
Aku bersahabat dengan Fani jauh sebelum Fani mengenal Aaron, sejak kami masih SMA dulu. Aku pun mencintai Fani jauh sebelum Fani mengenal Aaron, tapi mengingat persahabatanku dengann dirinya aku tidak berani mengungkapkan perasaanku apalagi Fani juga selalu memiliki pacar. Gadis itu memang selalu mempesona untuk diperhatikan, dan begitu gampang untuk membuat orang lain jatuh hati.
Aku benar-benar sakit ketika mengetahui Fani jatuh cinta pada Aaron, dan mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan serius. Aku sampai menjaga jarak pada Aaron, aku kecewa aku patah hati. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, menyedihkan bukan?
Aku mencoba untuk membuka hatiku pada gadis lain, tetapi aku tidak pernah berhasil karena bayangan Fani selalu menghantuiku. Pada akhirnya aku menyerah. Aku tidak peduli lagi jika aku tidak bisa menjadi kekasih Fani setidaknya akulah orang yang akan melindungi gadis itu. Aku yang akan selalu berada disamping gadis itu karena dialah napasku. Aku tidak peduli lagi, melihat Fani yang selalu ada di dekatku itu sudah cukup, cinta tidak harus memiliki bukan?
Aku kadang menggeram kesal mendengar Fani yang menangis tersedu-sedu di dekatku jika dirinya mendapatkan penghinaan dari keluarga Aaron, aku cuma mendengarkan karena terkadang jika aku memberikan saran atau masukan maka akan berakhir pertengkaran diantara kami berdua. Aku hanya memeluknya dan mengelus kepalanya lalu membisikkan jika semuanya akan berlalu dan akan menjadi baik-baik saja.
Jangan pernah berpikir jika aku benar-benar mengiklaskan Aaron menjadi kekasih Fani. Tidak, aku tidak pernah ikhlas sama sekali. Tapi aku menghargai pilihan Fani, aku berusaha untuk tidak menampakkan bahwa aku tidak setuju pada hubungannya dengan Aaron, walau kadang pertahananku luntur juga. Itu bukan hal yang baik, karena pada akhirnya Fani akan mengabaikan aku dan aku sangat menyesali itu.
Aku mengikuti Fani yang diberi tawaran oleh pamannya untuk sekolah di Paris, aku ikut melanjutkan magisterku disana. Kami melewati banyak hal-hal yang indah berdua walaupun statusku masih sebagai sahabat Fani aku tetap bahagia. Banyak kenang-kenangan yang kami ciptakan ketika berada disana. Hal lain yang selalu aku membuatku bahagia adalah Fani tidak lagi menceritakan tentang Aaron.
Pada akhirnya semua yang terjadi akan mengalami akhir, persis dengan kebersamaanku bersama Fani. sampailah pada titik dimana aku kembali sakit hati. Gadis itu dengan keras kepalanya ingin pulang ke Indonesia. Hei, itu tidak masuk akal sekali padahal disini dia sudah mendapatkan semuanya. Fani menjadi chef yang terkenal disini, dan namanya sedang harum-harumnya. Di Indonesia dirinya tidak punya keluarga lagi, apa arena Aaron lagi?
__ADS_1
Aku kembali kalah, karena Fani hanya bisa melihat Aaron. Sebesar apapun aku berjuang dihadapannya, sebesar apapun cinta yang kuberikan padanya gadis itu hanya melihat Aaron. Hanya Aaron yang terlihat, aku menghembuskan napasku kesal.
Aku yang bodoh membiarkan diriku selalu terjatuh pada gadis itu, hatiku terlalu lemah. Tapi jatuh cinta kita tidak dapat memilihkan? Karena Tuhan yang telah memilihkan. Kalau seandainya aku bisa memilih akupun menolak untuk jatuh hati pada Fani, gadis yang mencintai orang lain. Bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan sobat, tapi memilih terlihat kuat dengan berpura-pura mencintai orang lain juga jauh lebih terasa sakitnya karena setiap hari kau akan berperang dengan dirimu sendiri, dan mungkin kau juga akan menyakiti orang lain karena kepura-puraanmu.
Mengalah, aku kembali mengalah pada cintaku dan akhirnya aku juga ikut untuk pulang ke Indonesia bersama Fani. Aaron benar-benar brengsek, pria itu telah menikah. Walaupun setelah aku konfirmasi padanya dengan santainya pria itu mengatakan jika dia terpaksa untuk memberi pelajaran pada papanya yang juga playboy cap kadal itu. Tapi masih ada cara lain kan? dengan cara seperti ini pria itu hanya kembali membuat Fani terluka.
Aku kembali sakit hati melihat Fani yang menjadi banyak termenung sendiri setelah kami kembali ke Indonesia. Sepertinya gadis itu juga sudah tahu kalau Aaron sudah menikah. Aku tidak ingin melukai hatinya kalau bertanya langsung pada dirinya, aku membiarkan saja gadis itu menangis dalam diam dipelukanku. Ini pertama kalinya, biasanya gadis itu akan menangis sambil mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya. Sama seperti dirinya malam ini aku juga terdiam, dan hanya mengelus kepalanya.
Suatu malam aku sudah menunggu Fani di apartemen miliknya, aku ingin membahas tentang rencananya untuk mendirikan restoran sendiri. Karena lama menunggunya aku turun ke bawah, mungkin gadis itu tidak akan pulang. Aku menjadi terbakar melihat Fani ternyata pulang bersama Aaron. Senyum tidak putus di bibir cantik gadis itu, senyum yang tidak pernah aku dapatkan darinya. Aku kembali ke atas sebelum gadis itu melihatku, dan berpura-pura tenang ketika Fani masuk ke dalam rumah.
Setelah malam itu Fani kembali banyak termenung, aku kembali marah tapi bukan pada Fani. Ini semua terjadi karena pria yang dipuja-puja oleh Fani, Aaron. Pria itu harus menjelaskan semuanya pada Fani, agar Fani tidak seperti ini.
Tanpa sepengetahuan Fani, aku segera memesan tiket dan menyusul Aaron di kampung omanya. Sebagai sahabat Aaron dulu, aku tahu dimana rumah oma pria itu. Beberapa pukulan aku berikan pada pria egosi yang juga plin-plan itu. Bahkan pria bodoh itu tidak tahu pada siapa hatinya benar-benar jatuh. Dia tidak tahu masih mencintai Fani atau tidak tapi yang paling menyedihkan dia juga tidak tahu dia mencintai istrinya atau tidak.
__ADS_1
Aku tertawa miris ternyata pria seperti itu yang digilai Fani. Padahal 'kan aku lebih baik daripada pria itu. Setidaknya aku tidak mengobral janji yang aku sendiri tidak yakin mampu untuk menepatinya.
Beberapa hari kemudian Fani kini memintaku untuk menemui istri Aaron agar meminta gadis itu mundur dari pernikahannya bersama Aaron. Seperti biasa, aku menuruti keinginan Fani dengan tanpa rasa bersalah, aku meminta Carissa untuk bertemu diriku keesokan harinya di taman. Aku hanya mengatakan akan membicarakan hal penting tentang Aaron. Aku tersenyum lega ketika gadis itu tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatanku. Aku berharap dia juga tidak mempermasalahkan untuk mundur dari pernikahannya dengan Aaron, agar Fani bahagia.
Melihat Carissa yang terlihat santai aku semakin yakin jika akan semakin mudah untuk meminta gadis itu mundur. Aku mengatakan keinginanku pada Carissa gadis itu terlihat santai mendengarnya. Tapi diluar dugaanku gadis itu menolak mentah-mentah permintaanku, bahkan gadis itu membuatku sakit hati dengan keangkuhannya.
Aku segera menemui Fani dan menyuruhnya untuk berhenti atau menyerah, tapi pada akhirnya gadis itu kambuh. Akhirnya akulah yang kembali menenangkannya. Aku pun tidak tahu sampai kapan cintaku akan selalu bertepuk sebelah tangan.
***********
Hello, pembaca setiaku😀
Mungkin untuk akhirnya novel ini tidak sesuai harapan kalian, karena aku ingin Carissa dan Aaron benar-benar pisah, karena Aaron milik Fani pada awalnya. Tapi kalau kalian menolak Aaron dan Carissa benar-benar pisah, silahkan komentar karena tetap akan aku pertimbangkan. Silahkan komen di GC ataupun komentar di novel ini langsung.
__ADS_1
Terimakasih, semoga kalian sehat selalu dan bahagia selalu😘😘😘