Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Canda


__ADS_3

Mencintai adalah bahasa hati, jadi sesering apapun bibir menyangkal perasaan hakikatnya hati tidak pernah bisa untuk dibohongi.


Carissa yang ingin bertanya akhirnya kembali mendiamkan dirinya. Aaron merapatkan pelukannya pada Carissa dan masih memainkan rambut Carissa. Aaron kembali mengecup puncak kepala gadis itu. Aziz yang sejak tadi mondar-mandir tidak jelas segera mendekati Nadirah. Aziz menggerutu kesal, tubuhnya mulai kepanasan. Lagi pula aksesoris yang digunakannya itu tidak ada yang bermanfaat, karena Aaron dan Carissa malah sibuk sendirian tanpa menoleh sedikitpun pada mereka.


Mereka malah terlihat mesra dengan pelukannya yang justru membuat mata Aziz menjadi sakit. Nasib badan, karena masih menjadi jomblo di saat orang lain sudah menikah. Mau peluk, peluk siapa? Kalau asal peluk nanti di bilang gila dan mungkin akan dikeroyok massa. Aziz tidak mengerti entah Aaron dan Carissa yang kelewat mesra atau karena dirinya yang kelamaan sendiri sehingga sakit mata melihat perlakuan Aaron pada Carissa.


"Lo jangan gitu juga menatap mereka, kalau ketahuan 'kan bisa habis lo sama abang aku. Atau lo iri ya? Sampai melotot gitu melihatnya, hehehe." Nadirah tertawa renyah disamping Aziz, Aziz kemudian mengalihkan pandangannya menatap Nadirah tajam. Nadirah berdehem dan tersenyum manis, dia tahu sepertinya Aziz sudah sangat bosan dengan keadaan mereka.


Nadirah juga kecewa karena tidak menemukan apapun yang akan menjadi petunjuk untuknya. Boro-boro ada orang yang mau mengintai Carissa, yang ada hanya tukang bersih-bersih dan beberapa pasangan remaja yang lalu lalang. Tapi tidak ingin kehilangan harapan, Nadirah membetah-betahkan dirinya walaupun dia juga mulai risih sebenarnya dengan Aaron dan Carissa yang berada beberapa meter di depannya. Iya sih yang sudah halal bebas, tapi tidak perlu juga kali peluk-pelukan di tempat umum.


"Aku tidak peduli mau ketahuan toh kita juga tidak mendapatkan hasil seperti yang kamu inginkan." Aziz mendengus dan mulai mengesat keringat yang keluar dari dahinya. Pria itu mulai membuka wik yang ada kepalanya. Nadirah melotot, apa yang dilakukan pria ini?


"Lo kenapa sih bang, oke deh kita cari tempat yang teduh atau cari yang jual es serut biar lo tidak kepanasan lagi." Nadirah mendesah pasrah dan berjalan meninggalkan Aziz. Dia melakukan ini bukan karena Aziz yang mulai banyak tingkah tapi karena dirinya juga yang mulai kehausan. Ternyata jadi mata-mata amatiran tanpa keahlian ini tidak semudah yang dibayangkannya. Nadirah dan Aziz tersenyum lega ketika sampai di tempat penjualan es serut.


"Alhamdulillah," keduanya mengucapkan rasa syukur tapi dengan rasa lega yang berbeda. Aziz bersyukur karena akhirnya dirinya terbebas dari kebodohan yang diciptakan oleh Nadirah. Sedangkan Nadirah bersyukur karena akhirnya terbebas dari kehausan.


Carissa masih betah dalam pelukan Aaron, apalagi jari pria itu juga memainkan rambutnya. Carissa menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuh Aaron. Aaron pun sesekali menghirup wangi rambut istrinya. Carissa mendongak pada Aaron ketika sudah mulai Merakan panas.


"Mas, masih ada yang mau diomongin?" Aaron tersenyum menatap Carissa. Sebenarnya masih banyak yang inginkan Aaron sampaikan pada Carissa. Tapi semuanya lenyap begitu saja sekarang yang diinginkannya hanyalah menikmati kebersamaan mereka yang singkat ini.


"Tidak ada, kamu sudah mau balik?" Carissa menggelengkan kepala. Dirinya belum ingin balik karena masih ingin bersama Aaron. Aaron mengangkat alis melihat istrinya yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya berkali-kali seakan mengusir pikiran-pikiran aneh dari kepalanya. Tapi kalau aneh kenapa wajah gadis itu justru memerah?


"Cie kok jadi blushing. Masih mikirin yang di mobil tadi ya?" Aaron tersenyum jahil, Carissa menggeleng-gelengkan kepalanya. Aduh kok muka aku cepat banget reaksinya, kan Aaron jadi salah paham jadinya. Apalagi dia mengungkit-ungkit kejadian di mobil tadi, bikin aku makin malu. Carissa lalu menutup kedua wajahnya yang pasti sedang memerah, karena gadis itu merasakan wajahnya menghangat. Jiwa-jiwa jahil Aaron semakin meronta-ronta ingin menggoda Carissa yang sangat malu seperti ini.

__ADS_1


"Kok makin merah makin gemasin sih. Jadi ingin cium, biar bibir aku ikut merah." Aaron mendekatkan wajahnya ke arah Carissa. Carissa mengintip Aaron dari sela-sela jarinya. Matanya membulat melihat bibir Aaron yang benar-benar mengarah padanya dan pria itu malah memejamkan matanya. Dasar tukang modus bin mesum, Carissa mengutuk Aaron dalam hatinya. Tangannya segera mendorong bibir Aaron dengan sekuat tenaganya.


Aaron hampir terjengkang kalau tidak dapat menyeimbangkan dirinya. Pria itu menatap Carissa tajam, untung sayang batin Aaron. Kalau saja orang lain pasti sudah akan kena semprot amarah dari dirinya. Carissa menatap Aaron polos, harusnya dirinya yang marah karena di modusin kok malah pria itu yang menatapnya tajam. Untung sudah sering ditatap seperti itu oleh Aaron jadi Carissa tidak merasa takut lagi.


"Jahat banget sih kamu jadi istri, kalau suami nyium istri itu dapat pahala harusnya kamu senang. Lagi pula aku tidak menularkan virus kok, malah kamu harus bangga di cium pria setampan aku di taman ini." Carissa membuat gaya termuntah mendengar Aaron yang memuji-muji dirinya sendiri. Ternyata Aaron juga bisa senarsis ini, Carissa baru tahu sekarang.


"Ngapain senang habis dicium juga nanti ditinggalin." Carissa menatap Aaron sewot, kemudian gadis itu terdiam menyadari dirinya salah bicara. Aduh, pasti Aaron sedang menertawakan dirinya. Carissa tersenyum canggung kemudian tersenyum lebar ketika mengingat sesuatu.


"Jangan terlalu percaya diri mas, itu dialog suara hati istri yang aku nonton kemarin. Jadi karena baper aku teringat-ingat sama dialognya dan akhirnya aku refleks ngomong seperti ini ke kamu." Carissa tersenyum penuh kemenangan melihat senyum jahil Aaron luntur, pria itu diam. Untung Aaron tidak pernah nonton TV, mana ada dialog yang seperti itu batin Carissa tersenyum bangga.


"Berarti kamu juga sebenarnya senang dong kalau aku cium? Mungkin kamu malu karena ada yang merhatiin ya?" Carissa cemberut, kok Aaron kembali membalasnya sih harusnya pria itu diam biar Carissa bahagia.


"Sorry ya, aku tidak tertarik. Kalau tidak adalagi yang mau diomongin aku balik." Carissa mulai malas dengan Aaron pria itu pandai membuatnya terpojok karena malu.


Menyadari perubahan dari Carissa, Aaron berdehem pelan. Sepertinya gurauan mereka sudah melewati batas karena istrinya ini sudah terlihat kesal. Aaron berjalan menghampiri Carissa dan menyelipkan jarinya diantara jari-jari Carissa, terasa sangat pas.


Aaron berjalan duluan dan Carissa mengikuti dari belakang. Carissa tersenyum menatap tangan mereka yang bertautan perasaan hangat, dan dilindungi yang dirasakannya saat ini. Sadar Carissa itu cuma sementara, Aaron 'kan tadi sudah bilang hanya akan menemanimu sampai kasus Nadirah selesai. Tapi aku belum pisah, tidak masalah dong kalau aku menikmati semua ini batin Carissa berdebat. Aaron mengerutkan alis merasakan Carissa yang jalan sesekali terantuk. Pria itu berbalik dan menggelengkan kepala melihat Carissa yang seperti memikirkan sesuatu.


"Mikirin apa sih? Kok jalan tidak dilihat?" Carissa tersadar dari perdebatan dalam hatinya, wanita itu tersipu malu.


"Aku tidak memikirkan apapun kok mas, maaf yah nyusahin." Aaron menggeleng, dirinya tidak merasa susah. Malah yang menggerogoti pikirannya adalah rasa khawatir, kalau-kalau Carissa salah berpijak.


"Jalan hati-hati, jangan banyak pikiran." Carissa mengangguk dan berjalan mengikuti Aaron. Sampai di mobilnya Aaron membukakan mobil kemudian masuk setelah Carissa masuk. Aaron tersenyum melihat Carissa yang sudah memasang sealbet untuk dirinya, pria itu melirik Carissa yang berwajah serius.

__ADS_1


"Mau makan dulu tidak?" Carissa mengangguk dan selanjutnya menggeleng. Kalau dia mau diajak makan oleh Aaron, pasti pria itu akan berpikir jika dirinya senang menghabiskan waktu dengan Aaron. Tapi kalau tidak mau makan Carissa sudah lapar, cacing perutnya malah seakan berjoget ria mendengar kata makan.


"Jadi mau atau tidak?" Aaron menatap Carissa, entah ada apa dengan wanita ini hanya untuk memilih makan atau tidak sulit sekali.


"Mau," Carissa bersuara lirih mukanya mulai lagi memerah. Dasar tidak peintar menyembunyikan perasaan, kenapa sih wajahku harus merah lagi?


"Jangan malu dong, suami kamu kok yang ngajak makan." Aaron tersenyum manis, membuat Carissa menggerutu dalam hati. Sadar toh kalau jadi suami, tapi kenapa tadi bilang mau pisah sih. Kan aku jadi kesal, ingin cabik-cabik mukanya sampai jelek, ihhh.


"Siapa yang mau dicabik-cabik?" Aaron bertanya sambil menyetir bahkan pria itu tidak menatap Carissa. Carissa menggeleng canggung, kok Aaron tahu sih kalau dia ingin mencabik-cabik.


"Kamu makin ekspresif banget sekarang, jadi mudah kebaca. Kamu mau cabik-cabik aku, kan?" Aaron menatap Carissa menyeringai tajam. Tapi bukan Carissa kalau takut, setelah mengenal Aaron beberapa bulan ini tidak ada lagi rasa takutnya pada pria itu.


"Tidaklah, kamu 'kan suami aku masa kamu tega." Carissa membuat mimik yang meyakinkan. Jelas aku tega orang aku lagi kesal, Carissa membatin.


"Tidak masalah kok kalau kamu benar-benar ingin mencabik-cabik aku." Carissa terbelalak, yang benar saja. Apa Aaron sadar dengan apa yang diucapkannya?


"Yakin mas?" Carissa sendiri sebenarnya tidak yakin, sepertinya dia salah dengar. tidak mungkin Aaron akan membiarkan dirinya dicabik-cabik oleh Carissa.


"Yakin dong, yang penting kamu cabik-cabik aku diatas ranjang bersimbah keringat dan berpacu penuh kenikmatan." Aaron membuat suaranya terdengar seksi, Carissa segera memukul pria itu.


"Dasar orang tua, kok mas makin kesini makin mesum sih. Jijik aku, iuh." Aaron tertawa mendengar Carissa yang katanya jijik.


"Yakin jijik? Kita buktikan yuk, agar mas tahu kamu benaran jijik atau kangen." Aaron kembali mendapatkan pukulan yang lebih banyak, lumayan juga sampai membuat lengannya kesakitan.

__ADS_1


"Sekali lagi mas bicara seperti itu, aku turun disini." Carissa melipat tangannya di depan dada. Aaron menelan ludah, niatnya bercanda bidadari hati malah ngambek. Tak ingin Carissa benar-benar marah akhirnya Aaron akur menyetir dalam diam dan hanya bisa sesekali melirik Carissa.


*********


__ADS_2