
Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!
Pelayan segera membuka pintu rumah, pelayan itu terkejut melihat muka tamunya yang sangat masam. Pelayan itu mengamati dewi ari atas ke bawah, singa kemasukan dari mana lagi yang dating berkunjung, apa gadis ini salah alamat?
"Cari siapa non?" Pelayan itu akhirnya memberanikan diri bertanya, biasalah sedikit basa-basi agar pelayan tidak kesusahan untuk memberitahu majikannya, atau segera menutup pintu jika yang dicari bukan majikannya.
"Panggilin Rissa? Cepat panggilan Rissa!" Dewi membentak-bentak pelayan yang ada di depannya. Pelayan itu melongo seingatnya disini tidak ada yang namanya Rissa.
" Non salah rumah deh, disini itu yang namanya Rissa tidak ada," Wajah wanita di depannya ini memerah, apa pelayan ini mempermainkannya ya? Kemarin saat mengikuti Rissa, Dewi melihat dengan sangat-sangat jelas Rissa memasuki rumah ini.
"Mbak jangan bercanda, kemarin itu Rissa turun disini. Bahkan sampai masuk ke rumah ini, coba mbak ingat-ingat!" Pelayan itu terlihat berpikir. Apa yang dimaksud nona dihadapannya ini adalah Carissa ya? Istri Tuan mudanya itu, siapa tahu nama panggilan oleh teman-temannya Rissa. Carissa dan rissa kan mirip.
" Disini yang ada Carissa, tidak ada Rissa nona Carissa itu istri tuan muda!" Dewi memutar matanya kesal, orannya kan sama. Ampun deh pelayan di rumah ini.
" Ya itu, cepat panggil!" Dewi menjadi tidak sabar. Pelayan itu malah mempersilahkan Dewi masuk dan menunggu di ruang tamu. Kemudian pelayan itu berlalu dan memberi tahukan pelayan lain untuk menyajikan cemilan karena ada tamu di rumah ini. Pelayan yang tadi membuka pintu untuk Dewi naik ke lantai atas untuk memanggil Carissa.
Tok Tok! Tok Tok!
Carissa muncul masih memakai mukena, sepertinya gadis itu baru selesai shalat.
" Ada apa mbak?" Pelayan itu segera memberitahukan ada yang mencarinya, Carissa mengucapkan terimakasih. Gadis itu melepas mukenanya dan turun ke bawah menemui tamunya.
"Eh, Dewi. Tahu dari mana aku disini?" Carissa tersenyum manis, walaupun gadis ini tidak mengerti maksud kedatangan Dewi. Dewi bukan teman dekatnya, saat SMA mereka sebatas saling kenal nama saja. Melihat kedatangan Carissa, Dewi segera berdiri gadis itu menatap tajam Carissa yang kini tersenyum manis dihadapannya.
__ADS_1
"Aku tahu dong, aku tahu semua tentang gadis perusak hubungan orang." Gadis itu menyeringai kecil. Alis Carissa naik ini salah paham atau bagaimana? Arlan bilang mereka sudah putus.
" Perusak hubungan orang? Maksud kamu?" Carissa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan dewi.
"Kamu, kamu perusak hubungan itu. Asal kamu tahu ya! Arlan tinggalin aku karena kamu! Tahu kamu?" Carissa menggeleng dia tidak tahu apapun. Lagi pula, Arlan tidak ada kaitan dengan dirinya, jdi tidak mungkin pria itu meninggalkannya karena dirinya.
"Lo bicara baik-baik. Gue udah nikah, gue juga dengan Arlan cuma teman. Kamu salah paham deh." Carissa menjawab dengan tenang yang malah menyulut emosi Dewi.
"Udah nikah? Salah paham? Iya?" Gadis itu berteriak mendekati Carissa, Carissa mengangguk polos.
PRAAKKKKKK!!!! Dewi melemparkan vas bunga yang ada diatas meja pada Carissa, Carissa menghindar dengan gesit.
PRAAKKKKKK!!!!
Guci yang ada di ruang tamu itu berserakan! Para pelayan datang berbondong-bondong. Mereka menahan pergerakan Dewi. Pelayan yang lainnya merapikan pecahan-pecahan yang berserakan di ruangan itu.
" Sekali Lo tunjuk wajah gue, gue patahin tangan lo!" Suara Carissa sangat dingin gadis itu menyeringai mendekati Dewi.
"Rissa, gue gak takut ya! Suami lo kurang perkasa apa? Sampai Arlan lo embat juga?" tindakan Dewi itu malah makin menaikkan emosi Carissa karena gadis itu menunjuk-nunjuk Carissa. Carissa segera berlari kecil dan menendang tulang kering gadis itu. Dewi ambruk, tak memberi kesempatan Carissa mengunci pergerakan perempuan itu.
"Lo dengar baik-baik! Catat di otak lo yang cantik ini! Mulut lo gak ada hak apapun untuk menyebut-nyebut suami gue. PAHAM!" CARISSA berteriak sangat keras di depan gadis itu.Dewi mengangguk bergerak gerak agar lepas, tapi Carissa malah mengisyaratkan satu pelayan untuk menahan pergerakan kaki gadis itu.
"Oke. Tentang Arlan, Lo dengar baik-baik gue udah menikah gue mengormati kesakralan pernikahan gue. Kalau pun Arlan cinta sama gue, gue gak bisa. Paham?" Carissa kembali berteriak lebih keras, sehingga para pelayan disekitarnya pun merasa mau copot jantungnya. Dewi kembali mengangguk.
__ADS_1
"Lo cinta Arlan kan?" Dewi mengangguk lagi, Carissa tersenyum tipis.
"Introspeksi diri Lo, perbaiki diri lo. Coba lo pahami Arlan, lo percaya sama dia. lo coba bahas empat mata kelanjutan atau kebaikan untuk hubungan lo berdua itu apa? Asal lo tahu, Arlan gak akan balik ke lo dengan cara murahan lo marah-marah ke gue, fitnah-fitnah gue!" Dewi sesenggukan dan mengangguk, mungkin yang dikatakan Carissa benar.
"Ini paling penting! Kalau lo ke rumah gue baik-baik, silahkan! Tapi kalau untuk alasan kayak gini? Bersyukurlah kalau lo balik nggak masuk rumah sakit." Dewi menggigit-gigit bibirnya, Carissa ternyata sangat menyeramkan.
"Dan tentang suami gue? lo jangan pernah hina dia lagi, karena kalau nggak habis ditangan gue lo akan habis ditangan suami gue sendiri! PAHAM!" DEWI mengangguk gadis itu menggigil pria jenis apa yang menjadi suami Carissa? Carissa mengisyaratkan pelayan yang tadi menahan kaki Dewi untuk melepaskan gadis itu, Carissa juga melepaskan kunciannya. Dewi bernapas lega, gadis itu mencoba berdiri tanpa berani menatap mata Carissa.
"Maaf, lo yang minta cara seperti ini. Jadi gimana lo mau disini atau gimana?" Carissa menatap Dewi yang mulai tersenyum angkuh padanya. Balik lagi ni aslinya bisik Carissa.
"Gue balik!" Dewi berjalan dengan angkuh melewati para pelayan yang tadi menonton pergulatan mereka. Gadis itu tidak menoleh sedikitpun.
"Rissa, thanks" Carissa menoleh ke pintu tidak melihat lagi wajah Dewi. Carissa tersenyum kecil. Gadis itu kemudian menoleh pada para pelayan dan membubarkan mereka dengan isyarat tangannya.
"Salah satu dari kalian, ambilin gue air putih ya!" Para pelayan itu menganguk. Carissa mengatur napasnya, setelah air minumnya sampai gadis itu menenggaknya sampai habis.
"Gila! Ternyata marah-marah bikin capek, semoga gue nggak tua karena marah-marah pada Dewi tadi. Aamiin." Pelayan yang membawakan minuman itu juga mengaminkan. Carissa melangkah ke ruang keluarga untuk nonton TV memulihkan tenaga dan juga suasana hatinya.
Seorang pria tertawa terbahak bahak melihat layar laptopnya. Tidak salah gadis itu menjadi istrinya, ia memiliki karakter yang bisa melindungi dirinya. Aaron juga bahagia ketika istrinya membelanya, merasa dihormati dan dihargai oleh istrinya. Jadi ingin pulang cepat, hehehehe.
Aziz yang masuk dalam ruangan bos nya terheran melihat wajah sumringah bosnya. Tidak biasanya.
"Ada apa bos? Bahagia amat!" Aaron menggeleng. Kemudian pria itu menandatangani berkas yang bibawa Aziz.
__ADS_1
Setelah Aziz keluar dari ruangan bosnya pria itu mendapat informasi yang mengejutkan. Sepertinya ini yang membuat bosnya itu sumringah. Aaron tidak salah pilih istri!
Semoga senyum itu masih sama walaupun Fani nanti akan kembali suatu hari nanti!