
Rega menatap datar pada Fani, gadis itu terlihat termenung. Rega sedang malas untuk memberi nasehat atau masukan pada gadis itu, menjadi sahabat gadis itu sejak SMA membuat Rega tahu kalau Fani adalah orang yang keras kepala dan teguh pada pendiriannya.
"Maaf ga, kamu pasti marah sama aku kan?" Fani menatap Rega yang terdiam. Pria itu hanya fokus menyetir mukanya juga datar, dan tidak lagi berbicara banyak pada Fani. Rega mengangguk, tidak yang membuat Fani semakin merasa bersalah.
"Aku bukan tidak percaya, tapi aku butuh untuk meyakinkan hatiku. Tapi nyatanya sampai sekarang pun, aku masih mencintai Aaron. Walaupun aku sebel atau faktanya jika aren sudah menikah. Tapi aku benar-benar masih mencintai dia aku tahu kok kamu pasti sangat benci sama aku." Rega hanya mendengarkan apa yang dikatakan Fani pria itu tidak berminat sama sekali untuk membalas ucapan Fani.
"Gue tahu kok ini salah tapi gue butuh penjelasan dari aaron gue butuh bicara empat mata dengan Aaron. Gue yakin pasti ada alasan di balik semua ini." Rega me lyric sekilas pada Fani kemudian pria itu mendesak pelan.
"Itu semua tergantung lo sih Fan, tapi kalau gue saranin lo jangan berharap lebih lagi pada Aaron. Aaron bukan orang yang tepat buat lo. Lo sudah lihat sendiri kan dia meninggalkan lo, apapun alasan pria itu, tindakan dia itu tidak benar. Tindakan menikahi wanita lain itu tidak benar." Fani terdiam menyimak apa yang diucapkan Rega. Rega kembali diam, pria itu menyalakan radio untuk memecahkan keheningan di antara mereka.
Zein tersenyum menyeringai, sehabis menerima telepon dari anak buahnya. Hatinya senang ketika mengetahui anak buahnya berhasil mengendalikan perusahaan yang dimiliki oleh musuhnya, sebentar lagi hidup pria tua itu akan kocar-kacir. Zein berjalan anggun meraih anggur yang ada di atas mejanya, pria itu menyesapnya dengan perlahan-lahan. Menikmati kemenangan kecilny, karena kemenangan yang besar lahir dari kemenangan yang kecil karena itu sekarang dirinya menikmati kemenangan kecil itu. Sekarang tugas selanjutnyanya adalah mendekati anak pria itu, Zein yakin rencananya akan berjalan lancar. Zein menekan nomor teleponnya untuk menghubungi anak buahnya.
"Tom, bagaimana perkembangan gadis kecil anak si tua bangka itu?" Tommy menjelaskannya dengan rinci, Zein tersenyum senang mendengarnya. Meskipun Zein juga terpesona pada Carissa tapi sekarang ada yang lebih menarik, gadis yang akan menjadi objek balas dendamnya.
"Oke, awasi terus perkembangan gadis itu. Pesankan aku minuman terbaik kita mabuk-mabukan malam ini." Tommy mengiyakan, Zein hendak menutup teleponnya. Tapi berhenti karena pertanyaan Tommy yang membuatnya tertawa.
"Aku tidak butuh ******, kalau kau mau pesanlah untuk dirimu sendiri. Tapi awas kalau kau coba-coba mengwlabuiku. Bukan hanya pekerjaan tapi hidupmu juga akan berakhir." Zein segera menutup teleponnya. Pria itu tersenyum senang membayangkan hari-hari yang menyenangkan itu akan segera datang.
Carissa keluar dari kamar dengan perasaan dan penampilan yang terlihat lebih baik, gadis itu tidak menghirakan Sasha yang menatapnya remeh.
" Dudududu, kasihan banget sih pakai ngambek segala lagi eh ujung-ujungnya juga dibiarin sendiri nggak ada tuh yang datang ngebujuk nggak ada tuh yang datang ngerayu. Berasa banget deh kalau memang nggak dianggap." Carissa diam, gadis itu mengambil roti dan mengoleskannya dengan selei. Carissa tidak melihat keberadaan oma, yang ada hanyalah para pelayan. Aaron juga tidak kelihatan, Carissa mengangkat bahu malas peduli dengan Aaron. Bodoh banget sampai mencari-cari dia segala.
" Ngapain lo? Nyariin bang Aaron, bang Aaron keluar mencari angin atau mungkin mencari yang segar-segar." Carissa tersenyum sini.
" Wah, bagus dong kalau Aaron mencari yang lebih segar, tapi kok lo yang paling repot ya? Lo kurang kerjaan?" Carissa tersenyum santai, dan mencubit rotinya dan memasukannya dengan anggun ke dalam mulutnya.
"Ihhhh, sorry ya kerjaan gue banyak. Gue cuma mau ngingetin posisi lo, biar lo sadar biar jangan melangit." Carissa menyipit dan menatap Sasha intens.
__ADS_1
"Syukur, kalau lo butuh pekerjaan lo bilang ke gue. Gue bisa kasih lo pekerjaan, biar lo tidak sibuk mencampuri urusan orang lain." Muka Sasha memerah, berani-beraninya Carissa berkata seperti itu pada dirinya. Apa dia tidak salah dengar? Carissa mau memberikannya pekerjaan.
"Gue? Mau kerja sama lo? Carissa, lo lucu banget deh. Sumpah, gue pingin guling-guling saking ngakaknya. Lo jangan belagu, lo cuma numpang di hidup Aaron. Lo itu hanya cewek matre yang beruntung." Carissa tertawa dibuat-buat, semakin semangat Carissa untuk membuat gadis ini terbakar dengan api kecil yang diciptakannya sendiri.
"Oh ya? Terus lo apa? Lo cewek patah hati yang jatuh cinta sama sepupunya tapi selalu ditolak? Bahkan diusir oleh dia? Itu yang lo banggain? Ckcckckckkckc, gue rasa lo lebih miris dari gue." Carissa tertawa nyaring yang dibuat-buat, tawa yang sangat menjengkelkan ditelinga Sasha.
Prakkkk! Sasha melemparkan gelas ke arah Carissa.
"Lo lancang banget, lo gak ada hak buat omongin semua itu." Sasha menatap Carissa tajam, napasnya mulai memburu, wajahnya merah padam.
"Terus? Lo pikir lo ada hak ngomongin hidup gue? Gue miskin atau apapun itu bukan urusan lo." Cariss ikut berdiri dan menatap Sasha sama tajamnya. Sasha yang sakit hati segera berdiri dan menjambak rambut Carissa.
"Lo benar-benar perempuan sialan!" Sasha bahkan mulai mencakari wajah Carissa. Carissa balas menjabak Sasha dan menendang-nendang gadis itu.
"Lo yang sialan, entah dosa apa yang orang tua lo tanggung sampai punya anak kayak lo." Sasha makin beringas, Carissa membalasnya tak kalah beringas.
"STOP!" Oma berteriak, wanita tua itu serasa mau copot jantungnya ketika memasuki rumahnya dari kebun apelnya yang didapatnya cucu dan cucuc mantunya saling memukul.
Aaron memasuki rumah kaget, mendapati Oma yang berteriak-teriak dan istrinya dan Sasha yang sudah babak belur.
"PELAYAN!" Aaron memanggil pelayan dengan suara yang menggelegar, para pelayan datang dengan tergopoh-gopoh.
Aaron mengarahkan mereka untuk memisahkan Sasha dan Carissa. Sasha dan Carissa yang berhasil dipisahkan saling menatap penuh kebencian. Bekas cakaran di wajah Carissa mengeluarkan darah, rambut gadis itu sudah seperti ijuk, tidak beraturan. Sasha pun tidak jauh berbeda dengan Carissa, gadis itu bahkan agak terpincang.
Omasegera masuk ke dalam kamarnya, pening dia melihat mereka yang babak belur. Aaron segera membawa Carissa ke dalam kamarnya. Pria itu mengunci pintu dan mengambil kotak p3k yang ada didekat mejanya. Aaron menatap Carissa tajam, istrinya ini benar-benar menyedihkan sekarang.
"Kamu kalau marah sama mas, lampiaskan ke mas jangan sama Sasha. Sekarang lihatlah akibatnya?" Carissa diam, perih yang ada di pipinya lebih terasa daripada ucapan Aaron.
__ADS_1
"Kalau Oma sampai kenapa-kenapa kalian berdua mas tidak akan maafkan." Aaron mulai mengelapkan alkohol pada gadis itu. Carissa meringis merasakan perih, Carissa menatap Aaron tajam.
"Mas bisa atau tidak sih ngobatin? Pelan-pelan dong!" Aaron menghela napas.
"Ini sudah paling pelan loh." Pria itu kembali mengoleskan dengan amat sangat pelan, tetap saja Carissa merasa perih.
"Kalau kamu tidak sanggup menahan perihnya ngapain pakai baju hantam dengan Sasha?" Carissa mencebik, malas telinganya mendengar ceramah gratis dari suaminya ini.
"Kamu harusnya tidak perlu melawan Sasha" Carissa menjadi jengkel, Aaron melarangnya melawan Sasha itu artinya pria itu membela sasha.
"Jadi mas membela sasha? Jadi menurut mas aku juga menumpang hidup enak sama mas?" Aaron menatap Carissa tidak mengerti, kenapa berlebihan sekali reaksi istrinya ini.
"Bukan membela, tapi kalau kayak gini siapa yang repot?" Aaron bersuara pelan sambil membersihkan luka-luka gadis itu.
"Jadi mas tidak ikhlas? Kalau tidak ikhlas aku bisa sendiri kok." Carissa mengambil alih kapas yang ada di tangan Aaron. Aaron tidak menahan diri lagi, istrinya ini perlu diberi tahu dimana kedudukannya.
"Jangan membuatnya semakin sulit, aku sudah cukup sabar dengan semua kekeras kepalaaanmu! Kamu mau apa sebenarnya? Apa yang kurang dari aku?" Aaron bertanya setengah membentak, membuat Carissa tersentak.
"Jadi aku membuat mas sulit, oke. Cukup tahu saja aku." Carissa berdiri dengan tergopoh-gopoh, perempuan itu menyambar semua pakaiannya dan memasukannya kedalam koper. Aaron yang melihat istrinya itu memasukkan pakaian ke dalam koper segera menarik koper itu sehingga pakaian yang sudah disusun Carissa bertebaran di atas ranjang.
"Kamu apa-apaan, aku mau pergi biar kamu tidak perlu kesulitan biar kamu merdeka." Carissa menyentak tangan Aaron yang menyentuhnya.
"Jangan kurang ajar, sini kamu aku ajar biar kamu tahu dimana posisimu." Aaron yang emosi melepaskan pakaiannya, pria itu melempar Carissa ke atas ranjang. Carissa berusaha bangun dia tahu apa yang terjadi selanjutnya, walaupun ini pertama kalinya Aaron bersikap seperti ini padanya. Carissa dengan tertatih turun dari ranjang, mata Aaron berkilat tajam melihat istrinya itu yang bergerak turun dari ranjang.
"Jangan melawan Carissa, ingat posisimu." Aaron memeluk wanita itu dan membantingnya di atas ranjang, Aaron merobek pakaian yang di kenakan Carissa. Carissa meronta-ronta, walaupun Aaron suaminya Carissa tidak Sudi di perlakukan seperti ini. Aaron semakin geram, Carissa menitikkan air mata ketika merasakan suaminya memasukinya tanpa pemanasan. Siang ini Carissa merasa hina ternyata pernikahannya memang kesalahan, sebaik apapun Aaron padanya itu hanyalah kulit luar yang ada di dalamnya adalah kebusukan.
Carissa memejamkan mata, tidak mau melihat wajah bengis penuh amarah milik Aaron. Apalagi suaminya itu melakukannya dengan tempo cepat, kasar tanpa ada kelembutan. Carissa meringis, keringat yang membasahi tubuhnya justru membuat luka-lukanya yang belum kering semakin perih. Carissa bungkam, tidak meminta Aaron untuk berhenti ataupun untuk memperlakukannya dengan lembut.
__ADS_1
Seperti kata Aaron tadi, Carissa harus tahu dimana posisinya. Mungkin seperti inilah posisinya dimata suaminya, selama ini dia yang buta oleh semua perlakuan dan kebaikan suaminya sehingga tidak pernah tahu jika Dimata pria itu dia hanyalah pemuas ranjang. Carissa menitikkan air mata ketika merasakan semprotan lahar panas dari suaminya. Semoga kamu tidak tumbuh nak, karena ayah tidak akan pernah menginginkan kita. Aaron tersenyum bahagia, pria itu mengecup kening dan mengelap sisa air mata gadis itu. Carissa memilih untuk tidur, tidak siap untuk bertemu Aaron sekarang. Aaron melepaskan tautannya setelah mendiamkannya beberapa menit, pria itu masuk ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Aaron memakai pakaiannya dan duduk di tepi ranjang. Pria itu mengambil obat yang tadi berserakan kemudian membersihkan bekas-bekas luka istrinya. Setelah selesai Aaron mengecup kembali kening istrinya itu lama. Mungkin ini ciuman terakhir yang bisa mas lakukan, karena setelah ini kamu pasti akan benci sama mas. Aaron menyimpan kotak obat itu dan tidur diatas sofa yang ada di kamar itu.