
Carissa terbangun ketika hari mulai malam. Carissa melihat dirinya, bekas-bekas cakaran dan lecet yang ada ditubuhnya sudah dibersihkan. Pasti Aaron yang membersihkannya lukanya. Tapi mengingat kembali apa yang dilakukan pria itu membuat Carissa kembali murung. Carissa turun dari ranjang dengan malas-malasan, Carissa memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Carissa mandi dengan pikiran yang melayang kemana-mana. Apa benar ya posisinya, dimata Aaron hanya seperti itu. Terus apa maksud dari semua perlakuan lembut pria itu, apa mungkin Aaron bersikap seperti itu untuk semua orang yang dikenalnya? Tapi, entahlah Carissa tidak tahu pikiran mana yang tepat untuk menafsirkan Aaron. Pria itu terlalu mengejutkan dan penuh rahasia.
Malam ini Aaron dibuat bingung oleh kedatangan Rega, pria itu ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan dirinya. Aaron yakin Rega pasti ingin membicarakan tentang Fani hanya itu yang menjadi alasan kuat agar pria itu datang menemuinya. Jauh dalam hatinya sebenarnya Aaron belum siapa untuk membicarakan tentang Fani sekarang, dirinya tidak menemukan titik temu. Dirinya masih diliputi kebingungan antara Fani dan Carissa, dia belum bisa memilih. Kebersamaannya bersama Carissa, hari-hari manis yang dilaluinya tidak akan dengan mudah luput dari ingatannya. Tapi Fani juga mengalami hal yang sama dengan Carissa. Gadis itu juga banyak menghabiskan waktu dengan dirinya dan menerima banyak cacian dari keluarganya termaksud dari ayahnya, Nurmansyah. Aaron tidak mengerti apa yang menyebabkan Nurmansyah begitu membenci Fani. Aaron segera keluar dari ruang kerjanya untuk menemui Rega yang berada di kamar tamu. Semoga saja sekarang Carissa sudah tertidur nyenyak.
Selesai mandi Carissa berpakaian, Carissa merapikan diri sebelum akhirnya turun di lantai bawah untuk mengisi perutnya yang belum makan sejak siang tadi. Suasana mulai hening, pasti semua orang sudah selesai makan malam pikir Carissa. Carissa mulai mengambil makan untuk mengisi perutnya, benar-benar hening Carissa merasa was-was melihat gorden yang beterbangan. Carissa makan dengan pelan walaupun sebenarnya dirinya menjadi tidak berselera. Carissa kehilangan semangat karena pikirannya yang kembali melayang pada perbuatan Aaron siang tadi, pria itu benar-benar keparat Carissa menggenggam penumbuknya. Selesai makan Carissa segera membawa piringnya ke dapur dan berjalan menuju kamarnya. Carissa berjalan pelan-pelan sambil mengawasi sekitarnya takut juga kalau ada hantu seperti di film-film horor yang dinontonnya. Ketika melewati kamar tamu, terdengar sebuah suara yang sangat menarik perhatian Carissa sehingga dia menghentikan langkahnya untuk mencuri dengar.
Dalam kamarnya Rega tersenyum senang melihat Aaron yang datang menghampirinya. Aaron menatapnya tak kalah tenang.
“Jadi apa yang lo ingin katakan sampai lo jauh-jauh menyusul gue ditempat ini?” Aaron menatap Rega yang kini menatap dirinya datar.
"Gue mau bilang lo benar-benar brengsek Aaron, Lo benar-benar brengsek. Asal lo tahu, Fani melakukan banyak hal untuk bisa pantas bersanding dengan lo dan ini balasan lo? Lo menghianati dia? Lo menikahi gadis lain?” Rega manatap tajam sahabatnya itu. Siang tadi Rega memesan tiket menyusul Aaron, agar Aaron segera menemui Fani. Aaron adalah sahabatnya saat masih kuliah dulu, hubungan persahabatan mereka longgar setelah kedekatan Fani dan Aaron. Rega tidak sanggup melihat Fani yang terpuruk karena ulah Aaron.
__ADS_1
"Gue tidak punya pilihan lain saat itu, dan ini sudah terjadi. Lo jangan ikut campur urusan gue dengan Fani, lo cuma orang luar tahu apa lo tentang gue?" Rega bagaikan tersambar petir mendengar jawaban Aaron yang samasekali tidak memuaskan, tanpa ditahan lagi tinjunya melayang diwajah pria itu. Aaron mengelap darah yang keluar karena tinjuan Rega yang mengenai bibirnya.
"Gue tahu apapun, jangankan tentang lo bahkan tentang Fani yang tidak lo ketahui gue tahu semuanya." Rega manatap tajam dan menantang pada Aaron. Aaron tertawa mengejek.
"Lo harus paham, gue sudah punya istri. Lo tidak bisa memaksa gue buat balik pada Fani. Ketika gue datang untuk menemui Fani gue pasti membuat Fani makin terluka, lo harus paham posisi gue." Rega menatap malas pada Aaron. Dasar pria plin-plan ngapain membuat janji kalau pada akhirnya tidak pernah bisa ditepati?
"Gue gak memaksa lo untuk balik pada Fani. Gue cuma minta lo jelasin semuanya pada dia. Lo gak tahu Fani itu orangnya suka memendam, lo gak pernah tahu sesakit apa perasaaan dia sekarang. Lo banci banget sih, ngapain lo janji-janji sesuatu kalau lo tidak bisa tepatin?" Aaron menatap Rega dingin, perkataan Rega menyentuh egonya.
“Oke kalau menurut lo gue tidak tahu apapun tentang Fani, tentang perjanjian itu. Gue tidak peduli, tapi gue minta ketegasan lo sebagai laki-laki untuk menjelaskan semuanya pada Fani. Gue tidak meminta lo untuk balik pada Fani, Lo cukup menjelaskan saja semuanya dengan baik?" Rega menyeringai melihat Aaron yang terdiam.
"Sekarang gue mau tanya, lo masih cinta Fani apa nggak?" Aaron terdiam, setelah pertemuannya malam itu dengan Fani hati Aaron kembali merasa hangat. Tapi pada Carissa juga kadang hatinya terasa menghangat. Aaron memilih jawaban paling aman, diam.
__ADS_1
"Prok prok prok! Lo gak bisa jawab." Rega bertepuk tangan dan tersenyum sinis.
"Mungkin kalau sama Fani lo masih bingun karena Lo berpisah sudah empat tahun. Terus kalau sama istri lo yang sekarang gimana? Lo cinta sama dia?" Aaron kembali terdiam, pria itu tidak tahu jawaban apa yang tepat. Walaupun awalnya dia juga mulai mencintai Carissa tapi sekarang perasaaan menjadi tidak sekuat dulu. Setelah bertemu Fani sedikit demi sedikit hatinya kembali menginginkan Fani.
" Lo benar-benar brengsek! Lo gak bakal bisa menahan mereka berdua. Terserah urusan lo dengan istri lo, lo menikah terpaksa kek terjebak kek atau apalah gue gak peduli. Gue cuma ingin lo menemui Fani, Fani butuh semua penjelasan lo." Rega menatap bengis pada Aaron. Aaron balas menatap Rega tak kalah bengisnya dan membalas ucapan pria itu tak kalah tajamnya. Apa yang membuat Rega seperti ini? Aaron tersenyum senang kemudian menyeringai menyadari sesuatu.
“Mengapa Lo yang repot dengan semua ini? Apa jangan-jangan lo diam-diam mencintai Fani?” Rega menggenggam penumbuknya dan langsung menumbuk Aaron. Aaron tertawa merendahkan.
“ Lo juga cuma jadi bayang-bayang sejak dulu. Fani tidak mencintai lo, jangan sok tahu dengan kehidupan gue.” Rega menggenggam penumbuknya, ingin memberikan bogem lagi pada Aaron.
“Perasaan gue pada Fani itu urusan gue. Urusan lo adalah menemui Fani dan menjelaskan semuanya pada dia. Kalau sampai Fani kenapa-kenapa lo akan habis ditangan gue.” Aaron tidak menanggapi lagi, pria itu menarik napas dalam-dalam.
__ADS_1