
Carissa semakin merasa bersalah dengan tingkah Aaron yang semakin menjadi-jadi. Dua hari sudah Carissa di abaikan, Carissa merasa benar-benar merasa terasing. Hari ini Carissa nekat untuk ke kantor Aaron, kalau benar-benar suaminya itu masih mengabaikannya Carissa benar- benar akan pergi dari rumah Aaron persetan dengan semua kebaikan pria itu.
Carissa meminta Bi Sitti untuk membuatkan makan siang yang akan diantarkannya untuk Aaron. Bi Sitti mengangguk, toh dirinya hanya perlu menyiapkan ada pelayan-pelayan lain yang akan menyediakannya makan siang. Bi Sitti memerhatikan wajah nyonyanya yang diliputi awan mendung.
"Nyonya, tolong jangan pancing amarah Tuan muda!" Carissa menggerutu dalam hati, siapa juga yang pancing emosi tuan muda yang ada tuan muda itu yang telah memancing emosi Carissa. Bi Sitti menatap Carissa hati-hati dan menatap penuh peringata
"Aman kok bi, tenang saja," Carissa mengatakan itu dengan senyum yang dibuat-buat dan segera pergi bersama rantangan yang ada ditangannya. Bi Sitti merasa ragu dengan ucapan Carissa, sepertinya semua tidak akan baik-baik saja seperti yang dikatakan nyonya muda itu. Bi Sitti menggelengkan kepala anak muda memang selalu memperbesar-besarkan masalah.
Sampai di kantor milik Aaron, Carissa segera naik ke lantai atas tanpa menghiraukan keributan para karyawan yang berbisik- bisik melihatnya. Carissa tidak peduli mereka benar-benar mengenal dirinya atau hanya menduga-duga siapa dirinya yang datang mengunjungi rumah Aaron. Sampai dilantai yang ditujunya, Carissa sudah di tunggu oleh seorang gadis cantik yang dari penampilannya sepertinya gadis itu sekretaris Aaron.
"Ada yang bisa aku bantu nona?" Angela tersenyum lebar pada gadis cantik yang memegang rantangan dihadapan ini. Gadis itu terlihat tidak menunjukkan wajah yang bersahabat. Carissaenarik senyum menatap gadis yang menegurnya itu.
"Aku mau bertemu dengan Aaron." Angela mengernyit, siapa gadis ini sampai memanggil Aaron tanpa embel-embel bos atau yang lainnya? Angela mengamati penampilan Carissa dari atas ke bawah. Tidak menarik dari sudut manapun.
"Apakah anda sudah membuat janji dengan pak Aaron?" Carissa menelan ludah dia belum membuat janji, tapi itu bukan alasan untuk kembali pulang tanpa hasil apapun. Pokoknya semua harus selesai hari ini, jadi dia harus bertemu Aaron agar semua masalah mereka cepat selesai.
"Belum, tapi ini sangat genting bilang dari Carissa." Angela terlihat ragu kemudian menelpon Aaron menyampaikan jika Carissa datang menemuinya.
"Anda silahkan masuk nyonya, anda sudah ditunggu!" Carissa mengangguk tanpa peduli lagi dengan sekretaris Aaron. Angela menarik napas sedalam-dalamnya.
Carissa menelan ludah melihat Aaron yang masih duduk tidak menyambutnya, pria itu malah asyik dengan berkas-berkasnya. Carissa mencoba berdehem memancing perhatian Aaron tidak ada reaksi apapun, Carissa berdehem lebih keras lagi dan hasilnya masih sama tidak ada reaksi apapun dari Aaron. Carissa menghentakkan kakinya kuat-kuat dan tatap saja sama sekali tidak ada reaksi dari Aaron. Carissa menyimpan tantangnya di atas meja kemudian berjalan menghampiri Aaron. Pokoknya masalah mereka semuanya harus selesai hari ini.
__ADS_1
" Aku mau damai." Aaron masih menatap ke arah lain, masih belum menatap Carissa. Carissa menelan ludah dan melanjutkan ucapannya.
"Aku akan pergi dari rumah kamu, aku tahu aku cuma jadi beban dan tambah masalah untuk kamu. Terimakasih untuk kebaikan hati kamu selama ini." Carisaa beranjak Aaron tidak menahannya sama sekali.
Carissa mengerutkan keningnya ketika merasakan pintu tidak terbuka sedikitpun. Carissa mencoba menarik dan mendorongnya, sama tidak ada perubahan apapun. Carissa melirik Aaron, pria itu tampak tak acuh pada Carissa. Pasti ini kerjaan pria itu, Carissa mengepalkan tangannya, emosi benar-benar meledak.
"Brak!"
Carissa menggebrak meja kerja Aaron dengan tangannya, Aaron mengangkat wajahnya menatap sengit istrinya. Istrinya ini telah berani mencari masalah dengan dirinya, harusnya Carissa bersyukur hanya di diamkan seperti ini tanpa dikasari oleh dirinya.
"Apa maksud lo" Aaron berbisik dengan wajah marah pada istrinya. Carissa juga sama marahnya menatap Aaron dengan emosi.
"Aku yang harus tanya, maksud kamu mengunci pintu itu apa?" Hilang sudah panggilan mas dari bibir Carissa. Aaron mengejek menatap istrinya.
"Aku bukan milik siapa-siapa, pernikahan yang kita jalani hanyalah mutualisme. Kamu bisa membalas ayahmu dan aku bisa membayar kuliahku, impas kan?" Aaron tertawa, kemudian memerangkap istrinya ini di depan meja kerjanya. Carissa sedikit khawatir merasakan bokongnya menyentuh meja.
"Tidak ada yang impas? Aku melindungimu, catat itu!" Carissa tertawa hambar, memberanikan dirinya menatap suaminya itu.
"Aku tidak meminta semua itu. Kalau kamu tidak ikhlas lepaskan aku, aku tidak peduli lagu aku sudah biasa sendirian!" Aaron merengkuh istrinya melihat istrinya ini sudah berkaca-kaca. Aaron memukul meja yang ada di depannya, melampiaskan kekesalannya.
"Aku mau kita pisah, cerrr ahmmmppph...." Carissa tidak dapat menyelesaikan merasakan lidah Aaron sudah membelit lidahnya dan memagut bibirnya agak kasar, sepertinya pria ini sangat marah padanya. Aaron hanya memberikan kesempatan Carissa bernapas dan kembali mencumbui istrinya dan puncaknya Aaron mengangkat istrinya menuju ke sebuah ruangan pribadi miliknya. Carissa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tadi bukannya marah malahan Carissa mengeratkan pelukannya di leher Aaron.
__ADS_1
Satu jam kemudian keduanya berada di bawah selimut yang sama, mereka sudah membersihkan diri. Aaron kembali mencium kepala Carissa, Tuhan saja yang tahu serasa mau tercabut jantungnya mendengar Carissa yang mau berpisah darinya.
"Mas, Carissa tidak suka didiamin." Aaron mengangguk, membiarkan istri cantiknya ini mengeluarkan isi hatinya.
"Carissa tidak suka diabaikan." Aaron mengangguk dan kembali menciumi kepala istrinya.
"Salah sendiri kan tidak peduli dengan perintah mas?" Carissa diam tapi kembali menatap suaminya dengan berani.
"Mas terlalu lebay, Carisaa itu tidak nyaman dengan hal-hal bodyguard. Carissa bisa jaga diri tahum" Aaron tidak peduli dengan alasan Carissa pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, Carissa mendengus melihat suaminya.
"Ya sudah, kamu dirumah saja. Mas tidak menerima bantahan apapun." Carissa terbelalak yang benar saja Carissa yakin akan mati kebosanan kalau dirumah saja.
Carissa turun dari ranjang menjauhi Aaron yang terlalu menyebalkan menurutnya.
Aaron hanya memandang datar Carissa, biarkan saja istrinya itu seperti itu. Aaron tidak akan membiarkan Carissa berbuat sesuka hati lagi yang malah akan membahayakan keselamatan Carissa.
Lama dengan kondisi diam-diaman, pertahanan Carissa runtuh ketika Aaron memutuskan untuk pulang ke rumah.
Carissa akan mencari cara, agar diizinkan kuliah oleh suaminya. Pasti ada cara, dia akan bertanya pada Aziz sang asisten, hehehe. Sepanjang perjalanan Carissa hanya menjawab seperlunya saja jika ditanya oleh Aaron, masih ada kekesalan yang terpendam dalam hatinya. Saat memasuki rumah Carissa melihat wajah lega para pelayan, Carissa menaikkan alis ada apa dengan orang-orang ini.
Carissa mengikuti makan malam seperti biasa, yang menarik perhatian Carissa adalah dari tadi Nadirah menatapnya lekat-lekat seperti akan mengatakan sesuatu tapi gadis itu mengatupkan bibirnya ketika matanya kembali memandang abangnya. Carissa yang penasaran setelah makan malam tidak langsung ke kamarnya. Carissa berbelok ke arah kamar Nadirah, Carissa mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian pintu terbuka, dan Nadirah langsung menarik tangan Carissa. Kemudian gadis itu mengunci pintunya.
__ADS_1
Carissa tidak bergerak ketika merasakan gadis itu menubruk dirinya dan memeluknya. Nadirah kemudian kedengaran terisak-isak, Carissa bingung mau melakukan apa untuk menghentikan tangis Carissa. Carissa hanya mengelus-elus rambut Nadirah berusaha menenangkan gadis itu. Carissa yang anak tunggal tidak tahu bagaimana berperan sebagai kakak yang baik. Nadirah masih terisak-isak kemudian naik ke ranjang tanpa menghiraukan atau memedulikan Carisaa.
****