
Rega pulang ke apartemennya dengan hati yang sangat jengkel, ternyata Carissa tidak selembek yang dipikirkannya. Gadis itu juga bisa bermulut tajam, Rega mengganti pakaiannya dan mendatangi Fani di restorannya. Pria itu tersenyum datar karena Aaron ada juga berada di restoran itu, duduk berbincang-bincang bersama Fani.
Carissa tersenyum kesal, kenapa sekarang menjadi rumit? Apalagi Aaron juga mulai membenci dirinya, Carissa sengaja memasang keangkuhan bertemu dengan orang-orang yang memandangnya seolah dirinyalah yang mengejar-ngejar Aaron. Carissa tidak peduli, tapi ada yang harus diselesaikan nama baiknya harus bersih.
Dewi menatap Carissa yang dari tadi termenung, gadis itu akhirnya menepuk pundak Carissa membuat Carissa tersadar dengan kehadirannya. Carissa tersenyum kecil melihat Dewi yang kini ada di depannya.
"Habis ketemu siapa sih? Sepertinya pembahasan lo berdua berat banget ya?" Carissa mengangguk dan menghembuskan napasnya menatap Dewi.
" Habis ketemu Rega, yang membuat gue jadi kepikiran pria itu meminta gue buat menjauh dari Aaron mungkin meminta gue berpisah dari Aaron lebih tepatnya. Gue merasa, gue yang jadi dipersalahkan disini." Dewi menganggukan kepalanya.
" Lo tidak perlu dengarin juga, dia juga belum tahu apa-apa. Tapi hubungan lo sama Aaron itu bagaimana?" Carissa menggeleng pasrah.
"Iya gue juga inginnya gak dengarin tapi mau gimana lagi, kata-kata dia itu terngiang-ngiang di telinga gue. Gue sama Aaron memang tidak baik-baik saja sekarang, nggak tahu deh bagaimana kedepannya." Dewi menggaruk kepalanya mengetahui Carissa sedang tidak baik-baik saja sekarang ini.
"Semoga semuanya baik-baik saja, kalau lo butuh bantuan aku selalu ada untuk kamu." Carissa mengangguk dan memeluk Dewi, menumpahkan air matanya.
"Yakin saja semua akan baik-baik saja, lo tidak bersalah kok" Dewi mengelus punggung Carissa dan memberikan kata-kata penguat untuk gadis itu.
Rega kini mendatangi Fani setelah melihat Aaron yang mulai menjauh dari gadis itu. Rega menatap Fani tajam, gadis ini benar-benar keras kepala dengan masih terus berhubungan dengan Aaron padahal hanya ada dua kemungkinan yang akan didapatkannya kekecewaan atau mengecewakan. Rega duduk dengan tenang dihadapan Fani.
"Lo mau minum apa, gue bikinin?" Fani tersenyum manis pada sahabatnya ini membuat rega membalas senyum itu dan menggelengkan kepalanya menolak untuk minum.
"Gue nggak butuh minuman atau apapaun, gue kesini cuma mau ngomong tentang Aaron. Gue tidak paham bagaimana caranya untuk membuat lo mengerti Aaron sudah berkeluarga. Lo hanya akan patah hati pada akhirnya." Fani mendengus dan menatap Rega dengan serius.
"Gue nggak peduli, Aaron tidak akan membuat gue patah hati kalaupun ada yang patah hati itu pasti istri Aaron yang akan mengalaminya. Lo jangan mikirin itu, itukan karma yang tepat untuk perebut calon suami orang lain." Fani menjadi sinis, membuat Rega meremas rambutnya.
"Istrinya nggak sebodoh itu, gue sudah ketemu dia sudah meminta dia mundur karena dia yang menjebak Aaron. Tapi gadis itu juga keras kepala dia malah menantangku untuk menyuruh Aaron agar Aaron yang akan melepaskannya. Fan ini bukan main-main, lo sepertinya belum tahu betul apa sebabnya mereka menikah." Fani terkekeh pelan menatap Rega dan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Gue sudah tahu, itulah alasannya kenapa gue semangat untuk mengambil apa yang sebenarnya menjadi hak gue sejak awal, sejak kami dilahirkan, sejak Tuhan menetapkan kami berjodoh." Rega tercengang melihat Fani yang seperti ini, mata gadis itu penuh kobaran api.
"Terserah lo, gue nggak ikut-ikutan. Lo akan mendapatkan lawan yang setimpal karena gadis itu juga sama keras kepalanya dengan lo." Rega menatap Fani datar, Fani terkekeh sinis.
"Lo jangan sama-samain gue dengan dia! Gue bukan perebut seperti dia! Gue bukan perebut! BUKAN PEREBUT!" Fani melemparkan benda-benda yang ada di depannya. Rega terbelalak, baru tahu Fani bisa berubah seperti ini. Gadis itu seperti orang yang kesetanan, Rega berdiri kemudian memeluk gadis itu agar gadis itu tenang.
" Ssssstt, lo memang tidak sama dengan dia. Lo bukan perebut!" Rega mengelus rambut gadis itu dan mengambilkan air putih yang ada diatas meja gadis itu untuk diberikan pada gadis itu. Fani meminum air tersebut dengan rakus, kemudian gadis itu menangis terisak-isak penuh kesedihan. Rega sampai menitikkan air matanya melihat perubahan yang drastis dari gadis ini.
Setelah Fani benar-benar tenang, Rega meninggalkan gadis itu. Rega segera menghubungi Aziz agar diaturkan jadwal untuk bertemu dengan pria itu. Rega tersenyum selama perjalanan, pria itu berhenti di sebuah gedung yang tidak terlalu mewah, apa Aaron jatuh bangkrut ya? Sampai kantor yang mewah dulunya kini ditinggalkan dan pria itu bekerja di kantor yang sederhana untuk ukuran seorang Aaron Ashraf.
Rega berjalan dengan cepat menuju ruangan Aaron, dirinya ingin berbicara serius dengan pria itu. Setelah dihubungkan oleh sekretaris Rega diijinkan masuk menemui Aaron, Aaron telah menunggunya di dalam. Rega mengernyit sekretaris Aaron juga merupakan orang baru, apa yang terjadi pada pria itu?Aaron menunggu kedatangan Rega, sebagai penghargaan kepada sahabatnya itu. Aaron sebenarnya tidak ingin membahas masalahnya dengan orang lain, tapi biarlah Rega sendiri yang datang menemuinya.
Rega masuk dengan wajah datar dan menatap Aaron dengan tajam.
"Ada apa sampai anda membuang-buang waktu anda untuk datang kesini tuan Rega?" Aaron juga berwajah datar jauh sekali dari kesan ramah.
"Ada hal yang sangat penting, tidak perlu berbasa basi tuan Aaron yang terhormat." Rega duduk dengan angkuh dihadapan Aaron. Aaron mengangguk dan diam menunggu Rega berbicara.
"Fani benar-benar akan hancur kalau lo tetep dengan pernikahan lo dan istri lo yang sialan itu!" Rega berteriak dihadapan Aaron.
"BRAKKK!" Aaron menggebrak meja, pria itu kemudian berjalan dengan mata yang penuh kemarahan. Aaron meraih kerah baju Rega, Rega tidak terlihat takut pria itu menatap Aaron tak kalah menantangnya!
"Lo silahkan caci maki gue, silahkan hina gue sepuasnya! Tapi tidak dengan istri gue, haram bibir lo menghina dia! Sekali lagi lo menghina dia! Tamat lo ditangan gue, gue nggak peduli lo sahabat gue atau bukan!" Aaron mengucapkannya dengan penuh penekanan dan suara yang tajam yang menggema ditelinga dan ingatan Rega, kemudian pria itu menghempaskan Rega. Rega oleng, untung saja pria itu masih kuat mempertahankan dirinya. Rega tahu ucapan aaron tidak main-main, Aaron benar-benar melindungi istrinya itu. Dengan sedikit ke keberanian Rega kembali mendekati Aaron.
"Oke gue salah menghina istri lo. Tapi Lo juga semakin salah karena memberikan harapan pada Fani! Kalau lo benar-benar melindungi istri lo, lo akan menjauhi Fani bukan sebaliknya!" Rega balas berteriak, Aaron tidak bereaksi apapun, pria itu hanya memerhatikan Rega yang juga berkilat-kilat penuh kemarahan menatapnya.
"Lo harus tegas Ron, lo harus bisa memilih dengan tegas. Fani akan makin terluka dengan sikap lo yang seperti ini! Apalagi istri lo, istri lo juga pasti akan sangat terluka!" Rega menatap Aaron yang masih diam, tidak bereaksi apapun.
__ADS_1
"Lo tidak tahu sama sekali, kalau ada apa-apa dengan Fani lo orang pertama yang akan gue buat babak belur!" Rega keluar tanpa pamit, pria itu pergi masih dengan kemarahan yang tersisa.
Aaron yang ditinggalkan sendirian meraih gelas air mineral yang ada di atas mejanya, dan minum untuk menetralkan kemarahannya yang masih tersisa. Aaron sebenarnya tadi refleks marah ketika Rega menghina istrinya. Pria itu tidak bisa menoleransi hal itu. Tapi untuk memilih? Aaron semakin takut untuk memilih, belum ada bukti yang pasti siapa yang merencanakan kejahatan pada Nadirah. Aaron meremas rambutnya frustrasi, bagaimana kalau seandainya itu betul ulah Carissa? Tapi kalau bukan ulah Carissa bagaimana caranya membuktikan Carissa tidak bersalah untuk memantapkan hatinya? Aaron memejamkan matanya, dia yang memulai dengan menikahi Carissa dan sekarang dia juga yang memulai dengan menyakiti gadis itu. Aaron merasa kepalanya akan semakin pecah, tiba-tiba dirinya juga terbayang perkataan Rega tentang Fani.
Bagaimana dengan Fani? Gadis itu pasti akan menagih janji dari dirinya, dan Aaron menyimpan satu rahasia yang akan dipegangnya sampai mati. Apa benar Fani tidak tahu apapun tentang itu? Kenapa gadis itu sekarang seakan lupa jika janji itu sudah gugur. Terlepas dari janji dan perjanjian konyol itu, Aaron tidak bisa benar-benar tegas mengusir Fani dari hidupnya. Bagaimanapun juga, kebersamaannya bersama Fani selama 5 tahun bukan hal yang mudah untuk dilupakan. Fani sudah mengenal dirinya luar dalam begitupun sebaliknya, bagaimana Aaron akan menjauhi gadis itu semudah yang diinginkan orang-orang? Tapi hati kecilnya lagi bertanya lalu bagaimana dengan posisi Carissa yang sudah menjadi istrinya? Aaron tidak mungkin menjadi seperti ayahnya yang selalu melukai ibunya 'kan? Aaron meremas rambutnya frustrasi.
Aziz masuk ke ruangan bosnya itu dengan santai, tanpa mengatakan apapun melihat Aaron yang terlibat frustrasi. Aziz memijat kepala dan leher bosnya itu, mengurangi ketegangan yang dirasakan Aaron.
"Terimakasih, Ziz." Aziz mengangguk dan masih memijat Aaron.
"Sepertinya anda melewati hal-hal yang berat siang ini. Anda jangan terlalu memikirkan kata-kata orang, sesekali dengarlah kata hati anda bos." Aaron menganggukan kepala.
"Tuan Rega membuat kekacauan lagi ya?" Aaron menggelengkan kepala.
"Tidak, setelah beberapa menit aku pikir apa yang dikatakannya benar. Aku hanya akan menyakiti Carissa dan Fani." Pria itu bersuara lirih.
"Anda cukup mengikuti kata hati anda tuan, siapapun yang anda pilih itu yang terbaik untuk Anda." Aaron menganghuk, Aziz kasihan sama bosnya ini karena terlihat sekali jika Aaron menanggung banyak penderitaan.
"Apakah sudah ada hasil penyelidikan tentang kasus Nadirah?" Aziz menggeleng pelan.
"Tidak ada yang terbaru, ini sepertinya sudah direncanakan sematang mungkin." Aaron menunduk sedih, dirinya akan semakin jauh dari Carissa karena kebodohannya.
"Tentang Carissa, bagaimana dia sekarang?" Aziz tersenyum kecil.
"Pagi tadi tuan Rega, sudah menemuinya. Tapi sepertinya gadis itu membuat tuan Rega marah, dan meninggalkan tuan Rega sendirian di taman." Aaron mengangguk, lega juga mendengarnya itu artinya Rega tidak benar-benar berhasil mempengaruhi Carissa sehingga pria itu sampai datang padanya.
"Tentang Fani apa yang direncanakan gadis itu untuk diriku?" Aziz menegang dan melanjutkan pijatannya.
__ADS_1
"Belum ada rencana apapun, gadis itu masih fokus dengan restorannya." Aaron mengangguk dan memejamkan matanya.
*************