
"Rias, lo mau makan dulu nggak?" Carissa menggeleng lemah.
__ADS_1
"Mau aku temanin?" Carissa mengangguk. Dewi naik ke atas ranjang.
"Lo mau mandi? Aku ambilin bajuku yang ada di atas." Carissa mengangguk.
"Tunggu disini ya,” Carissa mengiyakan. Dewi keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju lantai atas. Carissa tersenyum lega, Dewi terlihat lebih baik sekarang, pantas saja Arlan semakin menyayangi gadis itu.
Aisyah menangis sepanjang jalan, sejak menerima kabara bahwa Nadirah dinodiai kehormatannya Aisyah merasa terpukul. Wanita itu langsung memesan tiket pesawat untuk segera menemui Nadirah. Tidak sendiri, Aisyah ditemani oleh Vella adiknya. Vella juga merasa terpukul oleh kejadian yang menimpa Nadirah. Sekarang mereka sampai di rumah Aaron sudah malam. Aisyah meninggalkan Vella dan langsung masuk ke kamar Nadirah.
Aku tak sanggup untuk tidak menitikkan air mata, akhirnya mama datang untuk menemuiku. Setelah insiden yang membuatku ingin bunuh diri itu aku benar-benar tidak ingin hidup lagi, aku benar-benar ingin mati. Entah siapa durjana yang tega membuatku seperti ini. Aku merasa tidak punya salah pada siapapun, aku kembali mengeluarkan air mataku dipelukan mama. Mama juga menangis tangannya mengelus-elus pundakku.
"Kamu jangan putus asa, masih banyak yang ingin kamu hidup, ada papa, mama, bang Aaron, Carissa, tante Vella dan semua keluarga kita yang lain." Aku mengangguk, aku kembali memeluk mama erat.
"Ma, apa benar mbak Carissa yang membuat aku seperti ini?" Mama kurasakan menegang, dan menatapku serius.
"Sssssst kamu jangan berpikiran seperti itu sayang, itu belum tentu benar." Aku mengangguk, aku tidak mengerti apa salahku. Tapi kalau itu benar-benar mbak Carissa kenapa samar-samar aku mendengar orang yang menodaiku mengatakan nama papa, Nurmansyah?
Aku akan menyusun rencana sendiri untuk mencari pria itu, aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri. Luka yang diberikannya, penghinaan yang dilakukannya untuk diriku akan aku bayar tuntas, ITU SUMPAHKU.
__ADS_1
Sumpah gadis yang telah ternodai. Aku menyeringai tajam dalam pelukan mama, aku akan benar-benar mencari tahu sendiri tanpa bantuan siapa pun. Aku mengelap air mataku ini, ini air mata yang terakhir! Ini janjiku, JANJI SEORANG NADIRAH! JANJI GADIS YANG TERNODA!