
Setelah sarapan Carissa berangkat dengan diantar Aaron ke kampus, Nadirah diantar oleh supir karena kampusnya yang berbeda dengan Carissa. Sepanjang jalan Carissa terdiam, tidak ada topik menarik yang ingin dibincangkan bersama Aaron. Aaron juga diam dan hanya fokus pada jalanan yang dilewatinya.
"Makasih yah mas, aku turun dulu." Carissa bersuara ketika sudah sampai di kampusnya. Wanita itu melirik Aaron ketika merasakan pintu mobil masih terkunci.
"Kamu melupakan sesuatu, coba di ingat-ingat!" Carissa mengecek tasnya dan dompetnya, tidak ada tanda-tanda jika ada yang ketinggalan. Gadis itu mengeluarkan kaca mengecek penampilannya.
"Tidak ada yang ketinggalan kok, mas." Aaron tersenyum menyeringai dan menunjuk bibirnya.
"Sebagai ucapan terimakasih loh sayang." Carissa mendengus, modus amat.
"Gak ada cara lain?" Aaron menggeleng santai.
"Modus amat sih, mas." Carissa menatap Aaron sewot. Carissa melirik arloji yang ada dipergelangan tangannya, mana sudah mau telat lagi batinnya berujar.
"Kamu sudah mau telat kan?" Aaron menjongketkan keningnya. Cup! Carissa segera menempelkan bibirnya dan menjauhkan bibirnya dengan cepat, Aaron mendengus kesal. Ciuman macam apa seperti itu? Tidak terasa sama sekali.
"Cepat buka pintunya mas, kalau aku telat aku akan mogok ngomong dengan mas!" Aaron langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Carissa, sedikit takut Carissa akan benar-benar mogok ngomong dengan dirinya.
"Terimakasih mas." Carissa melambaikan tangannya dan tersenyum manis pada Aaron. Aaron menjalankan mobilnya setelah istrinya benar-benar tidak terlihat di hadapan matanya.
Tanpa mereka sadari ada pihak lain yang mengawasi gerak gerik mereka. Zein Hamid, orang yang menjadi kepercayaan Nurmansyah untuk menghancurkan mereka.
Kedatangan Zein di kampus ini adalah untuk mengawasi aktivitas Carissa, seperti yang dikatakan Nurmansyah pasti ada celah untuk memisahkan mereka. Hal yang menarik pada Carissa gadis itu terlihat tidak mudah waspada pada orang baru, mungkin itu yang bisa di manfaatkan oleh Zein. Saat Carissa ke kampus, Zein membuntuti gadis itu dan membuat seolah-olah tidak sengaja bertemu Carissa.
"Rajin banget baca buku yah, Mbak?" Carissa mendongak dan tersenyum beberapa saat. Zein terpana dengan senyuman yang manis itu.
"Tidak juga kok, aku lagi bosan jadi baca buku deh. Kayaknya kita pernah ketemu ya?" Zein tersenyum manis, dan terlihat menganggukan kepalanya.
"Iya sih, di restoran tempo hari." Carissa mengangguk dan kembali fokus pada bukunya. Zain ikut pura-pura membaca padahal matanya mengawasi Carissa.
"Mbak sudah punya kekasih?" Zein menahan napas takut-takut Carissa curiga padanya. Carissa berusaha tenang, Carissa mengangkat kepalanya dan menatap Zein dengan tersenyum.
__ADS_1
"Ada, kok tanya itu sih?" Zein tertawa canggung dan terdengar kaku ditelinga Carissa. Aneh banget ini cowok, batu kenal sudah tanya ada kekasih atau tidak.
"Sekedar memastikan, oh iya kenalin aku Zein." Zein mengulurkan tangannya, Carissa menyalami dan menyebutkan namanya.
"Lo kok cantik banget, blasteran ya?" Carissa mengernyit, lagi-lagi merasa aneh dengan pertanyaan orang ini. Carissa mengangguk saja tanpa bertanya balik.
Ting!
Carissa memeriksa handphonenya, ada notifikasi khusus. Carissa menormalkan ekspresinya dan menatap Zein. Zein terlihat seperti mengawasi gerak geriknya, Carissa menjadi semakin waspada. Carissa berdiri dan mengembalikan buku yang dibacanya di rak buku. Zein memerhatikan Carissa tanpa berkedip sedikitpun. Carissa sangat cantik, Zein hampir lupa dengan tujuan utamanya.
"Zein, aku duluan yah. Ada kelas." Zein mengangguk dan tersenyum.
Carissa berlalu dengan tergesa-gesa. Zein menyeringai, sepertinya ada yang menarik. Zain sudah menyelidiki banyak hal tentang Carissa, termasuk jadwal kuliahnya. Menurut jadwal yang menjadi acuan Zein, Carissa hanya kuliah pagi untuk hari ini. Zein segera menyimpan buku yang di pegangnya dan keluar dari perpustakaan. Zein ikut berlari mengejar Carissa yang terlihat semakin jauh.
Carissa melirik ke belakang menjadi khawatir dengan keberadaan Zein, walaupun belum ada kepastian jika cowok itu benar-benar mengejarnya. Akan tetapi Carissa memiliki firasat yang tidak baik ketika melihat Zein yang setengah berlari dibelakangnya.
Carissa yang sedikit berlari tersenyum melihat Dewi. Carissa segera mengetuk kaca mobil Dewi. Dewi mengernyit melihat Carissa, gadis itu menurunkan kaca mobilnya. Carissa terlihat sangat kecapekan sekarang.
"Lo habis lari maraton atau gimana? Kok Lo dibanjiri keringat sih." Carissa mengambil tisu yang ada di dashboard mobil dan mengelap keringatnya.
"Gue merasa diikuti, ngomong-ngomong lo tidak jadi pindah" Dewi menggeleng.
"Tidak jadi, kok lo aneh sih seperti Arlan selalu diikuti orang." Carissa terkejut, kemudian menatap Dewi serius.
"Lo masih ketemu Arlan? Gimana keadaan dia?" Dewi tersenyum.
"Baik sih, cuma dia lagi jaga jarak dengan gue." Carissa mengangguk.
"Arlan juga melarang gue untuk menghubungi dia duluan, aneh kan itu anak?" Dewi mengangguk.
" Apa lo nggak mikir kalau ini ulah musuh orang tua lo?" Carissa menggeleng. Carissa tidak pernah berpikir jika ada musuh orang tuanya yang benar-benar nekat sampai mau membunuh dirinya dan Arlan.
__ADS_1
"Hubungan lo dengan Arlan itu apa?" Carissa menghela napas.
"Dia teman gue, seur deh! Gue nggak ada hubungan selain teman dengan dia." Dewi tersenyum, Carissa tidak banyak tahu. Pantas Arlan mewanti-wanti Dewi agar jangan kecoplosan dihadapan Carissa.
"Gue percaya kok, santai saja." Carissa heran dengan jawaban Dewi yang terkesan santai tidak seperti dulu yang selalu meledak-ledak padanya.
"Lo mau gue antar kemana?" Carissa berpikir.
"Kalau rumah lo aman gak?" Dewi mengangguk dan membawa Carissa ke rumahnya.
"Gila, banyak banget bodyguard lo sih!" Dewi tertawa kemudian menarik tangan Carissa untuk masuk.
"Santai saja, anggap saja seperti rumah sendiri." Carissa masuk dan berjalan mengikuti Dewi.
"Lo tidak risih?" Dewi menggeleng, gadis itu sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.
"Lo benaran sudah maafin gue 'kan?" Dewi mengangguk. Carissa dan Dewi menghabiskan waktu dengan memasak-masak dan nonton di studio mini yang ada dirumah Dewi.Sorenya Carissa pulang dengan diantar Dewi, Carissa sampai di rumah hanya ada Nadirah Aaron tidak ikut makan malam, tidak biasanya. Carissa naik ke lantai atas untuk ganti pakaian dan kembali turun untuk makan malam.
"Mbak, kemana saja seharian?" Carissa tersenyum.
"Ke rumah teman mbak, kamu dari tadi sampai di rumah ini?" Nadirah menggeleng.
"Aku ada kelas tambahan mbak, jadi baru sampai." Carissa menatap Nadirah hati-hati.
"Kamu pernah merasa diikuti orang?" Nadirah tertawa, kemudian menggeleng.
"Mbak kebanyakan nonton film. Ngapain sih orang mau ngikutin aku?" Carissa hanya tersenyum mendengar pertanyaan Nadirah dan mulai makan tanpa bicara lagi.
Setelah makan malam Carissa naik ke atas, Carissa menyiapkan tugas-tugasnya. Sudah pukul sebelas malam, belum ada tanda-tanda kepulangan Aaron. Carissa memeriksa teleponnya tidak ada notifikasi dari Aaron, Carissa yang kesal segera mematikan teleponnya dan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi sebelum tidur.
Carissa naik ke ranjang dan mencoba untuk terlelap. Carissa memejamkan matanya memikirkan hal-hal yang terjadi padanya hari ini. Carissa mencari kembali Handphonenya dan menghidupkannya. Carissa teringat pada notifikasi yang diterimanya siang tadi. Besok sore, di Victoria. Setelah membacanya Carissa segera menghapus notifikasi tersebut. Carissa menjadi berdebar-debar, Carissa hanya mengguling-gulingkan badannya diatas ranjang. Mendekati shalat subuh Carissa baru bisa tertidur.
__ADS_1
*****