
Happy Reading 💃
Aaron di seberang sana juga bangkit dari pembaringannya dan terduduk menikmati alunan suara Carissa. Aaron menggelengkan kepala merasa geli dengan tingkahnya saat ini. Mungkin terakhir kalinya dia bertingkah seperti ini saat dirinya masih duduk di bangku SMA dulu.
"Tumben banget, kamu telpon aku. Biasanya juga cuma kirim pesan doang." Aaron terdiam, benar apa yang dikatakan carissa. Selama ini dirinya hanya mengirimkan pesan pada istrinya itu.
"Kan aku mau coba hal yang berbeda. Nggak boleh ya?" Aaron bertanya polos, kemudian tersenyum mendengar Carissa yang menjawab teragak-agak.
"Boleh sih boleh, cuma. Oke mas lupakan saja pertanyaan aku." Carissa menggigit bibirnya, syukur-syukur Aaron mau menelpon dirinya. Carissa memukul kepalanya, kenapa dia seperti menanyakan hal yang bodoh ya?
"Kamu kenapa belum tidur?" Carissa menggaruk kepalanya. Alasan sebenarnya dirinya belum tidur walaupun malam sudah sangat larut adalah dirinya kepikiran pada tingkahnya siang tadi. Tapi tidak mungkin dia akan mengatakan yang sejujurnya pada Aaron, bagaimanapun Carissa juga merasa malu.
"Nggak tahu, mungkin aku lagi banyak pikiran." Carissa menjawab seadanya, hal yang lumrah orang susah tidur karena banyak pikiran yang mengganggu. Aaron yang berada di rumahnya tersenyum jahil, tiba-tiba saja keinginan untuk menggoda istrinya itu menghampirinya.
"Gitu ya, pasti kamu lagi mikirin aku 'kan? Ayo ngaku!" Aaron menahan senyum, menanti jawaban Carissa. Carissa mendesah malas, ternyata Aaron memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tapi benar sih tebakan Aaron.
"Dih, percaya diri banget sih mas. Aku lagi mikirin masa depan aku selanjutnya gimana, paman aku gimana, Nadirah gimana. Maaf membuat anda kecewa." Carissa tertawa renyah sesudahnya, Aaron pasti sedang mengerutkan alis dan menggelengkan kepala tidak setuju dengan jawaban Carissa. Carissa tersenyum membayangkan Aaron yang seperti itu.
"Mana ada aku kecewa, aku senang banget malah. Karena masa depan kamu itu aku, jadi yang kamu pikirin itu aku." Aaron balas tertawa renyah menunggu jawaban gadis itu. Aaron pernah membaca buku, walaupun dirinya bukan kutu buku seperti orang lain pada umumnya, tapi ketika waktu senggang terkadang dia membaca buku. Satu kutipan yang diingat oleh Aaron yaitu, jika kamu memikirkan seseorang pasti orang itu juga sedang memikirkanmu. Karena malam ini Aaron juga memikirkan Carissa berarti wanita itu juga memikirkannya.
"Terserah mas deh, mas kan selalu ada saja jawabannya yang bikin aku kesal." Carissa terdengar menggerutu, siapa juga sih yang tidak kesal jika setiap bantahan yang diucapkannya selalu saja ada celah yang membuat dirinya terpojok. Carissa sebenarnya ingin sekali untuk mematikan teleponnya sekarang, tapi mengingat ini pertama kalinya Aaron menelponnya diurungkannya niat buruknya itu. Carissa menarik napas, agar dirinya tidak sebel.
"Hahahaha, maaf habis kamu lucu. Bikin aku makin semangat godain kamu." Aaron masih tertawa, pria itu kemudian merubah posisinya. Aaron berdiri dari ranjangnya menuju balkon, Aaron mengernyit kemudian melihat ponselnya. Panggilannya, masih terhubung dengan Carissa sepertinya gadis itu malas untuk bicara dengannya.
"Hai, kamu sudah tidur?" Carissa yang diseberang sana menggelengkan kepala. kemudian gadis itu berdehem sebentar agar Aaron tahu dirinya belum tidur.
__ADS_1
"Jawab dong," Aaron menanti Carissa menjawabnya. Pria itu menatap langit yang gelap, tanpa bintang.
"Iya, aku dengar kok." Carissa mengubah posisinya duduknya menjadi rebahan.
"Kamu lihat tidak langit malam ini?" Aaron bersuara pelan, Carissa mengernyit ada apa dengan langit. Di rumah Dewi kamar Carissa berada di lantai bawah, dan kurang bagus untuk melihat langit.
"Tidak sih, memang di langit ada apa? Ada bintang jatuh?" Carissa bergerak bangun, gadis itu melangkah menuju jendela dan membukanya, tidak ada yang menarik. Carissa menikmati hembusan angin malam sambil menunggu Aaron bersuara.
"Tidak ada kok, malah malam ini tanpa bintang langitnya jadi gelap." Carissa mengernyit, apa urusannya dengan dirinya? mau ada bintang kek mau tidak ada bintang, itu bukan urusannya.
"Nggak penting banget mas, kaitannya dengan obrolan kita apa ya?" Carissa menatap langit, mencari keterkaitan antara dirinya dan langit.
"Ada dong kaitannya, langit itu seperti hati aku yang gelap tanpa bintang dan bintangnya itu kamu." Carissa tertawa terbahak-bahak, lalu menormalkan suaranya.
"Kok aku baru tahu kamu bisa puitis juga, jadi penulis saja mas." Aaron mendengus menjadi jengkel mendengar jawaban Carissa. Tidak ada apa penghargaan untuk dirinya dengan dengan kata-kata yang lebih pantas?
"Kalau serius nggak cuma kata-kata mas, bukti loh. Kamu kok plin plan banget, sekejap mau pisah sekejap mau buat aku baper. Mau kamu apa sih?" Carissa bersuara tegas, biar Aaron tahu dirinya tidak ingin menjadi korban ketidak jelasan pria itu.
"Mau aku apa ya? Kayaknya aku mau terima permintaan kamu siang tadi, kamu tidak amnesia 'kan?" Carissa mencebik, ini nih yang bikin naik darah.
"Kalau nggak ada yang penting, aku matiin telponnya aku ngantuk." Aaron menggaruk kepalanya, aku selalu salah di matamu hayati.
"Serius, aku merubah rencana. Kamu siap-siap saja dengan semua kejutan dari aku. Aku yakin deh kamu bakal jatuh cinta dengan cepat sama aku. Secepat dirimu mengangkat teleponku tadi." Carissa menghela napas, terserah saja padamu mas aku ngikut.
"Terus Fani dan fani-fani yang lain gimana?" Carissa bersuara dengan lirih. Aaron yang mendengarnya di seberang sana menghela napas. Ternyata Carissa khawatir dengan kehadiran Fani, itu artinya Carissa juga punya rasa yang lebih untuk dirinya, kan? Aaron tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku dan Fani tidak seperti yang kamu pikirkan, kamu jangan khawatir. Aku bisa atasi, nanti aku cerita sama kamu penjelasannya." Carissa mengangguk, dan kembali berjalan menuju ranjangnya.
"Tapi...." Carissa seketika lagi merasa ragu. Tidak mungkin Aaron berubah seperti ini, dan mengambil keputusan secepat ini.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti besok kita bahas kalau kamu tidak sibuk. Kamu tidur ya, aku sudah ngantuk." Carissa mengangguk dan terdiam menatap panggilannya dan Aaron yang terputus.
Carissa menyimpan ponselnya diatas nakas, kemudian melangkah keluar menuju dapur. Carissa tersenyum kaku ketika melihat Dewi duduk di meja makan, apa Dewi mendengar suaranya ? Carissa merasa bersalah, karena Dewi sudah berulang kali mengingatkannya agar tidak terpengaruh lagi pada Aaron. Dewi malah tersenyum manis pada Carissa. Gadis itu melanjutkan menguyah apel yang tinggal sebagian ditangannya. Alis Dewi mengernyit melihat Carissa yang menatapnya canggung.
"Lo kenapa sih? Seperti melihat setan, sini duduk." Carissa melangkah dengan canggung. Carissa menebak-nebak apa Dewi akan marah padanya? Sambil menelan ludah Carissa memberanikan diri bertanya.
"Lo sejak tadi disini?" Dewi mengangguk, Carissa duduk di hadapan Dewi tangannya mengambil air minum. Setelah menghabiskan satu gelas air putih, carissa bangkit untuk kembali ke kamarnya. Suasananya terasa akhward bagi Carissa, dirinya seperti anak kecil yang menghadapi hukuman dari orang tuanya karena kebanyakan makan permen.
"Lo buru-buru amat, duduk dulu gue mau ngomong sesuatu." Carissa kembali duduk di tempatnya. Jantungnya mulai berdetak kencang, khawatir dengan apa yang akan dikatakan oleh Dewi.
"Lo santai saja sekarang, maaf ya kalau gue pernah larang-larang lo dekat lagi sama Aaron." Dewi tersenyum kecil dan meraih gelas minumannya. Carissa hanya mengangguk tanpa bersuara, wanita itu penasaran apa yang membuat Dewi seperti sekarang.
"Iya nggak apa-apa, tapi kenapa harus minta maaf segala?" Dewi tersenyum mendengar pertanyaan Carissa. Gadis itu menatap Carissa dengan senyuman manis.
"Sekarang aku sadar, itu bukan hak gue. Kalian berdua sudah dewasa untuk menyelesaikan masalah kalian, jadi kalau lo mau ketemu Aaron silahkan. Aku akan mendukung semua keputusan kamu. Masalah akan membuat kita makin bijak 'kan?" Carissa mengangguk, hatinya merasakan kebahagiaan. Sontak saja di peluknya Dewi sampai gadis itu terbatuk-batuk.
"Woi, aku kehabisan napas. Sesak." Carissa tertawa dan melepaskan pelukannya. Carissa terbahak-bahak melihat Dewi yang terbatuk-batuk.
"Makasih sudah mau mengerti." Carissa mengucapkannya dengan tulus. Dewi mengangguk, Arlan benar Carissa sudah dewasa untuk menyelesaikan masalahnya. Sebagai sahabat yang baik seharusnya dirinya mendukung semua keputusan Carissa. Bukan malah menyuruh Carissa menjauhi Aaron. Apalagi status Aaron dan Carissa adalah suami istri. Mungkin menurut Dewi, Aaron kurang cocok untuk Carissa. Tapi yang tahu pasti tentang kecocokan itu hanya Carissa dan Aaron, karena mereka yang menjalin hubungan.
__ADS_1
Bersambung