
Happy Reading😘
Jangan lupa like, vote dan komentar 💕
Fani menyetir dengan perasaan yang berbunga-bunga, kira-kira apa yang akan diberikan Aaron sebagai hadiah ulang tahunnya? Fani kembali teringat pada ulang tahunnya yang ke 20 Aaron memberikannya satu buah kalung liontin yang sangat indah dan masih disimpan dengan baik oleh Fani sampai sekarang. Fani mengulung senyum seperti dugaannya Aaron juga benar-benar belum melupakannya. Sebelum turun dari mobil Fani melihat dirinya, memastikan tidak ada cacat cela ketika menemui Aaron di dalam. Walaupun, tadi dirinya tidak sempat berdandan setidaknya penampilannya sekarang tidak akan memalukan untuk bertemu Aaron.
Fani tersenyum melihat keberadaan pria yang sangat dicintainya itu, masih dengan tersenyum Fani berjalan pelan-pelan menghampiri Aaron yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Fani tersenyum makin lebar melihat buket bunga yang ada di atas meja Aaron, astaga dari mana pria itu mendapatkan buket bunga malam-malam seperti ini sih?
“Dor,” Fani menepuk pundak Aaron dan tertawa kecil melihat Aaron yang kaget oleh kedatangannya. Aaron terkejut dengan kedatangan Fani, pria itu menyimpan ponselnya dan tersenyum pada Fani. Aaron langsung mengangkat buket bunganya dan menatap Fani yang tersenyum lebar.
“Selamat ulang tahun ya, semoga kamu makin dewasa. Aku lupa beliin kamu kado.” Fani tetap tersenyum dan meraih bunga itu kemudian menciumnya. Aaron menatap Fani hati-hati melihat gadis ini yang selalu tersenyum, entah mengapa Aaron kembali berperang dengan dirinya sendiri karena mungkin yang akan diucapkannya sebentar akan menghancurkan gadis ini. Fani tetap bersyukur setidaknya Aaron tidak lupa jika hari ini ulang tahunnya.
“Terimakasih ya, tidak masalah kalau kamu lupa tapi kamu harus siap karena aku menginginkan kado yang mahal.” Fani menatap Aaron misterius, Aaron mengernyit kado yang mahal apa yang diinginkan Fani?
“Kado mahal? Memang kamu mau kado apa?” Fani tersenyum menggelengkan kepalanya, mungkin akan dipikirkannya nanti apa yang dibutuhkannya.
“Jangan dipikirin, itu nanti saja aku mintanya. Kita langsung makan saja sekarang, aku lapar banget.” Fani nyengir, Aaron tersenyum mengangguk setuju untuk langsung makan. Aaron segera melambaikan tangannya memanggil pelayan.
“Permisi mbak, ini menunya silahkan dilihat-lihat mau pesan apa?” Aaron dan Fani tidak melihat daftar menu yang diberikan oleh pelayan.
“Aku nasi padang sama jus alpukat. Kamu mau pesan apa Ar?" Arlan menoleh pada pelayan itu.
__ADS_1
“Samakan saja dengan dia.” Pelayan itu mengangguk mencatat pesanan mereka dan membacakannya ulang agar tidak ada kesalahan. Melihat anggukan Fani dan Aaron pelayan itu segera pergi.
“Aku kira setelah di Paris kamu sudah tidak suka makanan Indonesia. Kamu sudah tidak diet lagi seperti dulu, kok makan malam pakai nasi?” Fani tersenyum sumringah, Aaron tahu betul kebiasaannya. Fani semakin yakin Aaron memang belum benar-benar melupakannya.
“Mana ada aku lupa, aku malah makin kangen makanan Indonesia. Sup kikil, Coto, Konro, Papeda gila aku kangen banget. Kalau diet aku masih diet tapi aku tidak akan temukan karena satu malam makan nasi padang, kan?” Fani mengangkat alisnya menatap Aaron.
“Iya juga sih kamu tidak mungkin gemuk karena makan nasi satu malam.” Aaron tersenyum manis, pria itu terdiam. Diam-diam dirinya memutar otak agar bisa menjelaskan semuanya sama Fani. Tapi bagaimana cara memulainya?
“Kamu mikirin apa sih? Kok jadi bengong?” Aaron mengerjakan matanya, dan menggeleng pelan pada Fani. Pria itu menarik napas dalam-dalam.
“Aku sudah menikah, mungkin kamu sudah tahu kan? Aku....” Aaron menelan ludahnya lagi apalagi melihat Fani yang menatapnya bingung.
“Oh itu aku sudah tahu sih, terus gimana pernikahan kamu?” Fani menelan ludahnya pahit mengingat pernikahan Aaron.
“Permisi mbak, pesanannya sudah sampai.” Fani dan Aaron menoleh pada pelayan itu dan mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih. Aaron mengelap keringat yang membanjiri dirinya, ternyata mengungkapkan kebenaran isi hatinya tidak semudah yang dibayangkannya. Keduanya akhirnya makan dalam diam tanpa saling berbicara lagi satu sama lain.
Malam ini Carissa dan Dewi mencari makan keluar, mereka mals untuk memasak sendiri di rumah. Dewi mengajak Carissa untuk makan malam di restoran favoritnya. Carissa masuk kedalam restoran dengan tenang, mengekori Dewi yang sudah berjalan jauh meninggalkannya. Inilah salah satu kebiasaan Dewi yang coba dipahami Carissa. Gadis itu berjalan sangat cepat dan kadang melupakan jika Carissa ikut d ngannya.
Mata Carissa fokus menatap pada satu objek yang menurutnya sangat familiar, Carissa membeku di tempatnya apalagi pria itu bersama seorang gadis sekarang. Tiba-tiba pria itu juga menoleh padanya, ada keterkejutan yang terlihat dari bola mata pria itu. Mereka berpandangan beberapa detik kemudian Carissa menundukkan pandangannya. Kemudian kembali melanjutkan perjalanannya, hatinya seperti di remas-remas.
Ternyata benar kata Dewi Aaron tidak memikirkan dirinya seperti dirinya yang selalu memikirkan pria itu. Carissa menarik napas dan menegakkan tubuhnya agar terlihat baik-baik saja di depan Aaron itu pun kalau pria itu benar-benar masih memerhatikan dirinya.
__ADS_1
“ Lo kok seperti menahan nangis? Lo habis ketemu siapa?” Dewi celingak-celinguk, mencari-cari orang yang mungkin membuat Carissa menjadi sedih. Dewi tidak melihat siapa-siapanya.
“Nggak papa, aku cuma sedikit teringat mama dan papa.” Carissa berbohong pada Dewi, dia tidak ingin Dewi tahu jika dirinya melihat Aaron. Carissa merasa bersyukur pria itu terhalang oleh tiang sehingga tidak terlihat oleh Dewi.
“Ya ampun, lo membuat gue suudzon.” Carissa tersenyum kaku, dan duduk di hadapan Dewi.
“Maaf deh, lo mau pesan apa?” Dewi mengangkat bahu dan memanggil pelayan.
“Lihat menunya dulu.” Carissa mengangguk dan kembali larut dalam pikirannya, apa gadis itu yang bernama Fani?
Sama halnya seperti Carissa, Aaron juga kini makan dalam diam dengan pikiran yang melalang buana kemana-mana. Carissa tadi melihatnya, Aaron tidak bisa membaca emosi di wajah gadis itu. Aaron meremas rambutnya, apalagi Fani sekarang menatapnya dengan raut penasaran.
“Kamu kenapa sih? Kok seperti stres banget?” Aaron menghela napasnya kasar. Kemudian menggelengkan kepalanya.
“Aku banyak pikiran akhir-akhir ini.” Fani menganggukan kepalanya, wajar saja sih apalagi Nadirah juga mengalami kejadian yang kurang mengenakkan.
“Eh, kamu mau ngomong apa tadi?” Aaron menatap Fani hati-hati, pria itu mengumpulkan keberanian untuk bicara.
“ Aku sudah menikah, aku minta kamu mengerti. Kamu...” Dering ponsel membuat Aaron menggeram kesal. Ada-ada saja hal yang menjadi kendalanya. Setelah menutup teleponnya Aaron pamitan pada Fani untuk pulang duluan. Fani mengangguk kepala menatap kepergian Aaron dengan pandangan kosong. Fani mengambil bunga pemberian Aaron dan meninggalkan tempat duduknya.
Carissa terkejut ketika di parkiran dia melihat gadis yang tadi makan bersama Aaron. Gadis itu memegang buket bunga, pasti itu pemberian Aaron. Carissa menggelengkan kepalanya ketika pikiran-pikiran negatif mulai menghantuinya.
__ADS_1
“Lo kenapa sih? Geleng-geleng kepala?” Carissa menggelengkan kepala. Untung saja Dewi baru sampai sekarang, jadi tidak memergokinya menatap gadis yang tadi bersama Aaron dengan lama.
“Peregangan kepala biar berpikir positif.” Dewi mencibir kemudian masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Carissa. Sepanjang jalan pulang Carissa terdiam, satu pertanyaan yang berkecamuk dipikiran dan hatinya. Apa Aaron benar-benar sudah melupakan dirinya?