Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Ketemu lagi


__ADS_3

Jangan lupa like, vote, dan komentar đź’•


Kesulitan membenci orang yang kita cintai adalah hati yang tidak bisa diajak kompromi.


Pagi ini Carissa bangun dengan perasaan lebih baik, Carissa segera mandi dan bersiap-siap untuk restoran miliknya. Carissa memilih untuk berwirausaha sebagai aktivitasnya agar hidupnya tidak lagi menyedihkan dan otaknya juga tidak lagi memikirkan Aaron. Dewi terlihat sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, Carissa berjalan menghampirinya.


"Bersinar banget sih lo pagi-pagi seperti ini, beda banget sama kemarin-kemarin." Carissa tersenyum tipis dan mendengar Dewi yang bersuara heran, Carissa duduk dan mengambil roti mengoleskannya dengan selai.


"Iya dong, masa gue mau kayak kemarin-kemarin terus. Lagian lo juga ingin gue jangan sedih-sedih terus 'kan?" Dewi mengangguk, alisnya mengernyit mengingat percakapannya dengan Arlan. Dewi menatap Carissa serius.


"Sepertinya gue lupa kasih tahu lo Arlan kemarin bilang kalau semua orang-orang yang lo curigai tidak ada kaitannya dengan kasus Nadirah." Carissa mengernyit sambil mengunyah rotinya, dan menganggukkan kepalanya. Namanya juga curiga belum tentu itu benar.


"Kok bisa ya, mungkin pelakunya sudah mengatur semuanya sedemikian rupa. Aku yakin kok pasti ada orang dekat, yang tahu keadaan aku dan Aaron jadi dia memanfaatkan itu semua." Dewi mengangkat bahu, dan memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Lo tidak usah terlalu pikirin, Aaron juga sudah tidak peduli sama lo. Kalau pun juga Lo tahu siapa pelakunya belum tentu juga Aaron dan keluarganya percaya." Carissa menggeleng dan menatap Dewi dengan senyum kembut.


"Nggak bisa gitu dong, gue harus membersihkan nama gue sekalian biar Aaron juga malu sama pemikiran buruknya ke aku." Dewi mengangguk kecil betul juga sih Aaron akan menyesal sudah menuduh Carissa yang tidak-tidak. Setelah perbincangan singkat itu keduanya terdiam, masing-masing menikmati sarapannya.


Nadirah turun sarapan dengan ceria, sangat berbeda sekali dengan hari-hari kemarin. Gadis itu salaman pada ibunya dan juga abangnya, Aaron. Nadirah sudah berpakaian rapi, gadis ini memiliki urusan penting hari ini. Aisyah mengernyit melihat anaknya yang tidak biasanya walau dalam hatinya ada kesyukuran. Aaron menatap Nadirah masih kesal, karena semalam gadis itu menggagalkan rencananya yang akan mengatakan sesuatu pada Fani.


Semalam Nadirah menelpon Aaron karena mobilnya kempes di jalan, padahalkan gadis itu bisa menelpon montir untuk datang mengurusnya mobilnya. Gara-gara Nadirah masalahnya dengan Fani belum beres seperti harapannya. Aaron makan tanpa menoleh pada Nadirah, kalau dulu Aaron akan mudah untuk menolak habis-habisan permintaan adiknya maka sekarang mulai berubah karena kejadian yang menimpa Nadirah itu. Sejak kejadian itu Aaron berusaha untuk lebih memerhatikan adiknya itu.


"Kamu mau kemana sih sayang, pagi-pagi sudah rapi saja?" Nadirah tersenyum pada Aisyah, kemudian menelan makanannya. Setelah itu gadis itu fokus menatap ibunya.


"Aku ada urusan diluar, ma." Aisyah mengangguk melihat senyuman dibibir gadis itu seakan menunjukkan dia udah baik-baik saja. Aisyah tidak bertanya lebih jauh lagi.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu ya, mam." Aisyah mengangguk. Nadirah berjalan keluar, gadis itu sudah ditunggui oleh Aziz.


"Langsung jalan?" Nadirah mengangguk dan segera memakai sealtbelt.


"Lo punya ingatan tidak tentang kejadian itu? Atau mungkin petunjuk?" Nadirah menggeleng pelan, tidak ada yang diingatnya kecuali mungkin melihat langsung pria itu. Itupun ingatan Nadirah tidak terlalu kuat apalagi pria itu mengenakan topeng.


"Nggak ada bang, gue cuma ingat gue berada di ruangan yang warna putih dan terbangun sudah di hutan itu." Aziz mengangguk-angguk. Keduanya kembali larut dalam pertanyaan untuk mengisi waktu kosong mereka setelah perjalanan.


Di apartemennya Rega kembali sakit hati karena sejak pagi Fani bercerita tentang Aaron yang memberikannya bunga dan lain-lain. Bahkan gadis itu menelponnya sejak pagi sekali, mengganggu tidurnya hanya untuk hal yang tidak penting. Rega menggenggam penumbuknya, mengapa selalu Aaron yang ada di mata Fani?


Carissa yang sedang menemani Arlan dan Dewi yang sedang mendesainkan bagian depan restoran terganggu dengan kedatangan Lili. Carissa mengerutkan alis ketika Lili mengatakan ada yang ingin menemuinya. Siapa yang ingin bertemu dengan dirinya? Carissa segera keluar dari ruangan pribadinya dan berjalan dengan penuh rasa penasaran, menemui orang yang dimaksud Lili.


"Maaf yah, mengganggu lo. Lo pasti sibuk banget 'kan?" Carissa mengangguk, ada apa sampai anak buah Nurmansyah datang ke sini?


"Ada apa lo kesini?" Zein tersenyum menatap Carissa. Lili datang mengantarkan dua gelas kopi di meja mereka, setelah Lili pergi barulah Zein mulai berbicara.


"Gue cari tahu, tapi semua tidak menunjukkan apapun." Carissa menjawab dengan santai dan mulai menyeruput kopinya.


"Itu dia, gue mau ajak lo kerja sama gue agar lebih mudah dan ini tidak ditahu oleh Nurmansyah." Zein menatap Carissa antusias, kemudian pria itu ikut menyeruput kopi yang disuguhkan untuk dirinya.


"Gue lihat keadaan, karena gue mulai malas mengurusi kasus itu. Toh bukan gue kok pelakunya." Carissa berbicara dengan santai, lalu kembali menyeruput kopinya. Carissa mengulum senyum melihat pria itu yang membeku dan wajahnya pias. Zein kembali menatap Carissa datar, pria itu terlihat mengurangi ketegangan dalam dirinya.


"Ya, tapikan nama baik lo yang dipertaruhkan dalam kasus ini." Carissa mengangguk tidak menyanggah karena memang seperti itu lah kenyataannya.


"Itu sih biar jadi urusan gue sendiri, makasih sudah mengajak kerja sama tapi gue nggak bisa." Zein menggeram kesal ternyata Carissa mulai seombong.

__ADS_1


"Gue sih cuma niat baik mau bantuin lo, ternyata lo keras kepala mau sendiri. Ya sudah gue balik. Thanks untuk kopinya." Carissa menganggukan kepala, melihat kepergian pria itu dengan tatapan aneh. Bukan apa-apa Carissa merasa aneh saja dengan Zein. Tidak ada angin tidak ada hujan pria itu tiba-tiba datang menemuinya untuk mengajaknya kerja sama.


"Senang banget yah, habis ketemu cowok ganteng." Carissa memasang wajah judes, menatap Aaron. Sejak kapan pria ini ada disini? Carissa memerhatikan orang-orang sibuk dengan makanannya. Ada urusan apa sampai pria ini ada di sini?


"Pasti lebih senang yang semalam dong, makan malam bareng cewek cantik dikasih bunga lagi." Carissa balas menyindir, Aaron tersenyum kecil tidak tersinggung. Jadi semalam Carissa memerhatikan dia sedetail itu? Aaron malah merasa senang, senyum lebar mengukir di wajahnya.


"Okelah impaskan 1-1, jalan yuk ada yang aku mau omongin." Carissa sebenarnya ingin menolak bahkan gadis itu sudah berniat akan mengabaikan Aaron sekuat tenaga, tapi sekarang pria itu datang lagi padanya dan semua kemarahannya menguap. Carissa langsung mengangguk antusias, dan berdiri menyambut uluran tangan Aaron.


Sepanjang jalan menuju mobil Aaron Carissa diam-diam mengutuk dirinya sendiri yang mudah sekali luluh oleh pria ini. Apalagi ketika Aaron masih memperlakukannya seperti biasa, pria itu membukakan mobilnya untuknya dengan penuh senyuman manis. Jantungnya malah berdebar-debar dan dalam mobil gadis itu meremas-remas tangannya.


Aaron yang masuk ke dalam mobil mengernyit melihat Carissa yang terlihat gugup, pria itu memasang sealbet-nya kemudian kembali melirik pada Carissa. Carissa masih melamun, Aaron mencondongkan tubuhnya ke arah gadis itu. Carissa menahan napas merasakan Aaron yang mendekat padanya, hembusan napas pria itu mengenai wajahnya.


Ketika wajah mereka semakin dekat Carissa refleks memejamkan matanya, Aaron menahan tawanya. Aaron segera memasang sealbet Carissa. Carissa menunggu dengan sangat berdebar-debar, Aaron meniup kedua mata gadis itu.


“Mikirin apa sih? Kok merem?” Aaron berbisik lembut di telinga gadis itu. Sontak saja wajah Carissa memerah mengalahkan merahnya kepiting rebus. Aaron berbahak-bahak, Carissa menundukkan kepalanya. Tuhan, apa yang telah merasukinya tadi? Mengapa dia melakukan hal bodoh, mengira Aaron akan menciumnya? Sekarang pria itu dengan tanpa dosanya malah asyik menertawakannya, membuat Carissa semakin kesal.


Carissa segera melayangkan cubitan pada pria yang sibuk tertawa disampingnyanya. Aaron semakin terbahak-bahak membayangkan ekspresi Carissa yang tadi meram, bahkan air matanya sampai keluar. Carissa melarikan pandangannya dari pria itu, dasar kurang ajar pasti Aaron sekarang sedang merasa di atas awan.


“Kamu kok gemasin banget sih, kalau meram apalagi mukanya memerah.” Carissa tidak menanggapi Aaron, itu lebih ke godaan daripada pujian menurut Carissa.


“Kamu kok diam, ceritain dong apa yang tadi ada di pikiran kamu? Aku kan juga ingin tahu, siapa tahu aku bisa wujudkan?” Aaron masih tersenyum-senyum melirik Carissa yang kini menatapnya dengan galak.


“Ini yang aku pikirin. Bugh bugh bugh.” Carissa memukul lengan pria itu sampai membuat pria itu benar-benar kesakitan.


“Akhhhh, cukup. Cukup, kita bisa kecelakaan kalau seperti ini.” Carissa masih tidak peduli, tangannya masih memukul-mukul pria itu.

__ADS_1


“Stop pukulannya sayang, memang kamu mau mati sekarang? Kalau aku sih siap-siap saja mati sekarang, asal matinya sama kamu.” Aaron mengedipkan mata genit pada Carissa. Carissa memasang wajah jijik dan kembali melayangkan pukulannya pada pria itu. Aaron benar-benar deh! Carissa langsung mendiamkan pria itu walaupun Aaron semakin gencar mencari perhatian darinya.


__ADS_2