Terjebak Pernikahan (1)

Terjebak Pernikahan (1)
Menerka


__ADS_3

Aaron dan Carissa memasuki kamar Nadirah, Nadirah terdiam tatapan mata gadis itu kosong. Nadirah tidak menjawab salam yang diucapkan Carissa dan Aaron. Carissa segera berjalan dan memeluk gadis itu, Nadirah mengeluarkan air matanya. Setelah cukup lama dan Carissa berpelukan, Aaron meminta Carissa melepaskan pelukannya dengan isyarat dan gantian pria itu yang memeluk Nadirah.


"Mama, aku mau mama. Aku kotor bang, aku menjijikkan, hiks hiks hiks." Aaron merasakan hatinya tersayat-sayat mendengar tangisan Nadirah. Aaron menggelengkan kepala, Nadirah tidak menjijikkan bertalu-talu dikecupnya puncak kepala adiknya. Aaron lalu membisikkan pada Nadirah jika mama mereka sedang dalam perjalanan sekarang ini.


"Aku.....aku takut, bang. Dia jahat, sangat jahat. Salah aku apa?" Nadirah kembali menangis dan meraung-raung, Aaron kembali memeluk adiknya itu. Mendengar raungan Nadirah, para perawat segera masuk ke kamar Nadirah dan menyuntikkan gadis itu obat penenang. Carissa menitikkan air matanya, Carissa merasa sedih melihat Nadirah yang seperti itu. Adik iparnya terlihat sangat terpukul dan tertekan.


Aaron menarik tangan istrinya dengan kasar dan membawanya ke kamar mereka. Carissa menatap tajam Aaron sambil melihat tangannya yang memerah. Pria itu terlalu keras menarik tangannya.


"Apa-apaan sih kamu mas, tangan aku kesakitan sekarang." Aaron diam kemudian mendekati istrinya itu.


"Kamu jangan sok-sokan sedih sama keadaan Nadirah. Kalau aku dapat bukti dan terbukti benar kamu adalah pelakunya habis kamu ditangan aku." Aaron mencengkram daguku dan menatapku tajam, lagi-lagi kilat kebencian itu ada dimatanya. Aku balas menatapnya tajam. Biar pria ini tahu, aku juga tidak terima dituduh-tuduh seperti itu.


"Kamu kenapa ngotot tuduh aku pelakunya? Kamu pikir aku ini sejahat itu? Kamu dengar dari siapa aku pelakunya?" Aaron menyeringai pria itu memperlihatkan sesuatu. Sebuah nomor yang mengirimkan gambar Carissa menggunakan nomor ponselku. Aku menggeleng tidak percaya, siapa orang yang jahat ini. Kenapa aku yang menjadi kambing hitam untuk semua ini? Siapa orang yang tega, mempermainkan aku dan Aaron.

__ADS_1


"Nggak! Nggak! Nggak mungkin! Aku tidak jahat! Aku tidak sejahat itu!" Aku menggeleng sekuat tenagaku, aku tidak melakukan hal jahat ituu. Aku menangis, kenapa harus aku yang dikorbankan disini?


"Kalau kamu ingin aku pergi dari hidup kamu, kamu jangan membuat aku menjadi kambing hitam untuk masalah yang dialami Nadirah mas. Aku tidak sejahat itu." Aku bersuara lemah menatap Aaron yang hanya terdiam menatapku. Aku tidak bisa membaca wajahnya, entah dirinya percaya atau tidak padaku. Aku berjalan dengan gontai hatiku sangat pedih, aku lap air mataku yang sedari tadi keluar.


Aku meninggalkan Aaron, kemudian menghubungi Arlan untuk menjemputku.aku tidak mungkin tidur di rumah ini dengan kondisi Aaron yang seperti itu. Aaron terdiam, nomor yang sama pasti bisa saja dimanipulasi. Aaron juga tidak sepenuhnya percaya jika ini ulah Carissa, tapi video yang baru diterimanya dari kepolisian orang yang diduga anak buah pelaku mengatakan jika Carissa adalah bosnya. Aaron menarik napas, air mata yang keluar dari Carissa juga terasa menyayat hatinya. Aaron melihat binar kesungguhan dari tatapan terluka milik Carissa, gadis itu mungkin hanya dimanfaatkan oleh pelaku untuk situasi ini.


Nadirah adalah adik kandungnya, hati Aaron terbelah bagi apalagi semua yang ada sekarang ini, hanyalah bukti yang memberatkan Carissa. Aaron menatap datar punggung Carissa yang makin menjauh itu, Carissa pergi mencari perlindungan sama lelaki yang tadi mengantarnya. Aaron mengepalkan tangannya ketika terbayang bagaimana pria itu mengacak-acak rambut istrinya, bagaimana istrinya tersenyum manis pada pria itu.


"DUSH" Aaron meninju tembok yang ada didepannya itu berkali-kali untuk melampiaskan kemarahannya. Pria itu tidak berhenti sama sekali, walau tangannya mulai mengeluarkan darah. Aziz yang memasuki ruangan terbelalak melihat bosnya yang seperti kesetanan meninju tembok, darah mulai mengucur dari tangan pria itu.


"Alhamdulillah," Aziz bernapas lega. Pria itu mengambil kotak obat dan segera membersihkan luka Aaron dengan alkohol dan setelah beres Aziz memakaikan Aaron perban. Aaron menatap Aziz kemudian menggerakkan bibirnya.


"Selidiki kasus ini, entah menapa semua bukti mengarah pada istriku. Aku sampai bertengkar dengannya." Aziz mengangguk, Aziz mengernyit kemudian menatap Aaron heran.

__ADS_1


"Bos mengapa anda mengatakan jika semua bukti mengarah pada nyonya Carissa?" Aaron memberikan ponselnya pada Aziz. Aziz terbelalak tidak percaya kemudia mengangguk, dirinya mengerti alasan Aaron sampai bertengkar dengan Carissa. Aaron kaget dan mungkin bimbang untuk percaya atau tidak pada opini yang kini ada di depannya.


"Nanti kita cari tahu lebih lanjut bos, tidak mungkin nyonya Carissa sejahat itu. Kalau dari bukti-bukti yang ada sepertinya orang yang melakukan hal ini mengetahui banyak hal tentang keluarga anda." Aaron mengangguk, pria itu memejamkan matanya.


"Mungkin saja, cari tahu saja lebih lanjut aku ingin ada titik terang. Apalagi Carissa pasti akan menumpuk benci untuk diriku." Aaron bersuara putus asa, dirinya kembali membuat Carissa menangis. Padahalkan belum tentu Carissa yang melakukan segalanya. Aaron meremas rambutnya, kenapa ini menjadi sulit.


“Bos, selain Mr. X siapa lagi orang yang benar-benar meneror bos?” Aaron tertegun, tidak ada yang benar-benar sampai menerornya selain Mr. X. Aziz menghela napas melihat Aaron yang menggelengkan kepalanya.


“Atau mungkin ada orang lain yang tahu tentang tuan besar dan nyonya Carissa sehingga memanfaatkan Carissa untuk masalah ini.” Aaron mengangguk itu bisa saja terjadi, tidak ada yang tidak mungkin, bukan?


“Apa kamu tahu siapa yang menjadi musuh bebuyutan papa?” Aaron menatap Aziz yang terlihat sedang berpikir. Aziz mengangguk, itu bukan rahasia umum siapa yang menjadi musuh bebuyutan Nurmansyah pemilik Dewata Group, Alvian Dharmawan. Tapi Aziz yakin pria itu tidak menggunakan cara-cara kotor seperti ini.


“satu-satunya hanyalah Alvian Dharmawan, tapi itu tidak mungkin bos. Apa mungkin kekasih-kekasih tuan besar di masa kalau yang melakukannya?” Aaron menatap langit-langit. Bagaimana mau menyelidiki kekasih-kekasih ayahnya? Sedangkan dulu Nurmansyah bergonta-ganti wanita seperti mengganti celana dalam, dengan gampang dirinya mencampakkan para wanita yang telah menjadi kekasihnya. Aaron menghela napas, bagaimana caranya agar dirinya dapat menyelidiki para wanita itu?

__ADS_1


“Mungkin, tapi kamu tahu kan kekasih-kekasih papa sangat banyak, jadi akan susah untuk menyelidiki semuanya. Papa tidak memikirkan ini semua, mungkin juga jika para gadis itu ada yang membalas dendam pada papanya.” Aaron kembali memejamkan matanya.


Kalau benar, ini ulah ayahnya. Nurmansyah akan habis ditangannya, dasar keparat masa tidak dipikirkannya akibat dari ulah-ulahnya pada masa lalu di masa yang mendatang. Aaron mengepalkan tangannya geram.


__ADS_2