Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Janji


__ADS_3

Setelah malam dimana Aaron mengantarnya untuk pulang, malam ini pria kembali mengajaknya untuk jalan. Carissa menyambutnya dengan antusias, wanita itu benar-benar berpakaian dengan sangat rapi. Dewi sampai beberapa kali menggodanya, carissa hanya tersenyum menanggapi godaan dari Dewu tersebut.


“Cie yang mulai baikan, aku jadi ingin nelpon Arlan melihat kamu yang berbunga-bunga seperti ini.” Carissa mendengus, tidak berniat untuk menyahuti gadis itu. Dewi memutar bola matanya melihat Carissa yang bolak-balik menatap wajahnya di cermin.


“Gak ada yang aneh kok, semua baik-baik saja, lo tidak perlu ngaca juga 24 jam.” Carissa menjulurkan lidahnya, membuat Dewi kesal.


“Suka-suka gue lah, ngapain sih lo repot seperti netizen." Carissa tidak menatap Dewi, gadis itu masih sibuk menilik apa yang kurang dari dirinya.


“Memang lo yakin kalau, Aaron akan benar-benar mempertahankan hubungan kalian? Bagaimanapun pria itu belum selesai dengan Fani 'kan?” Carissa terdiam kemudian gadis itu tersenyum.


“Aku tidak mengerti sih, tapi sepertinya mereka benar-benar sudah selesai hanya mungkin perlu meluruskan beberapa hal.” Carissa mengangkat bahu cuek , gadis itu mengambil lipstik untuk mengoleskan pada bibirnya. Dewi mengangguk-angguk menatap Carissa.


“Gue lagi malas mikirin itu, makin gue pikir makin berat, jadi gue biarkan mengalir seadanya saja.” Dewi ber 'oh' ria.


Carissa segera mengecek ponselnya, wanita itu tersenyum dan memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian kembali melirik sekali lagi wajahnya di kaca. Sudah pas, tidak ada lagi yang perlu diubah. Carissa segera pamitan pada Dewi, Dewi semakin berisik menggoda Carissa.


“Kok aku merasa seperti diriku beberap tahun yang kalau ya, masih berbunga-bunga gitu. Seperti mau kencan untuk pertama kalinya.” Carissa cuek saja dengan sindiran Dewi. Gadis itu segera meninggalkan Dewi. Dewi menatap kepergian Carissa dengan beragam ekspresi. Semoga lo tidak salah langkah, Rissa.


Carissa segera menghampiri mobil Aaron, wanita itu melihat dirinya dan Aaron sangat timpang. Aaron hanya mengenakan pakaian santai, sedangkan Carissa terlihat menor, apalagi gadis itu memakai dres panjang. Cariss mengerucutkan bibirnya, harusnya Aaron memberikan informasi padanya, apa yang harus dipakainya.


“Tidak usah dipikirkan kok. Kamu bisa pakai jaket aku untuk sementara, lagi pula udaranya dingin kalau malam.” Carissa menurut, Aaron seperti memahami apa yang dipikirkannya sekarang.


“Jadi mau kemana?” Aaron bertanya padanya, Carissa mengangkat alis.


“Terserah mas, deh. Aku ngikut “ Aaron mengangguk.


“Tapi kamu ikhlas, ini?” Carissa memutar bola matanya kalau tidak ikhlas ngapain juga dia bicara seperti itu.


“Ikhlaslah, masa aku tidak ikhlas. Sembarangan deh.” Aaron tertawa pada cariss a yang meliriknya sewot.


"Kan katanya cewek kalau bilang terserah itu ada maknanya tertentu." Carissa menggelengkan kepala, dirinya tidak punya temoat untuk dikunjungi malam ini.


"Sekarang memang tidak ada maknanya kok." Aaron mengangguk dan tangannya menyalakan radio. Keduanya terdiam, Carissa memilih memainkan ponselnya.


"Kamu mau tidak kita makan dipinggir pantai saja gitu." Carissa mengangguk antusias.


"Boleh dong mas." Aaron mengangguk dan menyetir dengan tenang.

__ADS_1


Sampai di pinggir pantai, Carissa dan Aaron berjalan keluar. Aaron mendekat dan menggandeng carissa, wanita itu semakin mendekatkan tubuhnya pada Aaron.


Ternyata banyak juga muda mudi yang datang makan di tempat ini.


"Terimakasih ya, mas. Wow, empat ini indah banget!" Aaron mengangguk dan tersenyum lebar menatap Carissa yang berbinar kagum.


"Syukur deh kalau kamu suka." Aaron menatap Carissa tanpa kedip.


"Kamu kenapa menatap aku seperti itu sih mas?" Carissa menunduk malu. Syukur ada make up yang menutup wajah meronanya.


"Kamu makin cantik, bagaimana caranya coba aku tahan untuk tidak mematap kamu. Terus sekarang, kita makan dulu atau ngobrol dulu." Cariss terdiam, wanita itu menatap Aaron.


"Ngobrol saja dulu, kalau mas belum lapar karena aku sendiri belum lapar." Aaron mengangguk.


Pria itu lalu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kotak untuk Carissa.


Carissa melotot tidak percaya, gadis itu berungkali menatap kotak itu dan wajah Aaron secara bersamaan.


"Hadiah untuk apa?" Carissa menatap Aaron tidak mengerti. Ini hari bukan hari spesial mereka.


"Nggak papa, ini hadiah karena kamu mau menemani aku makan malam ini." Aaron tersenyum manis pada Carissa.


"Boleh aku buka sekarang?" Aaron mengangguk, Carissa segera membuka kotak itu. Gadis itu memuncungkan bibirnya melihat kotak itu yang berlapis-lapis, tapi itu tidak membuat dirinya berhenti untuk membuka kotak itu. Mata Carissa terbelalak melihat cincin yang simpel tapi anggun dimatanya berada dalam kotak itu.


"Sini, aku pakein biar romantis." Aaron segera meraih cincin itu dan memakaikannya pada carissa.


"Makasih banyak mas, Carissa menatap cincin yang berada dijarinya dan menatap Aaron dengan penuh binar bahagia.


"Terimakasih juga sudah bertahan dengan melewati banyak hal yang kurang menyenangkan." Aaron tersenyum, Carissa mengangguk dan tersenyum.


"Makasih juga mas, terus membela aku sampai sekarang dan juga. Emmt, mempertahankan aku," Aaron mengangguk, pria itu menggenggam dua jemari Carissa, dan menatap mata Carissa dalam.


"Itu tirik penting untuk suami istri 'kan? Saling mensupport, dalam segala hal yang baik." Carissa samakin berdebar mendengar Aaron yang berkata seperti itu.


"Penting banget, terus bagaimana kita akan menghadapi masalah-masalah kedepannya mas?" Aaron tersenyum.


“Jangan terlalu dipikirkan toh nanti akan terlewati dengan sendirinya. Kita Cuma perlu untuk saling mendukung untuk setiap langkah-langkah kita dan memegang teguh komitmen pernikahan kita.” Carissa mengangguk, ia setuju dengan pendapat Aaron.

__ADS_1


“Walupun papa akan selalu membuat hidup kita menjadi rusuh?” Carissa bertanya dengan hati-hati dan dijawab dengan gelengan mantap oleh Aaron. Dirinya tidak akan menghancurkan pernikahannya sendiri, Aaron akan tetap menjaganya. Walaupun dia bukan pria baik-baik yang tidak pernah menyakiti orang lain. Tapi dari kesalahan membuat kita belajar menjadi lebih baik kan?


“Walaupun papa selalu mencari masalah, kita akan menghadapinya sama-sama.” Carissa bernapas lega mendengar Aaron yang berkata dengan penuh percaya diri. Semoga benar-benar seperti itu ya mas, bisik gadis itu selama hati.


Setelah itu mereka makan, Carissa merasa Aaron sudah merencanakan semua ini. Karena tidak ada orang lain yang berada dibawah tempat mereka saat ini, sepertinya Aaron sudah membooking tempat ini. Selesai makan Carissa hanya memerhatikan Aaron yang masih makan, pria itu mengernyit heran pada Carissa.


“Kenapa lihatin wajah aku terus, ada yang aneh ya?” Aaron meraba-raba wajahnya. Carissa mengegelangkan kepala sambil tertawa kecil.


“Nggak ada, kok rasanya mas makin tampan ya sekarang.” Carissa mengedipkan matanya, Berjoget jantung Aaron mendengarnya. Pria itu berdehem pelan untuk menetralisir rasa groginya.


“Aku tampan dari lahir, kamu saja yang tidak cepat sadar.” Aaron segera tertawa melihat wajah Carissa yang jadi masam. Hedeh, dipuji sedikit saja sombongnya selangit. Bisik hati Carissa jengah.


Setelah makan keduanya berjalan menyusuri pantai, ombak sesekali mengenai kaki mereka. Aaron dan Carissa tidak peduli akan hal itu. Setelah agak jauh keduanya duduk diatas hamparan pasir. Walaupun bulan tidak terlalu terang malam ini, tapi lampu-lampu hias sudah cukup untuk menerangi mereka berdua.


“Mas, jika seandainya pelaku kejahatan pada Nadirah tidak ditemukan apakah mas akan meninggalkan aku?” Carissa menatap Aaron hati-hati, wanita itu menghembuskan lega karena berhasil menanyakan hal itu. Itulah kekhawatiran yang selalu menghantuinya selama ini. Aaron mengernyit, pria itu terdiam beberapa saat yang membuat Carissa menegang. Aaron pasti akan meninggalkan kamu, karena dia sayang sama Nadirah bisik hatinya. Aaron tetap akan mempertahankan kamu kok, tenang saja bsik hatinya yang lain.


Mana ada, lagian lo siapa sih mau berharap banyak? Carissa lo cuma istri yang tiba-tiba terjebak dalam pernikahan dengan dia bisik hatinya lagi. Lo jangan dengarin, Aaron pasti akan memilih lo balas suara hatinya yang lain.


Aaron berdiri dan mengulurkan tangannya pada Carissa. Carissa menyambutnya dan ikut berdiri, wanita itu menduga-duga apa yang akan dilakukan Aaron. Apalagi pria itu tidak menunjukan emosi apapun diwajahnya juga tidak bersuara sama sekali. Aaron membawa Carissa dalam pelukannya.


“Kamu bertanya terlalu berat, aku sampai bingung mau jawab apa. Tapi terimakasih sudah menanyakannya, kamu pasti sangat gelisah karena pertanyaan itu. Atau mungkin kamu juga sangat gelisah karena tidak akan bersama aku ya? Memang pesona aku sudah untuk dilupakan.” Aaron tertawa kecil, Carissa mendongak dan mendelik pada pria itu. Carissa malas mendengar kata-kata penuh percaya diri dari pria itu.


“Langsung intinya deh mas, aku malas banget basa basi kayak gini.” Aaron tertawa mendengar suara Carissa yang malas.


“Tidak dong, karena mas tahu, itu tidak benar walaupun mas juga tidak punya bukti apapun sih. Mas ingin kita sama-sama berjuang untuk pernikahan ini. Walaupun ini pernikahan yang sama sekali tidak direncanakan untuk kita berdua tapi bukan berarti kita akan seenaknya dalam menjalani pernikahan ini. Aku juga ingin punya keluarga yang harmonis bareng kamu, punya anak cucu yang banyak.” Carissa terdiam, Aaron mengangkat alisnya.


“Kok diam?” Carissa menggelengkan kepala. Wajahnya memanas, terimakasih kepada Tuhan karena malam ini dirinya tidak akan terlihat merona karena pencahayaan yang kurang.


“Jangan pikir macam-macam lagi,” Aaron mengelus kepala carissa. Carissa menganggukkan kepala. Aaron mendongakkan wajah Carissa, pria itu terpikat untuk beberapa detik wajah Carissa selalu indah dipandangan matanya. Aaron mendekatkan wajahnya membelai bibir istrinya penuh kerinduan. Carissa ikut memejamkan mata dan menikmati belaian dibibirnya. Angin berhembus sepoi-sepoi ikut membelai pasangan yang saling memadu kasih itu. Bahkan bulan pun ikut bersembunyi dibalik awan karena merasa malu dengan kemesraan dua anak manusia itu. Pernikahan tidak akan selamanya baik-baik saja, tidak selalu seindah drama atau novel romantis yang pernah dibaca. Semua tergantung pada bagaiman individu yang terikat didalamnya untuk mempertahankan komitmen yang telah mereka buat di hadapan Allah, dan para malaikat yang menyaksikannya.


 


*end*


 


**********************************************

__ADS_1


Hai, ada sekuel (lanjutan) dari novel ini dengan judul Terjebak pernikahan (2) Novel ini belum tamat masih berlangsung sekarang🥰



__ADS_2